Bella yang merasa dipandangi Erkan pun hanya tersenyum dan ia menjentikkan jarinya dihadapan Erkan. "Hei! Aku tanya malah bengong!" Sungut Bella, "apa kamu baik-baik saja?" tanyanya lagi.
"Eh, i-iya, Mbak. Aku baik-baik saja," jawabnya.
"Mari, aku papah kamu!" tawarnya. "Kamu bawa Mobil 'kan?" tanyanya kemudian sambil berjalan menuju ke parkiran mobil.
"Hm," Erkan mengangguk dan menurut. Entah kenapa jantungnya berdetak begitu cepat saat ada wanita yang begitu dekat dengan dirinya. Karena Erkan selama di sekolah tidak pernah berdekatan dengan seorang wanita, meskipun teman satu kelasnya, Erkan selalu menghindari mereka. Dan malam ini untuk pertama kalinya ia bersentuhan langsung dan ia pun merasa gugup.
Bella pun memapah Erkan menuju ke mobil milik pemuda itu.
Sebelumnya Bella meminta izin ke beberapa temannya yang sedang berdiri di sisi parkiran mobil yang lainnya sambil berteriak "girls!!! gue antar pelanggan dulu, kamu semua masuk aja duluan," ujarnya memerintahkan beberapa temannya untuk masuk ke klub terlebih dahulu dan dengan lantang ia mengatakan jika Erkan adalah pelanggannya, padahal Bella baru saja bertemu dengan pemuda yang sedang ia papah ini, nama nya saja Bella belum tahu.
Erkan yang merasa diperhatikan oleh Bella merasa tersanjung, tak henti-hentinya ia tersenyum karena merasa senang dan bahagia. Hingga muncullah niatnya ingin berkenalan lebih dekat dengan wanita yang sedang memapah nya ini. Sambil berjalan menuju mobilnya, Erkan mencari-cari cara agar wanita ini selalu ada di samping nya untuk menemani dan menghibur dirinya dari rasa sedih.
"Ini, ya, mobil kamu?" tanya Bella saat mereka sudah sampai ke parkiran mobil.
"Hm," Erkan hanya mengangguk.
"Kuncinya di mana?" sekali lagi Bella bertanya.
Erkan merogoh saku celana kainnya dan memberikan kunci mobil kepada Bella.
Bella membuka 'kan pintu mobil untuk Erkan di bagian kemudi, sementara Erkan bersandar di samping mobil sambil memperhatikan gerak gerik Bella. Dan saat Bella mempersilakan ia masuk, Erkan memulai aktingnya.
"Aw," rintihnya pura-pura. Bella bingung dan bertanya sambil memegang perut Erkan~karena Erkan memegang bagian perutnya itu.
"Kenapa? Apa perut kamu masih terasa sakit?" tanya Bella sedikit khawatir.
Erkan mengangguk dengan menampilkan wajah yang pura-pura meringis.
"Jika keadaan kamu seperti ini, aku yakin kamu nggak bakalan fokus mengemudi, apa masih bisa!?" tanya Bella ragu dan sedikit bingung.
Erkan hanya menggeleng dengan wajah memelas dan sedih, tapi hanya akting saja.
"Ya sudah, mana ponsel kamu, aku akan menghubungi keluarga kamu, biar mereka bisa menjemput kamu di sini. Bagaimana?" tawar Bella sambil menengadah tangannya untuk meminjam ponsel Erkan.
Untuk sekali lagi Erkan menggeleng.
Bella menghembuskan napasnya, "kamu nggak bawa ponsel?"
Erkan pun menggeleng dan masih dengan posisi membungkuk karena menahan nyeri di perutnya. Sebenarnya ada nyeri yang tiba-tiba muncul di karenakan asam lambungnya naik, sejak pagi Erkan belum ada menyentuh makanan sama sekali karena merasa terpukul atas kematian sang Ibu.
Bella yang tidak tega pun akhirnya mendesah pasrah, 'terpaksa deh gue ngantar ni bocah' gumam nya dalam hati.
"Jika, Mbak, nggak keberatan, " Erkan menjeda ucapannya.
"Kenapa?" tanya Bella bingung.
"Bisakah aku minta tolong ke mbak untuk mengantar kan aku pulang? kumohon!" serunya dengan nada memohon dengan wajah tampak sedih.
"Tenang saja, aku akan membayar jasa, Mbak kok," ujar Erkan lagi dengan menawarkan pembayaran agar Bella tertarik dan mau membantunya.
