'kok dia duduk sama lelaki?? apa dia berniat menjadikan ku penonton mereka?? astaga bocah ini' batinku
dengan langkah yang mulai tak bersemangat aku menuju meja yang mereka duduki, setelah mendekat dewi tersenyum manis melihatku dan segera menyapa ku.
"halo mbak nabila, apa kabar? " sapanya padaku sambil cipika cipiki
"hai alhamdulillah baik dek, kamu giamana tadi perjalanannya aman? " jawab ku
" aman kok mbak lagian gak nyetir sendiri "
refleks aku memalingkan wajah ke lelaki yang duduk membelakangiku dan belum beranjak dari temat duduknya sedikit pun.
" oh iya maaf ya mbak gak ngasi tau kalau aku gak datang sendiri, abis nya mas devan tumben hari ini aku kodein pengen jalan ke mall langsung di iyain padahal dulunya suka marah-marah dulu kalau di ajakin" jelas dewi
'astaga, jadi ini yang namanya devano yah, lelaki yang akan di jodohkan denganku. aduuhhh time ketemunya gak pas banget' racauku dalam hati
ku liat jari-jari dewi melayang depan mataku dan membuat ku tersadar akan lamunan ku.
"mbak nabila kok ngelamun? mbak gak keberatan kan kalau mas devano juga gabung sama kita? ucap nya
"gak kok dew kan yang pengen jalan-jalan kamu. jadi gak masalah kamu mau ajak siapa ajah. " jawab ku pura-pura cuek
setelah mengatakan itu lelaki yang sedari tadi membelakangi kamipun berdiri dan kami saling tatap.
tak lama lelaki itu menjulurkan tangannya untuk berkenalan, akupun menyambunya.
"Devano Putra Suryanto, panggil aja devan" ucapnya
"Nabila Ayudia Irawan" jawabku cuek
'tapi tunggu setelah di perhatikan gue seertinya pernah ketemu orang ini deh, tapi dimana yah?? ' batinku bertanya-tanya
"kita emang udah pernah ketemu sebelumnya, tapi dalam keadaan yang kurang baik" ucapnya seolah mengerti yang aku pikirkan
'sial apa dia seorang penerawang? kenapa dia bisa tau yang gue pikirkan? ' batinku kembali berucap
"tenang aja aku gak tau menerawang pikiran kamu kok, aku cuma tau karna terlihat jelas di kerutan kening mu" jawabnya sambil menahan tawa
refleks aku tersadar akan ucapannya
'astaga gue mempermaukan diri sendiri, bego bener sih ' umpatannya dalam hati
"ekhem" dewi berdehem karna merasa di acuhkan
"eemm baiklah bagaimana kalau kita duduk sambil ngobrol, biar lebih nyaman" ucap devan
aku dan dewi pun menganggukkan kepala tanda menyetujui ide tersebut. kaki ku juga sudah mulai menegang keamaan berdiri.
"silahkan pesan, aku dan dewi tadi udah pesen diluan"
"baiklah"
setelah menunggu beberapa saat sambil mengobrol santai pesanan kamipun datang.
"mbak nabila, gimana masnya dewi gantengkan?? tapi agak galak hati-hati aja kalau deket dia soalx dia srigala berbulu domba hihihi" ucap dewi padaku sedikit berbisik dan aku menanggapinya dengan senyuman
"dewi, mas denger itu" respon devan yang ternyata mendengar pembahasan kami
"sengaja mas, siapa tau aja mba nabila butuh informasi itu dan ntar bisa buat mas luluh dikit dan wajah dinginnya di angatin dikit ama yayang mas devan ini" aku pun tersedak minuman ku setelah mendengar perkataan dewi.
"kamu gak papa nabila?? ucap devano
"ya ampun mbak, hati-hati minumnya. mbak gak papa kan?? " kata dewi ikut khawatir.
"gak kok, cuka keselek doang. makasih" balasku dengan memasang senyum paksa.
kami melanjutkan makan dalam diam, sesekai dewi yang hanya melakukan percakapan singkat menghangatkan situasi canggung kami.
*****
setelah beberapa saat makanan kami sudah tandas dan tersisa makanan penutup dan jus masing-masing tidak lama kemudian terdengar suara handphone dan ternyata asalnya dari handphone dewi
dewipun menjawab telpon masuknya
"halo"
"......"
"kok bisa sih, kalian dimana? "
"......"
