Haifa akhirnya tiba di rumah menjelang sore. Setelah mengganti pakaian dan membersihkan diri, ia langsung masuk ke kamar. Tubuhnya terasa jauh lebih lelah daripada yang ia bayangkan. Mungkin karena pengaruh obat, mungkin juga karena kejadian sepanjang hari yang benar-benar menguras energinya. Untuk sementara, ia bahkan tidak ingin memikirkan tugas kuliah yang sejak tadi memenuhi kepalanya.
Haifa menjatuhkan tubuh ke atas kasur, lalu menarik selimut hingga sebatas pinggang. Kepalanya bersandar pada bantal, sementara tangan kirinya perlahan menyentuh dahi sebelah kiri yang masih terasa berdenyut. Rasa sakitnya memang sudah jauh lebih ringan dibandingkan ketika berada di rumah sakit, tetapi tetap saja membuatnya tidak nyaman.
Ponselnya tergeletak di samping bantal.
Haifa meraihnya dan membuka layar. Beberapa notifikasi memenuhi bagian atas layar. Sebagian besar berasal dari grup kelas, sementara beberapa pesan lainnya datang dari teman-temannya yang menanyakan keadaan setelah kecelakaan. Beberapa dari mereka memang sempat melihat kejadian itu ketika masih berada di sekitar area kampus.
Haifa membalas beberapa pesan seperlunya, kemudian kembali memperhatikan layar ponselnya. Tidak ada satu pun pesan dari orang yang sebenarnya sejak tadi ia tunggu.
Haifa mendengus pelan. Sejak pagi, Althaf bahkan tidak mengirim pesan.
Padahal mereka sudah terbiasa saling mengabari. Tidak harus sepanjang waktu. Terkadang hanya pesan singkat ketika Althaf sudah sampai rumah sakit, atau ketika Haifa selesai kuliah dan hendak pulang. Hal-hal kecil yang bagi orang lain mungkin tidak berarti, tetapi sudah menjadi kebiasaan di antara mereka. Namun, hari ini tidak ada apa-apa.
Bahkan setelah kecelakaan yang membuatnya berakhir di IGD, Althaf hanya berbicara kepadanya seperti seorang dosen yang sedang menangani mahasiswanya.
Haifa masih kesal setiap kali mengingatnya. Memang mereka harus berhati-hati. Haifa memahami itu. Mereka tidak mungkin menunjukkan hubungan mereka di depan Vonna, terlebih di lingkungan rumah sakit yang dipenuhi orang-orang yang mengenal Althaf. Tetapi bukan berarti Althaf harus bersikap sedingin itu.
Setidaknya, satu pesan pribadi tidak akan membuat dunia runtuh. Haifa sedang menggerutu dalam hati ketika layar ponselnya tiba-tiba menyala.
Satu pesan masuk dari Dokter Althaf. Haifa langsung membukanya.
‘Kamu di mana?’
Tiga kata itu berhasil membuat rasa kesalnya berkurang sedikit. Ia mengetik balasan dengan cepat.
‘Di kamar.’
Pesan itu baru terkirim beberapa detik ketika layar ponselnya kembali berubah.
Panggilan masuk. Nama Dokter Althaf muncul memenuhi layar. Haifa menatapnya beberapa saat. Bibirnya mengerucut. “Baru sekarang telepon.” Nada suaranya masih terdengar kesal, tetapi tangannya tetap bergerak menerima panggilan. “Halo.”
“Sudah sampai rumah?” Suara Althaf terdengar tenang dari seberang sana.
Haifa mengerutkan hidung. “Sudah.”
“Bagaimana kepalamu?”
“Masih sakit.”
“Seberapa sakit?”
Haifa terdiam sebentar. Sebenarnya ia ingin menjawab dengan jujur, tetapi rasa kesalnya membuatnya memilih jawaban lain. “Parah.”
Althaf tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar lagi. “Kalau parah, kamu tidak akan sempat mengomel di IGD tadi.”