Bella menyedekapkan kedua tangan nya di d**a dan memicing kan matanya merasa tidak yakin dengan perkataan pemuda yang ada di hadapan nya ini. "Kamu yakin, mau bayar aku, memangnya kamu punya uang?" ejek Bella. "Bayaran aku mahal lho," ujarnya lagi dengan menampilkan senyuman menggoda.
Erkan yang melihat tingkah wanita yang ada di hadapan nya ini tergelak dan berdecak. "Ck, tenang saja, Mbak. Aku akan bayar seberapa kamu minta," ucap Erkan meyakinkan.
Bella pun tetiba tertawa dengan keseriusan pemuda itu, dan membuat Erkan bingung dan Mengira tertawa yang ditampilkan Bella adalah tawa yang mengejek.
"Ya sudah! Jika, Mbak menolaknya nggak apa-apa juga, aku akan mencoba mengemudi sendiri, palingan yang terjadi cuma kecelakaan saja," ucap Erkan dengan maksud menyindir Bella.
"Baiklah, baiklah, aku akan mengantar kamu, jangan merajuk begitu, kamu terlihat jelek, tahu nggak!?" ejek Bella. Dan ia pun memapah kembali Erkan menuju mobil di sebelah kiri di bagian penumpang. Dan wajah Erkan pun terlihat berseri kembali.
"Silakan, aku akan mengantar tuan muda dengan selamat sampai tujuan," seloroh Bella. Dan sekali lagi perhatian itu membuat hati Erkan menghangat.
'Dari tampilannya boleh juga, ganteng, apalagi mobilnya ini. Kalau dilihat-lihat mobil ini harganya terbilang mahal dan hanya kalangan berduit saja yang memiliki mobil seperti ini,' batin Bella.
'Anak seumuran dia sudah menggunakan mobil mahal dan aku yakin anak ini dari kalangan orang berada, dan nggak ada salahnya aku akan mendekatinya dan pura-pura peduli,' Bella masih bergumam di dalam hati.
'Baiklah, dengan pemuda ini gue akan mencoba jaim sedikit agar ia terpana,' gumam Bella di dalam hatinya. Saat ini ia sudah menjalankan mobil Erkan di jalan raya.
"Mm, masalah pembayaran tadi, kamu jangan anggap serius, aku hanya menantang kamu saja," ucap Bella yang memulai pembicaraannya dengan Erkan.
"Nggak apa-apa, Mbak. Aku memang berniat ingin membayar jasa kamu," sahut Erkan yang kini menyandarkan tubuhnya di sandaran belakang kursi mobil. Dan menoleh ke arah samping Bella.
"Aku menolong kamu ikhlas, kok!" ujar Bella kemudian. 'Aku harus bisa memikat pemuda ini, sepertinya ia pemuda yang royal,' gumamnya dalam hati dan melirik ke arah Erkan.
"Terima kasih, Mbak. Aku akan tetap membayar kamu," ujar Erkan meyakinkan dan sedikit memaksa.
"Terserah kamu, aku nggak memaksa," Bella pura-pura pasrah dengan menoleh ke arah Erkan dan tersenyum.
"Cantik," tanpa sengaja Erkan berucap kata itu.
"Hm, siapa?" Bella melirik Erkan.
"Kamu."
"Jangan menggoda, aku malu."
"Serius. Mm, apa boleh aku berteman dengan kamu?" tanya Erkan ragu-ragu.
"Jangan kan berteman, jadi kekasih pun aku mau," seloroh Bella.
Erkan yang mendengar ucapan Bella, menanggapinya dengan serius dan ia menegakkan tubuhnya "beneran, Mbak mau jadi kekasihku?"
Sekali lagi Bella tertawa terbahak-bahak akan reaksi Erkan. Erkan pun mencelos merasa kecewa dengan gurauan yang di lontarkan oleh Bella. "Andai, Mbak mau, aku serius mau jadi kekasih kamu."
"Hm," Bella menoleh ke samping menatap Erkan. "Kita baru kenal lho, aku aja belum tahu nama kamu siapa, kamu pasti juga gitu kan?" tanya Bella serius.
"Ya sudah, mari kita berkenalan," Erkan menegakkan kembali duduknya dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Bella. Bella pun menyambut uluran tangan itu tapi menggunakan tangan kiri karena posisinya yang lagi menyetir.
"Erkan, usia 17 tahun beranjak 18 tahun dan baru kelas 3 SMA, anak tunggal dari pasangan Bayu Wijaya dan Salima pemilik perusahaan PT Wijaya Sejahtera Indonesia.
