Menjelang malam, rumah keluarga Haifa mulai dipenuhi kesibukan yang tidak biasa. Sejak beberapa jam sebelumnya, Mama sudah beberapa kali memastikan ruang tamu dalam keadaan rapi, meminta para pekerja rumah menyiapkan hidangan, bahkan mengatur meja makan agar semuanya terlihat sempurna.
Haifa sendiri tidak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Satu-satunya informasi yang diberikan kepadanya hanyalah permintaan sederhana dari Mama agar ia berdandan lebih rapi karena malam ini akan ada tamu penting.
Tidak ada penjelasan mengenai siapa tamu tersebut. Begitu keluar dari kamar setelah selesai bersiap, Haifa mendapati Vonna sudah berada di ruang keluarga.
Kakaknya terlihat berbeda malam itu.
Vonna mengenakan gaun selutut dengan potongan sederhana yang jatuh mengikuti bentuk tubuhnya tanpa terlihat berlebihan. Warna gaun tersebut membuat kulitnya tampak semakin cerah, sementara rambut hitam lurusnya dibiarkan tergerai hingga hampir mencapai pinggang. Dengan riasan yang tidak terlalu tebal dan sepasang sepatu hak tinggi, penampilannya terlihat anggun sekaligus dewasa.
Haifa berhenti beberapa langkah dari tangga. “Wow.”
Vonna menoleh. “Kenapa?”
“Bagus banget.”
Vonna tersenyum kecil. “Kamu juga.”
Haifa kemudian turun dari tangga dan berdiri di samping kakaknya.
Berbeda dari Vonna, Haifa mengenakan gaun selutut dengan model yang lebih sederhana dan warna yang berbeda. Potongannya memberikan kesan lebih muda dan lembut, sesuai dengan usianya. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai melewati bahu, sementara beberapa helai rambut jatuh ringan di sisi wajah.
Mata hitamnya terlihat bening di balik bulu mata yang lentik. Hidungnya yang bangir membuat wajahnya terlihat imut meskipun tetap memiliki kesan lembut. Ketika ia tersenyum, lesung pipi yang jelas di sebelah kanannya langsung muncul dan membuat wajahnya terlihat semakin manis.
Satu-satunya perbedaan yang cukup mencolok jika dibandingkan dengan Vonna adalah tinggi badan mereka. Vonna lebih tinggi beberapa sentimeter, membuat Haifa yang berdiri di sampingnya tampak sedikit lebih mungil.
Vonna memperhatikan adiknya dari atas sampai bawah sebelum tersenyum. “Kamu cantik.”
Haifa mengangkat alis. “Tumben muji.”
“Memang enggak boleh?”
“Boleh. Cuma aneh.”
Vonna terkekeh. Haifa kemudian duduk di sofa sambil memperbaiki ujung gaunnya. “Sebenarnya kita mau kedatangan siapa, sih?”
Vonna mengangkat bahu. “Aku juga enggak tahu. Mama Cuma bilang suruh dandan.”
“Berarti dandan.” Haifa mengerutkan keningnya. “Nggak ada penjelasan lain?”
“Enggak.”
Haifa menghela napas. Sejak tadi ia memang merasa ada sesuatu yang aneh. Biasanya jika keluarga mereka kedatangan teman atau rekan bisnis Papa, Mama tidak akan meminta kedua putrinya berdandan secantik dan serapi itu.
Terlebih lagi, Mama sampai mengingatkan mereka beberapa kali agar tidak terlambat turun. Namun, karena tidak mendapatkan jawaban dari siapa pun, Haifa akhirnya memilih tidak terlalu memikirkannya.
Beberapa menit kemudian, Mama masuk ke ruang keluarga. Begitu melihat kedua putrinya, wajah perempuan itu langsung tampak puas.
“Nah, begini baru benar.”
Haifa menatap ibunya. “Ma, sebenarnya kita mau kedatangan siapa?”
Mama hanya tersenyum. “Nanti juga tahu.”
“Kenapa rahasia banget?”
“Bukan rahasia. Mama Cuma ingin kalian tidak terlalu banyak bertanya.”
Haifa mengerucutkan bibir. Vonna justru tertawa kecil. Mama kemudian memperhatikan penampilan kedua putrinya sekali lagi, memastikan tidak ada yang perlu diperbaiki. Setelah itu, ia meminta mereka tetap berada di ruang keluarga.
“Pokoknya nanti kalau tamunya datang, kalian bersikap yang sopan. Jangan membuat malu keluarga.”
Haifa langsung mengernyit. “Memangnya kita pernah bikin malu?”
Mama menatapnya. “Kamu mau Mama jawab?”
Haifa langsung diam. Vonna menahan tawa. Belum sempat Haifa membalas, suara kendaraan terdengar dari halaman depan.
Mama spontan menoleh ke arah pintu. “Mereka datang.”
