mereka semua memperhatikan Dokter Gavin dan para suster merawat pasien,sekali kali terdengar Claudia menjelaskan apa yang sedang di kerjakan Oleh Gavin maupun Para suster,
"ingat perlakuan pasien dengan baik,karena kita bekerja di rumah sakit tentu saja kita harus merawat para pasien,baik itu dari kelas bawah maupun yang VVIP"jelas Claudia menekan setiap kata katanya,
"satu lagi di rumah sakit ini tidak pernah membedakan bedakan pasien, tetap kerjakan tugas kalian sebagai dokter maupun suster dengan baik dengan tulus"ujar Claudia lagi yang di angguki oleh para anak magang dengan anggukan mengerti
setelah mereka selesai melihat Dokter Gavin dan para suster mengobati salah seorang pasien yang baru saja mengalami kecelakaan pasien tersebut tidak terlalu parah hanya membutuhkan beberapa jahitan di bagian kaki dan juga dahinya
"Lanjut"ujar Gavin beralih pada kamar sebelah,yang hanya di batasi oleh tirai biru,
"Assalamualaikum nek"Sapa Gavin saat membuka tirai terlihat seorang nenek sedang duduk di kursi melihat pemandangan dari luar jendela, kamar nenek ini tepat di kamar paling ujung di mana ada satu jendela lumayan besar yang tidak jauh dari ranjangnya,
"waalaikumsalam dokter Gavin"jawab nenek tersebut sambil tersenyum ramah kepada Gavin,Gavin mendekat lalu membantu nenek itu berdiri
"Bagaimana kabar Nenek hari ini apa Ada yang sakit?"tanya Gavin lambut sambil membantu nenek tersebut untuk duduk di Brankar
"nenek sudah tidak merasa sakit lagi Nak Gavin tetapi kenapa perasaan nenek tidak enak seperti ini"jawab sang nenek membuat Gavin tersenyum menanggapi ucapan nenek, Gavin dan nenek itu terlihat sangat dekat
"nek jangan pernah memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan"jawab Gavin Sambil memeriksa keadaan nenek
"Bagaimana tidak nenek memikirkannya Gavin nenek ingin sebelum Nenek pergi dipanggil nenek ingin melihat anak
serta cucu nenek tapi sepertinya mereka tidak ingin melihat nenek"jawab sang Nenek dengan wajah sendunya,
"nenek"Gavin duduk di samping sang nenek Gavin memegang tangan keriput itu dengan lembut"bukankah sudah pernah Gavin katakan jangan pernah memikirkan orang yang tidak pernah menganggap nenek, anggap Gavin sebagai cucu nenek walaupun Gavin tidak bisa sering-sering menemani ini,jangan menambah beban fikiran nenek yang akan membuat Tubuh nenek semangkin lemah"jawab Gavin membuat senyum nenek Ijah mengembang
"Nenek senang mendapatkan cucu yang tampan seperti Nak Gavin lihatlah para gadis gadis cantik itu mereka tersenyum melihat wajah tampan Nak Gavin Jika saja nenek mempunyai anak atau cucu yang bisa dijodohkan dengan Nak Gavin mungkin nenek sudah bersikeras ingin menjodohkan anak atau cucu nenek kepada nak Gavin selain tampan dan kaya nak Gavin juga sangat lembut nenek yakin siapapun nanti wanita yang mendapatkan Nak Gavin pasti wanita itu akan sangat bahagia dan akan menjadi Wanita paling beruntung karena mendapatkan Nak Gavin"
jawab sang nenek sambil tersenyum lembut tetapi Lea mencibir ucapan nenek yang memmuji Gavin yang menurut Lea Dokter Gavin tidaklah sebaik itu
"nenek saja tidak tahu seberapa menyebalkan dokter jerapah ini"gumam Hati Lea,Gavin sadar Jika Lea sedang mencibir dirinya,
"terima kasih nek tapi Gavin tidak sesempurna dan sebaik yang nenek pikirkan pasti ada Celah di antara sifat dan kebaikan Gavin,bukan kah begitu Nona Lea"ujar Gavin perkataan terakhir Gavin membuat Lea terjingkak kaget,
"Iya Dokter, eh maksudnya tidak tidak hihi"jawab Lea sambil cengengesan,
saat sadar dengan jawabnya,
