Siapa yang menyangka, sembilan bulan berlalu begitu cepat. Hari-hari Nara bersama sang nenek begitu saja.
Bukan lagi di perumahan kecil melainkan saat ini sebuah rumah sakit menjadi objek tersendiri kali ini. Nara yang bertahan selama sembilan bulan mengandung anak nya kini sedang berjuang melahirkan putranya, perlu diingat jika dia berjuang sendiri tanpa ayah atau suaminya. Wanita ini benar-benar tanggung melewati harinya yang tak mudah.
Halimah duduk gelisah di kursi tunggu di luar ruang persalinan. Tangannya meremas ujung bajunya sesekali mengingat jika sang cucunya sedang berjuang di dalam sana.
"Kuatkan dia Tuhan, aku yakin dia bukan anak yang lemah." Tangan Halimah menggenggam sesekali karena gugup dan terus berdoa memohon kekuatan untuk Nara di dalam sana.
Beberapa menit berlalu dan seorang suster keluar dari ruang persalinan sembari berlari terburu-buru. Halimah yang melihat raut wajah suster itu seketika menegang, pikirannya sudah berlarian kesana kemari karena khawatir.
"Ada apa? kenapa kau berlarian?" sergah Halimah berusaha memberhentikan si suster tersebut, tapi tidak di jawab oleh lawan bicaranya.
"Ya Tuhan, ada apa ini?" gumam Halimah dengan keringat dingin berjalan gusar menatap pintu ruang persalinan yang masih tertutup rapat.
Lima jam lalu Nara merasakan sakit di perutnya dan Halimah membawanya kemari, dan ternyata kata Bidan dia harus segera melahirkan. Tanpa berpikir panjang lagi, nenek tua itu menyanggupi keputusan dokter dan merogoh semua tabungannya untuk biaya persalinan sang cucu.
Suster yang berlari keluar tadi kini kembali dengan cairan infus yang dia genggam dan bergegas masuk dengan terburu-buru. Halimah tidak bisa berkata-kata lagi, dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi, rumah sakit itu sudah dipenuhi dengan fasilitas dan alat modern, untuk wanita tua seperti dia tidak bisa mengerti sama sekali.
Matanya menatap lampu yang berada di atas pintu ruang persalinan, lampu itu semula berwarna merah dan berubah menjadi hijau. Halimah semakin menegang melihatnya. Setelah melihatnya tiba-tiba Halimah berteriak khawatir dan menegang.
"Apa yang terjadi!? cucuku di dalam! apa yang terjadi!?" teriaknya bertanya kepada semua orang yang berada disana. Semua orang menatapnya kaget dan merasa aneh, tidak ada yang menjawab hingga akhirnya ada seorang wanita yang tengah hamil menghampiri Halimah yang masih khawatir.
"Ibu? ada apa?" tanya si wanita dengan perut buncitnya kepada Halimah sembari tersenyum ramah.
"Lampu itu! cucuku di dalam, apa semua baik-baik saja? kenapa lampunya berubah warna!?" sergah Halimah dengan cepat dan menghujani si wanita muda itu dengan pertanyaannya.
Si wanita hamil itu tersenyum lucu dan merangkul tubuh Halimah dan mengajaknya duduk di kursi tunggu. Halimah lagi-lagi tidak mengerti, kenapa wanita yang dia ajak bicara justru tersenyum.
Raut wajah Halimah penuh dengan ketidak pastian, pikirannya berusaha memahami sekitarnya, hingga si wanita menjawab, "Ibu tidak perlu khawatir. Lampunya berubah menjadi hijau karena proses persalinan berjalan lancar." Wanita itu tersenyum anggun menimpali pertanyaan Halimah, wajahnya yang teduh dan penyabar.
Bibir Halimah membentuk huruf 'o' setelah mendengar jawaban dari wanita itu, dan seulas senyum canggung mulai terlihat. "Hahaha, maafkan aku Nak. Aku wanita tidak berpendidikan yang tertinggal kemajuan."
"Tidak apa Bu, justru dengan adanya orang tua seperti ibu ini bisa membagi pengalaman berharga untuk anak dan cucu di masa depan," jawab di wanita dengan bijaksana. Saat Halimah hendak menjawab tiba-tiba terhenti karena panggilan dari resepsionis.
"Nyonya Ainun."
Wanita yang menolong Halimah seketika menoleh saat namanya dipanggil. "Saya permisi dulu ya Bu, semoga cucunya segera pulih dan bugar."
Halimah hanya menatap wanita bernama Ainun itu dengan tatapan teduh sekaligus kagum. "Sepertinya dia dari keluarga kaya dan berpendidikan," gumamnya memandang Ainun dengan status harta dan pendidikan. Halimah menunduk dan tenggelam dalam pemikirannya.