"oke deh tungguin gue, gue otw sekarang"
"......."
setelah dewi memutuskan telponnya dewi langsung meirik kami bergantian dan mengatakan
"mas, mbak aku tinggal gak papa?? temen ku kecelakaan, dewi boleh pergi duluan gak? " ucapnya tidak enak hati
"ya udah gak papa kita jalannya lain kali ajah kita kan juga udah makan jadi bisa langsung pulang" balasku
"gak mba, karna mas devan susah banget minta waktu santai kaya gini. mba nabila jalan-jalan aja dulu. boleh yah? " ucapnya memohon
"baikah"
akhirnya kami hanya duduk berdua beberapa menit yang lalu dewi sudah meninggalkan kami berdua. tidak ada pembicaraan berarti di antara kami hanya keheningan sesaat.
"apa kamu menerima perjodohan jni? " tiba-tiba di menanyakan hal itu padaku dan aku hanya menanutkan ke dua alisku bingung dari maksud pertanyaannya
"emm maksudku apakah kamu tidak keberatan dengan perjodohan ini? apakah kamu tidak mempunyai kekasih?" kembali dia memperjelas maksud dari pertanyaannya dan akhirnya aku mengerti maksudnya.
"ntahlah mas..." tiba-tiba devan menyela ucapan ku
"panggil devan aja biar lebih akrab" ucapnya
"baiklah, sebenarnya aku juga bingung devan. aku tidak mempunyai kekasih tapi akupun masih ingin merasakan rasanya bekerja, aku tidak yakin jika kita sama-sama bekerja rumah tangga yang kita bina akan bahagia" ucapku oadanya yang di tanggapinya dengan senyum manisnya
"bagiku itu bukan masalah jika memang kamu memilih untuk bekerja"
"apakah itu artinya kamu sudah benar-benar menyetujui perjodohan kita? "
"eemmm yahh begitulah kira-kira aku tida punya tekad yang besar untuk membantah kedua orang tua ku"
"apakah kita bisa jalanin dulu sesuai air yang mengalir? " jawab ku dengan sungkan padanya
"ide bagus itu lebih baik, kamu boleh sambil nyari kerja juga siapa tau aja kan kamu punya rejeki di salah satu perusahaan yang masuk daftar tempat melamar kerjaan mu itu"
"iya rencana nya emang besok aku mau buat lamaran kerja, makasih yah devan udah ngerti aku"
"it's oke, santai aja" jawabnya
setelah berbincang-bincang lama kami melanjutkan jalan-jalan keliling mall ini dan kami berakhor di salah satu supermarket di mall ini.
aku pun mengambil barang sesuai dengan kebutuhan ku
'gila, ini mah udah kaya suami-istri beneran jatohnya kok jadi co cweet gini, hahahaha' batinku menggila
*****
dirasa cukup kami segera menuju kasir dan devan yang membayar semua tagihan kami berdua. devan mengantarkan ku hingga bassement dan berkata
"aku nganter sampe sini yah, udah semua kan? kalau udah aku pamit ke depan nungguin taksi soalnya tadi kesinj nya bareng ama dewi" katanya tiba-tiba
"biar aku anterin aja sih kita kan searah ini. kan gak banget kok dokter ganteng ini naik taksi, hehehehhee" jawabku
"emang gak keberatan nganter aku dulu?"
"gak donk, udah yuk baik kamu nyetir yah"
"everything for you princess" ucapnya santai dengan senyumnya
degggg!!!
'yah yah kok ni jantung mau loncat keluar sihh' batinku
"gombal ihhh" jawabku dengan semburat merah di kedua pipiku
"hehehe ya udah yuk" ajaknya
setelah melakukan perjalanan hampir 30 menit, kamipun tiba depan mansion besar bak istana. yah rumah devan aku mengantarkan nya ke mansion nya dan baru kai ini aku menginjakkan kaki di mansion ini.
devan emang gak punya kekurangan sama sekali dia sosok pria baik, pemgertian, tampan, badan oke, pekerjaan mantap dan kekayaan fantastis. pokoknya idaman semua wanita matre di kota ini.
"mampir dulu yuk." ajaknya padaku
"gak usah van makasih aku udah lengket banget nih pengen cepet-cepet ganti baju, lain kali yah" jawabku
"oke take care yah Bil"
"siiipp" jawab ku dan memgangkat jempol untuk nya.