Haifa langsung mendengus. “Nah, kan. Bukannya khawatir malah nyalahin aku.”
“Saya tidak menyalahkan kamu.”
“Tapi nada bicara Mas kayak begitu.”
“Baik.” Nada suara Althaf tetap tenang, seolah tidak tersinggung sama sekali. “Saya ulang. Bagaimana kepalamu sekarang?”
Haifa memeluk bantal dan menatap langit-langit kamar. “Masih sakit.”
“Sudah minum obat?”
“Sudah.”
“Makan?”
Haifa diam karena bukan tidak ingin menjawab, lebih karena ia belum makan dan tidak ingin membohongi Mas Althaf.
Althaf sepertinya sudah memahami jawabannya. “Haifa.”
“Kenapa?”
“Kamu belum makan.”
Itu bukan pertanyaan dan Haifa tahu itu.
“Kamu belum makan.” Althaf mengulang pernyataannya dengan lebih tegas.
Haifa mengerucutkan bibir. “Belum.”
“Kenapa?”
“Nggak selera.”
“Kamu harus makan sebelum minum obat lagi.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa belum dilakukan?”
Haifa menghela napas panjang. Nada bicara Althaf yang tenang justru terkadang lebih sulit dihadapi daripada omelan. “Mas, aku sedang sakit. Tolong jangan kuliahi aku.”
“Saya sedang mengingatkan kamu.”
Haifa kembali diam. Ia tahu Althaf tidak sedang memarahinya. Pria itu memang selalu seperti itu. Tidak pernah banyak bicara, tetapi setiap perkataannya memiliki maksud yang jelas. Dan justru karena itulah Haifa semakin sulit mempertahankan rasa kesalnya. Namun, ia masih belum mau mengalah.
“Aku tetap kesal.”
“Karena?”
“Karena sejak pagi Mas nggak menghubungi aku.”
Di seberang sana terdengar keheningan.
Haifa memalingkan wajah ke arah jendela. “Aku kecelakaan, masuk rumah sakit, kepala benjol, mobil rusak, terus dosenku sendiri datang ke IGD dan bukannya khawatir malah bilang aku bikin ribut.” Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih kecil. “Terus setelah itu Mas pergi begitu saja.”
Althaf menarik napas pelan. “Saya tidak pergi begitu saja.”
“Ya, sama saja.”
“Saya pergi karena Vonna ada di sana.”
Haifa terdiam. Ia tahu alasan itu. Sejak awal ia memang memahami mengapa Althaf harus menjaga jarak ketika Vonna berada di dekat mereka. Tetapi mendengarnya langsung dari Althaf tetap membuat rasa kesalnya perlahan mencair.
“Saya tidak bisa bersikap seperti biasanya di rumah sakit,” lanjut Althaf. “Bukan berarti saya tidak khawatir.”
Haifa memainkan ujung selimut dengan jarinya. “Terus kenapa baru sekarang menghubungi aku?”
“Karena saya baru bisa melakukannya tanpa membuat orang lain bertanya.” Jawaban itu membuat Haifa terdiam. Althaf melanjutkan dengan suara yang tetap tenang, “Saya tahu kamu kesal. Saya juga tahu kamu ingin saya menghubungi kamu sejak tadi. Tetapi saya tidak ingin mengambil risiko.”
Haifa menelan ludah. “Kalau Mas memang khawatir, kenapa tadi nggak kelihatan?”
“Saya tidak harus menunjukkannya kepada semua orang.”
“Tapi aku juga nggak lihat.”
“Kamu melihatnya.”
Haifa terdiam. “Apa?”
“Tatapan saya tadi.”
Pipi Haifa seketika terasa hangat. Ia teringat bagaimana tatapan mereka sempat bertemu di ruang IGD. Hanya beberapa detik, tetapi cukup untuk membuat Haifa tahu bahwa di balik wajah tenang Althaf, pria itu sebenarnya jauh lebih khawatir daripada yang ditunjukkannya. Tatapan itu hanya mereka berdua yang mengerti.
