Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi sekarang. Matahari juga sudah siap untuk keluar dari tempatnya, namun sepasang suami istri itu justru masih terlelap dalam satu selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
Felin membuka kedua mata, ia mengusap wajahnya pelan. Badannya terasa sakit, wanita itu memegang pangkal hidungnya yang terasa pening seperti akan flu. Felin menoleh ke samping, menatap laki-laki itu masih terlelap dalam tidurnya.
Rasanya malu sekali jika mengingat kejadian semalam. Dia tidak menyangka akan menyerahkan kesucian dirinya secepat ini. Felin menatap jam dinding, spontan ia bangkit dari rebahnya karena mengingat dirinya belum melaksanakan salat subuh.
Tapi tunggu, wanita itu tersadar dan menatap pakaiannya sendiri. Baju yang robek beberapa bagian dan sangat lusuh akibat ulah Dosen muda itu. Dia memperlalukan Felin dengan kasar.
Felin menghela napas sejenak lalu turun dari ranjang kemudian melangkah menuju kamar mandi. Langkahnya tertatih karena merasakan sakit pada pangkal dan kepalanya juga pusing. Terlihat wajahnya yang sedikit pucat seperti semalam.
Selesai mandi, Felin melanjutkan mengambil wudhu lalu mendirikan sholat yang sempat tertinggal beberapa jam lalu. Felin juga sudah melihat Tristan yang tengah menunggu giliran kamar mandi. Pria itu lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi tanpa sepatah katapun yang ia lontarkan.
Felin memilih menunggu Tristan untuk melaksanakan salat berjamaah. Tapi siapa sangka, Tristan justru melakukan salat subuh yang kesiangan itu dengan niat munfarid tidak berjamaah bareng sang istri. Felin menghela napas ringan lalu mendirikan salat sendiri.
Baiklah, Felin harus sabar menyikapi sikap Tristan yang masih belum jelas perasaannya. Terkadang bersikap hangat, terkadang bersikap dingin yang keterlaluan.
Selesai sholat subuh, Felin dan Tristan bersiap-siap berangkat ke Kampus. Tidak ada hari libur untuk pernikahannya, karena mereka merahasiakan. Sesekali Tristan mengamati Felin yang berjalan dengan langkah tertatih. Sebenarnya laki-laki itu merasa bersalah atas kejadian semalam, ingin rasanya minta maaf. Tapi ... Gengsi, dong.
“Kalau sakit nggak usah berangkat ke Kampus,” ucap Tristan sembari membenarkan kerah bajunya. Felin hanya terdiam dan tetap pada aktivitasnya, yaitu memakai hijab.
“Punya mulut itu dipakai!” Tristan menyambar tasnya lalu beranjak keluar dari kamar. Felin menghembuskan napas kesal. Tidak sadar jika Dosen itu punya mulut juga jarang dipakai.
Tristan berpamitan dengan Bu Lilis kemudian langsung berangkat ke Kampus. Dia memang sudah biasa sarapan di Kantin, karena laki-laki itu melarang Bu Lilis untuk masak dengan kondisi yang seperti itu. Tristan khawatir.
Setelah selesai menyiapkan semua keperluannya, Felin keluar dari kamar guna mencari keberadaan Tristan untuk berangkat bersama.
“Kok Nak Felin belum berangkat?” tanya Bu Lilis yang tengah duduk di sofa panjang depan tv. Felin kemudian berjalan mendekatinya.
“Pak Tristan udah berangkat ya, Bu?” wanita paruh baya itu mengangguk mengiyakan. Lagi-lagi Felin harus menambah kesabarannya.
“Ibu kira kamu udah nunggu Tristan di depan. Kenapa nggak bareng sama Tristan aja, toh tujuan kalian ke Kampus yang sama.” Felin tersenyum lalu mengecup punggung tangan Bu Lilis.
“Nggak apa-apa, Bu, pengin sendiri-sendiri saja. Aku berangkat ya, assalamualaikum.” setelah berucap, Felin langsung beranjak pergi.
“Wa'alaikumussalam,” balas Bu Lilis lirih.
Untuk menunggu taxi online saja membutuhkan waktu lumayan lama. Felin takut terlambat masuk kelas Tristan. Setelah menempuh waktu beberapa menit dan turun dari taxi, Felin langsung berlari menuju kelasnya. Berharap Dosennya itu belum masuk kelas.
Bruk!
“Astaghfirullah,” pekik Felin kala tidak sengaja menabrak wanita berrambut pendek dan membuat wanita itu jatuh terduduk.
“Heh! Lo punya mata nggak, sih?!” wanita itu langsung bangkit dari duduknya.
“Maaf, Kak, saya nggak sengaja,” lirih Felin takut.
