Pagi itu, setelah dua hari beristirahat di rumah, Haifa kembali menginjakkan kaki di kampus. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Benjolan di dahinya memang masih menyisakan sedikit memar, tetapi setidaknya rasa berdenyut yang sempat mengganggunya sudah hampir hilang.
Begitu melewati gerbang fakultas, Haifa bahkan belum sempat berjalan terlalu jauh ketika suara yang sangat dikenalnya sudah terdengar dari arah depan.
“Woiii! Korban tabrak lari!”
Beberapa mahasiswa yang berada di sekitar mereka langsung menoleh.
Haifa menghentikan langkah dan menghela napas panjang. Bahkan sebelum melihat orangnya, ia sudah tahu siapa yang sedang berteriak seperti tidak pernah diajarkan cara berbicara dengan volume normal.
Silvi berdiri tidak jauh dari tangga gedung fakultas dengan senyum lebar. Begitu Haifa mendekat, gadis itu langsung menyambutnya sambil tertawa.
“Gue baru masuk, lo udah bikin keributan,” gerutu Haifa.
“Lah, justru gue menyambut kepulangan sahabat gue dengan penuh cinta.” Silvi segera meraih lengan Haifa dan menggandengnya. “Dua hari lo enggak masuk, kampus rasanya sepi banget.”
“Yang sepi kampus atau hidup lo?”
“Dua-duanya.”
Haifa tertawa kecil. “Drama.”
Silvi kemudian melirik Haifa dari atas sampai bawah sebelum perhatiannya berhenti pada dahi gadis itu. Memar yang tersisa memang sudah jauh lebih samar, tetapi masih terlihat jika diperhatikan. “Masih sakit?”
“Enggak terlalu.”
“Pusing?”
“Enggak.”
“Mual?”
Haifa berhenti berjalan dan menatap sahabatnya dengan datar. “Lo udah kayak kakak gue.”
Silvi terkekeh. “Gue Cuma memastikan lo belum berubah jadi zombie.”
“Kalau gue jadi zombie, orang pertama yang gue makan lo.”
“Berarti gue penting.”
“Bukan. Lo berisik.”
Silvi tertawa sambil kembali menggandeng lengannya. Beberapa langkah kemudian, matanya jatuh pada kendaraan daring yang baru saja menurunkan Haifa di depan gerbang. “Lo naik mobil daring hari ini?”
Haifa mengangguk. “Mobil gue masih di bengkel. Bagian belakangnya hancur parah.”
Silvi langsung mengernyit. “Separah itu?”
“Lumayan.”
“Terus pulangnya gimana?”
Haifa menoleh kepadanya dengan tatapan penuh harapan. Senyum manis perlahan muncul di wajahnya, membuat Silvi langsung curiga.
“Lo kenapa senyum begitu?”
“Enggak kenapa-kenapa.” Haifa justru semakin merapatkan lengannya pada lengan Silvi. “Cuma gue baru sadar kalau ternyata gue punya sahabat paling baik dan paling cantik sedunia.”
Silvi langsung mendengus. “Nah, kalau udah mulai menjilat begini, pasti ada maunya.”
“Nanti antar gue pulang, ya?”
“Kan!”
“Please. Gue traktir bensin, gimana?”
Silvi berpikir sejenak. “Makan?”
“Gue bayar.”
“Parkir?”
“Gue bayar.”
Silvi mengangguk puas. “Nah, dari tadi kenapa nggak langsung ngomong begini?”
Haifa tertawa. “Berarti mau?”
“Boleh deh, itung hemat uang makan bulanan.”
Keduanya sama-sama tergelak. Mereka kembali berjalan menuju gedung fakultas. Baru beberapa langkah, Silvi tiba-tiba menatap Haifa dengan ekspresi menyelidik. “Tapi gue masih penasaran.”
“Apaan?”
“Gimana ceritanya lo bisa ditabrak?”
Haifa menghela napas kecil. Ia sebenarnya sudah menceritakan kejadian itu kepada keluarganya, tetapi setiap kali mengingatnya, rasa kesal terhadap mobilnya yang rusak masih muncul. “Gue baru keluar dari persimpangan kampus. Tiba-tiba ada mobil dari belakang yang nabrak.”
