Hari-hari ku berjalan biasa-biasa saja. Aku sudah lulus ujian kompetensi dan sekarang sedang persiapan untuk masa intersipku. Aku ditugaskan di desa yang cukup jauh dari kota. Suasananya nyaman dan damai. Aku menjalani masa intersipku dengan nyaman, sampai beberapa bulan aku disini terjadi pristiwa yang benar-benar membuatku shok. Ketika aku sedang berjalan dipantai yang selalu aku lalui saat hendak berangkat ke puskesmas tempat aku di tugaskan, aku melihat rombongan warga yang sedang protes dengan pembangun resort di pinggir pantai. Awalnya ku kira mungkin sama seperti demo di kotaku sebelumnya, tapi nyatanya tidak.
Tiba-tiba terdengar suara beberapa tembakan dan beberapa warga berjatuhan. Aku sangat terkejut hingga kakiku membeku ditanah tak bisa di gerakan, tangan yang aku gunakan untuk menenteng cemilan yang aku bawa terkulai kebawah dan menjatuhkan semua yang aku pegang. Di saat para warga yang tidak tertembak berlari kabur dengan panik aku yang tersadar dari shokku langsung memanggil bantuan dari puskesmas tempat aku bekerja. Aku meminta bantuan dari Edwin yang memang ditugaskan bersamaku.
Setelah menelpon bantuan, aku langsung berlari ke arah warga yang tertembak. Ada 5 orang yang tertembak.1 orang tertembak di kaki, 3 orang tertembak di tangan, dan 1 orang tertembak di bawah d**a. Sambil menunggu bantuan datang aku memprioritaskan orang yang tertembak di d**a. Aku berusaha menghentikan pendarahannya sebisaku.
"Alis apa yang terjadi disini?" aku melihat Edwin dan beberapa tim medis lainnya yang sedang berlari ke arahku.
"Terjadi penembakan pada para pendemo, 3 orang tertembak di tangan, 1 orang dikaki, dan satu orang di bawah d**a. Kita prioritaskan dulu orang yang terkena tembak di bagian d**a "
"Baik, naiklah ke ambulan itu, mereka akan membawamu ke rumah sakit, aku akan menghubungi dokter dirumah sakit, kau pergilah dengannya. Sisanya biarkan aku yang urus " aku hanya mengangguk dan mengikuti para medis yang membawa pasienku dengan ambulan. sekitar 25 menit aku sampai di rumah sakit dan telah ditunggu oleh dokter yang berjaga di UGD rumah sakit. Aku menjelaskan tentang kondisi pasien ini.
"Kami mengerti. Sisanya serahkan pada kami " aku hanya mengangguk dan mereka membawanya pergi. Setelah itu aku bergegas pergi kembali ke puskesmas. Saat tiba disana keadaan puskesmas sedang kacau dengan isak tangis keluarga korban. Aku segera menemui Edwin yang sedang mengeluarkan peluru di lengan salah satu pasien.
"Kau sudah kembali? Bantu aku menangani pasien dengan luka tembak di kaki" aku hanya melihat 2 orang pasien.
"Kemana dua pasien lainnya?" aku segera menghampiri pasien dengan luka di kaki
"Aku sudah mengeluarkan peluru mereka saat kau dalam perjalanan kerumah sakit, sekarang mereka sedang dijahit oleh perawat " setelah mendengarnya aku langsung bersiap mengeluarkan peluru pasien tersebut dan menjahit lukanya.
Keadaan puskesmas sudah mulai membaik setelah kami berhasil mengeluarkan dan menjahit seluruh pasien. Setelah itu kami mendata keluarga pasien untuk memriksa golongan darah agar dapat ditransfusikan ke pasien. Ke empat pasien di puskesmas memang tertembak di bagian yang tidak vital. Tapi mereka kekurangan banyak darah sehingga membutuhkan transfusi. Setelah selesai dengan seluruh proses transfusi darah, dan mengecek ulang tanda-anda vital pasien baru kami dapat beristirahat sejenak.
Saat aku sedang duduk diruang staf sambil minum teh hangat, aku melihat jam tanganku yang sudah menunjukan pukul tiga sore, aku baru menyadari kalau aku belum makan apapun seharian ini. cemilan yang harusnya ku makan malah jatuh di pantai tadi. Akhirnya aku merasakan sakit di lambungku. BeberaPa saat kemudian datang 3 orang perawat dengan membawa kantong plastik besar.
