Sebelum Erkan menikah dengan Tantri, ia pernah membina rumah tangga bersama dengan wanita yang bernama Bella, wanita yang ia kenal semasa remajanya, yang saat itu Erkan berusia 17 tahun dan Bella berusia 22 tahun yang mana usia mereka terpaut 5 tahun.
Saat bertemu dengan Bella, Erkan dalam keadaan yang begitu sangat berduka, ia harus kehilangan sosok Ibu yang sangat begitu ia sayangi melebihi siapapun.
Sang ibu pergi dari dunia ini untuk selama-lamanya di karenakan sakit, dan beliau meninggalkan sang suami yang begitu sangat mencintai dirinya melebihi siapapun, sehingga Erkan pun terabaikan oleh sang Ayah yang ikut meratapi hidup setelah ditinggal sang istri tercinta.
Erkan merasa nyaman saat ia bersama Bella, seakan kehadiran Bella merupakan hadiah yang Tuhan tunjukkan untuk pengganti sang ibu nya. Bella layaknya seorang ibu yang selalu memanjakan Erkan dan selalu perhatian dengan pria itu. Karena usia Bella yang lebih tua dari Erkan seakan ia tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Erkan.
Pria itu hanya ingin diperhatikan dan di manja layaknya seorang anak. Dan Bella pun melakukannya, bukan karena rasa kemanusiaan melainkan karena uang.
Setelah Bella tahu identitas sebenarnya dari Erkan, ia pun mendekati Erkan karena pria itu merupakan pewaris tunggal dari pemilik perusahaan terbesar di Indonesia.
Awal mula perkenalan dirinya dan Bella.
Sepulang dari pemakaman sang ibu nya, Erkan langsung pergi dengan mengemudi mobilnya sendiri tanpa tahu arah dan tujuannya. Saat ini pikirannya sedang kalut, tidak ada sanak saudara maupun keluarga yang ia miliki, ia sekarang hanya hidup bersama sang Ayah, sedangkan 2 sahabatnya pun tidak ada di sampingnya untuk menghibur dirinya dari rasa duka.
Erkan terus melaju kan mobilnya tanpa tujuan. Yang ada di benaknya sekarang adalah ingin mencari hiburan untuk menghilangkan kesedihan atas meninggalnya sang Ibu yang begitu sangat ia sayangi.
Tanpa ia sadari mobil yang Erkan bawa menepi di sebuah tempat hiburan yang terlihat begitu ramai. "Sepertinya tempat ini bagus untuk menghilangkan kesedihanku untuk saat ini," gumamnya yang sudah mematikan mesin mobilnya.
Erkan pun membuka pintu mobilnya setelah itu keluar dari mobil tersebut dan menutup kembali mobilnya. Semula Erkan bingung tempat apakah yang ia kunjungi ini, ia melihat pria wanita hilir mudik memasuki tempat tersebut.
Erkan terkenal dengan pemuda yang baik-baik, ia tidak pernah melawan atau menentang kedua orang tuanya, ia merupakan pemuda yang penurut dan taat akan agama, karena itulah pemuda itu tidak pernah tahu tempat seperti apa yang ia datangi sekarang.
Dunia Erkan ia manfaatkan hanya untuk belajar dan belajar saja, tanpa ia tahu dunia gemerlap di luaran.
Dan malam ini, ia memulai kehidupan itu, kehidupan yang akan merubahnya dari pemuda yang baik-baik menjadi pemuda yang urakan di karenakan rasa sedih yang begitu mendalam.
Erkan pun perlahan membaur dengan pengunjung yang ingin masuk ke gedung tersebut, yang saat ia baca di sebuah baleho besar yang bertuliskan nama sebuah klub. Karena rasa penasaran Erkan pun mengikuti godaan itu yang ingin tahu isi dari sebuah klub malam tersebut.
Namun, sayangnya saat Erkan sudah tiba di ambang pintu masuk klub itu, Ia dihadang oleh dua orang penjaga yang memiliki postur tubuh besar dan berotot yang menggunakan pakaian serba hitam.