Plak! Pipi Felin terasa panas dan sangat nyeri setelah ditampar oleh seorang wanita yang tiba-tiba datang.
“Berani banget lo ya udah bikin teman gue jatuh!” hardik wanita itu. Felin menunduk takut seraya memegangi pipinya. Air matanya perlahan menetes.
Semua mata yang tertuju pada ketiga wanita itupun melihat miris sekaligus kasihan kepada Felin. Wanita itu terkenal lemah, dan baru ada seseorang yang berani memperlakukannya dengan kasar.
Wanita berrambut pendek itu menarik hijab panjang Felin, membuat rambut gadis itu sedikit terlihat. Sontak Felin menutupi bagian itu menggunakan kedua tangannya.
“Astaghfirullah, jangan lakukan itu Mbak.” Felin menahan hijabnya, dia takut jika rambutnya akan terlihat di tempat umum seperti ini.
Tristan yang melihat itupun menyuruh salah satu senior Kampus untuk menghentikan pertikaian di depan mata. Senior itu mengangguk patuh lalu menghampiri ketiga wanita tersebut.
“Singkirkan tangan kotormu itu!” kedua wanita itu menoleh, menatap laki-laki dihadapannya. Sedangkan Felin, ia masih menahan hijabnya supaya tidak lepas. Sekali ia bergerak, maka hijabnya akan benar-benar enyah dari kepalanya.
Wanita berrambut pendek itu menjauhkan tangannya dari hijab Felin lalu menatap laki-laki dihadapannya yang merupakan senior di Kampus itu.
“Dia sudah bikin saya jatuh, Kak,” tutur wanita itu mengadu.
“Iya bener tuh, dia yang memulai bikin masalah sama kita,” imbuh wanita berrambut pirang.
“Gak perlu pakai k*******n, kan?” semuanya terdiam. “Pergi.” pria itu mengarahkan tangannya, menyuruh kedua wanita itu pergi dari hadapannya. Kedua wanita tanpa hijab itu langsung pergi dengan perasaan kesal. Dari tatapannya kepada Felin, sepertinya ada dendam yang belum terbalaskan.
“Terima kasih, Kak, sudah membantu,” ucap Felin dengan kedua tangan yang masih menutupi bagian rambut yang sudah sedikit terlihat.
“Jangan takut sama cewek itu, dia tuh pantas dilawan.”
“Mereka mahasiswi baru ya, Kak?” laki-laki itu mengangguk. Felin juga baru pernah lihat kedua wanita itu di Kampusnya.
“Dia pindahan dari Universitas Bandung, namanya Alda dan Della. Dia memang begitu orangnya, makanya dikeluarkan dari Universitas Bandung dan pindah ke sini,” jelas pria itu. Felin mengangguk paham.
“Kalau begitu saya permisi dulu ya, Kak.” Felin tersenyum kecil lalu beranjak pergi ke toilet untuk membenarkan hijabnya. Setelah kepergian Felin, Tristan menghampiri pria itu dan menepuk bahunya pelan.
“Awasin cewek tadi, jangan sampai dia di ganggu lagi sama mahasiswi baru itu,” titah Tristan dan diangguki oleh senior itu.
“Siap Pak Tristan, saya pembela kebenaran. Panggil saya Ballveer,” balas pria itu diakhiri dengan senyum, membuat lesung pipinya terlihat. Tristan langsung beranjak untuk masuk kelas.
Setelah jam kelas habis, Tristan langsung menuju ruangannya. Sepertinya dia akan berlama-lama di Kampus ini, rasanya sangat canggung jika berdekatan dengan Felin.
Terlebih jika mengingat perlakuannya yang sungguh dirinya sendiri saja benci. Apalagi si Felin, apakah dia juga benci kepada Tristan sehingga ucapannya tadi pagi hanya dianggap angin lalu?
Tristan bersandar pada kursi kerjanya. Ntah kenapa perasaannya menjadi aneh. Dia menikahi Felin bukan karena cinta, melainkan karena sang Ibu tercinta. Laki-laki itu meraih mushaf kecil miliknya lalu membacakan surah Al-Mulk untuk sekedar menenangkan hati kecilnya.
Tanpa Tristan sadari ada seorang wanita yang mendengarkan lantunan ayat itu di depan pintu ruangannya. Sesekali wanita itu memejamkan kedua matanya merasakan ketenangan kala mendengarkan ayat itu.
Tristan menghentikan bacaan surahnya kala mendengar keributan di luar ruangan.
“Heh!”
“Astaghfirullah!”
“Nguping lo ya?!”
“Eng— enggak! Siapa yang nguping?!”
“Alah, nguping kan lo? Gue aduin sama Pak Tristan lo ya!”
