Nick menoleh ke arah pantry sebagai tanda supaya Near mendekat ke arahnya. Setelah Near beranjak dari tempat duduknya, Nick menjulurkan tangan kanannya ke arah Near. Begitu tangan kanan Nick mengenai ujung baju dari Near, Ethan langsung melakukan kekuatan teleportasinya.
Suasana ruangan apartemen 3903 yang terang berubah menjadi sebuah ruangan remang-remang dengan cahaya warna merah menyorot ke arah tiga buah sofa panjang yang membentuk huruf U dan beberapa meja yang terdapat di depan sofa. Di seberang tempat duduk terdapat layar televisi berukuran lima puluh inchi dan saat Nick melihat layar tersebut barulah Nick paham bahwa dirinya sedang berada di sebuah ruangan karaoke.
Saat Nick melihat ada sosok yang beranjak dari sofa, Nick langsung memasang sikap siap siaga. Wajah Nick baru kembali tenang begitu sosok itu mendekatinya sehingga wajah sosok itu terekspos.
"Reika?" gumam Nick dengan menggerakan mulutnya namun tanpa mengeluarkan suara. Tidak hanya Nick yang menjadi kebingungan, Reika pun memperlihatkan wajah bertanya-tanya saat memandang Nick.
"Ethan? Kenapa kamu membawa…."
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Di mana kamu terakhir kali melihat Pedro?" Ethan memotong perkataan Reika dan langsung berjalan ke arah pintu keluar. Reika mau tidak mau mengikuti kecepatan langkah Ethan supaya bisa memberikan informasi dengan nyaman.
Kedua orang yang datang walaupun tidak diundang pun terpaksa mengikuti Ethan dalam diam. Baik Nick maupun Near tidak bersuara sama sekali saat Ethan berjalan keluar dari ruangan dan menyusuri koridor sesuai dengan instruksi Reika. Pintu demi pintu yang berada di kanan kiri dilalui oleh empat orang yang sedang berjalan dengan terburu-buru. Dan empat orang itu pun berbelok beberapa kali pada persimpangan jalan.
Pandangan Nick masih berusaha mencerna situasi sekitarnya. Selama ia berada di Kota Windhill, Nick belum pernah memasuki ruang karaoke yang berada di sebuah klub malam. Ia dan Pedro hanya pernah memasuki karaoke box tanpa sepengetahuan Ethan dan suasananya pun berbeda jauh dengan tempat Nick berada saat ini. Apalagi saat Nick tidak sengaja melihat ke dalam ruangan dari salah satu pintu yang terbuka dan ada seorang perempuan berbaju seksi sedang berada di samping tiang. Tapi Nick tidak tahu apa yang sedang dilakukan perempuan tersebut karena Near langsung menutup matanya dan mengarahkan Nick untuk terus berjalan.
Saat tiba di pinggir pagar mezzanine, Reika melihat ke arah satu lantai di bawah mereka, tempat ratusan orang sedang menikmati suasana di klub malam dengan caranya masing-masing. Ada yang berdansa di panggung yang sudah disediakan. Ada yang duduk di sofa yang tersebar maupun duduk di depan bar yang terdapat di pinggir ruangan. Dari sekian banyak tempat yang bisa dijelajahi, Reika menunjuk ke satu salah pintu yang terletak di samping meja bar di lantai satu.
"Terakhir kali kami bersama-sama di samping meja bar. Lalu Pedro berlari ke pintu itu karena ada laki-laki berbadan besar yang mengejarnya. Aku curiga ia salah satu penjaga klub ini karena ada pin pada bagian dâda di kemejanya."
"Sepertinya pintu itu hanya untuk para pegawai di sini," kata Ethan menyipitkan mata ke arah titik yang dimaksud dan melihat sebuah tanda yang menggambarkan hanya orang tertentu yang bisa masuk ke sana.
"Pintu itu terbuka saat Pedro masuk. Kita belum tentu bisa ke sana kembali. Jadi sebaiknya kita mencari jalan lain."