“Lo tahu siapa yang nabrak?”
Haifa menggeleng. “Enggak sempat kenalan. Waktu kejadian gue juga masih syok.”
“Terus orangnya kabur?”
“Enggak. Dia malah langsung turun dan bawa gue ke rumah sakit.”
Silvi sedikit terkejut. “Serius?”
“Iya. Dia juga kelihatan panik banget.”
“Terus sekarang orangnya di mana?”
“Enggak tahu. Setelah gue selesai diperiksa, dia sudah enggak ada.”
Silvi menatapnya dengan heran. “Kok bisa?”
“Gue juga enggak tahu. Mungkin dia pergi karena urusannya sudah selesai.”
“Dia tanggung jawab soal mobil?”
Haifa menggeleng. “Gue yang bilang enggak usah.”
Silvi langsung berhenti berjalan. “HAH?!”
Beberapa mahasiswa di dekat mereka kembali menoleh.
Haifa ikut berhenti dan menatapnya malas. “Kenapa teriak?”
“Mobil lo rusak parah dan lo bilang enggak usah minta ganti rugi?” tanya Silvi shock.
“Dia sudah bawa gue ke rumah sakit.” Sahut Haifa dengan nada pelan.
“Haifa.”
“Apaan?”
“Mobil lo lebih mahal daripada biaya masuk IGD.”
“Gue tahu.” Haifa mengangkat kedua bahu. “Ya, kasihan juga orangnya. Waktu itu mukanya sudah pucat banget. Gue juga enggak mengalami cedera serius. Jadi gue pikir enggak usah diperpanjang.”
Silvi menggeleng-gelengkan kepala. “Lo memang terlalu baik.”
“Bukan terlalu baik. Gue malas urusan panjang.”
“Itu namanya terlalu baik dengan cara malas.”
Haifa tertawa. Mereka kembali berjalan menuju tangga ketika Silvi tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh iya. Kemarin gue masuk kelas Pak Althaf.”
Langkah Haifa sedikit melambat. “Terus?”
“Dia tahu lo masuk rumah sakit, kayaknya.”
Haifa berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap biasa. Silvi kemudian menyeringai. “Tapi anehnya Pak Althaf enggak ngomong apa-apa. Biasanya kalau ada mahasiswa yang enggak masuk karena sakit, dia akan kasih pengumuman.”
Haifa menahan senyum kecil sebelum menjawab, “Nggak sengaja gue ketemu dia di IGD.”
Silvi langsung menoleh dengan mata membesar. “Serius? Pak Althaf lihat jidat lo?”
Haifa refleks menyentuh dahinya yang masih menyisakan sedikit memar. “Jangan diingatkan.”
Silvi justru terkekeh. “Kenapa? Malu?”
“Banget. Gue lagi benjol begitu.”
“Terus reaksinya gimana?”
Haifa kembali teringat pada ekspresi Althaf ketika melihatnya terbaring di brankar. Pria itu memang tetap terlihat tenang seperti biasa, seolah menemukan mahasiswanya dengan dahi sebesar itu di ruang IGD bukan sesuatu yang perlu membuatnya panik. Mengingatnya saja membuat Haifa tanpa sadar tersenyum tipis.
“Biasa aja.”
Silvi mengernyit. “Biasa aja?”
“Iya.”
“Dia enggak ketawa?”
“Enggak.”
“Enggak ngeledek?”
Haifa menggeleng. “Malah nyuruh gue istirahat dan bilang besok enggak usah masuk kuliah.”
“Wah, perhatian juga.”
Haifa baru saja hendak menjawab ketika suara seseorang dari belakang menyeletuk,
“Perhatian dari mana? Pak Althaf kalau ketemu mahasiswa sakit memang begitu, kali.”
Haifa dan Silvi sama-sama menoleh.
