Seorang pria kisaran 28 tahun turun dari sebuah mobil Alphard berwarna hitam dengan dibantu sang supir yang membukakan pintu mobil.
Mobil itu berhenti tepat di pelatar gedung yang menjulang tinggi di tengah pusat kota, gedung yang berlantai 15 itu berjejer dengan beberapa gedung dari perusahaan besar di kota tersebut.
Pemuda itu terlihat begitu tampan dan gagah, hanya saja minim akan senyuman. Padahal jika ia tersenyum akan terlihat manis karena ada lesung pipi dikedua pipinya.
Meski minim dengan senyuman, pria itu tetap digilai para wanita di luaran sana, baik yang sudah kenal maupun belum. Banyak para wanita mendambakan pria tersebut untuk menjadi suami atau kekasih mereka. Tapi pria itu tidak pernah peduli dan terlihat acuh.
Erkan Wijaya pria yang memiliki darah campuran Indonesia Turki. Pemilik perusahaan properti yang tersebar di wilayah Indonesia hingga luar negeri seperti Turki dan Cina.
Memiliki hidung mancung dan badannya pun tinggi yang ia dapat dari keluarga sang Ibu.
Namun, sayangnya Erkan hanya hidup sebatang kara, karena Ayah dan Ibunya sudah meninggal dunia. Apalagi kedua orang tuanya merupakan anak tunggal, begitu pula dirinya.
Erkan merupakan pengusaha terkaya ketiga di Asia. Memiliki banyak bangunan properti seperti Apartemen, rumah, kos-kosan, dan juga toko-toko besar seperti supermarket, dan bangunan itu pun tersebar di wilayah Indonesia, maupun Asia.
Namun, sayangnya kesuksesan yang dimiliki tidak sebanding dengan kesuksesan dalam membina rumah tangga. Tiga tahun lalu ia sudah menikah dan bercerai.
Setelah itu Erkan menikah lagi.
Namun, sepertinya pernikahan kedua ini pun akan gagal dan hari ini adalah penentu dari keputusan sidang perceraian dengan istri yang kedua.
Sebelum menuju ke gedung pengadilan agama, Erkan menyempatkan dirinya singgah ke perusahaan untuk menghadiri rapat dengan para karyawannya selama 1 jam.
Tepat jam 10 pagi, Erkan meninggalkan rapat dan menuju ke gedung pengadilan agama ditemani asistennya, sedangkan sang sekretaris masih berada di perusahaan untuk menggantikan rapat.
Dengan melangkah begitu cepat Erkan menuju ke ruang pengadilan, berharap proses perceraian dengan istri keduanya yang bernama Tantri cepat selesai.
Untuk kedua kalinya pria itu menginjakkan kaki di ruang pengadilan ini dengan kasus yang sama~masalah perceraian, yang konflik utamanya didasari karena perselingkuhan.
Sebenarnya Erkan menikahi Tantri pun karena terpaksa, lantaran ia sudah dijebak oleh wanita itu satu tahun yang lalu.
Saat itu Erkan dengan sengaja diundang oleh rekan bisnisnya yang bernama Surya Nugraha untuk menghadiri acara ulang tahun pernikahan. Di acara itu Surya pun mengundang Tantri yang merupakan adik dari istri Surya.
Tantri wanita berusia 25 tahun memiliki wajah cantik, tinggi langsing dan begitu digilai oleh lelaki manapun karena parasnya. Tapi hanya Erkan saja yang membuatnya merasa tertantang untuk menakhlukkan pria dingin tersebut.
Ia begitu penasaran dengan duda tanpa anak itu, sehingga membuatnya ingin menjadikan Erkan suami. Surya yang merupakan iparnya setuju karena ia akan mendapatkan keuntungan.
"Mas setuju jika kamu menikah dengan Erkan. Selain tampan ia pun seorang miliarder," ujar Surya kala itu.
"Dan hidup kamu akan terjamin," ujarnya lagi untuk meyakinkan Tantri.
"Dan yang terpenting, tolong sebisa mungkin kamu merayunya untuk memberikan setiap proyek instalasi listrik kepadaku," pinta Surya dengan mengedipkan mata kanannya.
