Dulu saat Erkan menikahi Bella, kurang lebih selama 3 tahun, tidak ada tanda-tanda Bella hamil hingga akhirnya wanita itu meminta Erkan menceraikannya.
Padahal Erkan begitu sangat mencintai Bella, wanita yang membuat ia merasa nyaman sebagai pengganti sang Ibu yang sudah meninggalkan dirinya di dunia bersama sang Ayah.
Bella meminta bercerai kepada Erkan karena ia sudah hamil dan anak yang ia kandung pun bukan anak pria itu.
Apalagi Bella sudah mendapatkan sebagian kekayaan dari Erkan dengan cara memanfaatkan pria itu. Dan karena wanita itu lah yang mengakibatkan masa muda Erkan hancur. Di usianya 17 tahun Erkan sudah mengenal dunia malam dan pergaulannya pun begitu bebas.
Itu lah alasan perceraiannya dengan Bella dan hari ini dengan alasan yang sama Erkan pun ingin menceraikan Tantri.
Dengan Pak Hakim mengetuk palu, maka berakhirlah persidangan antara Erkan dan Tantri. Itu yang ada di pikiran Erkan saat ini.
Namun, ternyata Pak Hakim menolak pengajuan perceraian Erkan, dengan alasan karena kurangnya bukti, yang diserahkan pengacara Erkan ke pihak pengadilan, dan persidangan itu bisa di lanjutkan kembali saat menunggu Tantri melahirkan bayinya dalam waktu satu tahun lamanya.
Dengan melangkah begitu cepat, Erkan pun keluar dari ruang persidangan itu, dengan perasaan kesal dan tidak puas akan keputusan yang pak hakim bacakan.
Saat hendak menuju ke mobilnya, Tantri memanggil namanya. "Mas Erkan, tunggu!" Tantri dengan langkah tertatih menuju ke arah Erkan. Pria itu pun berhenti karena mendengar namanya dipanggil dengan wajah yang sudah terlihat begitu lelah dan kesal.
"Ish, apalagi sih maunya wanita ular ini," lirihnya dan membalikkan badannya menghadap Tantri. "Ada apa!?" tanyanya dengan nada ketus.
Dengan napas yang ngos-ngosan Tantri mengejar langkah besar Erkan.
"Tunggu sebentar aku mengatur napas dulu!" seru Tantri.
"Bisa nggak, sih. Langkah kamu itu jangan terlalu lebar, aku kan capek mengejar," ucap Tantri manja setelah napasnya normal kembali.
Erkan berdecak. "Ck, bukan urusan kamu! Aku mau jalan cepat atau lari itu terserah aku!" jawabnya ketus.
Tantri pun hanya mendengus sebal.
"Oke, aku nggak mau ngajak kamu berantem lagi, aku memanggil kamu hanya untuk menemani aku check up ke dokter kandungan," pinta Tantri.
"Maaf, aku sibuk!" seru Erkan dan berlalu pergi melangkahkan kakinya kembali menuju mobil sambil menggerutu "anak aku bukan, enak aja meminta aku yang menemani ke dokter," sungutnya.
Erkan menuju ke parkiran mobilnya yang mana di situ sudah ada sang asisten dan supir menunggunya.
Sang asisten keluar dari mobil dan membukakan pintu di bagian tengah untuk Erkan masuk. Erkan mendudukkan pantatnya ke kursi mobil dan menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi, menghela napas yang terasa berat dan memejamkan matanya, dengan salah satu kaki yang bertumpu dan tangan melipat di bagian d**a.
Sejenak ia ingin mengistirahatkan tubuh lelahnya sambil menuju ke perusahaan miliknya.
Di mobil itu tampak hening, tidak ada yang berani berbicara dengan sang Bos, meskipun urusan pekerjaan, terkecuali saat tiba di kantor, barulah mereka diperbolehkan berbicara.
Tepat pukul 12 siang Erkan pun memerintahkan sang supir langsung menuju ke kantornya. Ia begitu lelah dan ingin istirahat sebentar di ruang kerjanya. Akhir-akhir ini, ia malas untuk pulang ke rumah apalagi harus bertemu dengan Tantri, pria itu terkadang memilih tidur di kantor atau Apartemen miliknya.
"Pak Imam, tolong langsung ke kantor. Kita makan siangnya di kantin kantor saja!" ucapnya memberi saran dan perintahnya bersamaan kepada kedua orang yang ada di kursi depan mobil.
"Baik, Tuan." Jawab si supir yang bernama Imam.
"Din, apa Angga ada menghubungi kamu? Di saat persidangan tadi!?" tanya Erkan ke Asistennya yang bernama Dino. Ia menanyakan sang sekretaris yang bernama Angga yang sudah menggantikan dirinya menghadiri rapat saat ia di persidangan tadi.