Bella yang mendengar nama Bayu Wijaya terperangah tak percaya, 'jadi pemuda ini benar-benar anak orang kaya, yes ini kesempatan gue untuk menguras habis uang miliknya,' gumam Bella dalam hati.
Bella mencoba menormalkan sikapnya, agar Erkan tidak merasa jika Bella merupakan cewek matre, ia harus mencoba sok jual mahal.
"Aku Bella, usiaku sudah 22 tahun anak yatim piatu dan memiliki satu adik dan pekerjaanku sebagai ladies di klub malam dan masih kuliah," ujarnya.
Erkan tidak kaget atau kecewa mendengar pekerjaan Bella, ia tidak peduli yang ia ingin kan dari Bella hanya rasa kenyamanan saat di dekat wanita ini.
"Hei, kamu kok nggak kaget dengan pekerjaan aku, aku seorang ladies lho dan kerjaan aku jadi wanita penghibur. Apa kamu masih mau berteman dengan aku?" ungkap Bella. "Apa kamu nggak malu atau kecewa, ternyata wanita di samping kamu ini adalah wanita penghibur?" ujarnya lagi.
"Aku nggak malu, aku akan tetap ingin berteman dengan kamu. Mungkin ada alasannya kamu bekerja seperti itu. Almarhum Ibuku mengatakan "jangan pernah menghina pekerjaan orang lain, meski pekerjaan itu hina, mungkin ia bekerja karena paksaan".
"Tapi kamu bisa kok merubahnya secara perlahan, asal ada niat dari diri kamu, InsyaAllah kamu akan diberikan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak atas izin yang di Atas," ucap Erkan kembali dengan menunjuk ke arah langit yang terhalang oleh kap mobil.
Bella mengangguk dan tersenyum, tapi hanya pura-pura, padahal di dalam hati menggerutu. 'Sok bijak menasihati aku, kamu itu anak baru gede, nggak pantas menasihati aku, kamu yang bakalan tersesat karena rayuan gue, lihat saja nanti. Siapa yang menang dan siapa yang berubah,' ucap Bella hanya dalam hati.
"Oh, iya, dari tadi kita cuma ngobrol aja, ngomong-ngomong tujuan kita kemana?" tanya Bella mengalihkan pembicaraan yang tidak bermutu menurutnya.
"Kita mampir ke rumahku dulu di alamat X, aku ingin mengambil dompet serta ponselku yang tertinggal di sana. Setelah itu kita ke Apartemen ku saja," pinta Erkan.
"Siap, Bos," seloroh Bella. 'Aku harus bisa menggaet Erkan dan akan kujadikan pemuda itu b***k yang mau menuruti semua perintahku. Kita lihat saja nanti,' gumam Bella dalam hati dengan niat liciknya.
Hampir 1 jam lamanya akhirnya mobil yang mereka bawa tiba di salah satu rumah mewah dan megah milik Erkan.
Erkan meminta Bella membunyikan klakson agar sekuriti yang ada di dalam membukakan pagar. Dan benar saja saat sekuriti melihat ke arah luar, ada mobil sang tuan mudanya, ia langsung membukakan pagar tersebut tanpa bertanya lagi.
Mobil pun melaju menuju ke pelataran rumah Erkan, pemuda itu keluar tanpa mengajak Bella karena ia tidak ingin membuat sang Ayah kecewa karena Erkan mengajak seorang wanita di mobilnya.
"Kamu tunggu di sini dulu, aku ke dalam sebentar dan jangan ke luar dari mobil, oke!" pintanya.
"Oke," sahut Bella.
Setelah Erkan keluar, Bella pun mengamati rumah itu hanya dari luarnya saja.
"Gila, benar-benar anak sultan ini, tampilan luarnya saja seperti ini, apalagi dalamnya. Kalau gue beneran menikah dengan pemuda itu, yakin hidup gue bakalan terjamin," ungkap Bella dengan khayalannya.
"Tapi sepengetahuan gue 'kan, kalau nggak salah istri dari tuan Bayu Wijaya meninggal dan pemakamannya pun baru siang tadi dilangsungkan," gumam Bella dengan wajah bingungnya.
Karena kematian Ibu Erkan sudah tersiar di berita yang ada di Televisi dan Media cetak. "Bakalan makmur hidup gue kalau begini," monolognya sambil terkekeh.
Berbahagialah di atas penderitaan orang lain dan yakinlah semua itu akan ada balasannya.