Pembicaraan itu terjadi sehari sebelum pesta berlangsung, dan Tantri pun setuju. Mereka pun mengundang sang pengusaha yang berstatus duda tersebut.
Tantri mengenal Erkan pertama kali saat mereka berada di sebuah klub malam dan dari malam itu Tantri sudah menyukai pria tersebut. Yang Tantri ketahui dari temannya jika Erkan seorang duda tanpa anak.
Tepat di malam pesta itu, Erkan pun tiba dengan sendirinya, tanpa mengajak Asisten maupun sekretarisnya.
Erkan terlihat begitu tampan dengan menggunakan pakaian yang terlihat santai tapi masih cocok untuk menghadiri sebuah pesta.
Kedatangannya pun mengundang decak kagum para wanita di pesta, tak ayal para wanita yang hadir mendekatinya hanya untuk menggoda.
Salah satunya adalah Tantri, wanita yang mengenakan baju dress berwarna merah itu tampak cantik dan terlihat mencolok di antara para tamu undangan yang hadir. Dengan dandanannya yang begitu menggoda, bibir berwarna merah senada dengan baju yang ia kenakan.
Tantri mencoba mendekati Erkan untuk mengajak pria itu berkenalan. Erkan yang dikenal sebagai pria dingin itu pun menanggapinya dengan santai.
"Hai, boleh kenalan? Aku Tantri!" sapa Tantri yang sudah berada dihadapan Erkan sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Erkan pun menerima uluran tangan Tantri dan ikut memperkenalkan diri. "Erkan," sahutnya sambil menjabat tangan Tantri dengan wajah datarnya. Sebenarnya pria itu malas untuk berbicara dengan wanita, apalagi hanya untuk berbasa basi.
Erkan yang tahu gelagat Tantri yang ingin menggodanya berusaha untuk menghindar. Dan ia memilih berbaur dengan rekan bisnis yang dikenalinya.
Wajah Tantri nampak kesal karena diabaikan. "Awas kamu, Er!!" ujarnya tampak geram. "Aku tidak akan menyerah dan kamu akan jadi milikku malam ini," gumamnya dan melangkah ke arah Surya.
"Gimana, apa kalian sudah berkenalan?" tanya Surya sambil membalas uluran tangan para tamu yang mengucapkan selamat atas ulang tahun pernikahannya.
"Sudah, Mas. Tapi duda itu sepertinya susah digoda!" ucap Tantri kesal.
"Kamu, baru tahu, ya!" seru Surya dengan gelak tawanya. Dan ia pun kembali berucap "Erkan itu pria dingin dan tidak pernah terlibat dengan urusan wanita semenjak bercerai dengan istrinya yang pertama. Entah kenapa tidak ada yang tahu!?" gumam Surya lirih di dekat Tantri.
"Terus, gimana dong caranya agar aku bisa menikah dengan pria itu?" tanya Tantri tampak frustrasi.
"Tenang, entar Mas akan mengatur semuanya, kamu cukup duduk dan diam saja." Ujar Surya meyakin 'kan Tantri.
Entah rencana apa yang akan Surya lakukan kepada Erkan.
Setelah menyapa beberapa tamu, Surya pun mendekati Erkan yang sedang berbicara dengan beberapa tamu dan merupakan rekan bisnis mereka.
Sebelum menghampiri Erkan, Surya mengambil minuman terlebih dahulu dan minuman itu sudah ia campur dengan obat perangsang yang akan diberikan ke Erkan. Entah darimana Surya mendapatkan obat tersebut.
"Hai, Er!" sapa Surya yang sudah berada didekat Erkan.
"Terima kasih banyak, atas kesediaanmu berhadir di pesta kami ini," ucap Surya kembali.
Erkan pun menoleh ke arah Surya dan mengangguk.
"Minum," tawar Surya sambil menyodorkan gelas berisi minuman yang berada di tangan sebelah kirinya sengaja ia bawa untuk diberikan kepada Erkan.
Erkan menyambut gelas yang berisi minuman tersebut dan tersenyum, tanpa mencurigai apa-apa. "Terima kasih," ucapnya dan mengangkat gelas itu meminta izin untuk meminum isinya.