hari ini Lea dan Tika benar-benar merasa lelah,bukan hanya Lea dan Tika tetapi semua anggota magang, karena hari ini hari pertama mereka magang di rumah sakit Lewis, mereka benar-benar ditekan oleh dokter Gavin, mereka hanya boleh istirahat saat makan siang Setelah itu mereka kembali mengikuti dokter Gavin yang bekerja untuk mengecek pasien dan mereka juga sempat melihat Dokter Gabin melakukan operasi besar,
"ternyata pekerjaan dokter dan suster itu sangat berbahaya dan juga sangat memiliki tanggung jawab besar kenapa aku sedikit takut ya untuk menjadi seorang suster"udah Lea yang sedang tiduran di atas ranjang sambil memainkan ponselnya
"setiap pekerjaan itu memang memiliki tanggung jawab dan risikonya masing-masing bukan hanya seorang dokter atau suster saja semua pekerjaan itu pasti memiliki risikonya"jawab Tika yang begitu dewasa itu kenapa Lea begitu dekat dan sangat nyaman saat berteman dengan Tika karena Tika selalu bisa menasehati dirinya,
sedangkan dengan sang Kakak Lea tidak pernah dekat Karena Lea dan sang kakak memiliki prinsip yang berbeda jika Lea sangat ingin menjadi suster maka sang kakak memiliki obsesi untuk menjadi pebisnis perempuan yang sukses
apalagi Lea dan sang kakak sangat jarang bertemu, karena Kakak Lea sejak masuk universitas sudah mulai sibuk membantu Papanya sampai saat ini kakaknya pun sudah sibuk membantu sang papa,
"Kenapa kamu kangen mama papa dan kakak kamu kamu telepon saja mereka tidak menelpon Kamu mungkin mereka sedang sibuk kamu tahu sendiri bukan papa kamu itu seorang pengusaha sama halnya dengan kakak kamu apalagi mama kamu, kamu tahu sendiri bukan kalau Papa kamu sedang ada pekerjaan di luar negeri pasti Mama akan selalu menemani papa kamu"Ujar Tika mencoba menebak Apa isi pikiran Lea,
"besok saja tik Aku males jika harus berdebat dengan Papa lagian kamu tahu sendiri bukan jika Papa memaksa aku untuk menjadi pengusaha seperti kakak tetapi aku tidak suka menjadi pengusaha kamu tahu sendiri cita-citaku sejak kecil ingin menjadi seorang suster"jawab Lea,yang di Angguki Oleh Tika,
namun saat Lea sedang asyik berselancar di media sosialnya,Ponsel Lea berdering keras tertera nama sang papa di ponselnya, sebelum menekan icon hijau Lea terlebih dahulu menghela nafas kasar
"halo Lea"
"Hallo ma, kenapa Mama menggunakan ponsel papa?"tanya Lea saat mendengar suara Mama nya
"Iya nak saat ini Mama dan Papa baru saja turun dari bandara dan ponsel Mama tidak tahu Mama tadi mana,"jawab mama Lea,
"Mama dasar pelupa"jawab Lea, terdengar suara cekikikan dari sebrang sana,
"mama Lea rindu mama"ujar Lea terdengar suara desahan lembut dari Mamanya,
"Mama juga merindukan kamu Nak, jika nanti setelah pulang dari Jepang papa,Mama akan bujuk papa kamu, untuk menjenguk kamu,"jawab sang Mama membuat wajah Lea terlihat kecewa
"tidak usah Ma nanti yang ada mama dan papa berantem lagi nanti setelah magang Lea di rumah sakit ini selesai Lea akan pulang menjenguk mama"ujar Lea, Saya tidak mau karena dirinya mama dan Papanya berantem,
papa Lea Arvin Evano Anderson, adalah seorang laki-laki pekerjaan keras, sang papa tidak akan mau membuang waktunya hanya untuk hal-hal yang tidak penting termasuk menjenguk dirinya yang saat ini yang berada di tempat kelahiran mamanya untuk menuntut ilmu,
Lea kuliah di tanah kelahiran mamanya mengambil jurusan yang tidak disukai oleh Papanya itu kenapa Papanya jarang atau bisa di bilang tidak pernah menjenguk dirinya selama Lea kuliah,terkadang Lea merasa sedih namun mau bagaimana lagi ini sudah keputusan yang di ambilnya.mka Lea akan siap dengan setiap resikonya.