Reihan dan Ajeng tiba di Indonesia tepat pukul tiga siang. Di bandara sudah ada Anton yang menjemput mereka. Padahal Reihan memerintahkan salah satu pengawalnya. Entah kenapa yang muncul di bandara justru Anton.
Anton menghampiri mereka dan membantu membawakan koper Ajeng. Reihan yang melihat itu pun menghembuskan napasnya kesal. Dia berjalan cepat mendahului Anton dan langsung membuka bagasi mobil dan menaruh kopernya asal.
Anton yang melihat itu hanya mengangkat kedua bahunya malas. Ajeng pun duduk di kursi penumpang belakang bersama dengan Reihan. Anton yang melihat itu langsung protes.
“Lah, gue berasa sopir kalau begini.” Gerutu Anton keki.
“Gue emang manggil sopir buat jemput gue dan sepupu gue di bandara.” Balas Reihan ketus.
Ajeng pun memutar bola matanya malas. Dia langsung