Pertemuan singkat ditaman belakang setelah pesta membuatnya kena marah dari sang mama sepanjang perjalanan pulang. Tidak ada yang membelanya. Papa dan kakaknya pun diam, tidak bersuara sepanjang perjalanan.
Sesampainya dirumah Alena mendapat teguran keras dari mamanya " Alena sudah berapa kali mama bilang ke kamu. Jangan mendekati Kevin, dia bagian dari keluarga yang menghancurkan kita dulu".
"Iya ma, Alena minta maaf" ucap Alena menunduk.
"Mama sudah sering kasih tahu ke kamu Al, untuk nggak dekat-dekat sama Kevin. Kamu lupa?" ucap ibu Saraswati.
"Al ingat ma, Al minta maaf ma" jawab Alena
"Sudah ma,sudah" Pak Bagus mengusap punggung ibu Saraswati untuk meredakan emosi sang istri.
"Al,kamu ingat baik-baik ya pesan ma" ucap pak Bagus.
"Iya pa" jawab Alena.
"Ya sudah kamu kekamar aja Al" ucap pak Bagus.
Alena naik ke lantai atas tapi ia tidak langsung ke kamarnya tapi kekamar kakaknya.
Alena mengetuk pintu kamar kakaknya "mas,boleh masuk nggak?"
"masuk aja Al, ada apa?" ucap Raditnya
Alena menghela nafas panjang dan duduk disamping Raditya "mas, siapa sih tadi yang lihat gue sama Kevin ditaman belakang?".
"Oh itu tante Sari yang lihat kamu sama Kevin terus ngadu ke mama" jawab Raditnya.
"Makanya Al, lo harus selalu ingat pesan mama. Kalau lo nggak boleh dekat-dekat sama Kevin, gue juga suntuk dengerin mama ngoceh sepanjang jalan kayak tadi. Gue juga kasihan sama lo Al tapi gue nggak bisa belain lo" ucap Raditnya.
"Iya mas, aku paham kok. Tadi tiba-tiba aja si Kevin muncul disana. Tapi aku nggak janjian kok sama dia,beneran!". ucap Alena.
"Iya Al, gue percaya kok sama lo. Ya udah lo istirahat aja sana" ucap Raditnya mengusap kepala adiknya.
Entah sudah berapa kali ia mendengarkan kata-kata yang sama dari sang mama. Kata-kata itu seperti belenggu. Rahasia masa lalu keluarga membuat hubungan ini mustahil. Alena gelisah semalaman, menimbang antara rasa penasaran dan larangan yang menjerat