Begitulah yang Tristan dengar keributan di luar. Tidak lama setelah keributan itu, pintu ruangannya terketuk beberapa kali. Dia kemudian beranjak dari duduk dan membuka pintu ruangannya. Dia mendapati kedua wanita yang sudah tidak asing lagi baginya. Felin dan Alda si mahasiswi baru.
“Ada apa ini?” tanya Tristan dengan nada flat.
“Ini Pak, si Felin masa tadi nguping di depan ruangan Bapak,” adu Alda. Felin memasang wajah takut. Iya, takut jika harus berhadapan dengan Tristan sekaligus bermasalah dengan mahasiswi baru itu.
“Ngapain kamu di depan ruangan saya?” tanya Tristan kepada Felin.
“Orang cuma lewat kok,” alibi Felin.
“Heh, jelas-jelas gue lihat lo nempelin tuh telinga ke pintu. Apa lagi kalau bukan nguping namanya?!” Alda menatap sinis ke arah Felin membuat lawan bicaranya menunduk ketakutan.
“Alda!” wanita itu menatap Tristan. “Jangan kasar ya kamu sama istri saya!” Tristan menatap Alda tajam. Felin mengerjap. Rasa takut kepada wanita yang berada disampingnya semakin menjadi-jadi. Alda membulatkan mata sempurna. Dia tidak salah dengar, kan?
“I—istri? Maksudnya apa ya, Pak?” tanya Alda bingung.
Tristan menghela napas ringan lalu beranjak pergi meninggalkan kedua wanita dihadapannya, tanpa peduli raut wajah kebingungan Alda yang nampak jelas terlihat.
“Ini gue nggak salah dengar, kan?!” Alda menatap punggung Tristan yang semakin menjauh. Tatapannya berpaling pada wanita berhijab lebar yang berada disampingnya.
“Heh! Pakai guna-guna lo ya, sampai-sampai Pak Tristan bisa luluh?” tuduh Alda.
“Astaghfirullah Mbak, saya nggak____.” Alda hendak menarik jilbab Felin. Untung saja seorang laki-laki yang sedari tadi menguntit pembicaraannya langsung memukul tangan Alda menggunakan tasnya.
Pria itu paham hukum bersentuhan dengan lawan jenis, maka dari itu dia menggunakan tasnya untuk menghentikan niat jahat Alda.
“Kakak?” Alda mengerjap. Lagi-lagi niat jahat dia ketahuan oleh kakak seniornya itu.
“Awas lo ya, cewek sok polos!” setelah berucap dan memberi perintatan itu, Alda langsung beranjak pergi.
“Kenapa Kak Riziq selalu ada dan selalu membantu saya?” tanya Felin heran.
“Saya selalu mengawasi kamu,” jawab Riziq jujur. Felin mengerutkan dahinya heran.
“Kok?”
“Saya disuruh Pak Tristan ngawasin kamu dari kedua cewek itu tuh, si Alda and Della,” jelas Riziq.
“Pak Tristan?” pria itu mengangguk mengiyakan.
“Kamu tenang aja, saya selalu ada di mana-mana kayak Ballveer si pembela kebenaran.” Riziq mengepalkan tangan kanan dan meletakkan di depan d**a bidangnya persis seperti Ballveer. Felin terkekeh pelan. Lucu juga kakak seniornya ini.
“Ternyata kamu bisa ketawa juga?” tanya Riziq. “Saya kira kamu terlalu banyak beban hidup sampai-sampai nggak bisa ketawa. Soalnya kamu murung terus, nggak kayak pas lagi sama sahabat kamu, siapa tuh namanya?” laki-laki itu tampak berpikir.
“Zikra?” tanya Felin meyakinkan.
“Iya, Zikra si cewek cantik itu.” Riziq membuka tasnya lalu mengambil ponsel miliknya kemudian menujukkan foto Zikra kepada Felin. “Ini orangnya, kan?”
Felin melihat foto itu dan benar saja, itu foto Zikra. “Kok Kakak punya foto dia?” laki-laki itu tersenyum lalu memasukkan kembali ponsel miliknya.
“Jelaslah, dia udah nggak asing lagi dikelas saya. Dulu dia itu salah satu topik pembicaraan di kelas saya kalau lagi jam kosong.” setelah mengucapkan itu, Riziq tertawa.
“Tapi menurut saya kamu lebih cantik sih,” ucap Riziq setelah menghentikan tawanya. Felin mengerjap. “Sudahlah, jangan baper. Saya cuma bercanda.” Riziq tersenyum sebelum ia beranjak pergi meninggalkan Felin seraya memasang airphone ke telinganya.
“Kenapa Pak Tristan nyuruh Kak Riziq ngawasin aku, sih? Kenapa bukan dia aja yang ngawasin coba?” Felin bergumam seorang diri.
“Saya akan mengawasi kamu dari jauh.” Felin menoleh, menatap laki-laki di belakangnya.