Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Haifa tetap mengikuti perkuliahan dan praktikum, sementara Althaf menjalankan tugasnya sebagai dosen tanpa pernah menunjukkan perubahan sikap yang mencolok. Di dalam kelas, pria itu tetap tegas dan profesional. Haifa pun masih menjadi mahasiswa yang sesekali mendapat teguran karena terlalu banyak bicara atau mengajukan pertanyaan yang menurut Althaf sebenarnya sudah dijelaskan. Namun, tanpa disadari Haifa, perhatian kecil dari Althaf mulai menjadi sesuatu yang ia tunggu.
Tidak selalu berupa perkataan. Terkadang hanya tatapan singkat ketika Althaf memastikan seluruh mahasiswa sudah memahami materi, atau anggukan kecil ketika Haifa berhasil menjawab pertanyaan dengan benar. Hal-hal sederhana itu seharusnya tidak berarti apa-apa, tetapi entah mengapa selalu berhasil membuat suasana hati Haifa menjadi lebih baik.
Sampai suatu sore, ketika hujan kembali turun begitu deras.
Haifa baru saja selesai mengikuti praktikum dan sedang berjalan menuju parkiran ketika langit yang sejak tadi mendung akhirnya menumpahkan hujan. Ia sempat mempercepat langkah, berharap masih bisa mencapai mobil sebelum hujan semakin deras, tetapi baru beberapa meter meninggalkan gedung, air sudah turun seperti tirai tebal di hadapannya.
Haifa terpaksa berhenti di bawah atap. Ia memandang halaman kampus yang mulai dipenuhi genangan, lalu menghela napas panjang. Tempat parkirnya berada di bagian belakang gedung dan cukup jauh untuk ditempuh tanpa perlindungan apa pun.
“Kenapa hujan terus, sih?” gumamnya sambil memeriksa tas untuk memastikan tidak ada payung yang terselip di dalamnya.
Tentu saja tidak ada.
Haifa baru saja hendak mencari cara lain ketika suara yang sudah cukup dikenalnya terdengar dari belakang.
“Kamu tidak membawa payung?”
Haifa menoleh dan mendapati Althaf berdiri beberapa langkah darinya. Pria itu masih mengenakan kemeja kerja dengan jas yang sudah dilepas, sementara sebuah payung hitam berada di tangannya. Ia tampaknya baru saja keluar dari gedung yang sama dan hendak menuju parkiran.
“Enggak,” jawab Haifa sambil tersenyum canggung. “Saya kira tadi hujannya Cuma sebentar.”
Althaf mengalihkan pandangan ke halaman yang dipenuhi air. Hujan justru terlihat semakin deras. “Mobil kamu di mana?”
“Parkiran belakang.”
Althaf kembali melihat ke arah yang ditunjuk Haifa. Jaraknya memang cukup jauh, bahkan jika berjalan cepat sekalipun. “Ikut.”
Haifa sempat mengerjap. “Bareng, Dok?”
“Sampai mobil kamu.”
Haifa kemudian melihat payung di tangan Althaf. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi masih cukup untuk digunakan berdua jika mereka berjalan berdekatan. “Baik, Dok.”
Althaf membuka payung dan mulai melangkah. Haifa segera menyusul di sampingnya. Mereka berjalan berdampingan menyusuri halaman kampus yang mulai sepi. Suara hujan yang menghantam payung begitu deras sampai beberapa percakapan mereka nyaris tenggelam. Haifa beberapa kali harus menyesuaikan langkah agar tetap berada di bawah payung, sementara Althaf tanpa banyak bicara sedikit memiringkan payung ke arahnya.
Haifa menyadarinya. Ia juga menyadari bahwa bahu Althaf sendiri mulai terkena percikan hujan. “Dok,” panggilnya setelah beberapa langkah.
“Hm?”
“Kenapa Dokter selalu bantu saya?”
Althaf menoleh sekilas. “Saya membantu mahasiswa yang membutuhkan.”