Orang-orang pasti bingung dengan Erkan dan akan bertanya. "Kenapa Erkan tidak memiliki asisten dan sekretaris perempuan?" dan pria itu akan menjawabnya dengan tegas "Aku enggan mempekerjakan seorang wanita untuk dijadikan asisten atau sekretaris, karena mereka itu makhluk yang begitu merepotkan." Dan ia pun pernah mengatakan "jika wanita itu terlalu ribet dan gerakannya kurang gesit, tidak seperti lelaki yang serba cepat," ucapnya saat sahabatnya Aslan pernah menanyakan hal itu, ketika ia sedang merekrut karyawannya.
Berbeda dengan Aslan, ia lebih memilih atau merekrut perempuan yang menjadi sekretarisnya, "biar berwarna dan bisa dimanfaatkan saat aku membutuhkan seorang teman untuk pergi ke sebuah pesta," ujar Aslan saat itu.
Aslan merupakan pengusaha waralaba makanan cepat saji yang begitu sukses dan memiliki cabang di mana-mana, makanan itu berupa Kebab, makanan yang berasal dari Negaranya dan Erkan yaitu Negara Turki.
Begitu juga dengan Raka, ia lebih memilih seorang wanita sebagai asistennya di rumah sakit, karena Raka merupakan dokter kandungan di rumah sakit swasta yang ada di Jakarta. Dan kebetulan asistennya sendiri adalah istrinya "keren 'kan" ujar Raka saat itu.
Aslan dan Raka adalah sahabat Erkan semasa mereka masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP), dan sampai sekarang, di mana mereka sudah memiliki keluarga masing-masing.
Seperti Aslan, ia sudah memiliki istri dan dua anak. Begitu juga dengan Raka. Dan keluarga dari kedua sahabat Erkan itu terlihat sangat harmonis dan bahagia.
Berbanding terbalik dengan kehidupan rumah tangga pria itu, yang mana Erkan sudah dua kali menikah dan membina rumah tangga tapi mengalami kegagalan dikarenakan adanya perselingkuhan.
Dimana-mana biasanya si suami lah yang berselingkuh, tapi nyatanya yang terjadi di rumah tangga Erkan istrinya lah yang kedapatan berselingkuh.
Sesampai di ruangannya Erkan langsung melepaskan jas yang ia kenakan dan meletakkan di bahu kursi kerjanya, setelah itu ia mendudukkan pantatnya di kursi kerja sambil membuka kancing lengan baju kiri kanan dan melipatnya menjadi seperempat tangan.
Apabila para wanita yang melihatnya mereka akan terhipnotis dengan kharismanya, dan saat ia serius dalam mengerjakan pekerjaannya atau membaca laporan dari email yang masuk di laptopnya mata elangnya yang tajam berkeliaran membaca laporan tersebut, membuat wanita tertantang untuk menggodanya.
Seperti saat ini, setelah melipat lengan bajunya ia langsung membuka laptopnya yang sudah tersedia di atas meja kerjanya dan mengecek beberapa email dari para investor dan rekan bisnis yang lainnya.
Sesekali pria dingin itu menghela napasnya, jika ada laporan yang tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Semisal laporan masalah pekerja di lapangan yang tidak disiplin. "Aku harus benar-benar tegas ke mereka. Bisa-bisanya mereka begitu santainya mengerjakan proyek perumahan yang ada di Kalimantan. Sedangkan para pembeli ingin perumahan yang sudah mereka pesan itu lekas selesai," ujarnya dan mengusap wajahnya yang terlihat lelah.
Belum lagi transaksi pembelian tanah yang bermasalah dengan warga setempat seperti tanahnya yang berlapis nama atas kepemilikannya, semisal Pak Jaya membeli tanah dari Pak Mahmud, dan Pak Mahmud ingin menjual tanah itu kembali ke Erkan, karena tidak adanya surat-surat lengkap maka Erkan menolak pembelian atas tanah tersebut dari tangan Pak Mahmud. Karena tanah itu sudah menjadi milik Pak Jaya. Dan beliau lah yang berhak menjual tanah itu ke Erkan.
Namun Erkan pebisnis yang pintar, sebelum membeli tanah itu ia harus benar-benar menanyai keabsahan dari surat-surat tanahnya menyertai notaris sebagai saksinya, dan juga warga maupun RT, RW setempat. Karena dulu Erkan pernah tertipu oleh mantan istri pertamanya yang membeli tanah ternyata tanah itu tidak memiliki surat-surat lengkap dan ia pun harus mengganti rugi sebesar ratusan juta rupiah.
Waktu pun sudah menunjukkan jam 1 siang, yang mana waktu untuk makan siang terlewati untuk Erkan, terkadang ia malas untuk makan karena asyik dengan dunianya. Tak ayal kadang ia merasakan perih di bagian lambungnya. Seperti saat ini, ia terbaring lemah di sofa panjang ruangannya ditemani dua orang sahabatnya Aslan dan Raka. Setelah meminum obat yang dibawakan Raka dari rumah sakit, dan lambungnya pun berangsur memulih.