Haifa menggigit bibir bawahnya. “Jangan ge-er.”
“Saya tidak ge-er.”
“Mas tadi mukanya tetap datar.”
“Saya memang seperti itu.”
“Nyebelin.”
Althaf tertawa pelan. Suara itu hanya terdengar singkat dari seberang telepon, tetapi cukup untuk membuat Haifa ikut tersenyum tanpa sadar.
Beberapa saat mereka hanya diam. Keheningan di antara keduanya terasa jauh berbeda dari keheningan ketika berada di rumah sakit. Tidak ada Vonna, tidak ada perawat, tidak ada mahasiswa, dan tidak ada dokter lain yang mungkin memperhatikan mereka.Hanya mereka berdua.
Althaf akhirnya bertanya, “Besok ada jadwal kuliah saya.”
“Memangnya aku mau datang?”
“Bagus kalau kamu mengerti.”
“Aku bisa datang kalau aku mau.”
“Jangan.” Jawaban itu terdengar tegas.
Haifa terdiam sebentar sebelum senyum kecil muncul di wajahnya. “Kalau aku datang?”
“Saya akan menyuruh kamu pulang.”
“Kalau aku tetap nggak mau?”
“Saya yang antar.”
Haifa langsung tertawa kecil. “Mas sok galak.”
“Saya serius.”
“Aku tahu.” Senyum Haifa perlahan menghilang. Ia kembali menatap langit-langit kamar dengan ekspresi yang lebih lembut. “Mas.”
“Hm?”
“Aku tadi takut.” suara Haifa terdengar benar-benar pelan. “Waktu mobil itu nabrak aku... aku sempat takut.”
Althaf tidak langsung menjawab. Ia membiarkan Haifa menyelesaikan apa yang sejak tadi ingin dikatakannya.
“Aku tahu aku nggak kenapa-kenapa. Tapi waktu itu aku benar-benar takut.”
“Saya tahu.”
“Padahal Mas ada di rumah sakit.”
“Saya tahu.”
“Tapi aku nggak bisa cerita.”
Althaf mengembuskan napas perlahan. “Mulai sekarang, kalau kamu takut atau merasa tidak baik-baik saja, jangan menyimpan semuanya sendiri.”
Haifa terdiam.
“Saya mungkin tidak selalu bisa berada di samping kamu,” lanjut Althaf, “tetapi bukan berarti kamu harus menghadapi semuanya sendirian.”
Kalimat itu membuat d**a Haifa terasa hangat. Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi dan memeluk bantalnya. “Kalau begitu...”
“Hm?”
“Besok telepon aku lagi.”
Althaf terdiam sesaat sebelum menjawab, “Baik.”
“Jangan Cuma sekali.”
“Baik.”
“Jangan lupa.”
“Saya tidak akan lupa.”
Senyum kecil muncul di wajah Haifa. Barulah rasa kesalnya benar-benar hilang. Ia memejamkan mata sambil tetap memegang ponsel di dekat telinga. “Mas.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
“Kamu istirahat saja.”
“Iya.”
“Dan makan.”
Haifa membuka sebelah mata. “Nanti.”
“Sekarang.”
“Mas...”
“Saya tunggu.”
Haifa menghela napas panjang. Pada akhirnya, ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Althaf jika pria itu sudah menggunakan nada seperti itu. “Baiklah.”
Senyum yang benar-benar tulus akhirnya muncul di wajah Haifa. Hari yang sejak pagi terasa begitu buruk ternyata bisa menjadi sedikit lebih baik hanya karena satu panggilan dari pria yang dicintainya. Dan sejak kecelakaan itu, Haifa merasa benar-benar tenang.
*
Setelah panggilan itu berakhir, Haifa masih duduk di atas kasur sambil menatap layar ponselnya. Senyum kecil yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang ketika ia teringat pesan terakhir Althaf.
Makan.
Pria itu benar-benar tidak akan membiarkannya beristirahat dengan perut kosong.