"Maaf, anak muda. Tolong perlihatkan kartu identitas anda!" ucap salah seorang penjaga itu. Mereka sengaja meminta Erkan menunjukkan kartu identitas karena melihat tampilan Erkan yang masih terlihat muda dan mereka memastikan jika usia Erkan baru sekitaran 17 tahun dan yakin jika ia masih pelajar SMA.
Mereka tidak ingin klub malam ini di tutup karena kesalahan mempersilakan anak di bawah umur masuk, karena itulah mereka harus teliti.
Erkan menolak saat salah satu penjaga itu meminta ia memperlihatkan kartu identitasnya, "kenapa masuk ke dalam harus memerlukan kartu identitas?" tanya Erkan sewot. "seperti pembagian sembako saja, yang dimintai syarat seperti itu!" serunya dengan nada angkuh. "Lagian kalian tidak tahu, ya, siapa aku? Berani-beraninya kalian melarang aku masuk ke dalam!" serunya lagi dengan nada menantang. Entah dari mana keberanian Erkan itu datang, padahal ia selama ini merupakan pemuda yang penurut dan lemah lembut. Seakan kematian Ibunya sudah merubah segalanya.
Penjaga itu pun tidak menghiraukan perkataan yang diucapkan Erkan, malah ia mencibir ke arah Erkan seakan menganggap tingkah pemuda itu terlalu begitu kekanak-kanakan.
"Maaf anak muda kami tidak peduli status anda, kami hanya menjalankan perintah dari bos pemilik klub ini, karena kami tidak ingin ada masalah yang ditimbulkan karena perilaku anda," tekan penjaga itu dengan wajah tampak geram. "Karena usia anda sepertinya belum pantas untuk masuk ke dalam dan melihat kegiatan yang terjadi di dalam sana," ujar penjaga lagi.
Namun Erkan tidak peduli, ia terus mendesak agar penjaga itu memperbolehkan dirinya masuk karena Erkan begitu penasaran. "Kalau kalian memperbolehkan aku masuk ke dalam, aku akan memberi uang yang banyak untuk kalian, tenang saja aku pewaris tunggal perusahaan dan uangku banyak. Andai kalian di pecat aku akan mempekerjakan kalian berdua," ucap Erkan dengan nada angkuhnya.
Dua penjaga itu tertawa terbahak-bahak seakan meremehkan ucapan dari Erkan. "Jangan terlalu banyak menghayal anak muda. Jika memang anda pewaris tunggal perusahaan, sekarang juga kami ingin melihat kartu identitas anda!" seruan penjaga yang mengejek ucapan Erkan.
"Bukan aku tidak memiliki KTP, tapi dompetku tertinggal di rumah!!" tegas Erkan. Memang benar sewaktu pulang dari pemakaman Erkan tidak membawa barang apa-apa, ia melupakan semua itu karena pikirannya yang begitu kalut, hanya mobilnya saja yang ia bawa, sedangkan dompet maupun ponselnya tertinggal di rumah.
"Ya sudah, anda pulang dulu, setelah itu anda kembali lagi ke sini dengan KTP anda dan uang yang banyak," sindir penjaga itu.
Penjaga yang satunya pun mendekati Erkan, dengan wajah garangnya pun ikut mengusir pemuda itu. "Sebaiknya anda pulang saja, tuan muda!" serunya.
Erkan tidak terima dengan pengusiran yang mereka lakukan, ia pun tampak geram dan terlihat begitu kesal, sambil menyugar kasar rambutnya Erkan pun berucap "aku ke sini hanya untuk bersenang-senang, bukan mencari masalah!!!" tukasnya dengan suara meninggi.
"Kami tahu, orang yang datang ke sini memang untuk mencari kesenangan," ujar salah satu penjaga. "tapi umur anda belum mencukupi dan anda masih anak sekolah, kemungkinan anda masih SMA, iyakan!" tebak penjaga itu.
"Umurku sudah 17 tahun dan aku cukup dewasa," gumamnya.
"Dewasa apanya, anda itu masih terlihat kekanak-kanakan," ujar salah satu penjaga.
"Dan tolong. Kami sudah meminta baik-baik dengan anda untuk pergi dari sini jangan sampai karena Anda kesabaran kami habis," ancam salah satu penjaga.
