Mata Ethan terbuka di saat ia mendengar suara-suara dari luar kamar. Asalnya Ethan ingin membaringkan badannya beberapa lama lagi, tapi suara tawa Nick membuatnya langsung beranjak dari kasurnya. Menurutnya percuma saja bila ia berada di dalam kamarnya tapi tetap berkeinginan untuk mendengarkan apa pun yang diobrolkan di luar sana.
Ethan berdiri dan menghadap ke arah kasur. Jarinya bergerak-gerak seperti sedang mengetik di udara dan seiring dengan gerakannya itu, satu per satu barang yang berada di atas kasur tersusun rapih kembali. Seprai sudah tidak memperlihatkan lipatan sama sekali. Selimut sudah dilipat dan ditaruh di ujung kasur. Dan kedua bantal sudah diletakkan di ujung kasur lainnya dengan posisi simetris. Dengan kekuatan magisnya, Ethan membereskan kasurnya dalam hitungan kurang dari tiga detik. Seharusnya bisa lebih cepat bila Ethan tidak memberlakukan sisi perfeksionisnya pada hal sekecil itu.
Lalu Ethan pun berjalan ke arah pintu yang menuju kamar mandi. Ia melihat wajahnya di cermin wastafel dan mendapati kantung mata di wajahnya. Selain masalah visual, Ethan pun tidak senang dengan aroma alkohol yang baru tercium dari mulutnya. Keanu sempat memberikan alkohol putih yang merupakan hasil fermentasi dari sorgum kepada Ethan. Selain aromanya yang menyengat Ethan juga tidak menyangka minuman itu bisa sampai membuatnya mabuk.
Pintu laci terbuka dengan sendirinya. Sebuah botol transparan dengan cairan berwarna biru melayang dari pintu laci tersebut hingga berada tepat di depan wajah Ethan. Setelah tutup botol terbuka dengan sendirinya, Ethan mengambil botol itu dengan tangan kanannya. Ethan berkumur dengan mouthwash beberapa menit hingga aroma dari mulutnya menghilang lalu bersiap-siap untuk mandi.
Tiga anak muda yang sedang mengobrol di meja pantry langsung menatap ke arah pintu yang baru saja terbuka dan langsung disambut dengan pandangan tajam dari Ethan. Sementara Nick dan Pedro melanjutkan pembicaraannya tanpa menghiraukan pandangan dari Ethan, Near menunduk dengan hormat lalu menunggu Ethan mengubah arah pandangannya barulah Near bergabung kembali dengan Nick dan Pedro.
"Jadi pada dasarnya Pedro dan Ethan mempunyai kekuatan pendukung sedangkan aku mempunyai kekuatan penyerang. Walaupun kekuatan pendukung pun bisa digunakan untuk menyerang secara tidak langsung. Seperti bila Pedro membuat sênjata untuk dipakai menyerang," kata Near meneruskan penjelasan yang sempat berhenti.
"Berarti kekuatan pengendalian tanaman kepunyaan Alice pun termasuk penyerang karena tanaman yang dikendalikannya bisa melukai orang. Begitukah?"
"Betul. Oleh karena itu sebaiknya penyihir dewasa mengawasi saat seorang penyihir mengeluarkan kekuatan magisnya pertama kali. Karena bisa jadi ia tidak dapat mengendalikan kekuatan sihirnya sehingga mêrusak lingkungan sekitarnya atau bahkan dapat membunuh makhluk hidup."
"Aku dan Pedro terus menerus berlatih di gedung yang sudah tidak terpakai selama beberapa bulan. Tapi sama sekali tidak ada yang terluka karena aku tidak dapat mengeluarkan kekuatan apa-apa. Hahaha…"
Tawa Nick memenuhi ruangan kembali dan sampai pada telinga Ethan. Setidaknya Ethan jadi mengerti seberapa tidak pentingnya percakapan yang membuat gadis itu tertawa. Tanpa melirik sama sekali ke arah tiga anak yang sedang belajar ilmu magis bersama, Ethan bergeming di depan alat coffee maker untuk mempersiapkan minuman baginya sendiri.
Setelah menunggu proses brewing pada bijih kopi di dalam alat coffee maker, Ethan menuangkan isi dalam wadahnya ke dalam sebuah cangkir kecil. Terlihat asap dari cairan berwarna hitam di dalam cangkir kopi seiring dengan munculnya aroma khas yang tercium oleh penghuni ruangan 3903 hampir di setiap pagi. Hidung Nick yang langsung mencium aroma khas dari minuman kopi itu langsung melirik ke arah sumber penghasil aroma.
