Tujuh tahun yang lalu ....
"Katakan sekali lagi." Seorang pria paruh baya menatap putrinya dengan sorot mata memanas. Nara yang masih berusia 19 tahun itu menunduk diam, pikirannya kalut diselimuti rasa bersalah sekaligus kebencian melihat wajah ayahnya.
"Biarkan dia menjelaskan semuanya-" sahut wanita tua sebagai nenek Nara yang berusaha menenangkan sang putra. "Seharusnya aku membunuhmu sejak dulu! kau tidak pernah mendengarkan ucapan ku! kau ingin hidup seperti apa? ha!?" teriak ayah Nara sembari mengambil tongkat kayu yang tidak jauh berada dari pintu rumah.
Nara tak bergeming, wajahnya memanas dan berteriak melampiaskan amarahnya saat itu juga, "Kau ingin membunuhku? bunuh saja seperti kau menghabisi ibuku dulu! kau memang kejam. Tidak pernahkah sekali kau berpikir seperti apa kondisiku? dimana belas kasihmu?". Halimah- nenek Nara membisu mendengar penuturan sang cucu, tidak ada yang bisa disalahkan sepenuhnya kali ini, Nara memang bersalah tetapi Ayahnya jauh lebih bersalah dan membuat putrinya seperti ini.
"Kurang ajar! pergilah menyusul ibumu!" teriak putra halimah itu dengan amarah menggebu-gebu, tetapi dalam hitungan detik pria paruh baya itu kehabisan nafas dan terjatuh di lantai begitu saja. Nara yang semula menutup mata hendak menerima pukulan sang ayah tiba-tiba merasakan hal aneh karena dirinya tidak merasakan apapun yang menghantam tubuhnya. Matanya terbuka, dan kini ayahnya sudah terbaring tak berdaya dengan raut wajah memucat.
"Ya Tuhan! ada apa ini? kenapa ini terjadi ...." lirih Halimah tak berdaya dan bergegas menyelamatkan putranya. Nara masih diam, tak bergeming dan membisu, matanya lagi-lagi menyaksikan kepergian orang tuanya. Kini dia memiliki hutang budi untuk pria yang darahnya mengalir ditubuh Nara. "A- ayah ...." gumamnya perlahan sembari menatap kedua tangannya yang gemetar hebat. Air matanya mengalir tanpa henti, hari ini lagi-lagi dirinya harus menerima fakta yang menghancurkan hidupnya sendiri.
***
Kini suasana begitu sunyi, sepi, dan penuh derita. Dua orang wanita tengah duduk di sebuah kursi tanpa ada yang memulai bicara terlebih dulu. Hari ini seseorang telah pergi dan seseorang lagi datang untuk menggantikannya. "Kemasi barang-barang mu, aku akan merawat mu mulai sekarang." Halimah membuka suara tanpa memalingkan wajahnya dari dedaunan hijau dihadapannya. Nara menoleh dan berkata, "Aku tidak memintamu untuk merawat berandal ini," jawab Nara dengan tatapan kosong.
Plak! .... satu tamparan melayang sempurna di pipi kanan Nara, tangan seorang Nenek berhasil melayangkan pukulan untuk pertama kali. Nara menunduk menahan panas diwajahnya, Halimah menangis dan berkata, "Tidak bisakah kau menghargai ku? tidak bisakah kau merubah jalan hidupmu ini? kau cucuku, aku tidak menyuruhmu memohon agar tinggal bersamaku, tapi aku yang memintanya! berjuanglah Nak, .... hidupmu masih panjang."
Halimah sudah berlinang air mata saat itu juga, Nara tak bergeming dan mendongak sembari berbicara, "Jangan bekerja untuk menghidupiku, biarkan aku melakukan semua sendiri." Halimah hendak menjawab, tetapi sang cucu sudah lebih dulu bangkit berdiri dan meninggalkannya sendiri disana.
Sebuah pantulan wajah terpampang jelas di cermin itu, wajah pucat pasi, sorot mata yang begitu buruk membuat sang pemilik merasakan kebencian kepada dirinya sendiri.
Pranggg ....
Kaca yang semula kokoh itu sudah hancur lebur, pecahannya berserakan dimana-mana. Tubuh Nara melemas, terduduk di lantai kamarnya sembari menangis. "Aku lebih benci diri ini dibanding apapun, jalanku memang begitu buruk dan menyakitkan."
***
Malam tiba, di sebuah kota kecil tinggallah sebuah rumah sederhana, berada di depan gang zebra cross. 'Sayur Segar' tulisan itu terpampang jelas di papan pengenal yang berada di depan pagar pembatas. Mobil pengangkut barang tiba saat itu juga, Halimah dan sang cucu baru saja tiba di rumahnya. Tempat dimana Nara akan merangkai alur hidup barunya. "Huft, terimakasih tuan," ucap Halimah berterimakasih kepada supir yang mengantarnya.