Seorang bidan cantik keluar dari ruang persalinan dan menyapa Halimah sebagai wali dari pasien. "Ibu Halimah, selamat ... cucunya laki-laki dan sangat tampan," ucap si Bidan membuat Halimah tersenyum hangat dan berterimakasih karena sudah menolong Nara.
"Terimakasih bu Bidan,"
"Tidak perlu berterimakasih Bu Halimah, sudah menjadi tanggung jawab dan pekerjaan saya hahaha ...." jawab si Bidan dan pamit undur diri kembali ke ruangannya.
Halimah berjalan masuk menghampiri Nara dengan cepat. Aroma obat dan kekhawatiran orang tua masih Halimah rasakan ketika melihat cucunya terbujur lemas dengan senyum di wajahnya.
"Astaga, apa kamu baik-baik saja?" tanya Halimah sembari mengelus pucuk kepala Nara.
Nara tersenyum lemah dengan kebahagian yang luar biasa. "Dasar anak bandel, aku tidak bisa memarahi mu kali ini astaga," ucap Halimah menyebut Nara seperti itu setiap harinya, tapi dirinya tidak pernah serius mengatakannya.
"Aku bukan anak-anak lagi sekarang," jawab Nara membantah dan mengerucutkan bibirnya. Halimah mendengarnya dan terkekeh lucu, "Hahaha, kondisimu yang lemah masih sempat membantah ucapan ku saja."
"Kata Bidan, dia tampan?" tanya Halimah melanjutkan pertanyaannya. Nara mengangguk pelan dan tersenyum. Halimah menoleh ke belakang dan mendapati seorang bayi laki-laki yang tidur pulas di atas ranjang kecil.
"Astaga, tampan sekali cucuku. Dia pasti mirip dengan ayahnya-" ucap Halimah begitu bahagia hingga perkataannya lolos begitu saja tanpa dia sadari.
Deg!
Nara terdiam mendengar ucapan sang Nenek, ucapan Halimah tidak bisa dipungkiri lagi, tapi Nara benar-benar kecewa dan membenci pria yang melakukan ini kepadanya.
"Aduh!" Halimah mengetuk dahinya cepat setelah menyadari ucapannya. "Tidak! dia sangat mirip denganku, wajahnya sangat tampan dan khas."
Nara menoleh seketika ketika sang nenek berkata demikian, "Apa? apa aku tidak salah dengar?"
"Apa? kenapa?" sahut Halimah menyangkal pertanyaan sang cucu. "Dia memang mirip denganku, lihat wajahku! aku sangat cantik dan muda dahulu kala."
"Pfftt ... hahaha ... apa?" Mendengar ucapan Halimah membuat Nara tak sanggup menahan tawa, melihat wajah sang nenek yang dengan percaya diri mengatakan jika dia cantik di masa mudanya.
"Teruslah tertawa! setelah kau sehat akan ku pukuli kau habis-habisan!" sahut Halimah merasa jengkel kepada sang cucu. Dia selalu berkata akan memukuli Nara ketika marah, tapi dia tida benar-benar melakukannya sama sekali.
Tawa Nara mereda dan tersenyum lucu melihat sang nenek yang begitu percaya diri, "Aku akan membutuhkan kepercayaan dirimu suatu saat nanti, hahaha ...."
"Dasar wanita sakit mental," gumam Halimah meledek Nara. Nenek dan cucu ini tidak pernah menyembunyikan perasaan masing-masing, apa yang ingin mereka katakan akan dikatakan secara langsung satu sama lain, tidak lah asing lagi jika mereka sering berdebat.
"Istirahatlah dengan baik, kita bisa pulang besok pagi." Halimah.
Nara menatap tubuh sang nenek yang semakin menua, langkah kakinya sudah tidak setegar dulu, bahunya sudah tidak setegap dulu. Matanya menatap sendal tua yang Halimah kenakan, dan setetes air mata lolos dari ekor mata Nara, tetapi bibirnya mengukirkan senyum bahagia dan bangga kepada nenek nya.
"Tunggu aku memberikan hadiah besar untukmu suatu hari nanti," gumamnya dengan tulus menatap punggung Halimah yang semakin menjauh dari pintu ruangan persalinan.
Kepalanya menoleh dan menatap bayinya yang tertidur di ranjang kecil, "Aku akan merawat mu sebaik mungkin tanpa merasa kekurangan kasih sayang seorang ayah," gumamnya bahagia dan menyakinkan dirinya sendiri jika kelak di masa depan dia akan merubah hidupnya yang berantakan menjadi seorang putri untuk neneknya dan seorang ibu ratu yang menjadikan putranya sebagai pangeran kerajaan.