“Awas, Bu Nararya!” pekik Satya kaget.
Namun, belum sempat berbalik malah ada yang menubruk badan Nararya dari belakang. Bahkan dia tak sempat menghindar hingga jatuh tersungkur.
“Aw!” pekiknya ketika tubuh membentur aspal dengan sikut kanan jadi tumpuan.
Satya pun urung melajukan kuda besinya. Dia lekas turun dari motor, kemudian menghampiri wanita itu. Segera mengulurkan tangan, tetapi belum sempat disambut tiba-tiba merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Ketika menoleh, betapa terkejut mendapati seorang wanita dengan rambut gimbal dan wajah sangat tirus menatapnya dengan binar gembira.
“Siapa Anda? Lepaskan saya!” hardik Satya seraya berusaha melepaskan diri. Namun, tenaga si wanita cukup kuat. Bahkan dirinya saja heran. Mengapa si wanita berambut gimbal itu tidak merasakan sakit? Padahal usai sama-sama terjatuh. Ditambah badan kurusnya yang memiliki tenaga cukup kuat, juga kecepatan yang terasa janggal.
Sementara Nararya turut menatap bingung dan terkejut.
“Mas, kamu jangan pergi lagi. Aku nyariin kamu ke mana-mana.”
Satya makin bingung, mengapa wanita itu memanggilnya demikian? Seolah mereka telah lama saling mengenal.
“Apa Mas lupa? Aku istrimu, Mas. Ayo pulang! Anak kita sekarang sudah besar, Mas.” Lagi, wanita itu meracau tak tentu.
Satya masih berusaha melepaskan diri dan makin paham dengan kondisi wanita itu. Sebenarnya jika dia mengerahkan kekuatan sepenuhnya bisa terlepas, bahkan mungkin si pemeluk akan terjatuh. Namun, tak sampai hati jika badan wanita itu terluka. Bagaimana pun keadaan jiwanya, wanita itu tetaplah manusia. Meski risi setengah mati, tetapi rasa iba lebih mendominasi.
Nararya celingukan, berpikir untuk mencari cara membantu Satya. Dia segera bangkit sambil menepuk area lengan juga pahanya.
“Biar saya cari bantuan,” katanya sambil melangkah.
Namun, baru dua langkah melaju, tiba-tiba derap kaki beberapa orang terdengar. Diiringi ucapan seorang pria menginterupsi.
“Maafkan atas kelalaian kami, dia pasien kami yang kabur,” kata salah seorang petugas berseragam serba putih.
Nararya dan Satya pun menoleh ke asal suara. Ketiga pria tadi langsung mendekat kepada si wanita berambut gimbal. Mereka terlihat bersikap selembut mungkin.
“Mas, tolong aku, Mas!” kata si wanita berambut gimbal ketika salah satu petugas telah memegang lengannya. Wajahnya kentara dipenuhi ketakutan seraya menatap Satya.
“Ibu, ikut kami dulu, yuk! Suaminya mau beli hadiah dulu, nanti menyusul.” Salah seorang petugas tadi menampakkan wajah begitu ramah. Disusul isyarat mata kepada dua partner kerjanya.
Mereka pun mendekat dan membantu melepaskan tangan pasiennya yang mulai mengendur. Hingga pelukan wanita gimbal di tubuh Satya terlepas.
“Sungguh?” Raut si wanita berubah drastis, dari sangat cemas menjadi teramat ceria. Hingga dia mau menuruti ketiga petugas itu, kemudian menoleh lagi kepada Satya.
“Mas aku tunggu kamu, ya! Jangan pergi lagi!” Wanita itu tersenyum mempertegas kerutan di sekitar sudut matanya.
Satya yang begitu jelas melihatnya bisa maklum. Mendapati suasana hati orang tadi begitu mudah berubah. Perlahan rasa iba mulai menjalari hatinya.
Ketiga petugas itu pun memapah si wanita gimbal. Salah satu dari mereka berucap lagi. “Sekali lagi, maafkan atas kelalaian kami.”
Yang dibalas anggukan juga tatapan pemakluman Satya. Setelahnya, melangkah menuju gang tempat tadi mereka muncul. Menuju kendaraan yang terparkir di jalan besar di depan sana—terhubung oleh gang tersebut.
Satya menatap kepergian mereka hingga punggung orang-orang itu hilang ditelan tikungan gang.
“Kasihan, ibu-ibu tadi,” kata Nararya seraya mendekat kepada Satya.
“Sepertinya dia kehilangan suami yang sangat dicintainya,” timpal Satya seraya menoleh kepada Nararya.
Sejenak mereka beradu pandang, menerka hal yang dipikirkan masing-masing. Ya, mereka sama-sama memikirkan hal serupa. Tak bisa membayangkan, jika hal itu terjadi kepada ibu mereka masing-masing. Entah sehancur apa perasaannya.
