"Aku membantu Keanu di bar karena Ethan ingin menemanimu belajar."
Kata-kata yang sudah dirancang oleh Ethan akhirnya dikatakan oleh Pedro setelah selesai makan siang. Nick sempat memperlihatkan wajah kebingungan atas pernyataan dari Pedro. Namun tidak lama kemudian gadis itu mengangguk santai.
Mata Nick langsung spontan mengarah pada kamar tidur Ethan. Nick masih khawatir terhadap perubahan sikap dari Ethan sepanjang hari ini. Pagi hari Ethan tidak dapat diajak bicara berdua saja seakan sengaja menghindari Nick saat Near dan Pedro tidak ada. Sedangkan siang harinya Ethan langsung masuk ke dalam kamarnya setelah selesai makan siang bersama.
Dan di saat pikiran Nick masih membayangkan Ethan berada di dalam kamar tidur tanpa ingin diganggu sama sekali, Ethan sudah tidak berada di sana. Setelah menutup pintu kamar, Ethan langsung melakukan teleportasi ke Pehme Tera Bar di mana Keanu dan Reika sudah menunggunya di ruang bersantai Keanu. Sebuah sosok berbadan tinggi tiba-tiba muncul, membuat Keanu dan Reika langsung menoleh ke pojok ruangan.
"Okay, Reika. Jadi kamu akan menjemput Pedro di apartemen…"
"Karena ia takut jalan sendirian di jalanan, baiklah."
"Tolong jangan potong pembicaraanku."
"Oops, my bad. Sorry, Ethan."
Ethan memandang Reika dengan mata yang menyipit lalu melanjutkannya, "Lalu kalian akan masuk ke bar ini dan menunggu momen yang tepat untuk mengubah diri kalian di depan toilet. Kalian harus memastikan tidak ada orang di sekitar kalian. Tidak boleh ada orang di dalam toilet dan tidak boleh ada orang di koridor. Setelah itu kalian bisa pergi bersama ke Time Pause dan melakukan rencana yang aku katakan kemarin."
Selama mendengarkan rencana tambahan yang dikatakan oleh Ethan, Reika mengangguk terus menerus. Walaupun wajah Reika tampak tidak memperhatikan dengan seksama, Ethan yakin gadis itu sudah mengingat rencana yang baru saja dikatakan. Ethan bersyukur tidak perlu mengulang dua kali bahkan lima kali bila berbicara pada Reika. Itulah mengapa Ethan hanya menjelaskan detil rencana kepada Reika dan bukan kepada Pedro.
Sementara Ethan dan Reika terus berdiskusi, Keanu hanya memandang cucunya dengan seksama sambil beberapa kali tersenyum saat Reika melihat padanya. Sampai akhirnya Reika pun sadar terhadap kekhawatiran Keanu. Jadi setelah rencana Ethan sudah diutarakan sepenuhnya, Reika mendekati Keanu dan memeluk kakeknya itu.
"Tenang saja, Kakek. Cucumu ini begitu pintar dalam melarikan diri."
Senyuman Reika membuat Keanu mengangguk namun tetap membantah perkataan wajah gadis yang berada sepuluh sentimeter di depannya, "Walaupun dua tahun lalu kamu meminta tolong kepada Ethan."
"Kakek! Jangan bahas masa lalu lagi, pleasee… Aku sudah tidak ceroboh seperti dulu lagi. Dua tahun lalu aku tidak mendengarkan intuisiku saat melihat Exterminator yang baru saja datang ke dalam ruangan. Jadi aku masih tetap memesan minuman saat itu. Dan setelah minuman itu jadi, boom! , semua menjadi runyam. Padahal aku bisa menggunakan waktu proses pembuatan minuman itu untuk kabur."
Kata demi kata yang dikeluarkan Reika direspon dengan anggukan dan senyuman dari Keanu. Dengan wajah seorang yang tampak bijaksana, Keanu berhasil membuat Reika terdiam dan memajukan bibirnya. Kesungguhan dalam tatapan Keanu membuat Reika merasa menjadi orang yang paling diperhatikan.
"Aku akan pulang dengan selamat, Kakek…"
Pelukan Reika tidaklah berlangsung lama saat ekor mata Reika melihat sosok yang sudah berdiri di depannya dengan wajah datar. Reika langsung melepaskan pelukannya dan tersenyum sinis pada Ethan.
"Ya Ethan, kamu ingin berpamitan dan cepat-cepat kembali untuk melihat kondisinya kan?"