Kali ini Reika yang berjalan lebih dulu dari tiga orang di dekatnya. Reika menuruni tangga dan berusaha membaur dengan ratusan orang di lantai satu. Musik yang keras dan teriakan orang-orang membuat pembicaraan akan sulit dilakukan sehingga Ethan, Nick dan Near hanya bisa mengikuti langkah kaki Reika dan berusaha tidak kehilangan jejak. Terkadang ada orang yang tidak sengaja menghalangi jalan Nick dan Near sehingga kedua anak muda itu harus berusaha mengejar ketertinggalan mereka. Near pun tidak mau beresiko untuk kehilangan Near di tengah keramaian sehingga ia menggenggam tangan Nick erat-erat selama berjalan dan melewati orang-orang di hadapannya.
"Terima kasih, Near," kata Nick tersenyum sambil melepaskan genggaman tangannya saat ia sudah berada di sebuah koridor yang jauh lebih sepi dari ruangan sebelumnya dengan penerangan yang berasal dari lampu sorot sepanjang di dinding
"Maaf aku tidak meminta izin terlebih dahulu."
"Tidak apa-apa. Ayo kita harus mengejar mereka."
Nick menunjuk Ethan dan Reika yang sudah berada beberapa puluh meter di depannya. Lalu Nick dan Near pun berjalan dengan cepat menyusuri koridor. Langkah kaki Nick semakin lama semakin cepat, namun tiba-tiba saja kecepatan itu menurun. Bahkan Nick berhenti berjalan, melihat ke samping dan berjalan berbalik arah.
"Nick, kita bisa kehilangan mereka," kata Near yang tersadar bahwa sosok di sampingnya sudah tidak ada.
Langkah kaki Nick perlahan mendekati dinding yang berada di antara dua pilar putih dengan ukiran klasik. Matanya mengarah pada sebuah pintu yang tak lazim. Pintu itu mempunyai ketinggian sekitar satu meter dengan garis yang tidak lurus.
Nick langsung teringat satu tahun lalu Pedro pernah memperbaiki pintu kamar Ethan. Butuh waktu beberapa jam lamanya untuk Pedro menyempurnakan pintu tersebut supaya tidak miring dan dapat terlihat seperti baru kembali. Tentu saja Nick tahu Pedro bisa dengan mudah membuat pintu kembali karena barang yang pernah dibuat oleh Pedro akan dengan mudah dibuatnya kembali. Hanya saja hasilnya mungkin tidak akan terlalu bagus bila kondisinya darurat seperti pintu yang berada di hadapan Nick saat ini. Namun tujuan utama Pedro untuk menyamarkan pintu itu dengan dinding berhasil cukup baik karena Nick hampir saja melewati pandangannya.
"Pedro pasti melarikan diri dan mencari tempat persembunyian dengan pintu ini," kata Nick dengan pandangan ke arah pintu di hadapannya. "Kita harus beritahu Ethan secepatnya tentang pintu ini."
Nick dan Near melanjutkan kembali perjalanannya untuk mengejar Ethan. Baru saja mereka berjalan sekitar dua puluh meter dan akan berbelok ke kiri, seorang laki-laki berbadan besar datang dari arah kanan dan menghadang mereka berdua.
"Hei, harusnya kalian berdua tidak berada di sini," kata laki-laki berambut cepak dengan badan besar di balik kemeja putih dan rompi hitam.
"Kami…. Mencari-cari toilet," kata Nick sambil berusaha melewati orang di hadapannya. Namun orang itu menghadang Nick untuk kedua kalinya dan kali ini melihar Nick dengan pandangan kesal.
"Toilet bukan berada di sini. Pergi kalian…"
Perkataan laki-laki berbadan besar terpotong dan pandangannya berubah arah dari wajah Nick menuju apa yang berada di belakang Nick. Laki-laki itu tiba-tiba tersenyum, lalu melewati Nick dan Near begitu saja. Seakan melupakan bahwa Nick dan Near baru saja membuatnya kesal dengan berada di tempat yang tidak seharusnya.
Karena tingkah laku laki-laki di depannya berubah seratus delapan puluh derajat, Nick pun menoleh ke belakang, ke arah laki-laki tersebut berjalan. Mata Nick pun langsung terbelalak saat mendapati Pedro baru saja keluar dari pintu kecil yang dicurigai oleh Nick sebelumnya. Pedro langsung ketakutan saat laki-laki berbadan besar mengejarnya sehingga ia pun spontan berlari ke arah sebaliknya.
Nick tidak bisa tinggal diam. Ia langsung berlari menyusul Pedro dengan Near yang mengikutinya dari belakang.