Nara menelusuri pemandangan baru yang berada di depannya sembari bergumam, "Apa yang akan aku lakukan di kota kecil seperti ini?". Halimah menoleh dan tersenyum sekilas menatap Nara yang belum terbiasa hidup di lingkungan barunya. "Kenapa kau masih di luar?" tanya Halimah membuyarkan suasana. Nara yang sedari tadi diam dan menangis mengingat kejadiannya bersama sang ayah tiba-tiba tersadar dan menyeka air matanya kasar, "Aku mau masuk." Begitu singkat gadis itu menjawab dan melangkah masuk ke dalam rumah dan melewati neneknya begitu saja.
Aroma nasi hangat dan sayur sup segar mulai tercium dari arah meja kecil yang bersisi beberapa hidangan sederhana. Halimah dengan telaten menyiapkannya dan menoleh ke arah sang cucu yang menangis di depan tangga pintu tanpa mengeluarkam suara sekecilpun. "Makanlah, berhenti menangis, karena itu tidak akan membuatmu kenyang," Halimah mengajak sang cucu makan dengan nada bicara sedikit menggertak, sejujurnya dia sengaja melakukannya agar Nara tidak merasa kesepian lagi, dalam arti lain jika itu adalah salah satu caranya menghibur sang cucu.
Gadis yang sedang hamil muda itu tak menjawab dan beranjak berdiri menuju makan malam, Halimah tersenyum simpul melihat tingkah cucunya. "Kau tidak bersalah, pria busuk itu yang pantas disalahkan," gumamnya menatap punggung Nara sembari berkata dengan maksud jika pria busuk yang dia bicarakan adalah pria yang menaruh menghamili cucunya tanpa tanggung jawab.
Suasana makan malam hening dan tenang, Halimah sesekali ikut makan dan tiba-tiba Nara membuka bicara sembari bertanya, "Kenapa kau tidak memarahiku?". Halimah mendongak, seulas senyum tergambar tulus di wajahnya hingga ekor matanya berkerut. "Aku tidak pantas melakukannya, karena aku tidak tahu apa yang kau rasakan," jawab Halimah sederhana dan membuat Nara menatapnya dalam diam.
"Kau akan mulai kuliah minggu ini?" tanya Halimah membuat Nara menelan nasinya sedikit kesusahan dan menjawab, "Berhenti membahas kuliah itu, aku tidak akan melakukannya," jawab Nara memberikan keputusan. Halimah membelalakkan matanya dan menyahut cepat, "Kenapa kau tidak melanjutkan kuliahmu? apa kau akan-" ucapan Halimah terpotong. "Membuat ulah?" sahut Nara menebak perkataan sang nenek. Gadis ini berbicara dengan logatnya yang terdengar kasar.
"Apa kau akan mengusirku?" tanya Nara masih berlanjut dan Halimah masih diam mendengarkannya. "Kau bisa mengatakannya sekarang, aku biasa ditinggalkan. Jadi itu tidak membuatku takut," lanjutnya membuat sang nenek merasa semakin geram dengan perkataannya. "Berhenti bicara. Aku tidak pernah menduga jika ada orang yang akan baik-baik saja tanpa orang lain, lanjutkan makan malam mu." Halimah merasa kesal dan berjalan menuju dapur meninggalkan cucunya yang masih menikmati makan malamnya.
"Bisakah aku minta makan lagi?" tanya Nara kepada sang nenek yang berada di dapur. Mendengar hal itu Halimah semakin kesal dan menjawab sembari berteriak geram, "Tidak! kenapa kau mengatakan hal itu? minta saja lebih banyak!". Nara tersenyum sekilas mendengarnya dan Halimah kembali berbicara, "Aku tidak akan mengusir mu, sekalipun kau membuat masalah, selagi aku masih hidup dan sehat biarkan aku yang menyelesaikannya."
"Jika aku berusia sama sepertimu mungkin aku akan merasa tersentuh," balas Nara berbicara kepada dirinya sendiri sembari menikmati semangkuk sup yang baru saja diberikan Halimah. "Kau sungguh rumit dan tidak bisa di pahami, sama seperti ibumu. Andai dia masih ada mungkin dia lah yang akan memukuli mu sekarang," ucap Halimah begitu saja dan membuat Nara mengurungkan niatnya untuk makan.
Matanya memanas, ingatannya akan sang ibu kembali dia ingat. "Dia tidak akan melakukannya, tangannya begitu lembut jadi aku tidak akan merasa kesakitan," jawab Nara sembari tersenyum sesekali dan membuat Halimah menoleh setelah menyadari ucapannya.
"Tentu, dia adalah gadis yang sesungguhnya. Belajarlah dari putriku yang manis itu!" respon Halimah sedikit menggertak untuk menutupi kesedihannya sendiri. Mereka sebenarnya tidak jauh berbeda, antara Halimah dan Nara. Mereka berusaha menyembunyikan kesedihannya dibalik topeng senyuman yang penuh kepalsuan.
"Manusia, mereka unik dan berbahaya. Mereka mampu mengendalikan dunia, tetapi terlalu banyak dari mereka yang membiarkan dirinya dikendalikan oleh dunia sekitar." ~ Dr. Nara, Sp.BS (di masa depan).