Nayla ternyata sudah berjalan di belakang mereka sejak tadi. Gadis itu mengangkat kedua alis sambil menatap Haifa dengan ekspresi geli, lalu tiba-tiba tertawa ketika melihat wajah Haifa yang langsung berubah kesal.
“Gue enggak tahu kenapa, tapi gue kayak kebayang muka lo pas masuk IGD,” katanya sambil menahan tawa. “Jidat benjol, rambut berantakan, terus masih sempat ngomel.”
Haifa langsung menoyor kepalanya. “Lo tuh kalau ketemu gue kenapa nggak pernah bisa normal?”
“Aduh!” Nayla mengusap kepalanya sambil tertawa. “Ya gimana? Gue nggak ada di sana, jadi gue Cuma bisa membayangkan.”
Silvi ikut tertawa. “Makanya jangan dibahas lagi. Kasihan Haifa.”
“Kasihan apanya? Dia saja masih bisa nyolot.”
“Karena gue sehat!” sahut Haifa kesal.
Nayla langsung menunjuk dahinya. “Sehat dari mana? Jidat lo masih ada bonus warna.”
Haifa spontan menutup dahinya dengan telapak tangan. “Gue pulang aja deh”
“Baru juga masuk kampus,” kata Silvi sambil menarik lengannya agar tidak benar-benar berbalik.
Nayla kembali tertawa, sementara Haifa hanya bisa menggeleng pasrah. Baru dua hari tidak masuk kuliah, tetapi kedua sahabatnya itu sudah berhasil membuatnya menyesal kembali terlalu cepat. Nayla kemudian berjalan di sisi Haifa sambil masih mengusap kepalanya.
“Tapi serius, gue kalau jidat benjol segede itu, pasti gue minta foto dulu sebelum bengkaknya hilang.”
Haifa menatapnya tidak percaya. “Buat apa?”
“Kenang-kenangan.”
“Gue kasih benjol baru sekalian biar kenangannya lengkap.”
Nayla langsung menjauh setengah langkah. “Enggak usah. Satu sudah cukup.”
Silvi tertawa semakin keras. Suasana yang sempat terasa serius karena membicarakan kecelakaan Haifa akhirnya kembali ringan. Mereka bertiga terus berjalan menuju lantai tempat ruang kelas mereka berada sambil membicarakan berbagai hal, mulai dari tugas yang menumpuk sampai dosen yang terkenal suka memberikan pertanyaan mendadak.
Begitu sampai di depan kelas, Nayla langsung menghela napas ketika melihat beberapa mahasiswa sudah duduk di dalam. “Gue belum siap kuliah.”
“Lo udah kuliah dari tadi,” kata Silvi.
“Maksud gue belum siap secara mental.”
Haifa membuka pintu kelas sambil tertawa kecil. “Mental lo memang enggak pernah siap.”
Mereka bertiga kemudian masuk dan memilih tempat duduk yang biasa mereka tempati. Haifa meletakkan tas di atas meja, lalu menarik kursinya sebelum duduk. Akhirnya, Haifa kembali berada di antara teman-temannya, mendengar suara gaduh sebelum dosen datang, dan merasakan rutinitas kampus yang sempat terputus selama dua hari.
*
Kuliah akhirnya berakhir. Haifa, Silvi, dan Nayla memilih untuk tidak langsung pulang. Dua hari tidak datang ke kampus terasa cukup lama bagi Haifa. Mengurung diri di rumah ternyata jauh lebih membosankan daripada yang ia bayangkan, sehingga ia memutuskan menghabiskan waktu sedikit lebih lama di kampus sebelum pulang bersama Silvi.
“Kang, es teh tiga!” seru Nayla kepada penjual minuman dan camilan yang memang asli Sunda itu. “Cemilannya seperti biasa, ya, Kang!”
“Oke, Neng.”
Silvi melirik Nayla dengan dahi berkerut. “Gue masih enggak habis pikir. Lo sama akang itu akrab banget.”
“Lah!” Nayla menatapnya seolah pertanyaan tersebut tidak masuk akal. “Kita tuh mahasiswa abadi. Jelas aja akrab.”
“Sialan lo!” Silvi langsung berdecak tidak terima. “Lo aja kali. Enggak usah bawa-bawa gue.”