Dengan malas, Haifa akhirnya bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya masih terasa lelah, tetapi ia tahu tidak ada gunanya membantah Althaf. Kalau sampai ia tidak makan, pria itu mungkin akan menelepon lagi hanya untuk memastikan. Begitu keluar dari kamar, aroma masakan langsung menyambutnya dari arah ruang makan.
Vonna ternyata sudah lebih dulu pulang. Perempuan itu duduk di salah satu sisi meja dengan pakaian rumah yang sederhana. Rambut panjangnya yang biasanya terurai kini diikat longgar, membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai dibandingkan ketika masih mengenakan jas dokter.
Vonna mengangkat wajah ketika melihat Haifa datang. “Mau makan?”
Haifa mengangguk dan menarik kursi. “Iya. Lapar.”
“Bagus. Berarti masih sadar.”
Haifa melirik kakaknya dengan malas. “Kakak kalau jadi dokter kenapa nggak pernah bisa ngomong yang normal?”
“Karena pasien Kakak biasanya lebih patuh.”
“Berarti pasien Kakak belum kenal Kakak.”
Vonna terkekeh sementara Haifa mengambil piring dan mulai menyendok makanan. Perutnya memang sudah cukup kosong, tetapi baru beberapa suap, ia mulai merasa lebih nyaman.
Vonna yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya tersenyum. “Lebih baik, kan?”
Haifa mengangguk sambil tetap makan. Beberapa saat mereka menikmati makan malam dalam diam. Hanya suara alat makan yang sesekali terdengar di antara keduanya.
Sampai akhirnya Vonna membuka percakapan. “Tadi Kakak masih sempat ketemu dokter Althaf.”
Tangan Haifa berhenti sesaat. Namun, ia segera melanjutkan makan seolah nama itu tidak memiliki pengaruh apa-apa. “Oh.”
“Dia masih di gedung kardiovaskular waktu Kakak mau pulang.”
Haifa hanya mengangguk. “Terus?”
“Nggak ada apa-apa.” Vonna tersenyum tipis sambil memainkan sendoknya. “Tadi dia sempat tanya kondisi kamu.”
Haifa menundukkan wajah. “Dia dokter. Wajar kalau tanya.”
“Iya.” Vonna tidak membantah. Namun, senyum kecil di wajahnya justru semakin terlihat.
Haifa memperhatikannya dari sudut mata. Ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi kakaknya setiap kali nama Althaf disebut. “Kenapa?”
Vonna mengangkat wajah. “Kenapa apanya?”
“Enggak. Kakak senyum terus.”
Vonna tertawa kecil. “Masa?”
“Iya.”
“Enggak apa-apa.”
Haifa kembali makan. Namun, beberapa detik kemudian Vonna justru mengembuskan napas panjang. “Haifa.”
“Hm?”
“Kakak sebenarnya mau cerita sesuatu.”
Haifa menghentikan gerakan tangannya dan menatap kakaknya. “Apa?”
Vonna tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata, “Kakak suka sama seseorang.”
Haifa terdiam. Entah kenapa, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia sudah bisa menebak siapa nama yang akan keluar dari mulut kakaknya, tetapi tetap membiarkan Vonna melanjutkan.
“Siapa?”
Vonna tersenyum malu. “Dokter Althaf.”
Mendengar nama itu tetap membuat Haifa terdiam, meskipun sebenarnya ia sudah menduganya. Ia menundukkan pandangan pada piring di hadapannya dan mengambil satu suap makanan agar tidak perlu segera memberikan tanggapan.
Vonna justru tertawa kecil. “Kenapa diam?”
Haifa mengangkat wajah. “Terus aku harus bilang apa?”
“Enggak tahu. Biasanya kamu lebih heboh kalau Kakak cerita soal begini.”
“Mungkin karena kepalaku masih sakit.”
“Alasan.”
Haifa tersenyum tipis. Vonna kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi. Tatapannya berubah lebih lembut ketika kembali menyebut nama pria itu.