Papa yang sejak tadi berada di ruang kerja akhirnya ikut keluar. Wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya, seolah kedatangan tamu malam itu memang memiliki arti khusus.
Haifa memperhatikan perubahan sikap kedua orang tuanya. “Ma...”
Mama justru memberikan senyum kecil. “Kalian duduk yang manis.”
Pintu utama kemudian terbuka. Seorang staf rumah membukakan pintu dari dalam, disusul suara langkah beberapa orang yang memasuki rumah.
Haifa yang duduk di samping Vonna tanpa sadar menegakkan tubuh. Dari tempatnya, ia bisa melihat beberapa orang mulai masuk ke ruang keluarga.
Seorang pria dan perempuan yang tampaknya seusia dengan orang tua mereka berjalan paling depan. Keduanya terlihat berkelas dan rapi, dengan sikap yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari keluarga terpandang.
Di belakang mereka, seorang pria tinggi mengenakan setelan gelap berjalan dengan langkah tenang.
Haifa langsung mengenalinya. Dadanya seketika terasa sesak.
Althaf.
Untuk beberapa detik, Haifa hanya mampu menatap tanpa berkedip. Pria yang selama ini ia kenal sebagai dosen, pria yang beberapa hari lalu meneleponnya dan memastikan dirinya sudah makan, kini berdiri di ruang keluarganya bersama kedua orang tuanya.
Dan yang lebih membuat Haifa tidak mampu bergerak adalah kenyataan bahwa Althaf tidak datang sebagai dokter ataupun dosennya. Ia datang sebagai bagian dari keluarga yang malam ini sengaja diundang oleh kedua orang tua Haifa.
Di samping Haifa, Vonna ikut berdiri ketika Mama mempersilakan para tamu duduk. Tatapan Vonna langsung jatuh kepada Althaf.
Berbeda dengan Haifa yang seketika membeku, wajah Vonna justru berubah cerah. Ada kebahagiaan yang begitu jelas terpancar dari matanya hingga Haifa sempat melirik kakaknya.
Althaf sendiri tidak langsung menatap Haifa. Namun, ketika akhirnya pandangan mereka bertemu, hanya dalam satu detik Haifa sudah bisa melihat sesuatu yang sangat ia kenal.
Keterkejutan. Althaf sama terkejutnya. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu mengenai kedatangan keluarga malam itu. Tidak ada yang pernah membicarakan hal tersebut. Dan sekarang mereka harus duduk dalam satu ruangan dengan keluarga masing-masing, sementara hubungan yang selama ini mereka sembunyikan bahkan belum diketahui oleh siapa pun.
Althaf meliriknya lebih lama dan Haifa segera mengalihkan pandangan. Sementara itu, Vonna duduk dengan senyum yang tidak kunjung hilang. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa pria yang selama ini diam-diam ia sukai ternyata datang malam itu untuk sebuah urusan yang jauh lebih besar daripada sekadar kunjungan keluarga.
Mama dan Papa Haifa mempersilakan keluarga Althaf duduk. Setelah basa-basi singkat mengenai perjalanan dan pekerjaan, suasana perlahan berubah menjadi lebih serius.
Papa Haifa akhirnya meletakkan cangkirnya di atas meja. “Ada satu hal yang sebenarnya ingin kami bicarakan malam ini.”
Haifa kembali menegang. Vonna menoleh kepada kedua orang tua mereka.
Papa Althaf tersenyum tipis sebelum melirik kepada putranya. “Kami rasa sudah waktunya anak-anak mengetahui rencana yang selama ini sudah kami bicarakan.”
*
Suasana ruang keluarga berubah begitu kalimat itu selesai diucapkan. Percakapan yang sebelumnya terdengar ringan perlahan menghilang, digantikan keheningan yang membuat Haifa semakin sadar bahwa kedatangan keluarga Althaf malam itu memang bukan kunjungan biasa.
Ia duduk dengan kedua tangan bertumpu di pangkuan, berusaha menjaga wajahnya tetap tenang meskipun pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan. Di sampingnya, Vonna masih terlihat santai. Bahkan ada senyum kecil yang sesekali muncul di wajahnya, seolah ia sama sekali tidak menduga bahwa pembicaraan malam itu akan membawa sesuatu yang besar.
Mama Haifa melirik suaminya sebelum akhirnya berbicara. “Seperti yang Papa bilang tadi, sebenarnya ada hal yang ingin kami bicarakan bersama.”
Haifa menelan ludah.
Papa kemudian menatap kedua putrinya. “Kalian berdua sudah cukup dewasa. Papa dan Mama juga sudah lama memikirkan soal masa depan kalian.”
Vonna mengangguk pelan. “Soal masa depan?”
“Iya.”
Papa Althaf yang sejak tadi duduk bersama istrinya akhirnya ikut angkat bicara. “Kami sebenarnya sudah cukup lama mengenal keluarga kalian. Hubungan kedua keluarga ini juga sudah berjalan bertahun-tahun.”
