Tristan memilih untuk tetap mengawasi Felin dari jarak jauh. Walaupun tidak cinta, tapi wanita itu merupakan istrinya. Sudah menjadi tanggung jawab Tristan untuk menjaga sang istri.
Tristan bersembunyi di belakang pasak tembok tidak jauh dari kedua wanita itu. Tidak lama setelah itu, Riziq, dia datang untuk menghentikan niat jahat Alda yang lagi-lagi ingin menarik hijab Felin. Kenapa harus hijab, sih?
Tristan menghela napas panjang setelah kepergian Riziq. Dia kemudian menghampiri Felin yang masih berdiri di depan ruangannya.
Tristan juga mendengar Felin bergumam sendirian tentang masalah pengawasan. Kenapa bukan Tristan yang mengawasi Felin? Tidak. Bukan tidak mau mengawasi, Tristan mengawasi Felin, kok. Hanya saja laki-laki itu tidak mau mengatakan hal itu kepada Felin secara terang-terangan. Bisa-bisa nanti wanita itu semakin besar kepala karenanya.
Tristan menatap Felin sejenak. Terlihat wanita itu masih sedikit terkejut dengan hadirnya Tristan yang tiba-tiba berada di belakangnya. Tristan lalu beranjak masuk ke dalam ruangannya untuk mengambil tas miliknya kemudian menutup pintu ruangan itu kembali.
“Ayo pulang bareng saya,” ajak Tristan lalu berjalan mendahului Felin. Lagi-lagi Felin ditinggal. Wanita itu mengekori langkah kaki dosennya, lebih tepatnya suaminya.
Sesampainya di rumah, Felin lebih memilih duduk di teras. Wanita itu takut Tristan tidak nyaman jika berduaan di dalam kamar. Tristan menghentikan langkahnya saat melihat Felin tiba-tiba duduk. Dia menatap sang istri heran.
“Ngapain duduk di situ? Masuk!” ucap Tristan. Memang selalu terdengar sedikit membentak, tapi itulah nada bicaranya.
“Mau di sini aja,” balas Felin.
“Masuk!” pria itu kekeh lalu menarik paksa lengan Felin hingga sampai di kamar. Tristan menutup pintu kamar dan melepaskan genggamannya dengan Felin.
Keduanya sama-sama terdiam. Felin yang dulu merupakan cewek yang sangat cerewet, sekarang berubah menjadi pendiam. Pasti ketularan virus kutub es dari Tristan.
Tristan duduk disisi ranjang dan menatap Felin yang masih berdiri mematung di depan lemari. “Sini.” pria itu menepuk sisi ranjang kosong disampingnya.
“Pak Tristan ngajak saya duduk ba____.”
“Iya!” Felin tersenyum dan langsung beranjak duduk disamping pria itu. Tristan menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan.
“Maaf.” dengan segala kerendahan hati dan niat yang sudah ia kumpulkan sepanjang perjalanan pulang, Tristan berniat untuk meminta maaf kepada Felin atas kejadian semalam.
“Maaf kenapa, Pak?” tanya Felin. Tristan menatap wanita itu.
“Masih sakit?” balik tanya Tristan.
“Apanya?” Felin menyernyit heran. Dia pura-pura tidak tahu, karena malu jika harus mengungkit.
Tristan kembali menghela napas panjang dan memalingkan wajahnya dari Felin. “Nggak perlu ditutupi.”
“Maaf atas kejadian semalam, saya khilaf.” Felin terdiam mematung. Apa dia tidak salah dengar? Tristan melakukan itu karena khilaf? Bukan karena cinta?
“Nanti malam biar saya yang tidur di lantai.” setelah berucap seperti itu, Tristan hendak bangkit dari duduknya. Dengan refleks, Felin langsung meraih lengan kekar milik suaminya. Pria itupun kembali duduk.
“Jadi ... Pak Tristan khilaf?” tanya Felin dengan genangan air mata yang sudah siap tumpah.
“Menurut kamu?” Tristan justru berbalik tanya. Felin tidak menjawab, air matanya sudah menetes tanpa permisi. “Kamu nangis karena takut hamil?” Tristan kembali bertanya. “Nggak perlu takut. Kamu, kan, udah punya suami.”
Felin menatap Tristan. Bisa-bisanya pria itu membuat kesimpulan sendiri tanpa mendengar penjelasan dari sang istri.
“Pak Tristan cinta sama saya?” tanya Felin. Mendengar itu, Tristan tersenyum hambar.
“Felin, dengarkan.” diraihnya kedua bahu Felin dan ditatap lembut sorot matanya. Felin suka, wanita itu lebih tenang ditatap seperti itu. Tatapannya sangat berbeda dengan semalam.
“Saya memang menikahi kamu, tapi bukan berarti karena saya cinta sama kamu,” jelas Tristan dan itu berhasil membuat air mata Felin mengalir lebih banyak.
“Tapi kamu jangan sedih, saya akan bertanggung jawab atas kehilafan yang saya lakukan.” Tristan menurunkan kedua tangannya yang bertengger dibahu Felin.
“Jangan nangis.” pria itu tanpa ragu mengusap pipi Felin yang sudah banjir air mata. Mendapat perlakuan itu, Felin menjadi tidak bisa marah dengan suaminya.