"Silakan," ucap Surya yang seolah paham dengan kode yang ditunjukkan oleh Erkan.
Erkan pun meneguk habis minuman itu dan tersenyum, asyik berbincang dengan Erkan, Tantri sengaja mendekati Surya. Karena ia tidak mungkin mendekati Erkan lagi.
"Perkenalkan, ini Tantri adik dari istriku," ujar Surya yang memperkenalkan Tantri ke Erkan, seolah-olah Surya belum mengetahui jika kedua orang itu belum saling mengenal.
Erkan hanya mengangguk saja dan Tantri pun cukup diam. Hingga beberapa menit kemudian penglihatan Erkan nampak buram dan tubuhnya terasa panas.
"Sepertinya obat itu sudah mulai bereaksi. Kamu persiapkan diri dan aku akan meminta orang memfoto kalian berdua di dalam kamar. Manfaatkan dengan sebaik mungkin," perintah Surya ke Tantri.
Surya yang paham dengan kondisi Erkan langsung memerintahkan Tantri untuk membawanya ke salah satu kamar hotel. Kebetulan pesta itu mereka adakan di sebuah hotel berbintang di kota Jakarta.
Dengan senang hati Tantri pun memapah tubuh Erkan masuk ke dalam sebuah kamar yang sebelumnya sudah di pesan Surya untuk memadu kasih dengan istrinya.
Tantri pun menyeringai dihadapan wajah Erkan, saat ia menghempas tubuh Erkan di atas kasur kamar hotel. Dan di kamar itu lah awal mula Tantri memulai aksinya untuk menjebak Erkan.
Pagi hari di kamar hotel.
Erkan pun terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi, dan menandakan waktu sudah pukul 7 pagi. Pria itu terbiasa bangun pagi hanya untuk melakukan olahraga sebelum disibukkan oleh pekerjaan di kantornya.
Namun, pagi ini ia terkejut saat terbangun dari tidurnya, Erkan sudah berada di sebuah kamar hotel dan menoleh ke arah samping tubuhnya, ada seorang wanita yang baru ia kenal tadi malam.
"Argh!!!" Erkan berteriak frustrasi dan berusaha membangunkan Tantri yang masih terlelap dengan tidurnya. "Hei!! Bangun!! Kamu pasti sengaja 'kan memasukan obat ke dalam minuman aku tadi malam," tuduh Erkan ke Tantri saat ada pergerakan dari tubuh wanita itu.
Sedangkan Erkan sudah berdiri dari kasur empuk itu, hanya dengan bertelanjang d**a sambil memasang boxernya yang kebetulan berada di tepi ranjang.
"Kamu jangan asal tuduh, ya. Mana aku tahu, kalau minuman kamu itu ada obatnya?!" elak Tantri yang langsung mendudukkan badannya karena terbangun saat Erkan berteriak.
"Lagian 'kan, yang memberimu minuman tadi malam itu Mas Surya, bukan aku!" ujar Tantri sambil meregangkan otot-otot badannya.
"Iya! dan itu sudah kalian rencanakan, ngaku!" teriaknya. "Jangan-jangan kalian ingin menjebakku, iyakan?" tuduh Erkan dengan memicingkan matanya.
"Terserah, kamu mau menuduhku apa? Yang pasti kita harus menikah secepatnya!" tekan Tantri berdesis di hadapan Erkan.
"Tidak! Tidak akan aku lakukan. Terkecuali hanya dalam mimpimu saja!!" tekan Erkan tepat di wajah Tantri.
"Oke, kita lihat saja nanti, saat keluar dari hotel ini, kamu jangan terkejut dengan apa yang terjadi!" ancam Tantri dengan menampilkan seringainya..
"Apa maksud kamu, hah?! Jangan pernah kalian mencoba mengancam, jika kalian ingin selamat!!" seruan Erkan dengan nada mengancam.
Namun tidak membuat Tantri takut yang ada malah wanita itu menatap tajam kearah Erkan yang sedang memasang pakaiannya.
"Tapi sayangnya akan kami lakukan. Silakan!!" seru Tantri yang menyodorkan ponsel miliknya ke arah Erkan.
