Setelah Erkan mengambil keperluan yang ia butuhkan dari rumah megah itu. Pemuda itu pun gegas kembali ke luar rumah, tanpa mempedulikan sang Ayah yang mengalami keterpurukan sendiri di dalam ruang kerja beliau.
Sama halnya dengan Erkan beliau pun merasakan kesedihan yang amat mendalam atas meninggalnya istri tercinta Ibu dari Erkan.
Erkan membuka pintu mobil di sisi sebelah kiri, tepatnya di bagian penumpang. Pemuda itu masih meminta Bella yang mengemudikan mobil miliknya menuju ke Apartemen.
"Jadi l, sekarang, kamu masih meminta aku yang membawa mobil ini?" ucap Bella yang bertanya ke Erkan ketika ia sudah duduk di kursi penumpang.
"Maaf, tubuhku masih lemas, Bel." Keluh Erkan dengan wajah yang memelas dan terlihat agak pucat.
Erkan mengganti panggilan 'Mbak' menjadi Bella untuk wanita yang ada disampingnya ini, sesuai permintaan wanita itu saat sebelum sampai di rumah pemuda tersebut.
Dengan senang hati Erkan menerima permintaan Bella, dan panggilan nama itu membuat dirinya merasa nyaman.
Mobil Erkan pun sudah keluar dari pintu gerbang rumah megah tersebut, dan membelah padatnya jalanan raya di kota Jakarta.
Erkan merasa senang, ditengah kesedihan, ia mendapatkan wanita yang sifatnya mirip seperti sang ibu.
'Aku akan mempertahankan dirimu untuk terus berada di sisiku, Bel.' Batin Erkan yang bersandar di bangku penumpang sambil melirik ke arah wanita seksi di sampingnya ini.
Tidak dipungkiri oleh Erkan. Saat ia duduk didekat wanita ini, ada sesuatu yang mendesir di dalam hatinya. Entah itu apa, ia pun tidak tahu. Yang pasti jiwa kelelakiannya muncul.
'Baru kali ini aku melihat wanita seseksi ini, pahanya begitu mulus dan putih,' batin Erkan.
"Astaghfirullah," sebutnya, dengan mengusap wajah sedikit kasar. Sesaat Erkan terlena dengan pemandangan yang ada disampingnya ini. Erkan tidak memungkiri itu, ia seakan tergoda ingin menyentuh wanita ini. Karena ia pria normal, apalagi di usianya sekarang, usia yang mana jiwa mudanya sedang bergelora. Ingatkan Erkan untuk tidak tergoda akan keseksian wanita itu.
Bella pun menyadari dengan tingkah Erkan. Namun wanita itu membiarkannya saja, karena sengaja ingin menggoda pemuda tersebut.
Wanita itu pun pura-pura tidak mengetahuinya, dan bertanya kenapa wajah Erkan mengeluarkan keringat, sedangkan di mobil AC terus menyala.
Bella menyentuh paha Erkan dan membuat pemuda itu terkejut dan menegakkan duduknya menormalkan detak jantungnya. "Hei, kenapa wajah kamu?" tanya Bella. Tangan yang semula menyentuh paha Erkan beralih ke dahi pemuda itu, dan Bella mengusap peluh yang ada di situ.
"Kenapa kening kamu mengeluarkan keringat?" tanyanya, "padahal AC terus menyala sedari tadi!" katanya dan pura-pura bingung. Dengan masih mengusap peluh di bagian kening Erkan.
Erkan meresapi sentuhan Bella sambil memejamkan matanya dengan jantung yang terus berdegup begitu kencang karena gugup.
Bella yang melirik wajah Erkan tersenyum menyeringai, 'kena kamu, bocah,' gumamnya di dalam hati.
"Kamu sakit?" tanya Bella kemudian dengan telapak tangan menempel di kening Erkan. Karena merasa sentuhan Bella terasa nyaman, Erkan kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil.
Erkan menggeleng, masih dengan posisi mata yang terpejam dan tangan bersedekap di d**a. Sedangkan di bagian bawah sana sudah ada sesuatu yang membuat pemuda itu tidak nyaman.
Untungnya bagian itu tertutup dengan jaket yang ia bawa dari rumah tadi. Dan jaket itu menutupi tubuh Erkan dari atas bagian perut hingga batas pahanya.