*****
akupun memasuki mobil dan melajukan mobil membelah kota jakarta yang sedikit sepi karna sudah malam menandakan sudah banyak penduduknya telah beristirahat"
dan malam ini aku memutuskan untuk pulang ke apartemen dan tadi sudah izin ke nyokap.
setalah memasuki apartemen ku, aku segera menaruh kunci mobil dan tasku ke atas nakas dan mengambil bathrobe di ruang ganti lalu segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"huhhh seger banget" ucapku seorang diri
ting tong !
ting tong !
"ya ampun siapa sih neken bel kok kayak ngajak perang" kesalku dengan orang yang menekan-nekan bel unit ku
ting tong
ting tong
bruk
bruk
bruk
orang itu kembali menekan bel dengan cepat tidak cukup dengan itu dia mengetuk-ngetuk pintu dengan kerasnya. ohh bukan mengetuk melainkan di tinju.
'kok bikin takut , siapa sih yang tu orang' batinku
ku langkahkan kaki ku menuju pintu utama dan perlahan membuka kunci dengan perasaan was was tetali belum spenuhnya terbuka pintu langsung d dorong otomatis aku mundur ke belakang.
"lo ngapain sih lama benner bukain pintu gue udah gedor-gedor pintu lo ampe semua tetangga lo bangun karna gue. lo malah kagak respon. gue pikir lo udah wafat." yah siapa lagi kalau bukan wanita menyebalkan Kirana
"lo yang apaan lo kaya penjahat tau gak, bikin gue takut. lagian ngapain sih lo malem-malem gini bertamu gak tau sopan santun banget. lo mau ngerampok gue yah??? " jawab gue bodo amat dan ketus
"anjirr lo ngatain gue pengen maling, gue mau denger penjelasan lo upil unta" jawabnya aku menautkan kedua alis bingung
"penjelasan apa sih, lo kayak pacar habis di putusin trus minta penjelasan tau gak" jawab ku
.
"udah gak usah bacot lo, cepet pake pakaian lo trus bikinin gue cappucino dan duduk jelasin ke gue"
"et dah tamu kagak ada sopan-sopannya"
kirana tidak menghiraukan ucapan ku dan segera menuju ruang tv. melohat it akupun langsung menuju kamar dan mengenakan pakaian ku setelah itu aku membuatkan nyonya itu cappucino sesuai pesanannya dan duduk di sampingnya.
"katakan apa yang mau lo tau dari gue ampe gak ngira-ngira waktu begini" ucapku kesal
"lo nerima perjodohan itu yah? lo habis ngedate kan? emang cowonya gimana ganteng? kaya? " tanya nya beruntun padaku
"lo jauhw-jauh datang 1 lantai dari unit gue dateng malem-malem nyari masalah sama tetangga gue cuma mau nanya itu doang?? lo lagi uji nyali dengan gue kirana larasati? " jawab ku kesal dengan nya
"ya udah sih jawab aja"
"pertanyaan lo banyak udah kaya introgasi tersangka koruosi tau gak lo"
"heh kuda jawab atau gue masukin lo ke jeruji neraka sekarang juga, kessel gue"
"heheheh udah sih unta santai aja"
"iya gue tadi ketemu ma devano..... "
"oohhh jadi namanya devano??? " potongnya dengan ucapanku
"ya udah gue gak jadi ngomong fix lo nyari masalah ma gue"
"iya iya ngambekkan banget lanjutin deh gue denger ampe ubun-ubun"
"gue sebenarnya janjian ama adeknya dewi, tapi pas tiba di resto gue ngeliat dia tu sama si devan duduk ngobrol. gak lama dewi tiba-tiba pamit pulang temennya masuk rumah sakit kata nya, ya udah gue jadinya cuma berdua doang akhirnya" jawabku
"lo kok bisa tau? lo mata-matain gue yah? " aku memicingkan mata kepadanya
"idih kurang kerjaan banget gue ikutin upil onta kaya lo"
"trusss? " tanyaku dengan bingung
"tadi gue dapet telpon dari ayang beb gue kebetulan tadi dia ke mall bareng sepupunya dan gak sengaja liat lo ngedate ma cowok, makanya gue kesini mastiin, lo jadinya nerima perjodohan itu apa gimana? "
"gue bingung Nar, gue ma dia sepakat jalanin dulu kaya gini seperti air yang mengalir dari jamban nenek lo" ucapku dramatis
"sinting lo, kurang kerjaan banget air dari jamban lnenek gue ngikutin percintaan lo"
