"Walaupun rambutnya berbeda, aku yakin dia adalah Pedro," kata Nick dalam hati sambil berusaha mengimbangi kecepatan laki-laki yang sedang mengejar Pedro.
Dari kejauhan, Nick melihat pintu besar yang terbuka dan beberapa orang membawa troli makanan keluar dari sana. Karena Pedro memasuki pintu itu, maka ketiga orang di belakangnya pun langsung menyusul jejak Pedro. Sesuai dengan intuisi Pedro untuk menyembunyikan diri, ruangan di balik pintu yang terbuka memberikan kesempatan pada Pedro untuk memperlebar gap antara dirinya dan si pengejar. Kumpulan manusia yang sedang memasak membuat si pengejar kesulitan untuk berlari.
Nick memicingkan matanya untuk mencari Pedro karena ia kehilangan jejak Pedro. Setelah melihat sosok berbadan besar yang sedang menyibakan beberapa koki di tengah ruangan, Nick pun berlari ke arah kejadian tersebut. Lebih mudah mencari si pengejar daripada Pedro karena Pedro tampaknya menggunakan celah di bawah meja untuk mempersingkat jalan sehingga tidak dapat terlihat.
Suasana di dapur pun menjadi ramai karena terdapat empat orang yang tidak seharusnya berada di sana. Tapi si pengejar berusaha membuat para koki dan pegawai lainnya tetap diam. Ia menyuruh semua orang di ruangan tetap melakukan kegiatannya seperti biasa dan mengabaikannya.
"Hahahaha… kamu tidak bisa ke mana-mana bocah," kata si pengejar ketika mengetahui bahwa Pedro memasuki ruangan yang lebih kecil di ujung dapur dan ruangan tersebut tidak hanya mempunyai satu jalan keluar saja.
Si pengejar menyalakan lampu sehingga Nick bisa melihat tumpukan bahan baku yang tersusun di dalam puluhan rak besi yang tersusun memanjang dan memenuhi ruangan yang baru saja dimasukinya. Tidak ada orang yang berada di sana sehingga membuat si pengejar dengan mudah berjalan menyusuri jalan di antara rak untuk mengejar Pedro. Tentu saja tata letak ruangan yang rapih di dalam gudang bahan baku telah membuat kondisi Pedro semakin dirugikan.
Sampai pada ujung ruangan yang lain, Nick bisa melihat Pedro sedang pada posisi terjepit. Ia bersembunyi di bawah meja dan berusaha melakukan sesuatu untuk melarikan diri namun ia terlalu ketakutan sehingga kancing yang berada di tangannya terlepas begitu saja. Pedro berusaha mengambil kancing yang lain di dalam sakunya dengan gemetar. Sementara si pengejar semakin dekat dengan posisi Pedro bersembunyi.
Saat menyaksikan temannya sudah tidak berdaya di dalam tempat persembunyiannya, Nick berusaha keras berlari secepat mungkin. Pikiran Nick terus menerus bertanya-tanya apa yang bisa ia lakukan untuk menolong Pedro. Selama berlari hanya ada satu ide dari kepala yang dapat ia lakukan yaitu melakukan pênyerangan terhadap si pengejar. Sehingga saat Nick sudah berada di dekat si pengejar ia mengambil posisi yang tepat sebelum kakinya melayang ke arah kepala orang di depannya.
"Bam!" Terdengar suara tendangan Nick yang tepat mengenai kepala si pengejar.
Si pengejar memegangi kepalanya dan menoleh ke belakang dengan wajah sangat kesal. Nick hampir meninju wajah orang di depannya tapi tangannya berhasil dihentikan dengan satu tangan saja. Dengan sekuat tenaga si pengejar berusaha menendang perut Nick dengan lututnya. Walaupun Nick sudah dapat memprediksi gerakan si pengejar dan melindungi perutnya dengan tangan kirinya, tetap saja tendangan itu dapat membuat Nick terpental sejauh satu meter ke arah belakang.
"Huh, anak-anak kecil ini tampaknya mau menjadi pahlawan. Hahaha lucu sekali," kata si pengejar dengan tawa yang menggelegar.