"dr. Alis mari kita makan bersama, kami baru saja membeli mie instan dan telur rebus "
“Kebetulan sekali aku benar-benar lapar sekarang. Kalau begitu mari kita makan
"Tunggu dulu, dimana dr. Edwin?" tanya satu-satunya perawat laki-laki
"Dia sedang mengantar pasien untuk menjalani perawatan di rumah sakit. Sebentar lagi dia akan pulang" jawabku. Sesuai prediksi Edwin sampai 3 menit setelah kami membicarakannya. Dia sampai dengan raut muka yang lelah. Lalu duduk di kursi yang berada tepat dihadapanku. Aku tersenyum dan menepuk-nepuk bahunya dan memberi semangat.
"Kau sudah bekerja keras " dia hanya tersenyum dan memejamkan matanya
"Ini benar-benar hari yang melelahkan. Aku benar-benar lelah dan lapar " lanjutnya masih dengan mata tertutup
"Pas sekali dok, mi instannya sudah matang " kata salah satu perawat wanita. Edwin langsung membuka matanya dan terlihat kembali bersemangat. Edwin sudah meniruku dalam hal mengubah mood. Tanpa menunggu lagi, kami pun makan mi instan bersama dengan lahap.
Aku yang masih penasaran dengan kejadian penembakan hari ini mencoba menanyakannya lagi setelah kami selesai makan, aku membuka mulut dan bertanya
"Sebenarnya apa yang terjadi hari ini?" aku bertanya pada satu-satunya perawat laki-laki dan satu-satunya orang asli desa ini
"Emm sebenarnya masyarkat disini menolak pembangunan resort di tepi pantai, alasannya karena dengan resort di tepi pantai banyak dari mereka yang ke hilangan pekerjaan terkhususnya bagi para nelayan tambak ikan dan udang. Tambak mereka di hancurkan karena para pengusah proyek itu ingin menjadikan daerah pantai ini menjadi daerah wisata dengan resort mewah di sepanjang pantai untuk menjadi tempat liburan dan bulan madu yang ekslusif. Para pendemo sudah menentangnya lebih dari 6 bulan tapi sampai sekarang tidak membuahkan hasil " aku hanya mengangguk.
"Kalau para penduduk tidak mau, kenapa tidak minta bantuan pemerintah dan dilindungingi oleh pihak berwajib " sahut salah satu perawat bertanya
"Kalau pemerintah sudah pura-pura buta dan tuli maka dapat di pastikan mereka sudah masuk dalam lingkaran setan itu " Edwin menyadarkan kami dengan fakta yang sudah lumrah terjadi. Lingkaran setan yang di maksud Edwin adalah suap menyuap
"Walaupun sudah di suap tapi tetap saja tidak perlu ada penembakan segala" sahut perwat satu lagi
"Dari skala pembangunan yang di lakukan dapat disimpulkan bahwa ini adalah proyek besar, jadi wajar jika mafia ataupun organisasi ilegal ikut terlibat " jawab Edwin
"Tunggu-tunggu, kenapa malah mafia ikut-ikutan segala?" sahutku dengan nada heran
"Terkadang ada beberapa proyek yang dapat menguntungkan mereka, mungkin saja dalam resort mewah itu akan di bangun kasino yang besar dan akan menguntungkan mereka" Edwin menjawab pertanyaankku
"Tidak mungkin ah kan tidak ada hubugannya " kata perawat laki-laki itu
"Mungkin saja, apa kau tau, beberapa rumah sakit bahkan terlibat dengan kelompok mafia tertentu" setelah Edwin mengatakannya aku mulai mengerti.
"Maksud dokter apa?" tanya perawat laki-laki
"Beberapa rumah sakit membeli narkotika sebagai anestesi dan bahan penelitian dari organisasi ilegal seperti mafia, karena barang ilegal harganya lebih murah dari barang legal " jawab Edwin yang membuat semua orang terkejut kecuali aku. Setelah Edwin menjawab beberapa pertanyaan dari kami para perawat sangat takjub dengan pengetahuannya dan bertebuk tangan. Sedangkan Edwin hanya tersenyum dan mengangkat alisnya.