Andai tidak ditutup Erkan pasti malu akan reaksi benda tumpul itu. Dan ia yakin Bella akan mentertawakan dirinya. 'Sialan!!' umpatnya di dalam hati. 'Kenapa, juniorku malah bereaksi secepat ini, hanya karena sentuhan Bella yang terasa begitu lembut,' gumamnya lagi di dalam hati.
Sekuat tenaga Erkan menahan hasratnya, hingga peluh di bagian keningnya terus keluar. 'Didekat Bella membuat jiwa lelakiku bergelora. Sebelumnya aku tidak pernah tertarik dengan gadis manapun saat di sekolah. Entah kenapa dengan Bella perasaanku seperti ini,' gumamnya di dalam hati.
Pemuda itu bertambah gelisah. Bella yang melihat gerak gerik dari Erkan segera menghentikan aksinya, 'kasihan,' pikirnya. 'Dan belum saatnya,' ujarnya lagi sambil tersenyum menyeringai.
Setelah Erkan rileks, Bella memulai membuka pembicaraan lagi, dengan menanyakan arah Apartemen pemuda itu.
"Dimana alamat Apartemen kamu?" tanya Bella yang melirik sebentar ke arah Erkan dan kembali fokus menatap ke jalan raya.
Erkan menjawabnya tanpa membuka matanya, "Di kawasan jalan Jenderal Sudirman."
Bella pun mengangguk dan terus melajukan mobil itu menuju kawasan yang disebutkan pemuda itu.
Sebelumnya Erkan meminta Bella mampir terlebih dahulu ke sebuah supermarket untuk mencari beberapa minuman dan cemilan, untuk persediaan saat mereka berada di Apartemen nanti.
"Kita mampir ke supermarket dulu, ya!" pintanya. "Kebetulan di Apartemen belum ada persediaan makanan." Ujarnya.
Bella yang mendengar permintaan Erkan pun hanya bergumam, "hm," dan mengangguk setuju.
Setelah sampai di salah satu supermarket yang tidak jauh dari Apartemen, Bella pun menepikan mobil di pelatar supermarket yang buka selama 24 jam itu.
Saat mereka hendak turun dari mobil. Bella sempat mempertanyakan akan kondisi perut Erkan pasca pemukulan tadi.
"Gimana sama perut kamu? Masih sakit apa sudah baikan?" tanya Bella dengan mimik wajah pura-pura khawatir.
Erkan pun tersenyum dengan perhatian itu, "hm, masih sakit, tapi sedikit. Dan sakitnya pun bukan karena tinjuan dari penjaga tadi. Tapi karena asam lambungku naik," ujar Erkan sambil memegangi perutnya.
"Kok, bisa!" seru Bella nampak sedih.
"Iya, aku punya penyakit maag, karena kesedihan atas kepergian ibuku, hingga membuat aku lupa untuk makan sejak pagi tadi," ungkapnya.
"Astaga!! Kok bisa begitu. Sedih, sih sedih. Tapi makan jangan sampai terlewati. Apalagi memiliki penyakit maag, itu berakibat fatal bagi lambung kamu!" omel Bella. Yang entah kenapa membuat Erkan senang. Senang merasa ada seseorang yang memperhatikan dirinya seperti sang ibu yang akan marah saat pemuda itu terlambat untuk makan.
"Ya sudah, kita cari makan dulu. Mengisi perut kamu yang kosong. Aku nggak mau direpotkan sama kamu yang tetiba pingsan di dalam supermarket nanti!" seruannya dan memundurkan kembali mobil itu, mengurungkan niat untuk turun dari mobil.
"Terserah kamu saja. Aku akan mengikuti kemanapun kamu pergi," kata Erkan.
"Hm, kebetulan aku juga lapar!" Bella menimpali perkataan Erkan.
Mobil pun kembali membelah jalan raya di sekitaran jalan Sudirman, mencari restoran atau tempat makan yang agak sepi pengunjung. Karena mereka tidak ingin terlalu lama menunggu pesanan makanan datang.
"Kamu maunya makan dimana? Restoran atau warung makan di pinggir jalan saja?" tanya Bella yang menawarkan tempat makan untuk Erkan, membiarkan pemuda itu untuk memilih tempat makannya. Bukannya apa. Bella takut, jika bocah ini tidak cocok dengan menu makanan yang akan wanita itu pilih nantinya.
