Tak terasa aku sudah berada di penghujung masa koasku. Hanya tersisa satu minggu lagi sebelum ujian kompetensi yang akan menetukan apakah aku akan mendapatkan gelar dokterku. Karena ujian sudah makin dekat, akhir-akhir ini aku sering pulang kemalaman. Biasanya jika aku pulang terlalu malam kak Alda akan menjemputku, tapi karena 2 tahun lalu kak Alda sudah menikah dan sekarang ia ikut suaminya bertugas di kota lain. Alhasil malam ini aku berjalan sendirian di temani oleh gerimis hujan. Hari sudah menunjukan pukul 23.48. Jalanan saat jam seperti ini pasti sudah sepi ditambah lagi kontrakanku berada dalam gang. Tapi rasa takutku kalah dengan rasa lelahku sehingga aku hanya memikirkan pulang kerumah dan istirahat.
Setelah berjalan 15 menit dari jalan besar menyusuri gang, aku sampai dirumah kontrakan kecilku. Di rumah itu punya satu kamar kecil, ruang tamu dan dapur. Setelah masuk aku baru ingat bahwa ada jemuran handuk yang belum ku anggkat. Setelah meletakan tas ku di kamar, aku segera membuka pintu belakang untuk mengangkat jemuran. Namun ketika pintu belakang terbuka aku benar-benar terkejut hingga mundur kebelakang beberapa langkah. Aku melihat seseorang tergeletak di lantai dengan noda merah yang melekat di bajunya. Aku melakukan pengecekan dasar, dan aku yakin noda merah itu adalah darah. Tapi syukurlah orang ini masih bernapas dan detak jantungnya juga tidak terlalu lemah. Setelah mengeceknya aku mengambil handphone di saku untuk menelpon bantuan. Tapi saat aku meletakan handphone itu di telingaku, tangannya mengambil handphone itu dan mematikannya.
"Tunggu sebentar aku akan cari orang untuk bawa kita kerumah sakit "
"Jangan sampai ada orang lain yang tau aku disini " aku masih positif thinking, mungkin orang ini tak mau merepotkan banyak orang dan tak mau bikin heboh juga.
"Oke ya udah, aku panggil ambulan aja "
"Aku tak bisa ketempat umum. Nyawaku dalam bahaya kalau ada yang tau keadaan ku seperti ini "
"Kau bisa kehilangan banyak darah kalau kau tak di obati dan luka mu tak di jahit sekarang juga "
"Aku lebih baik mati disini dari pada harus kerumah sakit " setelah itu orang itu malah pingsan.
Hati nuraniku sebagai calon dokter pun menyuruhku untuk mebawanya kedalam untuk menjahit lukanya. Karna aku tidak bisa mengendongnya akhirnya aku menyeretnya sampai ruang tamu. Jangan salahkan aku memperlakukannya seperti itu, walaupun aku sabuk coklat biru saat SMA tetap saja aku tidak bisa mengangkat orang yang berat badannya lebih dariku.
Setelah meletakannya di karpet ruang tamu aku mengambil handuk yang sudah ku basahi dan kotak P3K. Untungnya aku masih punya beberapa jarum dan benang jahit yang belum ku gunakan saat belajar di stase bedah. Sebenarnya lancang sekali aku membuka baju orang tanpa izin, tapi mau bagaimana lagi. Setelah membersihkan badannya dengan handuk basah, aku melihat ada satu luka tusukan di d**a sebelah kanan, dan satu luka di lengan kanannya. Aku mebersihkan lukanya dan menjahitnya. Setelah itu aku lakukan pengecekan tanda-tanda vital lagi. Lalu ku kompres engkel kaki kirinya, yang terkilir. Setelah selesai mengobatinya aku menyelimutinya dan meninggalkannya untuk istirahat. Setelah masuk ke kamar aku langsung mengunci kamarku untuk berjaga-jaga.
Aku terbangun di pagi hari dan tidak terburu-buru karena hari ini adalah hari libur ku setelah jaga dari pagi hingga malam selama seminggu. Aku keruang tamu dan dia masih tertidur. Aku berbalik kedapur untuk membuat sarapan. Aku membuat bubur, telur dadar dan tumis brokoli. Jujur saja aku masih bingung kenapa ada orang terluka tergeletak di teras kecil belakang rumahku padahal rumahku terletak di ujung gang dan di kelilingi oleh tembok setinggi 3 meter. Mengingat kakinya terkilir kurasa dia lompat dari tembok itu dan terjatuh di rumahku. Untungnya satu-satunya tetanggaku dan pemilik kontrakanku sedang mengunjungi cucnya dikota lain. Jika ia yang melihat laki-laki itu mukin dia bisa serangan jantug mendadak mengingat usianya yang sudah menginjak 70 tahun.
