Pagi itu Haifa masih berada di rumah. Setelah sarapan dan minum obat, ia kembali menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar karena Vonna sudah berangkat ke rumah sakit sejak beberapa jam sebelumnya. Seharusnya ia merasa senang karena mendapatkan waktu untuk beristirahat, tetapi setelah tidur cukup lama, Haifa justru mulai merasa bosan. Tugas kuliah yang biasanya membuatnya mengeluh kini bahkan tidak sanggup ia sentuh karena kepalanya masih terasa sedikit berat.
Ia sedang berbaring sambil memainkan ponsel ketika sebuah pesan masuk.
dr. Althaf: Sudah bangun?
Haifa langsung tersenyum kecil begitu melihat nama pengirimnya. Sejak tadi ia memang beberapa kali memeriksa layar ponsel, meskipun tidak mau mengakui bahwa dirinya sedang menunggu pesan dari pria itu.
Haifa: Sudah.
Balasan dari Althaf datang tidak lama kemudian.
dr. Althaf: Kepala masih sakit?
Haifa menyentuh dahinya sebentar sebelum mengetik.
Haifa: Sedikit.
dr. Althaf: Sudah makan?
Haifa menghela napas sambil memutar bola mata. Bahkan lewat pesan pun pria itu masih saja mengingatkan hal yang sama.
Haifa: Sudah.
dr. Althaf: Obat?
Haifa: Sudah juga.
Beberapa saat tidak ada balasan. Haifa mengira percakapan mereka selesai sampai sebuah pesan kembali muncul di layar.
dr. Althaf: Bagus.
Haifa tersenyum tipis. Ia baru saja hendak meletakkan ponselnya ketika pesan berikutnya masuk.
dr. Althaf: Saya pulang lebih cepat hari ini.
Haifa mengernyit.
Haifa: Kenapa?
dr. Althaf: Saya jemput kamu.
Haifa langsung bangkit sedikit dari posisi tidurnya.
Haifa: Jemput aku ke mana?
dr. Althaf: Keluar rumah.
Ia menatap layar beberapa detik, kemudian mengetik lagi.
Haifa: Hah?
Balasan Althaf kali ini cukup singkat.
dr. Althag: Tunggu di tempat biasa.
Senyum Haifa perlahan muncul di wajahnya. Mereka memang memiliki beberapa tempat yang biasa digunakan untuk bertemu ketika tidak ingin ada orang lain yang mengetahui hubungan mereka. Tidak pernah terlalu jauh dari rumah ataupun kampus, tetapi cukup aman untuk membuat keduanya bisa berbicara tanpa harus terus-menerus memperhatikan keadaan sekitar.
Haifa turun dari tempat tidur dan berdiri di depan lemari. Ia memilih pakaian sederhana yang nyaman, kemudian merapikan rambutnya sebelum turun dari kamar. Setelah memastikan Vonna belum pulang, ia memberi tahu salah satu asisten rumah bahwa dirinya ingin keluar sebentar. Ia tidak perlu memberikan alasan panjang karena selama ini Vonna pun tidak pernah terlalu mempermasalahkan jika Haifa pergi untuk membeli sesuatu.
Beberapa menit kemudian, Haifa sudah berada di dalam mobil yang menjemputnya tidak jauh dari rumah.
Begitu pintu tertutup, aroma parfum yang sudah sangat dikenalnya langsung memenuhi ruang sempit di antara mereka. Althaf duduk di balik kemudi dengan pakaian kerja yang lebih santai daripada ketika berada di rumah sakit. Jas dokternya sudah tidak dikenakan, tetapi kemeja yang ia pakai masih terlihat rapi.
Haifa memasang sabuk pengaman, kemudian menoleh kepadanya. “Mas lama?”
Althaf meliriknya sekilas sebelum kembali memperhatikan jalan. “Baru beberapa menit.”
“Aku kira Mas masih di kampus.”
“Saya memang pulang lebih cepat.”
“Cuma buat jemput aku?”
Althaf mengangguk ringan. “Iya.”
Jawaban sederhana itu membuat Haifa tersenyum tanpa sadar. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menatap ke luar jendela, berusaha menyembunyikan rasa senang yang mulai terlihat di wajahnya.
Althaf sempat melirik ke arahnya lagi. “Kenapa senyum?”
“Enggak.”
Althaf tidak membantah. Ia hanya tersenyum tipis sebelum kembali memusatkan perhatian pada jalan di depannya. Beberapa saat kemudian, pandangannya beralih kepada dahi Haifa yang masih terlihat sedikit bengkak.
“Masih sakit?”
“Sedikit.”
“Seharusnya kamu istirahat di rumah.”
“Aku sudah istirahat dari pagi.” Haifa menghembuskan napas pelan.
