"Lain kali jangan campur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan." Nathan menasehati Shine seraya menyodorkan sebuah kontrak kerja.
"Siapa yang tidak terkejut bertemu mantan suami dengan selingkuhannya?" Shine mengusap airmatanya dengan nafas tersengal-sengal.
"Mantan suami bukan?" Nathan terkekeh. "Lagipula untuk apa kamu menangisi orang yang pernah menyakitimu?"
"Kamu pasti mau membela temanmu bukan? Kamu mau membenarkan jika wanita yang belum juga hamil setelah menikah selama tiga tahun, pantas untuk ditinggalkan? Disakiti?"
"Aku tidak peduli apa yang temanku lakukan, itu hidupnya, tanggung jawab dia sendiri." Nathan berujar dengan santai.
Nathan menarik Shine untuk duduk dengan benar dan memintanya untuk segera membaca kontrak yang telah ia siapkan. "Jangan jadi orang lemah, dan bangkitlah dari keterpurukan. Lebih baik membahagiakan diri sendiri di masa depan, daripada terus menangisi masa lalu yang buruk seperti orang bodoh."
"Kamu bicara seperti ini karena tidak tahu apa yang aku alami!" Teriaknya dengan menggebu-gebu.
"Pergilah jika kamu mau terus menangis! Aku anggap kamu menolak pekerjaan yang aku beri!"
"Baiklah!" Shine langsung menandatangani kontrak itu tanpa membacanya. Ucapan Nathan membuatnya takut. Shine tidak mau kehilangan pekerjaan dan gaji dua digitnya.
"Kamu tidak membacanya?"
"Aku setuju apapun kontraknya!"
"Termasuk menjadi asisten yang siaga 24 jam? Membantuku membohongi orangtua dan rekan kerja dengan menjadi pacar bohonganku? Menuruti semua yang aku perintahkan tanpa protes?"
"Maksudnya?" Shine membola.
"Jika membatalkan sepihak kamu akan membayar denda miliyaran. Salahkan dirimu yang tidak membaca kontraknya."
"Ap--"
"Bersiaplah untuk menemui orangtuaku besok! Aku sudah lelah dituduh memiliki penyimpangan!" Ujar Nathan dengan penuh emosi.
"Kenapa kamu harus peduli? Menikah nanti lebih baik daripada terburu-buru tapi hasilnya seperti pernikahanku! Andai saja bisa kembali ke masa lalu, aku ingin mengejar mimpi dan karir alih-alih menikah setelah lulus kuliah!"
"Kamu tau sendiri kan, budaya kita? Apalagi gosip buruk cepat sekali menyebar. Sebenarnya aku tidak peduli dengan pandangan orang. Tapi aku tidak tega melihat ibuku terlalu cemas memikirkan masalah ini."
"Tapi kamu tau sendiri aku ini janda kan? Keluargamu mana mungkin menyukaiku? Sekalipun ini pura-pura, aku tidak mau mendengar hinaan dari mereka."
"Itu urusanmu. Kontrak sudah kamu tandatangani. Yang penting, bantu aku menghilangkan tuduhan itu dan jadilah asisten yang baik."
"Gajiku?" Shine bertanya dengan antusias. Untuk saat ini, Shine tidak peduli dengan apapun selain penghasilan. Lagipula dia hanya pura-pura menjadi kekasih, bukan p*****r. Selama tidak merendahkan harga dirinya, Shine tidak peduli.
"35 juta."
"Sungguh?"
"Aku akan memberikan gaji pertamamu di muka. Gaji itu belum termasuk fasilitas mobil, apartemen, dan kartu kredit."
"Sungguh?" Shine berseri-seri. "Dan pekerjaanku hanya menjadi asisten serta pacar pura-pura untuk menghilangkan tuduhan itu?"
"Kamu pikir mudah?"
"Ayo bertemu orangtuamu, boss! Aku akan membantumu dan bekerja keras secara total!" Ujarnya dengan semangat penuh.
"Hei, jangan senang dulu! Ingat selain poin-poin di atas, kamu juga harus mengagalkan semua perjodohan yang ibuku rencanakan. Jadilah menantu yang ibuku inginkan. Di dalam berkas kontrak, ada semua informasi yang harus kamu hafal."
"Siap boss!"
"Kamu bisa pulang ke apartemen baru dan istirahat. Nanti malam aku akan mengirim beberapa pakaian yang harus kamu pakai selama kontrak ini berlangsung. Bersiaplah untuk misi pertamamu!" Perkataan Nathan membuat wajah Shine kembali berseri. Semakin bersinar dari sebelumnya.
Apalagi saat Nathan memberinya tiga barang keramat yang telah lama dinantikannya. Kartu apartemen dengan desain elegan dan anggun, kartu kredit yang berkilauan menjanjikan kemudahan dalam setiap transaksi, dan kunci mobil yang beratapkan harapan baru.