Setelah selesai memasak aku membawa masakanku ke ruang tamu. Aku mengambil dua mangkuk dan dua sendok. Untunglah dia sudah sadar. Aku membantunya duduk menyandarkannya ke dinding dan memberikan mangkuk berisi bubur, telur dan kangkung yang telah ku alasi nampan agar tidak panas saat di pegang.
"Aku tidak akan menanyakan apapun padamu prihal luka itu. Makanlah dengan baik dan cepat lah sembuh" kataku sambil memasukan bubur dan lauknya kedalam mangkuk. Kemudian kami makan dengan hening. Setelah menghabiskan makanannya dia mencoba berdiri, tapi kembali berbaring tanpa mengatakan apa-apa.
"Kakimu terkilir, untungnya tidak terlau parah. Setelah bengkaknya hilang kau akan bisa berjalan lagi, aku juga sudah menjahit luka di dadamu dan membersihkan luka di tanganmu. Jadi setidaknya sekarang nyawamu tidak dalam bahaya. Tunggu disini aku ambilkan es dulu. Karna aku memasukan airnya tadi malam mungkin sudah membeku " aku mengangkat bekas makan kami dan membawanya kedapur dan mengambil es untuk mengompres kakinya, tak lupa aku mengambil obat pereda nyeri dan penghilang bengkak.
"Ini minumlah, aku akan mengompres kakimu " dia menolak obat yang ku berikan
"Jika kau ingin pegi ke tempatmu jangan banyak tingkah dan minum obatnya "
"Kenapa kau menolongku ? kau bahkan tidak kenal aku "
"Salahkan hati nuraniku yang sangat ingin menolongmu semalam "
"Bagaimana jika aku bukan orang baik ?"
"Aku ini calon dokter, bagiku kamu hanya pasien yang harus di selamatkan, lagi dengan luka yang lumayan parah seperti itu sekalipun kau orang jahat kau tidak akan bisa berbuat banyak "
"Mungkin aku tidak bisa membalas budi ataupun membayarmu"
"Keluargaku punya uang pensiunan ayahku, adik laki-lakiku yang sudah kuliah dapat beasiswa penuh dan uang saku, kakak perempuanku juga sudah bekerja. Walaupun kami tidak kaya tapi kami tidak kekurangan, jadi simpan saja uangmu itu "
"Apa kau tidak punya permintaan, aku tidak mau hutang budi pada siapapun"
"jika kau ingin balas budi padaku cepatlah sembuh dan jangan menemuiku dengan kondisi seperti semalam " dia hanya diam dan mengangguk
"Mau kubawakan beberapa buku untukmu ?" dia hanya mengangguk, setelah itu aku membawakannya beberapa novelku.
Kegiatanku setelah itu hanya belajar untuk ujian dikamarku. Sampai malam hari pun aku melakukan hal yang sama saat siang. Begitulah kegiatanku selam dua hari ini. Hari ini aku harus masuk ke rumah sakit karena aku ada sift pagi, setelah menyiapkan makan dan beberapa obat di sampingnya aku pamit pergi.
"Aku harus jaga pagi ini, aku akan kembali sebelum makan malam. Jika ada keperluan atau pun hal berbahaya kau bisa menelpon ku dengan ponsel itu. Itu adalah ponsel lamaku. Nomor ku tersimpan dengan nama 'aku' disana". Dia hanya mengangguk. Setelah itu aku pergi ke rumah sakit. Aku pulang saat jam makan siang dan terkejut bahwa dia sudah tidak ada lagi disini. Hanya ada selembar kertas di meja.
"Terimaksih karena telah menyelamatkan nyawaku. Sebagai balas budiku aku akan mengabulkan 3 permintaanmu. Hubungi aku di nomor ini jika kau sudah tau permintaanmu "
Melihat barisan nomor itu aku tertawa, aku percaya dia bukanlah jin yang akan mengabulkan tiga permohonan. Jadi aku membuang surat itu beserta nomornya karena aku tidak mengharapkan apapun darinya. Lagi pula jika dia sudah bisa pergi berarti dia sudah membaik. Aku hanya berharap bahwa dia akan baik-baik saja .