Papa Haifa tersenyum tipis. “Karena itu, kami merasa tidak ada salahnya kalau hubungan keluarga ini dibuat lebih dekat.”
Haifa masih diam. Ada sesuatu dalam cara kedua keluarga berbicara yang membuat perasaannya semakin tidak nyaman. Ia tanpa sadar melirik Althaf.
Pria itu duduk di seberang mereka dengan tubuh tegak dan wajah yang tenang. Namun, Haifa mengenalnya cukup baik untuk mengetahui bahwa ketenangan tersebut bukan berarti Althaf baik-baik saja.
Tatapan mereka sempat bertemu meski hanya sebentar. Tetapi cukup untuk membuat Haifa tahu bahwa Althaf sama sekali tidak mengetahui rencana ini sebelumnya.
Sementara itu, Vonna mulai terlihat lebih penasaran. “Memangnya Papa dan Mama mau membicarakan apa?”
Mama Althaf tersenyum kepada Vonna. “Kami ingin membicarakan soal Althaf.”
Seketika jantung Haifa terasa seperti jatuh. Tangannya yang berada di pangkuan langsung menegang.
Vonna justru tampak terkejut sekaligus penasaran. “Mas Althaf?”
Haifa menundukkan pandangan. Ia tidak berani melihat Althaf lagi. Tampaknya Vonna sudah terbiasa memanggil Althaf dengan sebutan Mas di luar urusan pekerjaan.
“Ya,” jawab Mama Althaf lembut. “Kami sudah lama mempertimbangkan hal ini. Althaf juga sudah cukup dewasa untuk membangun rumah tangga.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Vonna perlahan tersenyum. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Harapan yang selama ini mungkin hanya ia simpan sendiri seolah tiba-tiba mendapatkan tempat untuk tumbuh. “Jadi maksud Mama...”
Mama Vonna menatap putrinya dengan senyum penuh arti. “Kami ingin menjodohkan Vonna dengan Althaf.”
Waktu seakan berhenti.
Haifa membeku. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Sementara di seberangnya, Althaf juga tidak bergerak. Wajahnya tetap tenang, tetapi tatapan pria itu langsung tertuju kepada Haifa.
Hanya sepersekian detik. Namun, kali ini Haifa bisa melihat jelas sesuatu yang tidak mungkin disembunyikan.
Keterkejutan. Dan mungkin... ketakutan.
Haifa segera menundukkan wajahnya agar tidak ada seorang pun yang melihat perubahan ekspresinya. Di sampingnya, Vonna justru tampak seperti seseorang yang baru saja mendapatkan kabar paling membahagiakan dalam hidupnya.
“Serius?” tanyanya pelan.
Mama mengangguk. “Kami tidak sedang bercanda.”
Senyum Vonna semakin lebar. Ia menatap Althaf dengan mata berbinar. “Mas...”
Althaf tidak langsung menjawab. Ia kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya meski ia tahu semua orang sedang menunggunya memberikan reaksi. Namun, bagaimana mungkin ia menjawab ketika perempuan yang hendak dijodohkan dengannya adalah kakak dari wanita yang selama ini ia cintai?
Haifa masih menundukkan wajah. Dadanya terasa sesak. Ia ingin mengatakan sesuatu. Ingin menghentikan percakapan itu. Ingin mengatakan kepada semua orang bahwa Althaf bukan seseorang yang bisa mereka jodohkan begitu saja karena pria itu sudah menjadi miliknya dan ia adalah milik pria tersebut.
Namun, tidak satu pun kata mampu keluar. Hubungan mereka selama ini memang tidak pernah diketahui keluarga. Mereka yang memilih menyembunyikannya. Mereka yang sepakat untuk menjaga semuanya tetap menjadi rahasia.
Dan malam ini, rahasia itu justru berdiri di tengah ruang keluarga bersama mereka.
“Althaf.” Suara ayahnya membuat pria itu akhirnya mengangkat wajah. “Kamu bagaimana?”
Althaf terdiam beberapa detik. Tatapannya kembali jatuh kepada Haifa. Gadis itu masih menunduk. Namun, Althaf tahu betul bahwa Haifa sedang berusaha keras menahan sesuatu.
“Saya...” Suara Althaf terdengar rendah. Ia berhenti. Tidak ada jawaban yang mudah. Karena apa pun yang ia katakan malam itu akan mengubah segalanya.
Di sisi lain, Vonna masih menunggu dengan senyum penuh harapan. Dan Haifa merasa begitu takut kehilangan pria yang dicintainya.
Malam itu, dua orang yang selama ini selalu mampu menemukan cara untuk menyembunyikan cinta mereka justru tidak memiliki satu pun kata yang bisa digunakan untuk menyelamatkan hubungan tersebut.