Katanya menjadi orang seperti apa kita ditentukan oleh circle kita tapi menurutku orang seperti apa kita yang akan menentukan circle kita. Satu minggu telah berlalu setelah masa ospek dan aku masih belum mendapatkan teman. Itu karena orang-orang berada dalam circlenya masing-masing. Mungkin kalian berfikir bahwa mahasiswa di fakultas kedokteran semuanya adalah orang-orang pintar yang tidak memilihi-milih teman, yah aku tidak tahu di kampus lain tapi di kampus ku ada beberapa circle yang terkadang orang-orang rela menjadi pribadi yang lain hanya untuk masuk kedalam circle tertentu. Sering ku temukan orang yang berpura-pura kaya dan mengikuti gaya hidup para sultan dengan memeras uang orang tua. Sekedar informasi ada tiga circle utama dalam kelasku.
Circle yang pertama adalah para royal family, ini bukan berarti circle ini di isi oleh keluarga kerajaan atau ningrat tapi circle ini di isi oleh orang-orang yang berasal dari keluarga dokter. Circle kedua adalah para elite kota yang kaya raya. Circle yang ketika adalah orang-orang yang populer, walau pun tidak kaya raya anggota circle ini adalah anak orang berada yang berasal dari kota.
Lalu bagaimana denganku ? Tentu saja aku tak punya circle, orang tuaku bukan dokter, dan kami juga bukan keluarga kaya raya, di tambah lagi aku berasal dari desa tentu saja mereka enggan memasukan ku kedalam circle mereka. Dari 53 mahasiswa di kelas ku hanya ada aku dan Edwin yang tidak punya circle. Berbeda denganku seharusnya Edwin bisa masuk kedalam circle elite atau pun para orang populer tapi dia memilih untuk tidak bergabung di cricle manapun, tapi dengan adanya hal ini bukan berarti menunjukan Edwin orang ramah yang memandang semua orang itu sama. Aku pernah mendengar percakapan saat Edwin di ajak bergabung di circle elite saat Edwin sedang duduk di bangku taman.
"Edwin, yuk gabung di kelompok belajar kita " kata-kata ini selalu menjadi kedok dalam membuat circle
"Untuk apa aku bergabung dengan kalian. Aku tidak butuh kalian " Edwin menanggapinya dengan ekspresi yang dingin dan memandang rendah orang yang mengajaknya
"Aku pintar dan kaya, jadi aku tidak butuh bantuan kalian " lanjutnya dan meninggalkan taman.
Jujur saja, kesimpulan awalku tentang Edwin tidak terlalu bagus, tapi siapa aku berani mengkritiknya. Hanya dia yang selalu berada di atasku dalam nilai. Tapi percayalah setiap orang punya sisinya masing-masing. Kami jadi sering tergabung dalam kelompok yang sama karna kami tidak punya circle karena itulah kami akhirnya menjadi semakin akrab. Pandanganku tentang Edwin pun mulai berubah apalagi setelah praktek di lab untuk kedua kalinya di semester 2. Disebuah taman di depan fakultas kedokteran Edwin sedang duduk di salah satu bangku sambil mengacak rambutnya. Aku yang saat itu baru pulang dari minimarket membawa beberapa cemilan dan makan siang menghampirinya.
"Kau kenapa? "
"Moodku sedang tidak bagus " bukannya pergi karena takut dengan moodnya Edwin yang sedang tidak bagus, aku malah duduk dan memberi coklat.
"Makanlah. Makan dapat membuat moodmu bagus terutama makanan manis "
Edwin mengambil coklat dariku dan memakannya, entah karna dia sedang kesal atau lapar dia menghabiskannya dengan cepat.
"Kau tidak bertanya kenapa aku kesal "
"Bukankah di awal aku sudah menanyakannya " aku kembali menyerahkan roti dan sebotoh teh, dan langsung di ambil oleh Edwin.
"aku benar-benar kesal dengan dr. Mark " Edwin memakan rotinya dengan cepat dan lahap, aku menatapnya dengan ekspresi heran
"Oi kau belum makan tiga hari? makanlah lebih pelan kau akan tersedak " tegurku
"Ini semua karena aku lagi kesal " dia meminum sebotol teh itu dalam satu tegukan setelah menghabiskan rotinya
"Kau tau nilaiku semester ini dengan dr. Mark benar-benar jatuh "
"Jangan khawatir, selain dengan dr. Mark nilai mu A semua. lagi pula dr. Mark memang killer sih, ada banyak mahasiswa yang kena semprot sama dia "
"Tapi masalahnya ini kedua kalinya aku dapat C, apalagi dr. Mark sampai bawa nama keluargaku lagi "
"Maksudmu? " tanyaku, kemudian Edwin menatapku serius
"Lis, aku temanmu satu-satunya kan " aku mengangguk
"Dan kamu temanku satu-satunya " lanjutnya yang mulai membuat ku bingung
"Terus kenapa? "
"Kau tau bukan keluargaku kaya " aku memutar bola mataku kesal, aku memukul kepalanya dengan botol jusku
"OI KAU MAU BERCANDA??!! ku kira apa tadi sampai-sampai kau berbicara serius, semua orang tau kau itu kaya. Tidak usah berbelit-belit apa yang dikatakan dr. Mark sampai-sampai kau menjadi orang stress begini" Edwin masih mengusap kepalanya yang sakit.