“Semua mahasiswa?”
“Kalau membutuhkan.”
Haifa tersenyum kecil. Entah kenapa jawaban itu terdengar seperti alasan yang sudah dipersiapkan Althaf sejak awal. “Berarti saya memang membutuhkan banyak bantuan.”
“Sepertinya begitu.”
Haifa tertawa kecil.
Althaf hanya menggeleng, tetapi ada sesuatu yang hampir menyerupai senyum di wajahnya. Mereka kembali berjalan tanpa banyak bicara. Jarak antara keduanya semakin dekat karena Haifa berusaha menghindari cipratan air dari sisi jalan. Sesekali lengan mereka hampir bersentuhan, tetapi tidak ada yang membicarakannya.
Ketika akhirnya sampai di parkiran belakang, Haifa melihat mobilnya hanya tinggal beberapa langkah lagi.
“Terima kasih, Dok,” katanya setelah mereka berhenti di samping mobil.
Althaf mengangguk. “Hati-hati.”
Haifa membuka pintu mobil, tetapi sebelum masuk, ia sempat menoleh kembali. Althaf masih berdiri di sampingnya dengan payung yang terbuka. Hujan turun di belakang pria itu, membuat suasana sore terasa lebih tenang daripada biasanya.
Haifa tersenyum. “Dokter juga hati-hati.”
Althaf mengangguk lagi. Haifa baru hendak masuk ketika suara Althaf kembali terdengar. “Haifa.”
Ia menoleh. “Ya, Dok?”
“Jangan terlalu memaksakan diri.”
Haifa terdiam beberapa saat. Kalimat itu sebenarnya sederhana. Tidak ada yang istimewa. Namun, entah mengapa, perhatian kecil tersebut terasa berbeda ketika keluar dari mulut Althaf.
“Baik, Dok,” jawabnya akhirnya. Haifa masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Setelah memasang sabuk pengaman, ia tidak langsung menyalakan mesin. Pandangannya justru masih tertuju kepada Althaf yang perlahan berjalan kembali menuju gedung fakultas.
Dari balik kaca mobil, Haifa memperhatikan pria itu semakin jauh sampai akhirnya hampir menghilang di balik tirai hujan. Ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Beberapa bulan sebelumnya, ia tidak pernah peduli apakah Althaf ada di kelas atau tidak. Ia juga tidak pernah memikirkan apakah dosennya itu sudah pulang atau masih berada di kampus. Namun, sekarang semuanya terasa berbeda.
Haifa mulai menyadari bahwa perhatian kecil dari Althaf selalu berhasil membuatnya senang. Ketika pria itu memuji jawabannya di kelas, ia akan mengingatnya sepanjang hari. Ketika Althaf menegurnya, ia bisa kesal beberapa menit, tetapi tetap memikirkan perkataan itu setelahnya. Bahkan ketika Althaf tidak mengajar, Haifa mulai merasa ada sesuatu yang kurang dari perkuliahan hari itu.
Ia mengembuskan napas pelan dan akhirnya menyalakan mesin mobil. Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Haifa masih dipenuhi sosok pria yang baru saja mengantarnya menembus hujan. Mungkin perhatian itu memang tidak berarti apa-apa bagi Althaf. Mungkin pria tersebut memang memperlakukannya sama seperti mahasiswa lain. Namun, Haifa tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri bahwa perasaannya sudah mulai berubah.
Ia mulai menunggu teguran Althaf. Mulai menunggu tatapan singkatnya ketika menjelaskan materi. Mulai merasa senang ketika namanya dipanggil. Dan yang paling membuat Haifa bingung, ia mulai merasa kecewa ketika Althaf tidak memperhatikannya sama sekali.
Sore itu, untuk pertama kalinya, Haifa mengakui sesuatu yang selama beberapa minggu terakhir berusaha ia abaikan. “Jangan-jangan aku suka sama Dokter Althaf?”
