Irvine berjalan ke arah dua daun pintu besar yang berada di ujung ruangan. Pintu itu mengarah pada ruangan lain yang mempunyai luas setengah dari ruangan sebelumnya. Di ruangan kedua lantai tiga Time Pause itu terdapat sebuah meja besar yang berada di persis di depan dinding kaca dengan tirai yang menutupinya. Tujuan Irvine adalah meja tersebut dan ia pun duduk di kursi eksekutif yang terdapat di balik meja. Kursi yang tidak pernah diduduki kecuali oleh dirinya sebagai pengelola klub ini.
Saat Irvine menutup matanya untuk menenangkan pikiran, tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintu ruangan. Irvine menyuruhnya untuk masuk dan sosok yang mengejar Pedro pun terlihat di ambang pintu. Laki-laki berbadan besar menunduk ke arah Irvine, menutup pintu dan menguncinya.
"Ini adalah handphone anak itu. Tapi saya tidak berhasil mengejarnya. Saya…."
"Aku sudah melihatnya dari CCTV. Aku bukan ingin membahas anak itu saat ini. Apa saja yang kamu lakukan di dalam gudang?" kata Irvine sambil mengambil handphone yang diberikan anak buahnya lalu memandang orang di depannya itu dengan tajam.
"Saya mengejar anak itu namun ada dua anak lain yang membantunya. Salah satunya bisa mengeluarkan kekuatan magis, Boss."
"Siapa? Yang berambut hitam atau berambut coklat?"
"Saya tidak tahu pasti. Saya sudah menggenggam pisau dengan erat tapi pisau itu bisa ditarik dengan mudahnya."
Irvine berpikir sejenak mendengar informasi yang dikemukakan oleh anak buahnya. Near Geraldine adalah pegawai Kerajaan Alexandria sehingga seharusnya ia tidak bisa menggunakan kekuatan magis. Putri Charlotte juga seharusnya tidak dapat menggunakan kekuatan magis. Jadi pernyataan yang mana kah yang salah? Apakah ada pegawai kerajaan yang menyembunyikan kekuatannya? Ataukah Putri Charlotte sudah bisa menggunakan kekuatannya saat ini?
Sementara Irvine tidak mengucapkan sepatah kata pun, laki-laki berbadan besar yang berdiri di seberang tempat duduknya hanya bisa menemani atasannya dalam diam. Ia tidak berani melakukan inisiatif untuk berbicara ataupun langsung keluar dari ruangan tanpa seizin Irvine. Menunggu selama beberapa menit jauh lebih baik dibandingkan atasannya menjadi kesal.
"Apakah kamu tahu siapa yang kamu hadapi tadi?"
"Ti..tidak, Boss," kata laki-laki berbadan besar sambil menunduk dan tidak berani melihat wajah Irvine.
"Dia adalah salah satu tuan putri dari Kerajaan Alexandria. Dan aku adalah orang yang pernah menjadi pengawal pribadinya."
Irvine mengatakannya dengan tenang seiring dengan gerakannya yang beranjak dari tempat duduk, membuka laci di bawah mejanya dan mengambil sesuatu dari sana. Lawan bicara Irvine masih menunduk dengan wajah kebingungan. Ia berusaha mencerna bahwa ada yang aneh perkataan atasannya.
"Boss, mengapa Anda memberitahukannya pada saya…."
Laki-laki berbadan besar menghentikan kalimatnya begitu ia mendongak dan mendapati atasannya sedang memegang pîstol di tangan kanannya. Irvine memasangkan suppressor pada muzzle pîstol dengan gerakan perlahan. Seakan tahu bahwa waktu selalu berpihak padanya.
Laki-laki berbadan besar langsung mengerti bahwa ada korelasi antara jawaban dari pertanyaannya dengan pîstol yang dikeluarkan oleh Irvine. Saat Irvine mengôkang pîstol itu, laki-laki berbadan besar sudah berlari dengan panik ke ambang pintu. Sebelum laki-laki berbadan besar berhasil membuka pintu, gerakannya pun terhenti seketika.
Irvine berjalan dengan tenang ke arah ambang pintu untuk menyusul sosok lain yang berada di ruangan yang sama dengannya. Tidak ada yang bergerak di dalam ruangan itu kecuali gerakan yang ditimbulkan oleh Irvine. Laki-laki yang tadinya terburu-buru untuk keluar dari ruangan kini seakan menjadi patung tanpa ada kedipan mata sama sekali. Dua buah titik pada jam digital di atas meja yang seharusnya berkedip setiap detik, kali ini tidak berkedip walau setengah menit sudah berlalu.