"sirik ajja lo"
"gini yah bil kalau gue nboleh ngasi saran, mending lo terima aja deh perjodohan itu, biar orang tua lo juga antengan dikit kasian mereka ampe onta kaya lo udah segede dinosaurus ini masih mereka jabanin begonya. mereka tertekan batin tau gak hehehhee"
"lo apaan si sorry to say yah gue itu bukan tekanan bagi orang tua gue melainkan anugrah, wleeee"
"idih pede amat lo sok jadi anugrah yang ada lo tu bencana hahhaha"
"diem gak lo atau gue tendang keluar unit gue"
"ya udah si maapppiiiinnn deh" ucapnya tanpa rasa bersalah
"punya dosa apa gue cuma dapat temen kuda kaya lo doang" ucapku dramatis
"gini gini gue yang ad buat lo tai"
"iya deh kuda"
"serius nih bil, gimana lo pikirin deh masa depan lo" lanjut kinara dengan serius
"gak tau nar, orang tua gue emang berharap gie nerima perjodohan itu tapi gimana gue juga masih pengen nikmati hidup gue, gue pengen kerja dulu" jawabku
"yaudah lo bicarain aja dulu sama si....... "
"devan"lanjutku
"iya sama si devan, siapa tau aja kan dia gak keberatan kalau lo kerja juga"
"iya deh ntar gue ngomong tapi gimana caranya gue gak punya kontaknya nih kuda"
"ya robbiiiiii, lo bener-bener beban keluarga otak lo udah abis di makan rayap pantesan orang tua lo kekeh pen jodohin lo" ucapnya dengan kesal
"hehehe biasa aja kali woles dong kuda sayang"
"au ahhh serah lo gue mau tidur ngantuk gue lo jangan berisik atau gangguin gue" jawabnya yang mulai membelakangi gue
"yang ijinin lo nginep sini siapa? "
"serah gie mau nginep dimana, udah diam lo "
"ya elah kasar amat "
dengan dalih mengantuk akhirnya kinara malam ini menginap di tempat ku dan yaaa dia mendengkur dan menguasai sebagian tahta ranjangku ini, kamipun tidur bersama malam ini dengan nyamana.
******
hari ini waktunya sebagian warga indonesia kembali pada aktivitasnya masing-masing untuk bekerja ad pula yang nongkrong di rumah karena nganggur dan salah satunya itu aku.
sekilas aku menatap dapur ku yang berantakan akibat kekacauan yang di timbukan oleh kinara tadi pagi.
yah wanita itu kabur berangkat kerja setelah menyelesaikan sarapannya dan meninggalkan ku kekacauan yang di buat di dapurku. dia memang saat ini telah bekerja di salah satu perusahaan ternama di kota ini akupun tidak tau dan tidak ingin tau dia bekerja dimana yang ingin aku tau itu adalah tanggal gajian nya agar aku bisa menagih traktir padanya tiap buan hehhehe
aku pun beranjak membersihkan dapur seorang diri,. 'aku seperti ijah di rumah ku sendiri, astaga anak itu benar-benar' batinku
setelah dirasa sudah bersih aku menuju ruang tv dengan cemilan dan minuman soda di tangan ku, belum sepenuhnya aku mengistirahatkan badan ponselku telah berdering sejenak ku lihat dari nomer baru
"ya halo? "
" halo, eemm benar ini dengan nabila? "
"iya, maaf ini siapa yah? "
"aku devan "
"ohh hai, ada apa? "
"oh iya aku menawari mu pekerjaan"
"pekerjaan? " tanya ku bingung
"iya, kebetulan perusahaan ku sedang membutuhkan sekertaris aku rasa kamu bisa menduduki nya"
"kamu serius? " tanya ku antusias
"apa aku terdengar bercanda? hahahah"
"baiklah, kaoan aku ke kantor mu"
"hari ini, ah bukan tapi sekarang juga bawa berkasmu aku menunggumu di ruangan ku, cepatlah karna habis ini aku harus ke rumah sakit" jawabnya
"baiklah tunggu aku oke, aku siap-siap dulu 30menit lagi aku tiba"
"oke, takr care"
tut tut tut
aku memutuskan telpon tanpa menjawab lagi dan bergegas mengganti pakaian ku nasib baik tadi aku sudah membersihkan diri.
hari ini aku bahagia sekai, aku mendaptkan pekerjaan tanpa harus interview terlebih dahulu dan bersaing dengan ribuan karyawan, sejenak ku pikir aneh tapi ya sudahlah mungkin ini adalah rejeki ku.