Near melihat kondisi Nick terlebih dahulu sebelum ia berusaha menyerang orang di hadapannya. Nick yang terjatuh ke lantai sedang berusaha bangkit dan memberikan tanda "okay" ke arah Near. Setelah memastikan Nick baik-baik saja, Near melayangkan sebuah pukulan dengan wajan di tangannya.
Kondisi si pengejar menjadi terdesak karena Near bisa berhasil mengenai tangan orang di depannya sehingga si pengejar kesakitan dan sempat tidak dapat melawan balik. Nick juga melihat Pedro sudah membuat pintu kedua kalinya dengan kekuatan magis dan kabur dari pintu tersebut. Awalnya Nick merasa kondisi saat ini dimenangkan oleh dirinya, namun satu hal yang tidak terbayangkan oleh Nick adalah si penyerang mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya.
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Nick. Yang terbayangkan di dalam pikiran Nick adalah ia dapat mencegah pisau itu menusuk ke arah Near yang berada paling dekat dengan gerakan si pengejar. Dengan berusaha menarik Near supaya tidak terkena pisau tersebut, Nick tiba-tiba mengingat sesuatu dalam pikirannya.
"Keinginan kuatku adalah mencegah pisau itu menusuk ke arah Near," kata suara yang tiba-tiba melintas dalam pikiran Nick.
"Klontang!" Terdengar suara besi yang jatuh ke lantai seiring dengan Nick yang berhasil menarik Near sehingga keduanya terjatuh ke lantai.
Near masih kebingungan dengan kondisi saat itu. Near hampir saja menimpa badan Nick dan Nick tampak kesakitan karena tangannya terantuk oleh rak besi di belakangnya.
"Dia memegang pisau," kata Nick panik lebih cepat dibandingkan Near yang baru saja ingin menanyakan kondisinya.
Saat melihat ke arah si pengejar, Nick tampak kebingungan karena si pengejar sudah tidak membawa pisaunya. Tidak hanya Nick, si pengejar pun tampak kebingungan. Setelah dirinya sadar wajah si pengejar pun semakin murka melihat kondisinya yang tidak dapat menyelesaikan masalah sepele dengan cepat.
"Kamu seorang penyihir, huh?! Berani-beraninya menggunakan kekuatan magis di depanku!"
Nick berusaha mencerna apa yang telah dikatakan oleh orang di hadapannya. Ia memandang Near dan berpikir bahwa Near yang telah mengeluarkan kekuatan magis sebelumnya. Sementara itu Near mengerutkan dahi sambil melihat ke arah Nick lalu ke arah orang yang sedang mengambil pisau yang terjatuh dan bergerak ke arahnya.
Mengetahui keadaan sudah terdesak, Near pun berpikir untuk mengeluarkan kekuatannya. Tidak hanya badan lawannya yang besar sehingga sulit untuk dilumpuhkan, lawannya ini juga mempunyai sênjata yang dapat membahayakan nyawa. Selain itu laki-laki berbadan besar itu juga sudah membahas tentang kekuatan magis sehingga Near tidak ragu-ragu lagi untuk meladeni lawannya.
"Kalian semua berhenti!"
Semua orang yang berada di ruang penyimpanan bahan baku pun menoleh ke arah pintu yang terbuka. Terlihat seorang laki-laki berbadan tinggi dengan jas dan celana kain berwarna putih. Rambutnya berwarna pirang dengan gaya rambut disisir ke samping. Wajahnya tampak seperti laki-laki berumur dua puluh tahun lebih walaupun gaya berpakaiannya lebih mirip orang berumur tiga puluh tahunan. Nick dan Near tampak kebingungan namun orang di belakang mereka langsung menunduk dan melakukan apa yang diperintahkannya.
"Kalian telah membuat keributan di dalam wilayahku. Apa yang kalian inginkan?"
Nick dan Near saling berpandangan. Satu demi satu informasi berusaha dikaitkan oleh kedua orang itu dalam pikiran mereka masing-masing. Nick masih mengingat pembicaraan dua tahun lalu antara Ethan dan Reika. Sedangkan Near masih ingat Ethan menanyakannya tentang Irvine Formit sehingga ia mencari tahu tentang orang tersebut. Dan akhirnya mereka berdua melihat sosok yang bernama Irvine Formit di hadapan mereka saat ini.