"Kau janji tidak akan memberitahu siapa-siapa " aku menatapnya tajam
"Kau mau ku pulul lagi, awas saja jika kali ini kau bercanda lagi " Edwin menggelengkan kepala
"Dr. Mark bilang aku malu-maluin keluarga, padahal aku adalah anak dari keluarga yang turun-temurun jadi dokter dan punya rumah sakit besar tapi tidak bisa memasang infus "
"Oh jadi dr. Mark memarahimu karena kau tidak bisa memasang infus. Bukankah itu perkara mudah. kau hanya perlu berlatih lebih sering. Aku bisa membantumu jika kau mau "
"Wah bener nih kamu mau?, makasih Tuhan walaupun cuman punya temen satu tapi kalau paket komplit gak papa deh "
"Gak usah lebai. Tapi ngomong-ngomong keluargamu punya rumah sakit apa ?" aku sedikit penasaran
"Besok kamu juga bakal tau. Besok pagi kita mulai yah latihan masang infusnya, biar aku jemput sekalian pamitin kamu sama kak Alda "
"Okey " jawabku sambil mengangguk.
Pagi itu Edwin benar-benar menjemputku di kontrakanku dan kak Alda yang baru. setelah kak Alda lulus tes pegawai negeri sipil di kantor kejaksaan kami memutuskan untuk pindah ke kontrakan yang lebih dekat dengan kantor kak Alda.
"Kak Alda aku minjam Alis bentar ya "
"Iya, tapi jangan pulang kemalaman ya " jawab Kak Alda yang memang sedang bersantai di hari minggu.
Sebelum kami pergi kerumah Edwin, kami mampir dulu kerumah sakit keluarga Edwin untuk mengambil peralatan. Setelah mobil Edwin berhenti seketika aku langsung kaget
"Ini rumah sakit punya keluargamu? " Edwin hanya mengangguk
"Tunggu di sini sebentar aku akan mengambil peralatannya " Edwin kemudian turun meninggalkanku yang cengo sendirian. Ini adalah rumah sakit Medistra, rumah sakit swasta terbesar di negara ini dan tersebar diseluruh provinsi. Walaupun aku tahu Edwin adalah anak tunggal di keluarga yang kaya raya, aku tidak pernah mngira bahwa Edwin adalah anak dari pemilik rumah sakit terbesar di negeri ini. Tak lama Edwin kembali dengan menenteng wadah di kedua tangannya, dan masuk ke mobil
"Okey..... kita berangkat sekarang " katanya sambil menginjak gas
"Bisakah kita mampir dulu ke minimarket, aku ingin membeli cemilan "
"Tidak perlu, mamaku sudah menyiapkannya " Setelah perjalanan kurang lebih 15 menit, kami tiba di rumah Edwin yang begitu besar dan mewah dengan taman dan air mancur yang besar.
"Win, ini benerkan rumahmu ?"
"ya benerlah, masa iya rumah tetangga " Kami pun masuk kedalam dan langsung di sambut oleh mamanya Edwin.
"Welcome" kata mamanya Edwin sambil merentangkan tangan dan langsung memeluku, aku pun hanya tersenyum
"Jadi ini ya Alis, Edwin sering cerita tentang kamu. Tapi kamu lebih cantik aslinya dari pada yang di ceritain Edwin " Mama reza menggandeng tangenku dan berjalan menuju kursi ruang tamu.
"Kebetulan tante baru aja selesai buat kue kering, cobain Lis "
"Ma, Alis kesini buat bantuin Edwin. Gimana bisa selesai kalau mama jadikan Alis temen mama ngobrol"
"Iya-iya, Alis nanti abis belajar kita ngobrol lagi ya " Setelah itu aku dan Edwin memulai latihannya di ruang keluarga. Edwin menusukan jarumnya di tanganku, tapi salah tempat dan langsung di cabut lagi
"Win.... sumpat itu sakit banget. Jangan ragu kalu kamu ragu itu bakal lebih sakit lagi " Edwin hanya mengangguk
Akhirnya setelah beberapa kali percobaan Edwin berhasil mengambil sempel darah dan juga memasangkan infus padaku. Karna beberapa kali percobaan di lengan ku terdapat beberapa luka bekas jarum. Edwin berulang kali minta maaf dan berterimaksih padaku. Dia baru berhenti saat aku mengancamnya agar diam jika tidak aku akan berhenti membantunya.
"Sudah selesai belajarnya? yuk makan siang dulu "
"Maaf ya tante, Alis jadi ngerepotin "
"Enggak kok, tante juga di bantu bibi. Lagi pula tante yang seharsunya minta maaf dan berterimkasih sama kamu karena udah mau repot-repot bantuin Edwin. Maklum tante bukan dokter atau pun tenaga medis lainnya, dan papanya Edwin juga sibuk jadi tidak sempat mengajarinya" setelah makan dan berbincang-bincang, Edwin mengantarku pulang.
"Rajin-rajin main kesini ya Lis " aku senyum dan mengangguk
setelah berpamitan dengan mamanya, aku pulang di antar Edwin. setelah hari itu kami jadi lebih sering belajar bareng sampai akrab. aku di terima di keluarga Edwin, aku bahkan akrab dengan papanya Edwin bahkan sangat akrab dengan mamanya, wajar saja Edwin adalah anak satu-satunya. Mamanya dari dulu ingin sekali punya anak perempuan. makanya keluarga Edwin sudah menganggapku seperti keluarga mereka sendiri.