“Dan sekarang kamu malah keluar.”
Haifa menoleh kepadanya. “Kan Mas yang jemput.”
“Iya.”
“Berarti bukan salah aku.”
Althaf menghela napas kecil, tetapi tidak bisa membantah perkataan itu. Ia tahu Haifa memang akan selalu memiliki alasan untuk setiap hal yang dikatakannya. “Kita makan dulu.”
Haifa langsung tersenyum. “Makan lagi?”
“Saya hanya memastikan kamu tidak minum obat dengan perut kosong.”
“Dokter banget.”
Althaf meliriknya sekilas. “Saya memang dokter.”
“Kalau lagi sama aku, jangan jadi dokter terus.” Nada Haifa terdengar manja. Althaf tidak langsung menjawab, tetapi sudut bibirnya kembali terangkat tipis.
“Baik.”
Mobil terus melaju meninggalkan kawasan rumah Haifa. Tidak ada percakapan selama beberapa menit berikutnya. Namun, keheningan di antara mereka sama sekali tidak terasa canggung. Justru setelah seharian harus berpura-pura tidak memiliki hubungan apa pun di rumah sakit, berada berdua seperti ini membuat Haifa merasa jauh lebih tenang.
Ia kemudian teringat sesuatu. “Mas.”
“Hm?”
“Kemarin Kak Vonna cerita sesuatu.”
Althaf tidak langsung menoleh. “Tentang apa?”
Haifa memainkan ujung tali tas yang berada di pangkuannya sebelum akhirnya menjawab, “Tentang Mas.”
Kali ini Althaf meliriknya sebentar. “Dia bilang apa?”
Haifa mengembuskan napas pelan. “Kak Vonna suka sama Mas.”
Jari Althaf yang berada di atas kemudi tidak berubah posisi. Wajahnya pun tetap tenang seolah kalimat itu bukan sesuatu yang mengejutkan. “Saya tahu.”
Haifa langsung menoleh. “Mas tahu?”
“Saya pernah menyadarinya.”
“Terus?”
“Tidak ada apa-apa.” Jawaban tersebut membuat Haifa kembali diam. Sebenarnya ia sudah mengetahui bagaimana perasaan Althaf terhadap Vonna, tetapi mendengar pria itu mengatakannya secara langsung tetap membuat hatinya terasa lebih ringan. Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal.
“Kak Vonna benar-benar suka sama Mas,” katanya pelan. “Mas nggak merasa bersalah?”
Althaf akhirnya menoleh sekilas sebelum kembali melihat jalan. “Karena?”
“Karena dia suka sama Mas, sementara Mas sama aku.”
Althaf tidak langsung menjawab. Ia membiarkan beberapa detik berlalu sebelum akhirnya berkata dengan suara tenang, “Perasaan seseorang bukan sesuatu yang bisa saya balas hanya karena saya merasa tidak enak.”
Haifa menatap wajahnya. “Tapi tetap saja...”
“Saya tidak pernah memberikan harapan kepada Vonna.”
Haifa terdiam.
Althaf melanjutkan dengan nada yang tetap tenang, “Saya menghargai dia sebagai teman dan rekan kerja. Saya juga tidak ingin menyakiti perasaannya. Tetapi itu tidak berarti saya harus membalas perasaannya.”
Haifa menundukkan pandangan. “Kalau begitu, Mas memilih aku?”
Althaf tidak menjawab dengan segera. Ia justru mengurangi kecepatan mobil ketika melewati persimpangan sebelum akhirnya berkata, “Saya sudah memilih kamu sejak awal.”
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat d**a Haifa terasa hangat. Ia menatap Althaf beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kecil. Haifa kembali menatap ke luar jendela. Senyum kecil masih bertahan di wajahnya. Setidaknya untuk sementara, ia tidak ingin memikirkan apa pun tentang perasaan Vonna ataupun kemungkinan buruk yang mungkin terjadi di masa depan.
Hari itu ia hanya ingin menikmati waktu bersama pria yang dicintainya. Dan untuk beberapa jam ke depan, Haifa ingin percaya bahwa kehidupan mereka akan selalu sesederhana ini.
*
Dua tahun sebelumnya, jauh sebelum Haifa terbiasa menunggu pesan dari Althaf setiap pagi dan sebelum satu panggilan telepon darinya mampu mengubah suasana hatinya dalam sekejap, hubungan mereka sama sekali tidak memiliki tempat khusus di antara keduanya.
Saat itu, Althaf hanya seorang dosen yang dikenal tegas di fakultas kedokteran tempat Haifa menempuh pendidikan. Sementara Haifa hanyalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang harus berhadapan dengan pria tersebut setiap pekan. Bagi Haifa, Althaf adalah dosen yang terlalu serius, terlalu sulit diajak bercanda, dan memiliki kebiasaan menatap mahasiswa seolah bisa mengetahui siapa yang benar-benar memahami materi dan siapa yang sekadar menghafalnya semalam sebelum ujian.
