Shine merenung sejenak, matanya mencari jawaban di antara baris-baris kontrak yang mengikatnya. Pertimbangan-pertimbangan rumit berputar di benaknya, menciptakan kegelisahan yang sulit disamarkan. "Jika nanti ibunya cocok dengan sikap dan perilakuku sebagai menantu, aku harus menikah dengan Nathan untuk formalitas selama setahun? Apa ini?" gumamnya, suara ragu terdengar jelas.
Namun, ketika Shine mendalami isi kontrak dengan lebih seksama, kebingungan perlahan berubah menjadi ketidakpercayaan. Matahari senja yang menerpa kamar membentuk bayangan di wajahnya yang penuh keraguan. "Jika membatalkan kontrak setelah tanda tangan, akan terkena denda 10 Milliyar." Shine memandangi angka yang tertera dengan tatapan tajam. Rasa marah mulai memuncak di dalam dirinya, dan kontrak itu menjadi bahan ekspresi ketidaksetujuannya.
Shine, tanpa ragu, meremat kontrak tersebut dan membantingnya ke meja dengan geraman kekesalan. "Dasar Nathan sialan! Dia menjebakku!" desisnya, rasa ketidakpuasan dan kekecewaan bergelombang di dalam dirinya.
"Tapi ini juga salahku karena tidak membaca kontrak sejak awal." Shine memijit kepalanya. "Masa iya aku harus menjadi janda sdua kali?" Shine menimang-nimang. "Ouhhh, apa sebaiknya aku menunjukkan sifat yang tidak disukai agar tidak perlu ada pernikahan?"
Shine kembali tersenyum bahagia saat ide itu terbesit. Benar, jika ibunya tidak suka padanya, kontrak otomatis batal dan Shine tidak perlu membayar denda. "Aku akan melanggar semua informasi yang Nathan berikan. Lihat saja!"
Ketika dia baru akan merebah, suara bell pintu membuatnya mengurungkan niat. Shine menyesal tidak pindah malam ini juga di apartemen baru. Seharusnya tidak ada yang menganggunya selarut ini.
Saat pintu apartemen terbuka, Shine dibuat terkejut dengan kedatangan David. Mau apa dia? Apa dia tidak puas dengan semua yang telah dilakukannya?
"Mau apa?" Tanyanya seraya melipat tangan di d**a. Shine berusaha kuat, dia tidak boleh lagi bersedih seperti orang bodoh. Shine akui semua yang Nathan katakan adalah kebenaran.
"Kamu lupa siapa yang membantu melunasi apartemenmu?" Sindir David sombong.
"Kamu mau memintanya kembali? Akan kuberikan besok! Tapi jangan ganggu aku lagi!"
"Mentang-mentang sudah memiliki kekasih kaya, kamu jadi sesombong ini? Apa kamu menggoda Nathan?" David menatapnya dengan tajam.
"Apa urusanmu?" Shine menodorngnya dengan kasar.
"Jadi benar?" David tertawa meledeknya. "Sudah kuduga! Kamu pasti menggodanya untuk mendapatkan uang! Secara, kamu tidak memiliki tabungan dan pekerjaan saat ini!"
"Kenapa? Dia memang lebih kaya darimu! Lebih segalanya! Dia bukan pria pelit yang menitipkan semua aset dan uang kepada ibunya, dan menjadikan istri hanya sebagai pelengkap status dan juga pembantu!" Bentaknya seraya menepuk pundak David dengan tawa geli, saat pria itu tak lagi bisa membantahnya.
"Nathan memberiku uang, kartu kredit, mobil, unit apartemen mewah, dia memanjakanku dengan segala hal. Dia tidak sepertimu! Terimakasih sudah menyadarkanku jika menikah denganmu adalah keputusan paling buruk." Shine tersenyum sinis. "Kamu mau memungut apartemen ini karena kamu melunasi cicilanku saat itu? Silahkan, ambil saja! Nathan sudah menyiapkan tempat tinggal terbaik untukku!"
"Kamu hanya akan menjadi pelariannya! Kamu tidak akan dinikahi, lihat saja!" David menajamkan pandangannya. "Kamu akan dibuang setelah Nathan puas."
"Nathan tidak sepertimu! Besok aku bertemu ibunya. Aku tidak perlu menjelaskan tujuan dari pertemuan itu kan?" Shine tertawa. "Dasar pelit sialan! Menjauhlah dariku! Membuatku mual saja! Kamu ingat ini baik-baik, pernikahanku dan Nathan akan lebih bahagia dari penikahanmu!"
Shine kembali masuk dengan menggebrak pintu. Ia seketika terjatuh ke lantai dan memukuli mulutnya yang bicara sembarangan. Bisa-bisanya dia sesombong itu! Jika semua yang ia katakan tidak terjadi, matilah dia!
