Tak terasa waktu telah berlalu, hari ini adalah hari terakhirku dan Edwin berada di desa itu. Setelah kami berpamitan dengan petugas di puskesmas kami menaiki mobil yang dikirim oleh dr. Hendra.
"Papa menyuruhmu mampir dulu kerumah " kata Edwin sesaat setelah kami menaiki mobil itu.
"Okey " jawabku santai
Setelah beberapa jam perjalanan, kami sampai di rumah Edwin. Kami di sambut oleh papa dan mama. Mama langsung memelukku yang mengisyaratkan betapa rindunya beliau. Setelah itu kami bersalaman dengan papa. Aku akhirnya berbincang dengan mereka di ruang keluarga.
"Lis gimana kalau kamu lanjut kuliah ngambil spesialis" kata papa
"Kayaknya belum deh pa, soalnya Alis belum punya dana yang cukup"
"Kamu gak usah mikirin itu, masalah dana biar papa yang tanggung " sahut papa dan hanya bisa ku jawab dengan senyum sungkan. Jujur saja aku bukannya takut keluarga Edwin kekurangan uang, tapi aku tidak enak hati, selama ini aku sudah banyak di bantu oleh mereka terkhususnya dr.Hendra. Kalau bukan karena koneksinya dan dia memperkenalkanku kepada dokter lain mungkin masa koasku tak akan berjalan semulus yang aku rasakan di tambah lagi aku tidak perlu membeli buku ataupun alat-alat kesehatan yang biasanya aku gunakan untuk latihan sebelum memasuki stase-stase karena papa memberikannya padaku.
"Coba ambil aja program beasiswa rumah sakit Medistra, itu program untuk dokter yang ingin ngambil spesialis" kata mama yang mengerti bahwa aku tidak mau terlalu merepotkan mereka.
"Wah, Alis baru tau ma ada beasiswa dari rumah sakit Medistra" aku langsung semangat kembali, namun senyumku hilang ketika aku berpikir lebih
"Tapi pasti syaratnya berat " sambungku
"Enggak kok Lis, syaratnya cuman kamu harus kerja di rumah sakit Medistra setelah lulus" jawab papa.
"Baiklah, nanti Alis pikirin lagi Pa"
"Kalau udah kamu putusin bilang ke Papa ya" kata papa, aku cuman mengangguk dan tersenyum
"Aku juga ikut Alis ah " kata Reza
"Gak boleh, mama gak akan biarkan kamu gangguin kuliah Alis lagi "
"Tapi ma kan kalau Edwin lanjut kuliah bareng Alis, Edwin bisa lebih mudah jagain dia"
"Kalau kamu satu kuliah sama Alis yang ada kamu cuman ngandelin dia dan gak bakal berkembang"
"Benar kata mama, kamu bakalan papa kirim ke Jerman untuk ambil spesialis dokter bedah umum"
"Lah kok papa ikut-ikutan mama. Ah papa gak asik" percakapan kami di tutup dengan Edwin yang ngambek. Setelah makan malam aku pamit pulang diantar Edwin dengan moilnya.
"Kamu gak nginap aja Lis, hari udah malam banget ini " tanya mama khawatir
"Iya, mending kamu nginap aja" sahut papa
"Gak papa ma, pa. Alis udah rindu banget sama guling Alis "
"Ya udah kalau begitu hati-hati di jalan " kata mama
"Win, pasti'in kamu anter Alis samapai depan rumah "
"Iya pa, Edwin gak bodoh sampai nurunin dia didepan gang malem-malem"
Setelah itu Edwin menginjak gas dan melaju dengan kecepatan standar hingga depan gang. Gang tempat kontrakanku itu terlalu kecil untuk di masuki mobil, jadi Edwin parkir mobilnya di depan gang dan berjalan mengantarku.
"Kamu gak usah nganterin aku sampe depan rumah "
"Jangan main-main deh, ini udah tengah malem. Aku bukannya takut kamu diculik orang tapi aku takutnya kamu ngehajar orang sampe sekarat " jawab Edwin membuatku tertawa karena teringat waktu dimana aku menghajar anak SMA di depan gang yang sedang membuli dan memeras temannya. Mungkin karena aku pernah di buly dan di peras juga akhirnya aku punya dendam dan baru bisa melampiaskannya saat itu jadi aku memang agak kelewatan hingga anak SMA itu masuk rumah sakit. Tapi untungnya keluarga mereka tidak menuntut karena tau aku punya hubungan dengan keluarga dr. Hendra. Perjalanan kami tidak terasa karena kami bercanda sepanjang jalan. Kalau dulu makanan adalah mood booster ku sekarang Edwin lebih sering menjadi mood boosterku. Karena kami banyak menghabiskan waktu bersama kami jadi lebih tau karakter masing-masing.
"Lis, selama aku di Jerman kamu gak boleh dekat dulu ya sama cowok, pokoknya kalau ada cowok yang ngedeketin kamu langsung tolak aja "
"Emang kenapa ? kalau aku tolak semua cowok aku bisa jadi perawan tua"
"Pokoknya gak boleh, kamu gak tau cowok seperti apa yang lagi ngedeketin kamu. kalau masalah perawan tua, nanti kalau aku udah pulang dari Jerman aku bakal cari'in kamu suami "
"Urutannya itu cari pacar dulu baru suami "
"Gak usah pacaran, kamu gak bakal siap sakit hati"
"Iya-iya " Kami pun sampai, setelah berpamitan dengan Edwin, aku langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri di kasur. Aku masih bimbang dengan saran papa hingga aku terlelap karena kelelahan.
keesokan harinya Aku menemui papa di rumah sakit. Aku bertanya pada staf yang berjaga di tempat Administrasi. Setelah intersip satu tahun ada beberapa wajah yang berbeda saat aku masih koas dulu termasuk staf ini.