Pertanyaan itu hanya terucap sebagai gumaman pelan di dalam mobil. Tidak ada siapa pun yang mendengarnya, dan Haifa sendiri belum berani memberikan jawaban. Namun, jauh di dalam hati, ia sebenarnya sudah tahu. Perasaan itu memang belum memiliki nama yang berani ia ucapkan.
Tetapi sejak sore yang diguyur hujan tersebut, Althaf tidak lagi hanya menjadi dosen yang ia hormati. Perlahan, tanpa pernah direncanakan, pria itu mulai menjadi seseorang yang keberadaannya ia cari.
*
Sementara Haifa masih memikirkan kejadian sore itu dalam perjalanan pulang, Althaf sudah kembali ke ruangannya di gedung fakultas. Hujan masih turun ketika ia memasuki koridor, meninggalkan jejak air di lantai yang segera dibersihkan oleh petugas kebersihan. Beberapa mahasiswa yang masih berada di gedung sempat menyapanya, dan seperti biasa, Althaf hanya membalas dengan anggukan singkat sebelum melanjutkan langkah.
Sesampainya di ruangannya, ia meletakkan payung di dekat pintu kemudian duduk di balik meja. Beberapa berkas yang sejak tadi menunggunya masih harus diperiksa, tetapi pikirannya tidak langsung tertuju pada pekerjaan.
Bayangan Haifa masih terlintas di kepalanya. Ia teringat percakapan mereka di bawah payung tadi. Tidak ada yang istimewa. Haifa hanya bertanya mengapa dirinya sering membantu, lalu ia memberikan jawaban yang menurutnya paling sederhana. Ia memang membantu mahasiswa yang membutuhkan.
Setidaknya, itulah yang seharusnya menjadi alasan.
Althaf mengambil sebuah berkas dan membukanya. Matanya baru membaca beberapa baris ketika pikirannya kembali beralih kepada gadis itu. Ia masih dapat mengingat senyum Haifa ketika mengatakan bahwa dirinya membutuhkan banyak bantuan. Bahkan tawa kecil gadis itu masih terdengar jelas di kepalanya.
Althaf berhenti membaca. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menatap halaman di hadapannya tanpa benar-benar memahami isinya. Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Bukan karena Haifa melakukan kesalahan. Justru sebaliknya. Tidak ada satu pun tindakan gadis itu yang seharusnya menjadi masalah.
Masalahnya ada pada dirinya sendiri.
Althaf mulai menyadari bahwa perhatian yang ia berikan kepada Haifa perlahan berbeda dari yang ia berikan kepada mahasiswa lain. Ia memang sering mengingatkan mahasiswa untuk menjaga kesehatan, terutama ketika jadwal praktikum sedang padat. Ia juga pernah membantu mahasiswa yang kesulitan memahami materi dan semua itu merupakan bagian dari tanggung jawabnya.
Namun, ia tidak pernah mengingat kebiasaan mahasiswa lain sedetail dirinya mengingat Haifa. Ia tahu Haifa sering lupa makan. Ia tahu gadis itu cenderung memaksakan diri ketika mengerjakan sesuatu. Ia tahu Haifa akan terlihat lebih pendiam ketika sedang kelelahan dan akan mengerutkan hidung setiap kali merasa kesal.
Hal-hal kecil yang seharusnya tidak perlu disimpan dalam ingatan seorang dosen.
Althaf menurunkan pandangan. Mungkin semua itu hanya karena Haifa memang cukup sering membuatnya memperhatikan. Mungkin karena gadis itu berbeda dari mahasiswa lain. Namun, semakin ia mencoba mencari alasan, semakin sulit baginya untuk mempercayainya sendiri.
Althaf bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela. Dari sana, halaman kampus terlihat samar di balik hujan. Beberapa kendaraan mulai meninggalkan area parkir, sementara sebagian mahasiswa masih berteduh di bawah kanopi. Entah mengapa, pandangannya langsung mencari satu mobil yang tadi ia antar.
