"Aku sama sekali tidak melihat apa pun, Nick."
"Sama. Aku juga hanya melihat Ethan yang sedang menyandarkan badannya di tembok…." Nick berhenti berbicara dan menambahkannya sendiri di dalam hati : dan ia terlihat tampan dengan hanya berdiri dengan tudung kepala dan masker.
Sementara Nick masih memandangi Ethan dan hanyut dalam imajinasinya sendiri, mata Pedro memindai satu per satu kerumunan orang yang berada di luar bangunan. Nick dan Pedro sedang berada di dalam suatu kafe. Mereka sengaja mengambil tempat duduk di pinggir ruangan supaya bisa mengamati kondisi di luar dari balik dinding kaca.
Pemandangan yang dilihat oleh Nick dan Pedro adalah orang-orang berlalu lalang di atas jalan yang tersusun oleh paving block dan sebuah taman di tengah-tengahnya. Mayoritas dari arus manusia itu adalah para pekerja yang mempunyai tempat kerja di wilayah tersebut. Entah bekerja kantoran di beberapa menara yang tersebar pada lima titik. Ataupun bekerja di tempat makanan dan minuman yang terletak di tengah wilayah perkantoran, seperti tempat yang dijadikan sebagai pangkalan oleh Nick dan Pedro.
Tugas Nick dan Pedro saat ini adalah mengamati gerakan yang mencurigakan saat Ethan dan orang yang ingin ditemuinya bertemu. Ethan ingin meminimalisir resiko yang terjadi bila ada seseorang yang membuntuti gadis yang akan ditemuinya. Jadi bila Nick dan Pedro memberikan tanda pada Ethan, maka Ethan bisa menangkap orang yang membuntutinya dan mencegahnya bertemu dengan Nick. Sudah lima belas menit berlalu dan belum ada tanda-tanda mencurigakan sama sekali dari orang sekitar.
"Mungkin saja orang-orang itu berada di kafe seperti kita?"
"Tidak mungkin, Pedro. Gerakan mereka akan terhambat bila harus keluar terlebih dahulu dan mengejar Ethan."
Pedro mengangguk sebagai respon dari perkataan Nick lalu melemparkan pandangan ke arah luar kaca kembali. Pandangan Pedro menyusuri pemandangan yang sama dari kiri ke kanan secara perlahan seperti sebuah robot yang bergerak dengan kecepatan yang sama. Setelah beberapa menit kemudian, Pedro akan mengulang hal yang sama dari arah kiri ke kanan untuk memastikan ada atau tidaknya perubahan dari hasil pemindaian sebelumnya
Sementara Nick memindai dengan posisi yang acak. Kadang ia melihat ke arah kiri. Kadang kanan. Kadang tengah. Walaupun seringnya pandangan Nick berlabuh pada Ethan kembali. Karena dari semua yang dilihatnya, sosok Ethan yang paling menarik secara visual.
"Menurutmu, apakah kamu akan mengenal pelayan yang Ethan ceritakan tadi?"
"Aku tidak yakin, Pedro. Di tempatku dulu, jumlah pelayannya tidak dapat dihitung dengan jari. Bahkan lebih dari seratus."
"Se.... seratus?"
Karena bosan melihat orang yang berlalu lalang terus menerus, Nick memilih untuk mengistirahatkan matanya dengan menoleh ke arah lain. Dan saat Nick melihat ke arah pengunjung lain di kafe itu, entah mengapa beberapa orang sedang melihat ke arah mereka lalu saling berbisik-bisik. Padahal jarak antara dirinya dan pembeli lain di kafe itu cukup jauh sehingga tidak mungkin percakapan mereka dapat didengar. Apakah suara kami terlalu keras sehingga orang lain merasa terganggu?
Pandangan Nick berhenti sesaat saat melihat sosok teman baiknya saat ini yang cukup menarik perhatian di sekitarnya karena berambut merah. Lalu pikiran Nick pun mulai membayangkan bahwa tempat duduk mereka berdua terlalu dekat sehingga mungkin saja orang-orang sekitar memberikan perhatian pada mereka karena menganggap mereka gây. Sambil merasa geli sendiri dengan kondisinya dan Pedro, Nick menggeser tempat duduknya.
"Seingatku dulu jumlah semua penduduk di tempatku dulu berjumlah ribuan. Tapi saat terakhir aku berada di sana, jumlahnya sudah berkurang drastis karena banyak yang menghilang."
"Kalau begitu akan sulit mengetahui apakah pelayan itu adalah benar-benar dari sana atau bukan."
"Ya, betul. Oleh karena itu Ethan berencana ingin menanyaiku terlebih dahulu. Apabila aku mengenal wajahnya, maka ke depannya akan lebih mudah."
"Tapi kan akan sulit mengingat wajah ribuan orang di sana."
