Susana baru, tepat pada dua minggu sebelum pendaftaran sebagai calon mahasiswa. Semua rencananya menjadi berantakan dalam kurun waktu semalam, dunianya bertabrakan dengan fakta yang berbuah penyesalan.
"Bangunlah, ini hari pertama mu menjadi pedagang." Halimah berkata sembari menatap sang cucu yang masih tidur pulas di kasur kecil untuk dua orang.
Rumahnya bukanlah rumah mewah, sederhana tapi cukup, dan kehangatan kasih sayang berada di sana.
"Euhm ... biarkan aku tidur lebih lama lagi," gumam Nara menggeliat ke kanan dan ke kiri sembari mencari tempat yang lebih nyaman untuk melanjutkan tidurnya.
"Bangunlah, jangan jadi anak pemalas, pikirkan kesehatan bayimu itu," sahut Halimah berbicara blak-blakan di hadapan cucunya. Nara mendengarnya seketika membuka mata sembari berpindah posisi menjadi duduk.
Halimah menoleh dan mendapati sang cucu yang terdiam mengelus perutnya yang masih rata. Saat dirinya hendak berjalan menuju dapur tiba-tiba suara Nara menghentikan langkahnya.
"Apa kau membencinya?" tanya Nara tanpa menatap wajah sang Nenek sembari menatap kosong lantai di hadapannya.
Degh!
Halimah mematung, sorot matanya menatap Nara sedih, kakinya yang sedikit kesulitan berjalan karena usia perlahan-lahan mendekat dan duduk di samping Nara.
"Aduh, Ah ... usia memang membuatku kesulitan," ucap Halimah mengeluh berusaha mencairkan suasana. Tangannya terulur mengelus pucuk kepala sang cucu dan berkata, "Apa kau menyesal?". Perkataan Halimah membuyarkan tatapan Nara dan menoleh sekilas.
"Tidak, dia memiliki kesempatan hidup di perutku dan menjadi bagian dari perjalanan ku, aku sama sekali tidak menyesali jika dia ada disini, tapi aku menyesal kenapa aku membuatnya hadir dengan cara seperti ini." Nara menjawab, tangannya tak lepas terus mengelus perutnya itu.
Halimah menunduk, setetes cairan bening membasahi pipinya, melihat sang cucu membuat dirinya teringat akan perjuangan putrinya dalam artian ibu Nara.
"Kau membuatku teringat ibumu, dulu saat dia mengandung mu dia tetap berkerja keras untuk menghidupi mu, pria tua itu terlalu sibuk bermain dengan wanita dan hiburan malam." Halimah membuka suara dan bercerita, dirinya juga menyebut ayah Nara sebagai pria tua.
Nara menoleh dan bergumam, "Apa dia menyesal disana? tetapi ternyata aku tidak jauh berbeda darimu."
Nara membandingkan dirinya dengan sang ayah, dimana setelah mendengar kabar kehamilannya itu ayah nya meninggal dunia, kedatangan janinnya sebagai pengganti kepergian sang ayah yang selalu menyiksanya.
Ketika Nara duduk di bangku SMA kelas sepuluh.
"Kau mau kemana?" tanya pria paruh baya sebagai ayah Nara itu dengan tatapan tajam.
"Menghabiskan waktu dengan temanku," jawab sang putri begitu singkat berjalan keluar rumah.
"Berhenti! apa yang ingin kau lakukan setelah ini?" tanya ayahnya membuat Nara berhenti berjalan.
"Membuang waktu saja seperti air mengalir." Nara masih menjawab tanpa tertarik dengan topik pembicaraan. Ayahnya menoleh, sebuah tongkat yang sejak tadi dia genggam kini melayang tinggi bersiap menghantam punggung gadis dengan pakaian seperti urakan.
Bugh! "Kenapa kau selalu menyusahkan ku! dimana rasa terimakasihmu, sampai kapan kau akan berhenti menjadi berandal seperti ini!-" teriak sang ayah dengan amarah yang semakin memanas, ucapannya terpotong oleh tindakan Nara.
"Pukul saja! pukul aku! bunuh aku seperti kau membunuh ibuku dengan tangan kotormu itu! tinggalkan aku dan hiduplah bersama w***********g itu! aku sama sekali tidak peduli!" sergah Nara sembari meraih tongkat yang digunakan ayahnya untuk memukulnya, maata mereka saling menatap tanpa ada yang meneteskan air mata.
"Kenapa kau tidak menangis?" tanya ayahnya dengan raut wajah merah padam dan kesal. "Karena aku sudah mati dari dalam! hatiku sudah membusuk! dan aku sudah muak dengan drama kehidupan ini!" jawab sang putri menjelaskan isi hatinya dengan kalimat yang terdengar kasar.
"Aku akan mengirim kau ke rumah nenek mu!" ujar ayahnya sembari berjalan masuk ke dalam rumah kembali, dan Nara hanya diam menatapnya dengan derita. Setetes carian bening lolos begitu saja dan gadis itu menunduk dalam-dalam sembari berkata, "Lakukan- lakukan sesukamu, akan aku lihat sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti ini."