Tentu saja mobil itu sudah tidak ada.
Haifa sudah pulang.
Althaf mengembuskan napas perlahan. Ia tidak seharusnya melakukan itu. Bukan mengantar Haifa ke mobilnya. Bukan pula memperhatikan apakah gadis itu sudah sampai atau belum. Yang membuatnya semakin terganggu adalah kenyataan bahwa sebagian dirinya bahkan ingin memastikan Haifa benar-benar pulang dengan selamat.
Althaf menutup mata sejenak. Ia membiarkan dirinya mengakui sesuatu yang selama beberapa minggu terakhir berusaha ia abaikan.
Ia mulai menyukai Haifa. Kesadaran itu datang begitu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Althaf terdiam lama di depan jendela. Bukan sekadar menyukai seorang mahasiswa karena kepribadiannya yang menarik. Bukan sekadar merasa senang melihatnya tersenyum atau merasa bertanggung jawab ketika gadis itu terlihat tidak sehat.
Perasaannya sudah bergerak terlalu jauh. Dan Althaf tahu betul bahwa ia tidak boleh membiarkannya berkembang lebih jauh lagi.
Haifa adalah mahasiswanya.
Perbedaan usia mereka bukan satu-satunya persoalan. Ada batas profesional yang tidak boleh ia langgar, dan Althaf tidak ingin menjadi seseorang yang menggunakan posisinya untuk mendekati perempuan yang berada di bawah tanggung jawab akademiknya. Karena itu, sejak sore tersebut, Althaf mengambil keputusan untuk menjaga jarak. Bukan karena ia tidak ingin melihat Haifa, justru karena ia terlalu ingin.
*
Keputusan itu mulai terlihat beberapa hari kemudian. Haifa awalnya tidak menyadarinya. Perkuliahan berjalan seperti biasa, dan Althaf tetap mengajar dengan sikap tenang serta profesional. Namun, ada beberapa hal kecil yang terasa berbeda.
Pria itu tidak lagi menegurnya ketika ia datang beberapa menit lebih awal dan duduk di tempat biasa. Ia juga tidak lagi memberikan komentar singkat ketika melihat Haifa terlihat mengantuk atau terlalu lama menatap buku. Tidak ada yang salah dengan sikap tersebut. Justru semuanya terlihat sangat normal.
Haifa mulai menyadari perubahan itu ketika suatu siang ia mengumpulkan tugas di meja Althaf. Biasanya pria itu akan memeriksa sekilas kemudian memberikan catatan singkat jika ada bagian yang perlu diperbaiki.
Hari itu, Althaf hanya menerima berkas tersebut dan mengangguk. “Baik. Terima kasih.”
Haifa masih berdiri di depan meja. Ia menatap dosennya beberapa saat sebelum akhirnya bertanya, “Dok, Cuma itu?”
Althaf mengangkat pandangan. “Maksudnya?”
“Biasanya Dokter bilang kalau ada yang salah.”
“Saya akan memeriksanya nanti.”
“Oh.” Haifa tidak langsung pergi. Ada sesuatu yang terasa aneh, tetapi ia sendiri tidak tahu apa.
Althaf kembali melihat berkas di hadapannya. “Kamu masih ada yang ingin ditanyakan?”
Haifa menggeleng. “Enggak.”
“Kalau begitu, silakan kembali.” Nada suara Althaf tetap tenang. Tidak dingin, tetapi juga tidak sehangat sebelumnya.
Haifa akhirnya berbalik dan meninggalkan meja tersebut. Sepanjang perjalanan kembali ke tempat duduknya, ia terus memikirkan percakapan singkat tadi.
Ada apa dengan Dokter Althaf?
Ia tidak tahu. Namun, perubahan itu membuatnya tidak nyaman.