"Terserah kamu. Aku tidak terlalu hapal dengan tempat makan yang enak di luaran. Karena jujur, orang tua aku tidak pernah membiasakan diri untuk makan di luar. Apalagi ibuku. Beliau lebih memilih memasak menu makanan setiap hari di rumah. Terkecuali Ayahku. Jika beliau ada meeting di luar, barulah beliau makan di restoran dengan para kolega atau rekan bisnis. Karena saat bekerja di kantor Ayah pun selalu mendapatkan kiriman makanan yang dibuat ibu dari rumah. Karena itulah kepergian ibu membawa luka terdalam untuk Ayah dan aku." Cerita Erkan panjang lebar dengan wajah mulai sendu.
"Eh, Maaf. Aku jadi curhat sama kamu," ucap Erkan ke Bella.
"No problem, kalau kamu butuh teman, aku akan siap jadi pendengar." Ujar Bella dengan tangan mengelus pundak Erkan.
"Terima kasih, Bel. Sudah mau menjadi teman aku. Aku harap kamu nggak bosan berteman dengan bocah seperti aku ini," ucap Erkan dengan merendahkan dirinya.
"Hei. Siapa bilang kamu bocah? Umur kamu itu 17 tahun. Dan aku yakin kamu sudah baligh, iyakan?" seloroh Bella dan melirik wajah Erkan yang sudah nampak bersemu merah.
"Aku yakin, kamu sudah pernah merasakan mimpi basah, iyakan?" tanya Bella frontal. Dengan maksud memancing Erkan.
Wajah Erkan bertambah bersemu merah. 'Sekarang aja, kurasa di bawah situ terasa basah, Bel,' gumam Erkan di dalam hatinya.
Bella hanya mengulum senyum melihat reaksi dari wajah Erkan.
Tidak terasa mobil pun tiba di sebuah warung makan yang berada di pinggir jalan. Meski warung makan biasa. Namun suasana warung itu terlihat asri dan tempatnya pun terlihat begitu bersih.
"Kita makan di sini saja, kebetulan warung ini langganan tempat aku makan. Tenang saja tempatnya bersih dan higenis, kok." Kata Bella yang melirik wajah Erkan yang terlihat seperti orang keheranan. Dan Bella menebak apa isi pikiran pemuda itu. Yang pasti memikirkan tempatnya bersih atau tidaknya.
"Baiklah, kalau itu maunya kamu. Aku nurut. Aku percaya kok sama kamu. Kalau tempat ini begitu bersih dan higenis." Ujar Erkan.
'Benarkan, sudah aku tebak. Orang kaya seperti kalian, pasti belum pernah merasakan makan di pinggir jalan begini. Untung aku bawa ni bocah kemari,' gumam Bella dalam hati.
Setelah mematikan mesin mobil Bella pun mengajak Erkan turun "Ayo turun. Aku yakin, kamu pasti akan menyukai menu masakannya, dan aku pastikan makanan di sini enak-enak," kata Bella meyakinkan pemuda itu.
"Hm, baiklah. Semoga saja cocok dengan lidah aku."
"Percayalah."
Merekapun memasuki warung makan tersebut dan duduk di bagian pojok.
Seorang pelayan pun mendekati mereka dan menawari menu makanan apa yang hendak di pesan.
Untuk saat ini Bella lah yang di minta Erkan secara langsung untuk memilihkan makanan yang enak menurut wanita itu.
Bella pun menyetujuinya.
Untung warung makannya agak sepi, jadi pesanan makanan mereka tidak akan lama di buat.
Benar saja tidak berapa lama menu yang di pesan datang. Erkan tampak berbinar ternyata menu yang di pesan oleh Bella adalah menu kesukaan dirinya yaitu nasi goreng udang.
Setelah selesai makan mereka pun melanjutkan ke supermarket yang sempat tertunda tadi. Bella pun memilih berbagai macam cemilan, tidak lupa pula ia mengambil minuman beralkohol. Tanpa Erkan sadari.
"Nginap di Apartemen aku, ya, Bel," pinta Erkan dengan wajah sedikit memelas.
Bella tampak berpikir. Pura-pura merasa keberatan akan permintaan Erkan.
Namun Erkan dengan tampang melasnya terus memohon kepada Bella.
Karena melihat wajah Erkan yang tampak sedih, Bella pun tidak menolaknya. Apalagi kan itu sudah merupakan pekerjaan dirinya untuk menemani para p****************g untuk tidur bersama.
Tapi bagi Erkan bukan tidur dalam artian yang aneh-aneh. Erkan masih polos dalam soal yang seperti itu.
Entah jika Bella menggodanya. Apakah pemuda itu akan tergoda dengan rayuan Bella.
Setelah selesai berbelanja mereka pun kembali menuju ke Apartemen Erkan.