“Kakak sebenarnya sudah suka sama dokter Althaf cukup lama.”
“Sejak kapan?”
“Entahlah.” Vonna tertawa kecil. “Awalnya Cuma kagum. Dia dokter yang hebat, tenang, bertanggung jawab, kalau sedang bekerja, dia benar-benar serius, dan tentu saja sangat tampan.”
Haifa tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu semua yang dikatakan kakaknya memang benar. Apalagi seorang Althaf Mumtaz memang memiliki darah Arab yang mengalir di tubuhnya berpadu dengan darah lokal yang membuat perempuan mana pun pasti sulit berpaling.
“Entah kapan rasa kagum itu berubah menjadi suka.” Vonna memainkan ujung sendok di tangannya. “Masalahnya, Althaf bukan orang yang gampang didekati.”
Haifa hampir tersenyum mendengar itu. Memang bukan bahkan di kampus, meskipun beberapa mahasiswa takut padanya, lebih banyak lagi yang mengagumi sosok Althaf. Makanya tidak heran jika kelas pria itu selalu penuh tiap semester dan kebanyakan isinya adalah perempuan.
“Dia jarang bicara kalau enggak ada urusan. Kadang Kakak merasa dia perhatian, tapi beberapa menit kemudian dia kembali seperti biasa.”
Haifa menunduk agar Vonna tidak melihat senyum kecil yang hampir muncul di wajahnya. Itu memang Mas Althaf. Sekilas rasa bersalah muncul karena Haifa tidak bisa mengungkapkan hubungannya pada Kakaknya. “Jadi Kakak belum pernah bilang?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Vonna terdiam sejenak. “Takut.”
Haifa mengangkat pandangan. “Takut ditolak?”
Vonna mengangguk. “Kalau ditolak, nanti semuanya jadi canggung. Kami masih bekerja di tempat yang sama. Kakak juga tidak mau membuat hubungan kami berubah hanya karena Kakak terlalu terburu-buru.” Vonna menghembuskan napas pelan. “Beberapa bulan lalu dokter ortopedi yang mengutarakan perasaannya langsung ditendang keluar. Kan serem.”
Haifa tersenyum tipis, ia tahu tentang cerita itu yang menyebar di kampusnya dan entah siapa yang memulai gosipnya yang jelas sejak saat itu semua mahasiswa berhati-hati.
Jujur saja, ada banyak hal yang ingin ia katakan. Ia ingin mengatakan bahwa Althaf memang bukan pria yang mudah memberikan perhatian kepada seseorang. Bahwa pria itu tidak akan bersikap hangat kepada sembarang orang. Namun, semua itu tidak mungkin keluar. Karena Vonna tidak tahu dan Haifa tidak berniat memberitahunya.
Vonna tersenyum kecil. “Kadang Kakak Cuma berpikir, kalau suatu hari dia menemukan seseorang yang benar-benar dia cintai, Kakak mungkin patah hati tapi kakak tetap bahagia.”
Haifa menatap kakaknya cukup lama. “Benarkah?”
“Iya.” Vonna mengangguk. “Memangnya cinta harus selalu dimiliki?” Pertanyaan itu membuat Haifa kehilangan kata-kata.
Vonna tersenyum tipis. “Kalau orang yang kita suka bahagia, mungkin itu sudah cukup.”
Haifa menundukkan pandangan. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, entah mengapa, justru terasa berat. Karena orang yang dicintai Vonna sudah bahagia.
Bersamanya.
Dan Vonna tidak mengetahuinya.
Haifa kembali menyuapkan makanan ke mulut, berusaha menyembunyikan perasaan yang perlahan memenuhi dadanya. Ia menyadari bahwa hubungan mereka mungkin jauh lebih rumit daripada yang selama ini ia bayangkan. Bukan hanya karena mereka harus menyembunyikan hubungan dari keluarga, bukan hanya karena Althaf adalah dosennya.
Tetapi karena perempuan yang diam-diam mencintai pria itu adalah kakaknya sendiri.