Nara berpaling dan berjalan meninggalkan rumahnya dengan pikiran kalut, baru saja beberaa langkah dia berjalan tiba-tiba teriakan ayahnya kembali terdengar. "Jangan pernah meminta makan kepadaku! tinggal saja dengan teman-teman mu itu! jika perlu kau hidup saja bersamanya dan memutus hubungan ayah dan anak ini!" teriak ayahnya begitu kencang dan memanas, semua tetangga yang tanpa sengaja melintasi jalanan itu mendengar jelas ucapan pria paruh baya yang dikenal sebagai preman kota dulunya.
Bug! Sebuah pukulan lagi-lagi membuyarkan lamunan ibu muda itu.
"Berhenti banyak melamun, bangunlah dan bergegas. Ini adalah hari pertama mu bekerja," ujar Halimah seraya bangkit berdiri dan membuka lemari usangnya untuk mengambil beberapa uang.
Nara menoleh dan menatap Neneknya, raut wajah dan sorot matanya penuh kesedihan dan rasa iba, perjalanannya benar-benar tidaklah mudah. "Kau tidak mandi?" Nara yang semula sudah bersiap di depan pintu dan memperhatikan halaman tiba-tiba di buat kaget dengan pertanyaan sang Nenek.
"Tidak, lagi pula tidak ada yang akan menanyaiku seperti itu," jawabnya singkat dan membuat Halimah tersenyum lucu dan berjalan mendahului cucunya. "Apa kau tidak merasa gerah?" tanya sang Nenek kepada cucunya. Nara hanya menjawab tanpa menoleh, "Tidak ada alasan."
***
Pusat Tradisional. Papan nama itu terpampang jelas dengan tulisan yang sedikit memudar, sepertinya papan itu sudah lama tidak di ganti.
Saat ini mereka berdua- seorang cucu dan nenek sudah tiba di dalam pasar. Lalu-lalang pembeli bergantian masuk dan sedikit berdesakan, teriakan tawar menawar antara pedagang dan pembeli menjadi alarm tersendiri di sebuah pasar tradisional itu.
Nara yang baru kali ini mendatangi tempat seperti itu sedikit kaget dan masih begitu asing, di kotanya hanya ada pusat perbelanjaan modern atau kerap di sebut sebagai mall. Saat dirinya sibuk memperhatikan deretan pedagang bahan makanan tiba-tiba sang Nenek mengucap sesuatu, "Apa kau merasa mual?". Nara menoleh dengan raut wajah penuh tanya, "Tidak, kenapa aku harus muntah?".
Halimah terkekeh dan menjawab, "Dasar ibu hamil aneh." Nara mendengarnya sedikit tidak terima dengan perkataan sang nenek, lagi pula apa yang membuatnya terlihat aneh, dirinya benar-benar tidak bisa memahami apapun.
"Tunggu! apa maksudmu dengan aneh?" tanya Nara mengejar langkah kaki Halimah yang sedikit menjauh. "Tidak ada alasan," jawabnya singkat meniru dialeg sang cucu. "Kau mencuri dialeg ku," gerutu Nara menyindir sang nenek, dan kini mereka berdua terkekeh pelan ditengah-tengah kepadatan pengunjung pasar.
Melihat tawa Nara, Halimah merasakan kehangatan disana, senyuman itu sudah lama tidak dia lihat sejak beberapa tahun lalu. "Ayo, kumpulkan beberapa sayur segar untuk di jual," sahut Halimah mengakhiri sesi tawa, dan Nara mengangguk patuh sembari membantu neneknya memilih beberapa sayur untuk kembali di jual di rumah.
Melihat gerak-gerik sang Nenek membuat Nara terdiam dan membatin, "Dia sudah tua, usianya tidak muda lagi ... tetapi senyuman membuatku merasa dirinya masih muda 30 tahun," batin Nara terkekeh melihat tingkah wanita paruh baya itu.
"Aduh, siapa gadis cantik ini?" tanya seorang penjual ketika melihat Nara yang sibuk membantu Neneknya. Halimah mendengarnya dan menjawab, "Dia cucuku dari kota," jawabnya dengan seulas senyum manis, tetapi Nara tidak mempedulikannya dan hanya diam tanpa ekspresi.
Dugh!
Lengannya di sodok pelan oleh Halimah bermaksud memberikan kode agar Nara menyapa si ibu penjual sayur. Merasakan pukulan di lengannya barusan membuat Nara meringis kesakitan dan menoleh paksa menyapa si penjual. "Salam kenal," ucapnya menyapa sembari tersenyum dan menundukkan kepalanya hormat.
"Apa kita perlu menjadi besan, Bu halimah?" bisik si ibu penjual dan membuat Nara dan nenek nya saling bertatapan dengan sorot mata kecewa. Halimah tersenyum canggung menyadari jika ucapan si penjual itu menyinggung cucunya.
"Haha, cucuku sudah bersuami hehe ...." balas Halimah dengan senyum palsu, Nara mendengarnya dan menoleh, hatinya benar-benar tergores lagi kali ini. "Lagi-lagi aku membuat orang lain memaksa dirinya membela sampah sepertiku," gumamnya pelan dan tersenyum canggung sembari membawa beberapa ikat sayur.