Dan tidak ada alasan untuk dia marah kepada Tristan, karena pada dasarnya memang mereka sudah menikah. Dan sudah menjadi hak Tristan. Felin hanya kecewa, dia sakit hati atas penjelasan Tristan yang terang-terangan mengatakan bahwa dia menikahi bukan karena cinta dan dia mengambil haknya karena khilaf.
“Saya heran, dulu kamu cerewet banget orangnya. Eh sekarang jadi pendiam. Kenapa, sih?” tanya Tristan. Nada bicaranya begitu lembut, membuat Felin mengulas senyum kecil dibibir.
“Gak apa-apa,” jawab Felin. Tristan menaikkan kedua alisnya.
“Ya?”
Felin mengangguk pelan.
“Pak Tristan nggak suka ya kalau dilihatin saya?”
“Saya emang nggak suka dilihatin orang.” Tristan bangkit dari duduknya. Dia menunduk, menatap Felin. “Kamu nggak marah, kan, atas penjelasan saya tadi?” tanyanya.
“Pak Tristan cintanya sama Zikra ya?” laki-laki itu mengerjap. Nama Zikra kembali muncul lagi di otaknya.
“Udah enggak. Jangan bahas itu.”
***
Bruk!
“Aduh!” desis Felin di dalam kamar mandi. Tristan mengerjap lalu berjalan tergopoh menuju sumber suara dan refleks membuka pintu kamar mandi itu.
“Pak Tristan!”
Brak! Tristan langsung menutup kembali pintu kamar mandi itu dengan degup jantung yang terpacu cepat.
“Astaghfirullah, istri siapa, sih?!” pria itu memegangi dadanya setelah melihat Felin hanya mengenakan handuk saja dengan posisi terduduk. Mungkin karena terpeleset, pikirnya.
Tristan menghela napas kasar lalu merebahkan dirinya di atas ranjang. Wajahnya ia tutupi menggunakan bantal sangkin malunya. Lah? Kenapa malu, sih.
Tidak lama setelah dirinya merebahkan diri, Tristan mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Sudah pasti itu Felin. Ntah kenapa jika dekat dengan wanita itu, Tristan merasa sedikit kecanggungan dalam dirinya. Padahal dia sendiri tidak mencintai Felin. Pernikahan ini hanya untuk menutupi status lajangnya saja.
“Pak Tristan jangan tidur sore-sore, pamali,” ucap Felin sembari menarik kursi belajarnya lalu duduk di sana. Dia seolah berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja, seperti tidak ada kejadian yang baru saja ia alami tadi.
“Saya nggak tidur!” Tristan memang begitu ketus.
“Mandi, Pak, udah sore, sebentar lagi adzan maghrib.”
“Gak usah nyuruh-nyuruh saya!” Felin mengerjap. Baru juga bersikap hangat tadi siang, eh sorenya sudah dingin lagi. Kayak air yang ditaruh di lemari es selama delapan jam. Dingin dan membeku.
Tristan menyingkirkan bantal itu dari wajahnya. Dia tidak mau menatap Felin. Pria itu langsung beranjak menuju kamar mandi. Sifatnya aneh, Felin bisa merasakan itu.
Adzan maghrib terdengar, Felin sudah siap dengan mukenanya. Sedangkan Tristan, dia masih di dalam kamar mandi. Ntah apa yang membuatnya betah di dalam kamar mandi.
Felin hendak mengetuk pintu kamar mandi, namun Tristan lebih dulu membuka pintunya.
“Ngapain?” tanya Tristan flat. Felin mengerjap.
“Udah adzan,” jawabnya.
“Saya dengar.” Tristan melangkahkan kakinya lalu meraih baju serta sarung di atas ranjang yang sudah Felin siapkan.
“Lain kali nggak perlu repot-repot nyiapin keperluan saya. Saya udah biasa apa-apa sendiri.” Tristan memakai baju itu di depan Felin. Wanita itu menutup kedua matanya kala Tristan melepaskan handuknya dengan sengaja. Benar-benar membuat istrinya jantungan.
“Ngapain tutup mata, kan udah pernah li___.”
“Pak Tristan mau sholat di Masjid atau di rumah?” tanya Felin berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“Masjid,” jawab Tristan lalu langsung pergi ke Masjid tanpa berpamitan kepada sang istri. Felin membuka kedua matanya kala mendengar langkah kaki Tristan semakin menjauh. Wanita itu lalu memulai salatnya dengan khusyu.
Malam ini Tristan benar-benar tidur di atas lantai sesuai ucapannya tadi siang. Felin juga sudah terlelap dalam tidurnya. Disisi lain, Tristan justru tidak bisa tidur karena tidak biasa tidur di tempat keras seperti ini. Dia kemudian memposisikan dirinya duduk dan menatap sisi ranjang sebelah Felin yang kosong.
Tidak. Tristan tidak mungkin tidur satu ranjang lagi dengan Felin. Laki-laki itu menatap jam dinding, baru jam sepuluh malam. Tristan beranjak menuju dapur untuk mengambil air minum.
Dia sudah menikah, tapi rasanya seperti belum menikah. Justru dia merasakan ketidaktenangan di kamarnya sendiri. Setelah minum, Tristan merebahkan kepalanya di atas meja makan dan terlelaplah dia. Padahal apa bedanya lantai sama meja, sama-sama keras, kan?
Tanpa Tristan sadari ada seorang wanita mengelus rambutnya. Wanita itu mengatakan, “Bangun, sayang, pindah ke kamar gih.”