Walaupun Nick terlihat cuek dengan kehadiran Ethan, Nick ternyata mengamati setiap perubahan yang terjadi pada diri Ethan. Ethan tidak membalas ucapan good night kemarin malam. Hari ini bangun kesiangan karena minum minuman beralkohol. Dan sampai saat ini belum pergi mencari informasi hingga hampir tengah hari.
Pandangan mata Nick terus menerus mengawasi gerakan Ethan yang berjalan ke arah balkon untuk meminum kopinya. Nick semakin bertanya-tanya karena biasanya Ethan akan sadar bila diamati dan langsung mengkonfrontasi Nick saat itu juga. Hari ini jiwa Ethan seakan tidak berada di ruangan yang sama dengan Nick walaupun badannya masih ada.
Sementara Nick memperhatikan Ethan, Near memperhatikan Nick yang sudah mulai tidak fokus untuk mendengar pembelajaran darinya. Sedangkan Pedro menyadari setiap orang yang berada di ruangan itu mempunyai fokus yang berbeda-beda, sehingga Pedro merasa ia menjadi satu-satunya orang yang bisa mengembalikan fokus pada kegiatan belajarnya.
"Ah! Nampaknya kekuatan Near pasti kekuatan menyerang karena bisa melukai orang secara langsung," kata Pedro sambil mengucapkan suku kata pertamanya dengan volume cukup besar sehingga mengundang lirikan dari kedua orang di dekatnya.
"Maafkan aku. Seharusnya aku lebih konsentrasi belajar."
Near tidak mempertanyakan tindakan Nick sama sekali. Ia memilih untuk berusaha tersenyum di depan gadis yang disukainya walaupun sedang merasa tidak terganggu oleh fokus Nick yang teralihkan oleh Ethan. Near berusaha menghibur dirinya sendiri dengan membangun asumsi bahwa Nick akan memberikan perhatian yang sama bagi semua orang.
"Oya, Near. Aku ingin bertanya."
"Ya, ada apa?"
"Aku sangat sulit berfokus pada suatu hal bila tidak terlihat secara nyata. Misalnya saja aku bisa berlatih fisik dengan lebih mudah dibandingkan berlatih meditasi. Sepertinya karena saat meditasi aku tidak bisa melihat sesuatu yang nyata. Benar tidak?"
Mendengar pernyataan dari Nick membuat Near berpikir keras. Semalaman Near sudah membuat daftar pertanyaan yang sudah disusunnya sesuai pelajaran yang diajarkan kemarin namun hari ini Nick memberikan pertanyaan di luar daftar tersebut. Asumsi yang dibuat Nick memang kadang merupakan pemikiran yang berada di luar pemikiran orang-orang secara umum. Bagaimanapun Near tidak mengabaikannya dan berusaha keras mencari respon atas asumsi Nick itu. Entah dengan sanggahan ataupun dukungan.
Near tidak menemukan jawaban langsung atas pertanyaan Nick, jadi ia berusaha menjawabnya dari sisi lain, "Ingatkah saat kamu ditanya oleh Grotto tentang berapa banyak jenis hewan ternak yang ada di Alexandria?"
"Ya aku ingat… mengapa kamu mengingatkan aku terhadap hal itu?"
"Bukannya kamu tidak melihatnya secara fisik?"
Nick membelalakan mata lalu mengangguk-angguk setelahnya. "Benar juga. Aku bisa membayangkannya satu per satu dan menjawab pertanyaan Grotto dengan tepat. Jadi masalahnya bukan dari fisiknya ya…"
"Begitulah. Jadi mengapa waktu itu kamu bisa fokus membayangkannya tapi tidak bisa saat bermeditasi?"
Baik Nick maupun Near kini berpikir dengan keras sedangkan Pedro hanya terdiam dan memperhatikan kedua orang di sekitarnya itu. Nick mengubah ekspresinya berkali-kali saat berpikir. Sementara wajah Near tampak tidak berekspresi kecuali ketika Pedro menatapnya terlalu lama sehingga membuat Near terlihat kesal.
Setelah ruangan yang ditempati Nick, Pedro dan Near menjadi sepi, akhirnya Near menegakkan badannya dan memandangi kedua orang yang duduk di seberangnya. Nick dan Pedro langsung mencondongkan badannya ke arah meja untuk bersiap-siap mendengarkan ucapan Near.
"Mungkin karena kamu yakin akan tujuan dari pertanyaan Grotto. Sedangkan saat bermeditasi kamu tidak sepenuhnya yakin bahwa meditasi akan berhasil."