"Wah dr. Edwin ini benar-benar mindblowing " kata perawat laki-laki
"Tapi darimana dokter tau? "
"Iya, dengan pengetahuan seperti itu seharusnya dokter jadi CEO atau pengusaha saja bukan dokter"
"Dokter hanya sekedar hobi saja " sahut Edwin, yang membuat bingung yang lain
"Dia ini anak dari pemilik sekaligus penerus salah satu rumah sakit besar di negeri ini " jawab ku menerangkan dengan tersenyum.
"Wah kami tidak tau, bagaimana dr. Alis bisa tau "
"Tentu saja dia tau karena dia adik angkatku" Edwin menyahut
"Bagaimana bisa kalian bertemu ?" tanya perawat laki-laki itu
Aku dan Edwin saling pandang dan tersenyum. Dan kami mulai bercerita tentang bagaiman kami bertemu di kampus.
"Berarti kalian udah Deket banget dong??" kata perawat laki-laki, kami berdua hanya mengangguk
"Pernah gak saling suka seperti ingin pacaran gitu " Aku dan Edwin pun menggeleng.
“Aku udah terlalu sayang dan menganggapnya seperti adik kandungku jadi aku tidak mau menyakitinya bahkan perasaannya sedikit pun, lagi pula Alis bukan tipe ku dan aku bukan tipenya" Edwin mengklarifikasi dan aku menyahutinya dengan anggukan.
"Apa kalian punya pacar masing-masing?" perawat perempuan yang jarang bertanya akhirnya bertanya juga.
"Kalau aku gak ada, tapi Edwin sejak tamat kuliah dia jadi playboy, mulai dari sesama dokter, perawat ada juga anak direktur perusahaan, pokoknya banyak deh " setelah aku mengatakan itu Edwin hanya tersenyum dan menaikan alisnya.
"Kenapa dr. Alis tak pacaran juga???" tanya perawat laki-laki
"Mana sempat keburu calon pacarku di telan bulat-bulat sama Edwin"
“Oh karena itu, Aku kira karena dr. Alis terlalu sibuk“
"Kita koas di rumah sakit punya ayah kami, mana berani dokter lain marahin kita " dengan sombongnya Edwin menyahuti perawat itu.
"Wah enak ya jadi dr. Edwin dan dr. Alis , aku juga mau diangkat jadi anak sama ayahnya dr, Edwin " ucap perawat perempuan lainnya
"Jangan halu ya" kata perawat laki-laki itu
"kalau jadi adiku gak bisa lagi. Tapi kamu mau gak jadi istriku, biar anak kita nanti gak dimarahin pas koas " Alis yang mendengar hal itu langsung memutar bola matanya bosan sambil bicara dalam hati 'mulai lagi nih keluar buayanya’
"Ah dr. Edwin bisa aja, aku kan jadi malu" semua orang tertawa mendengarnya.
Setelah itu kita pulang ketempat kosan masing-masing. Aku kembali melewati pantai dan kembali melihat tempat kejadian itu. Darah masih membekas di pasir itu. Jujur saja aku tak pernah membayangkan akan menjalani hari seperti ini.
Dilain tempat di sebuah rumah mewah lebih mirip mansion malah, terlihat seorang pemuda sedang berjalan tergesa-gesa menuju teras belakang rumah itu. Terlihat ada seorang pria paruh baya yang sedang duduk meminum teh dan memberi makan ikan di atas gazebo.
"Apa-apa'an ini " pemuda itu membanting beberapa lembar kertas berisi foto dan laporan
"Kau bilang akan meneruskanku ketika kau sudah selesai dengan proyek besarmu"
"Tapi bukankah sudah ku bilang untuk tidak ikut campur dalam urusanku" pemuda itu mulai menaikan nada bicaranya, terlihat dia sedang menahan amarah dengan mengepalkan tangannya
"Awalnya aku tidak mau ikut campur, tapi proyekmu ini terhambat oleh orang-orang bodoh itu, ditambah lagi dengan penyerangan yang kau terima. Mana bisa aku diam jika putraku satu-satunya di usik" Pemuda itu hanya diam.
"Sudahlah Alex, mulai lah kau persiapkan diri menjadi pengganti ku, ingat batas waktumu hanya tersisa 6 bulan lagi " setelah itu sang ayah masuk kerumah dan meninggalkan Alex yang terdiam.