Ethan mendengus sebagai tanda menerima sindiran Reika dengan setengah hati. Namun perkataan Reika tidak sepenuhnya salah. Ethan tidak nyaman berlama-lama dalam ruangan di mana Keanu dan Reika saling berpelukan untuk menguatkan satu sama lain.
Setelah berpamitan dengan empunya bar, Ethan pun kembali ke dalam kamarnya dengan teleportasi. Suara-suara yang sangat familiar terdengar kembali dari balik dinding kamar. Tapi kali ini Ethan memilih duduk di single sofa yang terdapat di pinggir dinding kaca dan memilih mendengarkan lagu-lagu klasik menggunakan earphone.
Waktu berjalan sangat cepat bagi Nick yang tampak semangat berdiskusi dengan Near. Namun waktu berjalan sangat lambat untuk Pedro. Pedro berulang kali membayangkan bahwa dirinya akan pergi ke luar apartemen tanpa Ethan maupun Nick dan hal itu membuatnya khawatir. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan rencana yang diberikan oleh Ethan. Dan seperti biasa waktu akan memberikan hal yang berlawanan dari apa yang kita inginkan.
Waktu menunjukkan pukul enam sore di saat Pedro berpamitan dengan semua orang yang berada satu ruangan dengannya. Sebelumnya Pedro sudah terlebih dahulu mengisi perutnya dengan roti sandwich buatan Ethan sehingga dapat mengurangi kesalahan Pedro yang biasanya tidak bisa berkonsentrasi karena kelaparan.
Pedro menelusuri koridor lantai 39 dengan tidak nyaman. Ia hanya baru pernah bertemu Reika beberapa kali dan ia tahu bahwa Reika adalah seorang perempuan yang sangat dominan. Tidak hanya merasa terpojok dengan perkataan Reika yang seringnya blak-blakan, Pedro juga tidak terlalu senang saat ada orang yang memberikan sentuhan terlalu banyak padanya. Bila Pedro bersama Nick, maka Pedro duluan yang akan merangkul bahu Nick barulah ia merasa nyaman. Sedangkan saat bersama Reika, lengan Pedro seringkali dirangkul dan ditarik supaya bisa berjalan lebih cepat.
Ternyata apa yang dilihat Pedro tidak seburuk bayangannya selama ia menuruni 38 lantai apartemen. Saat bertemu dengan Reika di lobi hotel, rasa khawatir Pedro mendadak hilang seketika. Reika menjaga jarak saat berbicara bahkan tidak menggandeng Pedro sama sekali saat berjalan.
"Wow, kamu berubah sekali," kata Pedro melirik ke samping sambil tetap berjalan dan menyetarakan langkah kaki Reika.
"Oya? Tapi Ethan tidak merasa seperti itu. Hahaha… padahal aku sudah sangat menjaga image setelah berpacaran."
Pedro pun mengerti alasan dari kekhawatirannya hilang seketika. Seorang perempuan yang cukup urakan seperti Reika ternyata bisa berubah saat mempunyai pacar, pikir Pedro.
"Sebenarnya aku ingin menggandengmu. Tapi ya sesuai yang aku bilang tadi, aku sudah berpacaran sehingga harus menahan diri dan yang kedua… sebenarnya kamu juga tampak berubah. Kamu juga mempunyai orang yang kamu sukai kan? Apalagi badanmu sudah menjadi tinggi seperti ini. Pasti akan lebih mudah mengejar perempuan, bukan?"
"Ah… sebenarnya tidak semudah itu juga. Aku masih belum terlalu percaya diri." Pedro langsung membelalakan matanya saat tersadar dengan apa yang ia ucapkan sendiri. "Eh apa maksudmu dengan tinggi badanku seperti ini?"
"Perempuan itu pernah bilang bahwa ia menyukai laki-laki yang lebih tinggi, bukan?"
"Reika… a… aku tidak mengerti maksudmu sama sekali."
"Tapi wajahmu memerah, Pedro."
Wajah Pedro pun menjadi lebih merah setelah perkataan terakhir Reika. Malam hari ini Pedro tidak jadi khawatir dengan sikap Reika yang terlalu touchy maupun khawatir karena tidak bersama Nick maupun Ethan. Setidaknya Pedro harus merasa bersyukur tentang topik pembicaraan yang dibahas oleh Reika dan membuatnya menjadi merasakan hal lain yang bisa mendistraksi kekhawatirannya.