Sesuai dengan nama klub malamnya, Irvine dapat menghentikan waktu sesuka hatinya. Begitu pula ia bisa melanjutkan waktu di saat dibutuhkannya seperti saat ini. Setelah ujung suppressor pada pîstol sudah menyentuh kepala laki-laki berbadan besar, Irvine mengembalikan waktu seperti sedia kala.
"Boss…. maaf…."
Tidak ada kalimat utuh yang terucap. Tidak ada pintu yang terbuka. Tembakan yang dilakukan oleh Irvine telah menghentikan gerakan laki-laki berbadan besar untuk selamanya. Irvine hanya melihat ke arah orang yang terjatuh dengan pandangan dingin lalu ia kembali ke arah meja kerjanya, mengambil gagang telepon dan menekan beberapa angka.
"Tolong bersihkan ruang kerjaku."
Hanya sebuah kalimat singkat yang diucapkan oleh Irvine sebelum ia meninggalkan ruangan dengan melewati badan yang sudah tak bernyawa dan tergeletak di atas lantai.
Butuh waktu setengah jam bagi Nick dan Near hingga menemukan Ethan dan Reika kembali di dalam klub malam yang sangat luas itu. Setelah mengitari ruangan-ruangan dan koridor-koridor yang dapat dilewati, akhirnya Nick dan Near melihat dua sosok yang dicarinya berada pada ujung koridor di samping pintu dapur. Nick dapat merasakan pandangan Ethan yang mengintimidasi walau jarak di antara mereka adalah lebih dari sepuluh meter. Pandangan Ethan membuat Nick memperlambat langkahnya karena intuisinya mengatakan bahwa Ethan akan melampiaskan kemarahannya sebentar lagi.
"Pedro?"
Perkataan Near membuat Nick yang sedang berjalan dengan menunduk langsung mendongak dan mengikuti arah pandangan laki-laki di sampingnya. Pedro yang awalnya sedang meringkuk di pinggir koridor kini berdiri menatap Nick dan Near dengan pandangan khawatir. Wajah Pedro yang ceria sudah tidak ada lagi. Mukanya begitu muram dengan rambut yang jauh lebih acak-acakan dari rambut normalnya
Nick tersenyum dengan haru melihat tujuan utama mereka semua datang ke sini telah berhasil diselesaikan. Langkah kaki Nick dipercepat kembali karena ingin memastikan kondisi Pedro baik-baik saja. Pedro memaksakan diri tersenyum saat memandang wajah Nick yang sangat khawatir terhadapnya dan berusaha menenangkan Nick bahwa ia baik-baik saja.
Walaupun Nick sudah tenang melihat Pedro kembali, ekor mata Nick menangkap pandangan yang mengerikan baginya. Perlahan-lahan Nick menaikan bola matanya ke arah atas seiring dengan dagunya yang menaik. Dahi Nick mengerut namun ia berusaha tersenyum sehingga memperlihatkan senyuman yang tak lazim.
"Kami tidak berbuat ulah apa-apa kok. Kami tidak tertangkap oleh penjaga," kata Nick dengan kecepatan tinggi karena panik.
Reika mendekati Nick dengan wajah khawatir lalu menepuk bahu Nick. "Kami mengkhawatirkan kondisimu, Nick. Pedro memberitahukan pada kami bahwa kamu menahan laki-laki yang sedang mengejar Pedro dengan berkelahi."
Nick melihat ke arah Reika dan Ethan bergantian. Ekspresi yang sangat kontras antara kedua orang yang dilihat oleh Nick. Walaupun begitu Nick tahu persis bahwa Ethan pun khawatir dengan kondisinya saat ini.
"Aku tidak apa-apa. Pedro, kamu tidak apa-apa?"
"Iya, Nick. Reika dan Ethan sudah menenangkanku."
Nick menghela nafas dengan lega mendengar jawaban dari Pedro. Namun ia masih belum lega sepenuhnya. Mungkin saja saat ini Ethan tidak langsung memarahinya namun begitu mereka semua sampai di apartemen adalah hal yang lain lagi.
Selama perjalanan ke tempat yang sepi untuk berteleportasi kembali ke apartemen,Nick berusaha mencari alasan yang tepat untuk menutupi pertemuannya dengan Irvine. Banyak alasan yang bisa dikarang oleh Nick dan membuat Ethan supaya percaya dengan perkataan. Namun semua alasan yang dikarangnya tidak membuat Nick menjadi semakin lega. Ia malah semakin merasa bersalah bila berbohong kepada Ethan yang telah ia percaya sepenuhnya. Bagaimanapun Nick lebih tidak ingin membuat Ethan kecewa karena telah berkata tidak jujur.