Haifa hanya tertawa kecil mendengar perdebatan kedua sahabatnya. Ia membiarkan mereka terus berdebat soal siapa yang paling sering membeli makanan di kantin itu, sementara dirinya menikmati suasana sore yang sudah mulai lebih santai. Tiba-tiba, suara beberapa mahasiswa dari meja sebelah membuat perhatian mereka beralih.
“Eh, eh! Pak Althaf tuh.”
Beberapa kepala langsung menoleh ke arah koridor yang menghubungkan kantin dengan ruang-ruang kelas.
“Dokter Althaf ganteng banget, sih. Auranya itu, lho. Aduh, lemes gue.”
“Mana baik juga.”
“Eh, tapi banyak juga, lho, mahasiswa yang harus mengulang mata kuliahnya karena Dokter Althaf.”
“Ya karena beliau objektif. Kalau serius, ya serius. Tapi kalau soal pertolongan, nomor satu. Mungkin karena memang sudah terbiasa sebagai dokter dan sudah bersumpah juga.”
Bisikan-bisikan itu terdengar cukup jelas hingga ke meja Haifa, Silvi, dan Nayla. Ketiganya ikut menoleh ke arah koridor.
Benar saja, Althaf sedang berjalan bersama dua dosen lain. Wajahnya tampak serius ketika mendengarkan percakapan salah seorang dosen di sampingnya. Ia sama sekali tidak memedulikan tatapan maupun bisikan mahasiswa yang berada di kantin.
Silvi memperhatikan sosok itu beberapa detik sebelum bergumam pelan, “Ternyata enggak cuma kita yang norak. Gue kira selama ini kita doang yang norak kalau lihat cowok ganteng.”
Nayla tertawa kecil. “Siapa pun juga bakal norak kalau lihat modelan Pak Althaf. Gue yakin model bahkan artis juga mau sama beliau.”
“Bener juga, sih.” Silvi menghela napas dramatis. “Sedih deh. Kita memang bukan tipe yang layak diminati.”
Haifa yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya hendak menanggapi, tetapi ponsel yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama Mama muncul di layar.
Haifa segera mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Ma?”
Suara ibunya terdengar dari seberang. “Kamu masih di kampus?”
“Iya. Ini lagi di kantin sama Silvi sama Nayla.”
“Jangan pulang terlalu malam, ya. Kalau bisa, pulang lebih cepat.”
Haifa mengernyit. “Kenapa?”
“Malam ini kita kedatangan tamu.”
“Tamu?”
“Iya. Tamu penting. Mama ingin kamu sudah di rumah sebelum mereka datang.”
Haifa melirik jam di ponselnya. Hari sudah mulai sore. “Memangnya siapa, Ma?”
“Nanti juga kamu tahu. Pokoknya jangan lama-lama di kampus.”
Haifa masih ingin bertanya, tetapi ibunya sudah lebih dulu melanjutkan dengan nada yang terdengar sedikit berbeda dari biasanya.
“Pulang lebih cepat, ya, Haifa. Mama ingin kamu ada di rumah malam ini.”
Haifa terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk meskipun tahu ibunya tidak bisa melihatnya. “Iya, Ma. Aku pulang sebentar lagi.”
“Hati-hati di jalan.”
“Iya.”
Panggilan berakhir.
Haifa menurunkan ponselnya dan menatap layar beberapa saat. Rasa penasarannya justru semakin besar setelah mendengar cara ibunya berbicara.
Silvi yang duduk di sampingnya langsung bertanya, “Kenapa?”
Haifa memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Mama nyuruh gue pulang lebih cepat.”
Nayla mengangkat alis. “Kenapa?”
“Katanya malam ini ada tamu penting.”
Silvi dan Nayla saling pandang. Haifa sendiri hanya menghela napas kecil. Ia belum tahu siapa tamu yang dimaksud ibunya, tetapi dari cara Mama meminta dirinya pulang lebih cepat, jelas kedatangan orang tersebut bukan sekadar kunjungan biasa.