"Apa dr. Hendra ada?" tanyaku ramah dengan senyuman
"Apa anda sudah membuat janji ?" tanyanya dengan tatapan yang menyiratkan ' mau apa dia bertemu pimpinan rumah sakit ', melihat tatapannya aku hanya tersenyum dan menggeleng
"Kalau begitu anda bisa datang lain kali setelah anda membuat janji " katanya dingin
"Maaf, tapi bisakah anda sampaikan pada dr. Hendra bahwa Alison ingin bertemu, saya mohon " jawabku, akhirnya staf itu menelponkan dr. Hendra, setelah menelpon raut wajahnya seketika berubah menjadi ramah, aku hanya tersenyum karena tak jarang aku mengalami hal ini.
"Kenapa nona tak bilang bahwa nona adalah putri dr. Hendra, mari saya antar " aku kembali tersenyum
Setelah sampai diruangan papa aku mengetuk, aku masuk dan melihat papa tengah sibuk membereskan meja kerjanya. Staf tadi pergi setelah aku memasuki ruangan itu.
"Papa apa aku menganggumu?" Papa tersenyum dan menutup berkasnya yang terakhir dan berjalan menuju sofa yang berada di tengah ruangan.
"Tidak nak, papa sudah menunggumu " setelah aku menutup pintu, kami pun duduk di sofa ruangan itu
"Bagaiman apa kau sudah memutuskan untuk mengambil spesialis?"
"Dana Alis belum cukup pa, sebaiknya Alis bekerja dulu, setelah uangnya cukup baru aku akan ambil spesialis "
"Kau tak perlu memikirkan dana nak, kau tau bukan mama dan papa sudah menyayangimu seperti anak kandung kami. kami ingin kau sukses dan hidup bahagia. Dengan kau mengambil spesialis maka pintu kesuksesan akan lebih muduh terbuka untukmu " tentu saja aku akan mengikuti harapan mereka yang telah berjasa dalam hidupku lagi pula jika di pikir-pikir itu bukan lah hal buruk malah sangat baik
"Baiklah pa, Alis akan ambil spesialis " setelah mendengar perkataanku papa tersenyum
"Kau memang tidak pernah mengecewakan papa"
"Tapi pa, apa rena boleh mengambil selain bedah umum seperti papa dan kak Edwin?”
“Alis ingin mengambil jurusan apa? Apapun itu boleh kecuali bedah saraf ”
“Bukan bedah saraf kok pa, Alis ingin mengambil bedah jantung”
"Tidak masalah, Papa telpon teman papa dulu ya" aku hanya mengangguk tanpa menyadari bahwa keputusanku itu akan membawaku menuju kehidupan yang terduga.
Sebelum aku melanjutkan kuliah spesialisku aku pulang ke kampung untuk mempersiapkan pernikahan Putra. Putra mengikuti jejak kak Alda dan menjadi jaksa sedangkan Haikal menjadi seorang tentara. Jujur saja aku cukup kaget mendengar Putra bertunangan 2 bulan yang lalu saat aku masih intersip. Bukan karena aku merasa di dahului, namun Putra tiba-tiba memberitahukanku bahwa ia akan bertunangan. Aku bahkan tak tau dia sudah punya pacar. Ia baru berusia 22 tahun dan baru lulus kuliah.
"Apa kau serius Putra? Pernikahan bukanlah permainan " tanyaku dengan serius
"Iya kak, aku dan calon istriku sudah punya pekerjaan tetap, dan dia juga bersedia sama-sama berjuang membangun rumah tangga dari nol "
"Putra, menikah bukan hanya tentang materi, pernikahan adalah tanggung jawab "
"Jangan khawatir kak, mentalku dan istriku sudah terlatih "
"Baiklah kakak merestui hubungan kalian, kakak akan datang di pertunangan kalian "
Saat ini aku sedang berada di dalam bus yang akan membawaku ke kampung. Aku tersenyum geli jika memikirkan bahwa adik laki-lakiku akan menikah lebih dulu. Aku lebih tua darinya dan seorang perempuan, tapi mau bagaimana lagi takdirku mengatakan ini belum saatnya menikah.
Selama sebulan ini aku mempersiapkan pernikahan untuk kedua adikku. Hampir seluaruh acara aku dan ibu yang mempersiapkannya karena kak Alda memang terikat dengan pekerjaannya di tamabah lagi kesibukannya mengurus keponakanku yang tampan itu, kakak iparku adalah seorang jaksa yang terkenal, ia sangat sibk dan jarang punya waktu luang.
Kurang lebih butuh waktu satu bulan untuk mempersiapkannya. H-3 pernikahan, Kak Alda dan keluarga kecilnya tiba di desa, sedangkan keluarga Edwin sampai H-1. Pernikahan itu berlangsung sacara khidmat walaupun di selenggarakan dengan sederhana. Sekarang tanggung jawabku dan ibu hanya si bungsu Via. Setelah pernikahan adikku selesai aku kembali ke kota dan melanjutkan kuliahku.