Haifa sendiri tidak pernah merasa menjadi mahasiswa yang paling disukai Althaf. Justru sebaliknya. Ia beberapa kali mendapat teguran karena datang terlambat, lupa membawa beberapa perlengkapan praktikum, atau terlalu santai ketika mengerjakan tugas yang menurut Althaf membutuhkan ketelitian lebih tinggi.
Sore itu, kelas baru saja berakhir. Sebagian besar mahasiswa sudah meninggalkan ruangan. Suara percakapan mereka perlahan menghilang di sepanjang koridor, menyisakan suasana yang jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit sebelumnya.
Althaf masih berada di depan kelas sambil merapikan beberapa berkas yang akan dibawanya ke ruang dosen. Ia tidak terburu-buru meskipun jadwal berikutnya sudah menunggunya.
“Dok.” Suara seseorang membuat tangannya berhenti.
Althaf mengangkat wajah.
Haifa berdiri beberapa langkah dari meja dosen sambil memeluk beberapa buku di depan d**a. Wajahnya terlihat sedikit ragu, tetapi dari cara ia berdiri, Althaf tahu gadis itu belum berniat pergi.
“Ada apa?” tanyanya.
Haifa melangkah mendekat. “Saya mau tanya.”
“Tentang materi?”
Haifa menggeleng. “Bukan.”
Althaf menatapnya beberapa detik. “Lalu?”
Haifa terlihat berpikir sebelum akhirnya berkata, “Kenapa Dokter selalu galak sama saya?”
Althaf terdiam. Pertanyaan itu terdengar begitu tidak terduga hingga untuk beberapa saat ia hanya memandang mahasiswanya tersebut. “Saya galak?”
“Iya.”
“Contohnya?”
Haifa segera menjawab, “Kemarin saya Cuma telat lima menit, tapi Dokter langsung menyuruh saya berdiri di luar.”
“Karena kamu datang setelah praktikum dimulai.”
“Baru lima menit.” Haifa membantah.
“Dan lima menit cukup untuk membuat kamu melewatkan instruksi penting.”
Haifa lalu mengembuskan napas. “Kan saya sudah minta maaf.”
“Saya tahu.”
“Lalu kenapa tetap dimarahi?”
Althaf menutup berkas yang sedang dirapikannya. “Saya tidak memarahi kamu.”
Haifa menatapnya tidak percaya. “Kalau itu bukan marah, berarti Dokter kalau marah seperti apa?”
Sudut bibir Althaf hampir bergerak, tetapi ia segera kembali memasang ekspresi tenangnya. “Kamu terlalu banyak bicara.”
Haifa langsung mendengus. “Nah, itu. Dokter memang galak. Tapi anehnya, temen-temen aku malah suka sama dokter.”
Althaf menggeleng kecil. Ia kembali memasukkan beberapa berkas ke dalam map, sementara Haifa masih berdiri di tempatnya. Anehnya, gadis itu tidak juga pergi. “Kamu masih punya pertanyaan lain?”
Haifa menggeleng. “Enggak.”
“Kalau begitu, pulang.”
Haifa mengernyit. “Dokter mau ke mana?”
“Ke ruang saya.”
“Berarti saya boleh ikut?”
Althaf menghentikan gerakannya. “Untuk apa?”
Haifa mengangkat bahu. “Nggak tahu.”
“Kalau tidak tahu, jangan ikut.” Jawaban itu membuat Haifa tertawa kecil.
“Baiklah, Dok. Saya juga bercanda.” Ia berbalik hendak pergi, tetapi baru beberapa langkah ketika Althaf memanggilnya.
“Haifa.”
Gadis itu menoleh. “Ya?”
“Kamu sudah makan?”
Haifa terdiam sejenak. “Sudah.”
Althaf menatapnya. Tatapan itu membuat Haifa merasa seperti sedang diperiksa. Akhirnya ia mengaku, “Belum.”
“Saya kira tadi kamu bilang sudah.”
“Saya lupa.”
Althaf menghela napas pelan. “Jangan terlalu sering lupa makan.”
Haifa tersenyum tipis. “Dokter perhatian juga ternyata.”
“Saya hanya tidak ingin ada mahasiswa yang pingsan di kelas saya.”
Haifa tampak tersenyum manis hingga lesung pipinya terlihat jelas, menurutnya alasan yang digunakan Althaf terdengar lucu. “Kalau saya pingsan, dokter bisa mengobati saya.” Setelah mengatakan itu, Haifa kemudian benar-benar pergi meninggalkan ruangan.
Althaf sendiri tersenyum tipis sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.