"Kami tidak segan-segan akan menghajar anda di sini, jika anda benar-benar tidak pergi dari sini," ancam penjaga yang lainnya.
"Aku tidak takut!!!" tantang Erkan dengan suara meninggi.
Tanpa basa basi lagi salah satu penjaga itu langsung meninju pipi Erkan di sebelah kiri. Tapi hanya sekali dan membuat pipi Erkan membekas sudut bibirnya pun mengeluarkan darah, meski tidak terlalu banyak.
Erkan murka dan ingin membalasnya tapi salah satu penjaga yang lainnya melayangkan tinjunya lagi di bagian perut. Erkan terduduk dan meringis kesakitan, menekan perutnya yang terasa kosong karena belum makan.
Sedangkan di jarak yang tak jauh darinya ada seorang wanita yang memperhatikan perdebatan penjaga dan pemuda itu, semula wanita itu biasa saja tapi saat dua orang penjaga mulai memukuli pemuda itu, si wanita berlari dan mendekati mereka, si wanita pun mencoba melerai pemukulan itu.
"Hentikan!!!" teriak wanita itu.
"Kalian," dengan menunjuk dua orang penjaga itu secara bergantian.
Setelahnya membungkuk membantu Erkan untuk berdiri. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya ke Erkan.
Erkan menggeleng dan terpana dengan wanita yang ada di hadapannya ini, wanita dewasa yang terlihat begitu manis dan cantik.
Sambil merangkul tubuh Erkan yang hampir terjatuh wanita itu berucap lagi ke kedua penjaga tersebut. "Kalian!! apa-apaan, sih, main pukul-pukul anak orang aja," gerutunya. "kalau kenapa-kenapa, bagaimana, dan kalian mau bertanggung jawab kalau tempat hiburan ini akan di tutup karena kejadian ini, hah!?" desis wanita itu lagi.
Dua penjaga itu hanya menunduk, seakan mereka takut dengan wanita yang ada dihadapan mereka ini. "Maaf, Nona Bella. Bukan maksud kami seperti itu. Tapi pemuda ini ngotot ingin masuk ke dalam, sedangkan ia tidak memiliki kartu identitas diri," bela mereka.
Bella pun menghembuskan napasnya. "Oh, jadi seperti itu, ya sudahlah, kalian kembali bekerja saja lagi, nanti bos besar marah," ucapnya.
"Siap, Nona!"
Bella pun kembali menatap wajah Erkan dan memegangi pipi Erkan yang nampak sudah lebam dan mengusap sudut bibir Erkan yang terlihat robek sedikit. "Kamu nggak apa-apa, De?" tanya Bella sekali lagi.
Bukannya menjawab Erkan tambah terpana dengan wanita yang ada dihadapannya ini, entah mengapa sudut hatinya yang dingin terasa hangat, apalagi ini baru pertama kalinya ia di sentuh oleh seorang wanita selain ibunya. Dan wanita itu tampak cantik dan seksi.
Bella yang memperhatikan tingkah Erkan tampak lucu dan menampilkan senyuman menggodanya. 'Aku yakin pemuda ini masih lugu,' gumamnya dalam hati.
Bella yang berpengalaman dengan banyaknya pria pasti bisa menebak dengan mudah dari gestur tubuh mereka, apalagi Bella menangkap jika pemuda yang ada dihadapannya ini terlihat begitu gugup saat ia sentuh.
Bella merupakan wanita penghibur di klub malam itu, jadi sudah banyak pria yang ia layani selama ini, tak terkecuali pemuda yang masih labil seperti Erkan.
Pertemuan yang pertama ini membuat hatiku menghangat, sentuhannya dan belaiannya di wajahku seakan mengingatkan aku akan sentuhan ibu. Jika ia adalah wanita yang dikirim untuk menggantikan ibu, aku rela meski usianya lebih tua dariku atau ia perempuan yang tidak baik, aku akan tetap mempertahankannya untuk tinggal di sisiku menemani hidupku. Dan aku akan menjadikan nya wanita yang pantas untuk menemani diriku dan akan aku jadikan ia wanita yang akan mendapatkan kehormatan.