Erkan yang sudah berdiri dan sudah mengenakan pakaiannya kembali, tampak bingung. "Maksudnya apa ini?" tanyanya sambil meraih ponsel dari tangan Tantri dengan kasar.
"Buka saja, dan lihat isinya," ucap Tantri yang memerintah Erkan untuk membuka ponselnya dan wanita itu menyeringai tanpa Erkan tahu.
"Sudah aku buka dan tidak ada apa-apa," ujar Erkan santai dan menyodorkan kembali ponsel tersebut ke depan wajah Tantri.
Namun Tantri mengabaikan ponselnya, dan wanita itu malah meminta Erkan untuk membuka di menu galeri.
"Coba kamu buka di menu galeri dan lihat ada apa di situ," perintahnya.
"Setelah kamu melihat. Maka kamu akan mengerti dengan maksudku," ucapnya kemudian sambil memungut pakaiannya yang tergeletak sembarang di lantai.
Erkan pun menuruti perintah Tantri dan membuka galeri yang ada di ponsel milik wanita itu. Dan alangkah terkejutnya pria itu saat ia membuka menu galeri. Yang mana di galeri itu terdapat banyak foto-foto dirinya yang sedang mencumbu Tantri tadi malam.
"Apa-apaan ini?" tanyanya dengan tampang kesal.
"Bagaimana, apakah foto-foto itu membuat kamu takut?" tanya Tantri dengan nada mengejek.
"Dengan foto itu, bagiku sudah cukup untuk mengancam kamu. Atau kamu mau video-nya? Kebetulan aku juga menyimpannya, tapi bukan di ponsel ini," ujar Tantri yang sudah mendekati Erkan dan mengambil ponsel miliknya dari tangan Erkan. Lalu wanita itu dengan sengaja mencium pipi Erkan yang tampak bingung.
Erkan pun terkejut dengan tindakan Tantri dan pria itu mengusap kasar wajahnya, kali ini ia benar-benar dijebak oleh perempuan yang ada di hadapannya ini dan juga Surya rekan bisnisnya yang terkadang proyeknya ditolak oleh pihak perusahaan Erkan, karena kinerjanya kurang memadai.
"Ternyata kalian sudah merencanakan semua ini untuk menjebak ku, iyakan?Kurang ajar kalian! b******k!" umpatnya dengan begitu geram.
Bukannya marah mendengar umpatan yang dilontarkan oleh Erkan, malah Tantri hanya tersenyum saja, senyum mengejek, seakan wanita itu sudah berhasil dengan usahanya untuk memikat Erkan.
Dengan santainya wanita itu melangkah ingin keluar dari kamar, tapi terhenti saat Erkan bersuara.
"Lalu mau kalian apa?" tanya Erkan akhirnya. "Berapa uang yang kalian inginkan?" tanyanya lagi.
Tantri yang sudah menekan tuas pintu kamar hotel berhenti dan berbalik menghadap ke arah Erkan. "Nikahi aku dan kami jamin foto itu tidak bakalan tersebar ke media manapun, baik media cetak atau elektronik," ujar Tantri sebelum ia beranjak pergi.
"Baiklah," ucap Erkan tanpa mempertimbangkan apa-apa lagi.
Karena Erkan tidak ingin mengalami kebangkrutan untuk kedua kalinya. Saat ia bercerai dengan Bella tiga tahun lalu, perusahaannya hampir mengalami kebangkrutan. Untungnya pria itu kembali bangkit atas dukungan dua sahabatnya.
Dan kali ini Erkan tidak ingin mengorbankan perusahaan keluarganya hancur. Perusahaan yang sudah dibangun sang kakek dan diwariskan ke Ayahnya kemudian diwariskan ke Erkan.
Tantri yang mendengar perkataan dari Erkan langsung menghambur ke pelukan duda itu dengan perasaan bahagia.
Setelah insiden itu, pernikahan pun digelar dan kini pernikahan tersebut sudah berjalan selama satu tahun lamanya.
Akan tetapi pernikahan itu sebentar lagi akan berakhir, setelah ketukan palu dari hakim, sebagai penentu.
