Bayangan mengenai Renzo Peruvian di dalam benak Near adalah seorang anak laki-laki berbadan kurus yang selalu menemani Putri Charlotte ke mana pun. Saat itu Near masih melihat Putri Charlotte sebagai seseorang yang asing. Dalam benaknya terlihat seorang tuan putri yang senang berjalan-jalan di luar istana dan seorang pengawal muda yang selalu siap sedia di saat Putri Charlotte membutuhkan bantuan, seperti membawakan minuman, membantu saat Putri Charlotte terjatuh dan berbicara dengan para pegawai kerajaan. Near sama sekali tidak berminat untuk berbicara sedikit pun pada Putri Charlotte, terutama saat Renzo selalu memandang para pegawai kerajaan dengan penuh kecurigaan.
Sebelum Putri Charlotte berumur delapan tahun terdapat kejadian yang membuatnya tidak lagi diawasi oleh pengawal pribadi. Saat itu Putri Charlotte sedang berada di Kota Windhill bersama-sama dengan mendiang orang tuanya. Ada saatnya Putri Charlotte tertarik pada suatu hal di jalanan sehingga terpisah dari gêrombolan kerajaan dan hanya menyisakan Renzo sebagai orang yang mengawasinya. Seluruh pengawal kerajaan lain kehilangan jejak akan keberadaan Putri Charlotte dan saat itulah pêncûlikan terjadi.
Putri Charlotte dan Renzo dibius dan disekap di sebuah gudang yang terletak di tengah-tengah hutan. Dengan kekuatan yang dimiliki Renzo, akhirnya mereka berdua bisa lolos dari kondisi yang tidak menguntungkan itu. Namun tepat sebelum bertemu dengan para pengawal yang melakukan pencarian terhadap Putri Charlotte, Renzo menghilang. Beberapa pengawal yang dikerahkan untuk mencari Renzo pun kembali tanpa menemukan apa yang dicari. Tidak ada yang tahu apakah Renzo kembali ditangkap oleh para penculik. Dan tidak ada yang tahu apakah Renzo masih hidup atau tidak.
Near baru mengenal Putri Charlotte setelah kepergian Renzo dan juga kematian dari kedua orang tua Putri Charlotte. Banyak hal yang dapat membuat Putri Charlotte bersedih saat berbicara dengan Near karena ia sudah mengalami kehilangan banyak orang terdekatnya. Namun gadis itu memilih untuk menampilkan wajah ceria saat bertemu dengan Near dibandingkan berlarut-larut dalam kesedihan sehingga nama Renzo sudah tidak pernah terdengar kembali.
Near masih tidak percaya sosok yang tampak lemah dan berusaha terlihat kuat saat menjadi pengawal pribadi Putri Charlotte kini menjadi seorang pengelola klub malam. Peran yang dipilih oleh Renzo membuat Near tidak habis pikir. Mengapa ia memilih untuk menyamar di Kota Windhill sebagai seseorang yang berpengaruh seperti ini? Mengapa tidak menyamar menjadi orang biasa seperti yang dilakukan oleh Skyf maupun Putri Charlotte?
"Aku sengaja menamakan klub ini sesuai dengan kekuatan magisku supaya tuan putri bisa mengetahui tempatku berada."
"Oh! Aku… baru saja menyadarinya," kata Nick membalas perkataan Renzo sambil menepuk dahinya. "Tapi mengapa kamu tidak kembali? Aku sudah mengatakan pada orang tuaku bahwa tidak boleh ada yang menyalahkanmu atas pêncûlikan itu."
"Tetap saja ada konsekuensinya bila aku lalai dalam bertugas, Tuan Putri. Lagipula semua sudah berlalu, bagaimana kalau kita bicarakan hal lain saja. Apa yang sedang dilakukan Putri Charlotte di tempat seperti ini?"
Nick terdiam beberapa saat. Ia baru sadar ucapan Ethan sebelumnya mengenai ekspresinya yang berubah setiap kali bertemu dengan orang-orang dari kerajaan Alexandria. Mendapati dirinya tengah membuktikan perkataan Ethan, membuat Nick merasa bersalah. Lagi-lagi Nick terlalu senang saat bertemu orang dari masa lalunya. Yang pertama adalah Near dan kedua adalah Renzo.
"Halo?" tanya Renzo dengan tangan yang dikibaskan di depan wajah Nick dan berhasil menarik Nick yang sedang melamun ke alam sadar kembali.