"Aku cukup banyak mengingat wajah orang kok. Aku cukup sering keluar dari kediamanku dan bertemu dengan banyak pegawai di sana.
"Termasuk bertemu dengan Near?"
Nick mengangguk dan termenung membayangkan ucapannya sendiri. Tidak hanya dirinya dan Near yang sudah tidak berada di Kerajaan Alexandria saat ini. Ayah Near, Behdad, dan semua pengawal kerajaan yang meninggal saat mengawal Putri Charlotte pun sudah cukup banyak mengurangi jumlah dari penduduk Kerajaan Alexandria dua tahun lalu. Membayangkan Kerajaan Alexandria yang semakin lama semakin sepi membuat Nick menjadi sedih. Walaupun ia sudah mempunyai kekuatan magis sekalipun, ternyata masih banyak yang harus direncanakan untuk mengembalikan Kerajaan Alexandria seperti masa-masa kejayaan ayah dan ibunya.
Pikiran Putri Charlotte dua tahun lalu hanyalah ingin menjadi lebih kuat. Namun kuat saja nyatanya tidak cukup. Banyak hal yang tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan semata seperti sekarang ini. Andai saja ada pihak oposisi yang mengetahui bahwa Ethan bertemu orang dari Kerajaan Alexandria dan pihak oposisi itu berhasil kabur, maka mereka harus segera mengubah strategi dan tidak bisa hidup tenang seperti sebelumnya. Dan semua rencana telah disiapkan oleh Ethan untuknya. Nick berulang kali bersyukur bahwa orang yang diutus untuk mengawasinya adalah seseorang yang sangat bisa diandalkan seperti Ethan.
Bola mata Nick pun bergerak ke bawah setelah ia selesai bernostalgia dan mengingat ucapan Ethan. Saat arah pandangannya lurus ke depan, Nick langsung mengerjapkan kedua matanya karena kaget. Bagaimana ia tidak kaget bila seseorang memandangnya dengan tajam dan memergokinya sedang tidak melakukan tugasnya.
Nick langsung membelalakan mata dan memberikan tanda "ok" dengan kedua jarinya. Setelah Ethan berhenti mengawasinya, Nick pun langsung melihat kondisi sekitar kembali.
"Pandangannya tetap mengintimidasi walaupun berjarak puluhan meter sekalipun," kata Nick dalam hati sambil berusaha menghilangkan pandangan intimidasi Ethan dari benaknya.
"Ethan sudah bergerak. Orangnya sudah datang."
Perkataan Pedro membuat Nick langsung memfokuskan pandangan pada titik tengah taman di hadapannya. Ciri-ciri dari gadis itu adalah berambut pirang. Walaupun Nick tidak perlu mengetahui siapa gadis itu dan hanya perlu mengawasi kondisi sekitar, namun pandangan Nick tidak dapat lepas dari sosok berambut pirang yang seperti sedang mencari seseorang. Tepat saat gadis berambut pirang menoleh ke arah Nick sehingga wajahnya terekspos dengan jelas, Pedro memukul-mukul bahu Nick.
"Arah jam sembilan! Dia melihat ke arah gadis itu," kata Pedro dengan suara panik.
Pandangan Nick langsung berubah sesuai dengan informasi dari Pedro. Dan benar saja. Ada seorang laki-laki yang memakai jas hitam sedang memandang ke tengah-tengah taman sambil berjalan sedikit demi sedikit. Sementara itu Ethan juga berjalan ke arah tengah dari arah jam dua belas untuk menemui si gadis berambut pirang.
Sesuai dengan rencana yang telah diutarakan Ethan sebelumnya, Nick harus cepat-cepat memberikan informasi pada Ethan mengenai orang yang mencurigakan tersebut. Sedangkan Pedro masih mengawasi orang yang mencurigakan sambil tetap memperhatikan sekelilingnya. Ethan mengatakan bahwa bisa saja ada banyak orang diutus untuk mengawasi pertemuan ini.
"Bila dari tempat ini adalah arah jam sembilan, maka dari tempat Ethan adalah arah jam tiga. Laki-laki berumur empat puluh tahun. Berambut dan berkumis abu-abu. Jas hitam. Tas selempang coklat tua," gumam Nick sambil melihat ke arah orang yang mencurigakan dan mengetik beberapa kata utama pada layar handphone nya.
Posisi Ethan, gadis berambut pirang dan laki-laki yang mencurigakan pun semakin dekat satu sama lain. Semakin dekat posisi ketiga orang itu maka Nick sudah harus bersiap-siap untuk bertindak. Mata Nick terkunci pada laki-laki yang mencurigakan dengan jempol yang sudah siap berada di atas bagian layar yang memperlihatkan simbol pesawat kertas. Sebuah simbol yang menggantikan perintah untuk mengirimkan pesan.