Beberapa hari berikutnya, perasaan tersebut semakin kuat. Althaf tidak pernah bersikap kasar atau mengabaikannya. Ia tetap menjawab setiap pertanyaan Haifa, tetap memberikan nilai sesuai hasil pekerjaannya, dan tetap menjalankan tugas sebagai dosen dengan baik. Hanya saja, semua perhatian kecil yang sebelumnya membuat Haifa merasa diperhatikan seolah menghilang.
Tidak ada lagi pertanyaan apakah ia sudah makan. Tidak ada lagi teguran ringan ketika Haifa terlihat kelelahan. Bahkan ketika hujan turun lagi beberapa hari kemudian, Althaf hanya berjalan melewatinya setelah memastikan Haifa sudah membawa payung sendiri. Seharusnya Haifa merasa lega. Namun, justru ada rasa kecewa yang tidak bisa ia jelaskan.
Sore itu, setelah kelas selesai, Haifa akhirnya tidak tahan untuk terus menebak-nebak. Ia menunggu sampai mahasiswa lain keluar dari ruangan sebelum mendekati meja Althaf. Pria itu sedang memasukkan beberapa berkas ke dalam tas ketika Haifa berdiri di depannya.
“Dok.”
Althaf mengangkat wajah. “Ya?”
Haifa ragu beberapa detik. Ia bahkan tidak tahu bagaimana harus memulai pertanyaannya. “Dokter akhir-akhir ini kenapa?”
Althaf terdiam. “Saya kenapa?”
“Enggak tahu.” Haifa mengusap ujung jarinya sendiri, lalu menghela napas. “Dokter seperti menghindari saya.”
Althaf tidak langsung menjawab. Ia sudah menduga percakapan seperti ini mungkin terjadi. Hanya saja, ia tidak menyangka Haifa akan menyadarinya secepat itu. “Saya tidak menghindari kamu.”
“Tapi beda.”
“Beda bagaimana?”
Haifa menatapnya. “Dulu Dokter lebih sering bicara sama saya.”
Althaf menahan napas. “Dulu?”
“Iya.” Haifa kemudian tersenyum kecil, meskipun ekspresinya terlihat sedikit kecewa. “Saya melakukan kesalahan?”
“Tidak.”
“Terus kenapa?”
Althaf menatap gadis di hadapannya. Ada banyak jawaban yang tidak mungkin ia berikan. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa beberapa hari terakhir ia sengaja menjaga jarak karena mulai terlalu sering memikirkan Haifa. Ia juga tidak mungkin mengakui bahwa perhatian kecil yang selama ini diberikannya sudah mulai terasa seperti sesuatu yang lebih pribadi.
Akhirnya ia memilih jawaban paling aman. “Kamu terlalu banyak berpikir.”
Haifa mengerutkan kening. “Itu jawaban Dokter?”
“Iya.”
“Enggak membantu.”
“Saya tahu.”
Haifa menatapnya beberapa detik, lalu mengembuskan napas. “Kalau memang saya ada salah, bilang saja.”
“Kamu tidak salah.” Jawaban Althaf terdengar begitu pasti hingga Haifa akhirnya mengangguk.
“Baiklah.” Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun, sebelum benar-benar keluar, Haifa menoleh sekali lagi. “Kalau begitu, jangan terlalu berubah.”
Althaf terdiam.
Haifa tersenyum kecil. “Saya lebih suka Dokter yang dulu.” Setelah mengatakan itu, ia pergi meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup perlahan.
Althaf tetap berdiri di tempatnya. Kalimat sederhana itu justru membuat keputusan yang sudah dibuatnya terasa semakin sulit. Ia tahu menjaga jarak adalah hal yang benar. Tetapi untuk pertama kalinya, Althaf menyadari bahwa menjaga jarak dari Haifa ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Ia menatap pintu yang baru saja dilewati gadis itu, lalu mengembuskan napas panjang. Perasaannya kepada Haifa mungkin belum pernah ia ucapkan. Namun, sejak hari itu, Althaf tidak lagi bisa berpura-pura bahwa perasaan tersebut tidak ada.