"Oke kita lihat! Kamu akan dicampakkan oleh Nathan! Wanita yang tidak bisa punya anak adalah sampah! Tidak akan ada pria yang mau denganmu!" Teriak David dari luar sana yang membuat hati Shine kembali tersayat. Airmatanya kini berjatuhan dengan deras.
"Aku harus menikah dengan Nathan! Aku harus membuat ibu Nathan suka padaku! Harus!" Shine mengambil kembali kertas-kertas informasi itu dan segera membacanya.
"Tidak ada jalan lain, aku harus bisa mewujudkan semua perkataanku! Aku tidak mau dihina lagi! Akan aku buktikan pada David jika hanya dia pria b******k yang berpikiran seperti itu!" Lirihnya dengan isakan pelan.
"Sebenarnya apa salahku, Vid? Kita dulu saling mencintai. Kenapa sekarang kamu menjadi seperti ini?" Shine menarik nafas panjang. "Tunggu saja, kali ini aku tidak akan duduk diam dan menangis. Aku akan membalas semua rasa sakit ini!"
*****
Di sebrang sana, seorang wanita paruh baya meminum secangkir kopi seraya memberi tatapan tajam pada putranya. Ia sepertinya lelah menasehati putranya yang sangat keras kepala.
"Kamu lagi-lagi menolak mama aturkan kencan buta?" Donna mengintimidasinya.
"Ma, Jangan cemas lagi soal itu! Besok kekasihku datang!" Jawab Nathan santai. "Itu yang mama nantikan, bukan? Kekasihku akan menyapa mama besok!"
"Kamu tidak berbohong kan?" Tanya Donna antusias.
"Ma, kapan aku bohong?"
"Siapa dia? Dari keluarga mana? Apa pekerjaan orangtuanya? Lulusan mana? Harvard?"
"Sejak kapan mama memilih menantu dengan kriteria seperti itu?" Tanya Nathan dengan sedikit rasa takut.
"Lalu?"
"Dia lulusan kampus biasa karena membiayai dirinya sendiri. Dia.... tidak punya orangtua. Dan dia, juga seorang janda karena diselingkuhi suaminya."
"Jangan bilang kamu menjadikan dia kekasih karena kamu simpati? Kamu ingat apa yang mama alami dulu?" Ibunya menebak-nebak.
"Ma, memang cinta bisa diatur dengan siapa?"
"Kenapa kamu seperti ini?!" Teriak Donna seraya memukuli purtranya. "Kenapa memilih jodoh yang tidak setara denganmu!"
"Sudahlah sayang, biarkan saja dia memilih pasangan hidupnya sendiri." Roy, suaminya menyela. Ayah tiri Nathan yang telah dianggap sebagai ayah kandungnya sendiri.
"Tuh, dengar apa kata papa!" Nathan berdecak manja.
"Berapa umurnya? Dia tidak seumuran mama, kan?" Tanya Donna panik.
"Dia masih 27 tahun! Lebih muda dariku!"
"Umur semuda itu sudah menjadi janda? Apa masalahnya?" Donna kembali bertanya dengan cerewet.
"Dia susah punya anak. Tapi ma, jika kita menikah masih ada banyak cara bukan? Bayi tabung, atau usaha lain?"
Donna memijit pelipis dan merasa kesal dengan perkataan putranya. Bisa-bisanya Nathan tertarik dengan janda muda yang bahkan dari keluarga biasa. Tapi setelah sekian lama, ini pertama kali Nathan mau mengenalkan seseorang. Nathan yang biasanya sangat dingin dan irit bicara, dengan cerewetnya menceritakan wanita yang dia sukai.
Itu berarti, wanita itu benar-benar istimewa bukan? Walau Donna setuju apapun pilihannya, tapi dia perlu menguji calon mantunya. Donna takut Nathan hanya dimanfaatkan saja. Donna juga perlu mengetes bagaimana sikap dan perilakunya.
"Baiklah, cepat bawa kemari."
"Makasih ma!" Nathan memeluk ibunya, lalu beralih kepada ayahnya yang akan mengedipkan mata. Ayahnya itu sudah seperti sahabatnya sejak ia remaja. Pria itu selalu memberi nasehat-nasehat bijak, dan menjadi penengah di kala dia dan ibunya berkonflik. Nathan berhutang budi padanya. Roy bahkan jauh lebih baik dari ayah kandungnya sendiri.
Nathan langsung berpamitan pulang setelah menjelaskan banyak hal tentang Shine pada orangtuanya. Setidaknya Nathan sudah membantu. Nathan harap besok, perkenalan Shine dan ibunya berjalan lancar.
"Setidaknya dengan begini aku bisa menyelesaikan masalahku tentang perjodohan, sekaligus membantu Shine balas dendam. Jadi semua akan impas pada akhirnya!" Gumamnya bicara sendiri.
*****