"Ka...kami mencari teman kami! Klub malam ini sungguh luas ya. Hahaha….," jawab Nick berusaha tidak memberikan detil informasi dan mengalihkan pembicaraan. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di tempat seperti ini."
Renzo menanggapi perkataan Nick dengan tersenyum lalu menyentuh pipi kiri Nick dengan tangan kanannya. Dingin. Nick bisa merasakan tangan Renzo yang dingin bersentuhan dengan kulitnya. Namun sentuhan yang dingin itu hanya terasa sementara. Wajah Nick berubah menjadi panas karena melihat wajah laki-laki di depannya yang hanya berjarak tiga puluh sentimeter.
"Hei, Renzo. Apa yang kamu lakukan? Sebentar… mengapa wajahnya terlihat sangat berbeda? Benar juga, aku saja sampai tidak mengenalinya saat pertama kali bertemu. Sejak kapan Renzo terlihat begitu menawan? Nick! Berhentilah berpikir yang aneh-aneh!"
Suara hati Nick semakin lama semakin kuat seiring dengan wajah Renzo yang mendekat. Bola mata Nick pun semakin membesar dan sampai pada satu titik kelopak matanya dipaksa menutup oleh otaknya. Respon menutup mata disebabkan oleh jantung Nick yang berdetak semakin kencang. Seakan bila Nick melihat wajah Renzo yang semakin mendekat, jantungnya akan meledak.
"Kamu bermain-main di dalam gudang, tidak aneh kalau ada debu yang menempel pada pipimu."
Tidak hanya Nick yang lega karena dapat bernafas kembali. Near pun akhirnya melepaskan nafas yang tertahan selama ia menyaksikan adegan romantis di hadapannya. Apakah mengambil debu pada pipi seorang gadis harus pelan-pelan seperti itu? Near menggerakkan mulutnya dengan kesal walau tak ada suara yang keluar dari pemikiran dalam kepalanya.
"Sepertinya… kami harus kembali. Teman kami pasti sedang kebingungan mencari kami… Kita pasti bisa bertemu lagi di lain kesempatan," kata Nick dengan suara yang panik. Ia ingin segera melihat ke cermin dan memastikan bahwa mukanya tidak memerah.
Renzo dan Near ikut beranjak berdiri saat Nick berdiri terlebih dahulu. Dengan gerakan yang masih terlihat panik, Nick menundukkan kepala lalu berjalan ke arah lift. Setelah beberapa detik ia baru sadar bahwa ia belum tentu bisa kembali ke lantai satu karena saat memasuki lift sebelumnya Renzo harus memberikan akses dengan kartunya. Hal itu membuat Nick bertanya-tanya sehingga ia terpaksa membalikan badan.
"Aku lupa sesuatu… Renzo, apakah kamu bisa memberikan akses pada kami?" tanya Nick mengundang tawa kecil dari Renzo.
"Kalian bisa langsung turun tanpa menggunakan kartu. Kamu bisa memanggilku Irvine di sini. Dan pastinya namamu tidak lagi Charlotte Dutchswan Alexandria dengan penampilan seperti ini kan, Tuan Putri?"
"Namaku Nick Halberd. Dan dia Near Geraldine. Baiklah, Irvine. Kami pamit dulu dan sampai bertemu kembali."
Irvine melihat ke arah Near dan saling mengangguk satu sama lain untuk memperlihatkan sopan santun. Lalu pandangan Irvine langsung kembali ke arah gadis yang berambut hitam pendek di dekat lift. Pintu lift terbuka dan Near masuk terlebih dahulu sementara Nick tetap bergeming pada tempatnya. Dahi Irvine langsung berkerut saat melihat gadis itu membalikan badan untuk kedua kalinya.
"Aku akan mengunjungimu kembali."
Nick tersenyum lebar lalu masuk ke dalam lift menyusul Near. Setelah pintu lift tertutup, ruangan yang asalnya cukup ramai karena kedatangan dua tamu kini menjadi sunyi seketika. Kesunyian yang sama yang selalu dirasakan oleh empunya ruangan bila tidak ada kehadiran tamu yang terlewat ramah seperti kehadiran Nick.
Irvine menunduk dan melihat ke arah tangannya. Ia tersenyum pada dirinya sendiri sambil membayangkan pertemuan singkatnya dengan tamu yang ditunggu-tunggunya sejak lama.
"Tenang saja, aku yang akan mengunjungimu terlebih dahulu lain kali."