Serta, sebuah notifikasi di ponselnya memberikan kejutan ekstra – sebuah angin segar yang menandakan masuknya uang sebesar 35 juta.
"Boss Nathan yang tampan, percayalah, aku tidak akan mengecewakanmu!"
"Kamu sepertinya bahagia sekali. Baca kontraknya lagi dari awal, dan hafalkan informasi yang aku beri. Jika setelah membacanya nanti kamu berubah pikiran, itu sudah terlambat." Nathan tersenyum sinis.
******
Suara dentingan gelas terdengar nyaring ditelinga. Aroma harum bir merayap pelan, seperti perlahan menyelinap dari sudut ruangan yang tersembunyi. Semerbaknya melintasi udara dengan kelembutan, membawa pesona malt dan hop yang terpadu dalam harmoni sempurna
"Kamu tidak marah jika aku menyukai mantan istrimu kan? Aku baru berkenalan dengannya seminggu ini, dan aku merasa cocok dengannya. Kuharap tidak merusak pertemanan kita." Nathan menyesap cairan pahit itu seraya menatap David yang terlihat sedikit tegang.
"Kamu yakin? Dia tidak bisa punya anak. Dia juga tidak sopan pada ibuku. Apa kamu tidak akan menyesal?" David memberitahunya. "Bukankah kamu sangat menyayangi ibumu?"
Nathan tersenyum. Mau benar atau salah Nathan tidak peduli. Toh, Shine hanya tameng agar dia tidak dituduh gay dan terus-terussan dijodohkan. Nathan lelah dengan pertanyaan kapan menikah!
"Aku menyukai dan tertarik padanya. Sejauh ini, aku tidak peduli tentang apapun masa lalu Shine." Sahut Nathan santai. "Aku masih tidak menyangka jika wanita yang membuatku tertarik ternyata mantan istri dari sahabatku sendiri."
David tersenyum kecut. Entahlah, dia merasa sedikit tidak nayaman. Kemarin dia merasa tenang saat melepas Shine seperti sampah yang tidak lagi diinginkan. Tapi saat ada pria lain yang menginginkannya, ada rasa yang sulit untuk diungkapkan.
"Aku turut bahagia jika memang kamu telah menemukan kebahagiaanmu. Tapi aku hanya ingin memperingatkan jika Shine susah punya anak. Aku yakin keluargamu akan membenci hal itu."
"Kita masih pacaran, belum sejauh itu. Ya paling kalau memang ke jenjang pernikahan, aku akan mengajaknya program bayi tabung." Nathan kembali membantah ucapan David.
Entah kenapa walau dia sama sekali tidak peduli terhadap Shine, Nathan merasa benci saat David sengaja menjelekkannya. Nathan seperti mendengar ibunya sedang direndahkan. Nathan benci penghianat. Rasa hormatnya kepada David sedikit memudar setelah apa yang dilakukannya.
"Cinta memang buta yah!" David tersenyum penuh arti.
"Shine wanita yang sangat cantik dan ceria. Aku tidak pernah kesepian saat dia di sampingku. Doakan saja, semoga kami bisa ke jenjang yang lebih serius."
"Pasti aku mendoakan yang terbaik untuk sahabatku. Tapi aku harap bukan Shine orangnya. Kamu kurang cocok dengannya. Aku tau betul bagaimana sikap buruk Shine. Kamu pantas dapat yang lebih baik. Lagipula kamu datang dari keluarga konglomerat. Kamu yakin akan menikahi janda?" Kekehnya merendahkan.
"Tanpa mengurangi rasa hormat, tolong jaga ucapanmu. Shine hanya mantan istrimu, kalian sudah berpisah. Saat ini Shine di sisiku dan dia telah menjadi milikku! Kamu tau jika aku tidak suka milikku diusik kan?"
"Aku sahabatmu, aku hanya mengingatkanmu! Kenapa kamu jadi sensitif sekali? Aku tidak mau kamu menyesal sepertiku!"
"Dan kamu tidak perlu mengurus penyesalanku. Aku ingatkan kamu hanya mantannya, jangan usik kekasihku lagi. Aku tidak suka!" Nathan bangkit berdiri, lalu pergi meninggalkan David begitu saja.
David membanting semua minuman yang ada di meja. Ia menjadi sangat kesal saat Shine dimiliki orang lain. Kenapa perasaannya begitu membingungkan?
"Untuk apa kamu marah? Dia berisik, cerewet, membosankan, tidak punya karir dan tidak punya anak! Tidak usah menyesalinya!" David berkata lirih dengan rahang mengeras. "Alissa jauh lebih sempurna. Lulusan luar negri, cerdas, bisa punya anak, dan menarik. Pilihanmu mencampakkan Shine tidak salah!"
*****