"Makanya Er, jangan terlalu diforsir tenaga kamu itu. Buat apa kerja terlalu lelah, toh kamu bakalan bercerai lagi. Tapi, kamu memang yakin, ya. Kalau anak yang dikandung Tantri itu, bukan anak kamu!?" tanya Aslan dengan sindirannya, yang mendapatkan sikutan langsung dari Raka di bagian perut. Dan mendapatkan pelototan dari Raka sekaligus. Tapi bagi Aslan itu sudah biasa, "Erkan tidak akan tersinggung," ujarnya.
Saat Aslan dan Erkan berseteru maka Raka lah yang akan melerai pertengkaran itu. Maklum keturunan Turki jadi sifat mereka sama-sama keras. Berbeda dengan Raka yang asli Indonesia apalagi pria itu berasal dari suku Jawa yang terkenal dengan lemah lembut, penyabar, dan ramah, makanya ia berprofesi sebagai Dokter, apalagi dokter kandungan yang harus di uji dengan kesabaran.
"Gimana rencana kamu ke Kalimantan, jadi?" tanya Raka ke Erkan dengan bermaksud mengalihkan perdebatan dua sahabatnya itu.
"Jadi, mungkin lusa aku berangkat!" sahutnya.
"Berarti kamu beneran pengen punya rumah di sana?" tanya Aslan serius yang tidak lagi mengatai sahabatnya itu. Di antara kedua sahabatnya Aslan lah pria yang banyak bicara seperti mulut perempuan yang suka menyindir dan suka menggosip.
"Sudah dan sempurna, aku akan membangun rumah di sana sesuai impian aku. Apalagi warga di sekitarnya begitu ramah," ujar Erkan yang ingat saat pertama kali ia meninjau lokasi di daerah itu.
Karena itulah ia bertekad memiliki atau membangun rumah di kawasan tersebut dan ia bersyukur ada salah satu warga yang menawarkan tanah untuknya dan tanpa pertimbangan ia langsung membeli tanah itu dan mendesain rumah itu sesuai keinginannya sendiri.
Rumah yang berlantai dua bergaya minimalis dengan dinding sebagian hanya berbahan dasar kaca. Dan lokasinya begitu cocok untuk membangun rumah seperti itu apalagi rumahnya berhadapan dengan jalan utama perkampungan tersebut.
"Rasanya aku tidak sabar lagi ingin ke sana, menghilangkan penat di sini. Apalagi wanita di sana cantik-cantik dan cantik mereka didapat secara alami. Terutama dari suku Dayak. Mereka lebih memanfaatkan bahan-bahan alami yang mereka dapat dari hutan-hutan tropis di sana." Cerita Erkan dengan mata berbinar.
"Ingat, Man. Kamu belum resmi bercerai, tunggu satu tahun lagi!" ucap Raka yang mengingatkan Erkan akan statusnya dengan begitu tegas.
"Aku berdoa semoga kamu mendapatkan istri yang berasal dari sana," ucap Aslan yang menadahkan tangan seakan berdoa.
"Dan jangan lupa hasilkan anak yang banyak, biar perusahaan mu ini banyak pewarisnya," selorohnya kemudian dan sekali lagi Raka menyikut pinggangnya.
"Apa-apaan, sih Ka? Dari tadi perasaan kamu menyikut perut aku terus!" sewot Aslan. Aslan tidak pernah tahu tentang penyakit yang diderita sang sahabat, hanya Raka lah yang tahu dengan penyakit yang Erkan miliki.
"Sudah-sudah, kalian pulang saja, sana. Aku mau melanjutkan pekerjaan lagi, menyelesaikan pekerjaanku, aku benar-benar lelah dan ingin istirahat. Ada kalian membuat kepalaku bertambah pusing," sungut Erkan dan mengusir dua sahabatnya itu.
Sebenarnya Erkan ingin sekali marah dengan ucapan Aslan barusan dan meninju mulutnya yang seperti perempuan itu.
Namun di benaknya mengatakan kalau Aslan tidak salah, jika ia tahu dengan penyakit Erkan mungkin Aslan tidak akan mengungkit masalah anak lagi di hadapannya.
"Oke, kami pergi dulu. Jaga kesehatan kamu dan ingat obatnya harus diminum. Sebelumnya makan dulu!" perintah dan saran dari Raka yang menurut Aslan lebih cocok menjadi istri Erkan.
"Andai kamu perempuan, aku yakin pasti Erkan lebih memilih kamu yang menjadi istrinya, ketimbang sahabat. Tapi sayangnya kamu seorang pria," ucap Aslan yang begitu dramatis kemudian terkekeh.
Raka yang mendengarnya hanya mendengus sebal. Dan membuka pintu ruangan Erkan dan melangkah keluar dengan perasaan kesal dan diiringi Aslan dibelakangnya yang masih terkekeh akan ucapannya sendiri yang mengejek Raka sambil menuju dan masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.