Satya cepat menggeleng, mengusir jauh-jauh bayangan itu. Begitu juga Nararya yang buru-buru mengalihkan perhatian. Enggan terlalu lama beradu tatap dengan pria itu.
“Jadi gimana?” Satya sengaja mengalihkan percakapan.
Nararya menoleh, mendapati lengkungan manis terbentuk di bibir sensual lawan bicaranya.
Dia menanggapi dengan alis bertaut, tak paham makna pertanyaan pria itu.
“Bersedia saya antar?” Satya masih menunggu jawaban dengan senyum makin lebar.
Hening beberapa jenak, angin sore berdesir perlahan. Sementara Nararya masih menimbang jawaban.
“Gimana kalau ada yang nyerang kayak tadi? Kemungkinan terburuknya yang nyerang itu penja-”
Seketika Nararya mendelik.
Baru kali ini Satya mendapati wajah ayu nan keibuan itu tergurat kekesalan.
Nararya mengangguk juga pada akhirnya. “Tapi sampe jalan raya aja, Pak.”
Satya mengangkat bahu dengan senyum yang tertangkap oleh Nararya disertai sorot mata kemenangan. “Baiklah, sesuai keinginan ibu Nararya Aryana.”
Nararya tak menggubrisnya, tetapi mesti diakui dia merasa kurang yakin.
Satya pun berjalan menuju kendaraannya lalu naik. Dia nyalakan seraya meminta kepada Nararya untuk naik ke boncengan melalui isyarat gerakan kepala.
Nararya pun duduk menyamping di boncengan guru baru itu.
“Saya cuma bawa helm satu. Enggak papa, ya? Deket ini, kan.” Satya mulai melajukan kuda besinya.
“Iya.”
Diam-diam Satya mengucap syukur dalam hati seraya tersenyum-senyum sendiri. Meski cukup aneh habis dipeluk orang yang bermasalah jiwanya, tetapi dia berterima kasih juga kepada Tuhan. Karena insiden itulah dia berhasil mengantarkan Nararya untuk kali pertama. Meski tak sampai ke rumahnya pun tak apa, bukankah ini baru permulaan? Besok-besok masih banyak waktu dan kesempatan. Semoga saja.
Belasan menit saja terasa begitu lama, Satya sengaja melambankan laju kendaraannya. Itu disadari Nararya yang notabene harap-harap cemas takut tak ada angkutan kota lagi yang melintas.
“Di sini aja, Pak,” katanya saat mereka tiba depan tempat penantian angkutan kota.
Satya pun menghentikan motornya lalu membuka kaca helm.
Nararya lekas turun dan membenarkan tasnya. “Makasih, ya, Pak.”
Satya mengangguk sambil tersenyum. Betapa senyum itu terlalu sering bagi Nararya. Bukan bosan, tetapi dia takut sulit mengendalikan perasaan. Berkali-kali mengingatkan diri, supaya tidak mudah menambatkan hati. Dia enggan hal yang tak mau diingatnya itu terulang.
“Hati-hati, ya,” pungkas Satya seraya menutup kembali kaca helm lalu menstater motornya. “Saya duluan.” Detik berikutnya motor matic itu pun melaju dengan kecepatan sedang.
Nararya hanya mengangguk seraya memandangi punggung pria itu hingga hilang ditelan jarak.
Senyum tak henti merekah di bibir Satya yang indah. Segala tentang Nararya membayangi benaknya. Berputar-putar layaknya video klip dengan model utama wanita itu. Hingga jarak cukup jauh telah ditempuh, puluhan menit pun berlalu dan dia tiba depan kontrakannya.
Satya turun dan mengunci leher, kemudian merogoh saku celana untuk mengambil kunci kontrakan. Dia melenggang menuju pintu dan membukanya, lantas berjalan masuk dan meletakkan tas cokelatnya di meja. Dia ambil gelas dekat dispenser dan menuang air, lantas meminumnya. Selanjutnya masuk kamar dan mengganti pakaian. Setelahnya dia merebah sejenak.
Lagi bayangan Nararya seolah mengikutinya tanpa henti. Dia bersenandung lirih. Rasa indah itu merekah tak pandang usia. Jika mata telah terpikat hati pun turut tertambat. Itu juga yang terjadi terhadap Satya, bahkan dia hampir mengabaikan cacing di perut yang telah berdemo meminta makanan.
Perlahan Satya bangkit, sesenang apa pun membayangkan raut Nararya tak mungkin bisa mengenyangkan perutnya, bukan? Dia sadar akan hal itu, lantas berjalan mengambil uang seraya menyambar ponsel dari saku celana yang tergantung di kas top. Setelahnya melangkah keluar.
Baru saja tiba di beranda, ponsel Satya berdering tiba-tiba. Terpaksa menghentikan langkah sambil merogoh saku joger-nya. Dia mendecap beberapa kali saat melihat nama yang tertera di layar benda pipih persegi panjang itu.