Tantri duduk dengan begitu tenangnya di bangku terdakwa, atas tuduhan perselingkuhan yang dilayangkan sang suami. Meski Tantri membela diri dan mengatakan ia tidak pernah berselingkuh. Tetapi Erkan tetap keras pada pendiriannya, jika wanita itu sudah berzina dengan pria lain di luaran sana.
Namun, Tantri pun bersikukuh tidak ingin bercerai dari Erkan karena ia belum siap meninggalkan kemewahan yang diberikan pria itu selama satu tahun ini.
'Enak saja kamu mau menceraikan aku, tanpa memberi biaya kompensasi lagi, aku juga ingin seperti Mbak Bella, yang bercerai dari kamu dan banyak mendapatkan uang. Paling tidak 'kan aku mendapatkan Apartemen, sebuah mobil dan tabungan,' gumam Tantri dalam hati.
Karena tuduhan yang tidak ada buktinya itu Tantri pun menolak bercerai dengan Erkan. Bisa saja Tantri menyetujui perceraian itu asalkan Erkan membagi setengah hartanya ke Tantri. Gila nggak itu perempuan.
Namun Erkan menolaknya, 'harta milik keluarga aku, seenak jidatnya saja meminta setengah, rupanya wanita ini mau bermain-main dengan aku,' gumam Erkan dalam hati.
'Baiklah aku akan ikuti permainan kamu,' kembali Erkan bergumam di dalam hati sambil pria itubmenatap sinis ke wajah Tantri yang pura-pura menangis.
"Oke, aku tidak akan menceraikan kamu, tapi setelah anak itu lahir aku akan melakukan tes DNA." Dengan terpaksa Erkan membuka suara dan mengancam Tantri.
"Silakan, aku tidak takut!" tantang wanita itu. "Dan Mas jangan terkejut saat tahu dengan hasilnya nanti!" ucap Tantri kembali dengan begitu santainya. Dan membuat Erkan geram.
'Lihat saja, aku akan memanipulasi surat hasil tes DNA itu nantinya. Yang penting selama satu tahun ke depan aku harus menguras uang kamu,' gumam Tantri dalam hati dengan menampilkan seringai liciknya.
"Dasar wanita tidak tahu diri, tukang selingkuh," gumam Erkan pelan, tapi masih bisa didengar oleh Tantri.
"Mas! Aku sudah bilang ke kamu. Kalau aku itu tidak pernah selingkuh. Kamu paham apa nggak, sih?" Tantri memekik dengan begitu geramnya, masih tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh suaminya itu.
"Jika kamu tidak selingkuh. Terus ... anak yang ada di perut kamu itu, anak siapa, hah? Karena aku yakin itu bukan anakku." Erkan nampak geram, ingin rasanya ia mencekik leher wanita yang duduk disamping dirinya ini.
"Kenapa, Anda tidak yakin, Tuan Erkan? Jika itu bukan anak Anda, sedangkan selama ini, Tuan lah yang meniduri Nyonya setiap malam, benar 'kan?" tanya sang hakim yang memojokkan Erkan.
Ingin Erkan mengatakan dirinya mandul, tapi tidak bisa karena di persidangan saat ini banyak orang-orang yang hadir, dan ia tidak ingin mempermalukan dirinya.
"Yang dikatakan Hakim itu benar, Mas. Apa kamu lupa. Terkecuali ...?" Tantri menghentikan ucapannya, sengaja agar Erkan penasaran.
"Terkecuali apa, hah!?"
"Terkecuali kamu itu mandul, Mas!" tekan Tantri.
"Nah bisa saja 'kan kamu berkilah, jika ini bukan anak kamu," tutur Tantri dengan senyum menyeringai ke arah Erkan sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
'Aku yakin kamu itu benar-benar pria mandul, Mas. Seperti yang Mbak Bella katakan,' batin Tantri.
'Satu tahun kita menikah, belum ada tanda-tanda kehamilan. Dan di saat aku mengajak memeriksakan diri ke dokter kandungan selalu kamu tolak. Aku yakin pasti ada yang kamu sembunyikan sekarang ini,' batin Tantri lagi.