"Eh?"
Jempol Nick hampir saja menyentuh layar handphone bila fokusnya terdistraksi. Untungnya Nick masih berkonsentrasi melakukan tugasnya dengan baik sehingga tidak perlu melakukan sesuatu yang bisa membuat kegemparan. Laki-laki yang dicurigai sebagai pihak oposisi ternyata hanya penduduk Kota Windhill biasa. Laki-laki itu bukan mengincar gadis berambut pirang di tengah-tengah taman Windhill Business District dan bukan mengincar Ethan. Ia hanya bertemu dengan seseorang di arah yang sama dengan pemikiran Nick dan Pedro.
"Ternyata hanya orang biasa. Tidak ada yang mencurigakan lagi kah?"
Sementara Pedro masih mengamati keadaan sekitar, pandangan Nick mengarah pada Ethan yang sedang mengobrol dengan gadis berambut pirang. Ia berusaha melihat gerak-gerik gadis itu dan mengingat sesuatu.
"Tampaknya aku tahu pelayan itu," kata Nick lagi sebelum Pedro menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Sepertinya tidak ada yang mencurigakan lagi dan mereka sudah selesai berbicara. Tadi apa yang kamu katakan, Nick?"
"Bukan apa-apa. Ayo kita pergi dari sini sekarang. Ethan pasti sudah menunggu kita."
Nick tersenyum pada Pedro lalu menyedot es coklat yang tinggal bersisa seperlima gelas dengan sedotan. Tidak mau menyisakan minuman favoritnya sama sekali, Nick baru beranjak dari tempat duduknya setelah gelas di hadapannya sudah benar-benar kosong. Lalu Nick berlari ke arah Pedro yang sudah lebih dahulu keluar dari kafe itu.
Nick dan Pedro berjalan cepat menuju tempat yang biasa mereka kunjungi yaitu tempat yang menjadi tempat berlatih dari Nick saat mencoba ilmu magis. Letaknya tidak jauh dari Windhill Business District sehingga mereka hanya perlu berjalan kaki saja.
Kerumunan orang yang padat di sepanjang Business District kini sudah berkurang saat Nick dan Pedro berada di jalan raya yang penuh dengan kendaraan. Pada jam makan siang saat itu tidak terlalu banyak orang yang keluar dari wilayah Business District karena semua kebutuhan mereka sudah terpenuhi di dalam sana. Arus pejalan kaki yang berada di trotoar hanyalah orang-orang yang ingin melintasi jalan raya itu untuk pergi dari satu wilayah ke wilayah lain di dalam Kota Windhill.
Semakin dekat dengan tempat tujuan, jumlah orang yang berada di sekitar Nick dan Pedro pun berkurang demi sedikit. Sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah gedung terbengkalai dengan pagarnya terbuat dari seng. Tidak ada orang-orang yang berada di wilayah itu, kecuali Ethan, Nick, Pedro dan gadis yang dibawa oleh Ethan. Mereka berempat mengitari pagar seng dan menemukan pintu masuk yang sudah ditutup dengan garis polisi. Mereka mengabaikan tanda itu dan masuk begitu saja.
Setelah menaiki dua lantai dan berada pada sebuah tempat parkir luas di gedung terbengkalai, akhirnya Ethan pun berhenti bergerak sehingga gadis di sebelahnya mengikutinya untuk berhenti. Ethan melihat sekitar dan melihat ada dua sosok yang berada beberapa puluh meter dari posisinya. Saat mengikuti arah pandangan Ethan, si gadis pun menjadi waspada. Bagaimanapun yang ia lihat adalah dua laki-laki sehingga tidak mengira bahwa Putri Charlotte adalah salah satu dari mereka berdua.
"Ilona!" teriak Nick setelah posisinya sudah cukup dekat dengan orang yang dipanggilnya.
Semangat dan senyuman Nick belum bisa membuat gadis bernama Ilona itu menjadi sadar dengan orang di hadapannya. Ilona masih kebingungan. Ia melihat ke arah Nick dan Ethan bergantian. Berharap orang di sampingnya itu memberikan petunjuk atas apa yang terjadi.
"Putri Charlotte harus menyamar di Kota Windhill. Ia tidak mungkin berkeliaran dengan penampilan tuan putri, bukan?" kata Ethan berusaha mempermudah situasi dengan memberikan penjelasan.
"Tu...tuan putri….?"
Nick mengangguk dan tersenyum lebar saat dirinya dan Ilona hanya berjarak sekitar satu meter. Secara otomatis wajah Ilona berubah seratus delapan puluh derajat dari yang asalnya kebingungan menjadi penuh haru. Mata Ilona berkaca-kaca dengan bentuk mulut yang terbuka dan memperlihatkan senyuman perlahan-lahan. Air mata Ilona pun tidak dapat terbendung saat Nick memeluknya.
"Tenang saja, aku tidak akan memarahimu karena tidak berhasil membawakan tupai pada malam itu."
Tangisan Ilona diselingi oleh senyuman geli karena ucapan tuan putrinya itu. Berkali-kali Nick harus menepuk-nepuk punggung Ilona karena mantan pelayan Alexandria itu berusaha berbicara dengan terisak-isak. Ilona mengucapkan rasa syukur karena Putri Charlotte masih hidup dan ia bisa bertemu dengannya kembali.
Sementara pemandangan haru berlangsung beberapa saat, Pedro membuatkan kursi untuk dirinya dan Ethan supaya Ethan tidak pergi begitu saja karena malas menunggu dua perempuan yang sudah lama tidak bertemu. Pedro juga menahan Ethan dengan memberikan hasil dari tugas yang diberikan Ethan dan menanyakan apa yang akan dilakukan setelah ini.
"Sementara dia akan disembunyikan di Pehme Tera Bar," kata Ethan dengan pandangan mengarah pada kedua gadis yang berada beberapa meter di depannya.
"Jadi ia bisa bertemu dengan Nick bila Nick sudah kembali bekerja?"
"Aku tidak yakin Nick akan kembali bekerja. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi setelah kejadian kemarin, jadi aku akan meminimalisir Nick untuk keluar di malam hari. Kamu masih ingat kan apa yang harus kamu lakukan bila ada orang yang mencurigakan dan mendekati Nick ataupun ada orang yang berusaha masuk ke dalam ruang apartemenku?"
"Aku harus cepat-cepat meneleponmu."
"Ya, jangan lupa itu. Mungkin anak buah Irvine tidak hanya mendatangi Pehme Tera Bar tapi juga akan mendatangi tempat tinggal kita."
"Ta...pi… bagaimana mungkin dia tahu tempat tinggal? Apakah karena handphone ku yang tertinggal?"
Pedro melihat ke arah handphone baru nya yang baru saja diberikan oleh Ethan saat berada di apartemen. Lagi-lagi perasaan bersalah menghantui Pedro karena telah ceroboh meninggalkan barang pribadinya di Time Pause.
"Irvine akan dengan mudahnya mencari identitas dari Nick kalau ia mempunyai rencana terhadapnya. Ia mempunyai banyak sekali anak buah yang tersebar di klub malam dan bar miliknya. Dengan menggunakan riwayat rekaman dari CCTV, akan cukup mudah mencari di mana Nick bekerja lalu mengetahui tempat tinggal kita."
"Ja….di…. Apa yang harus kita lakukan setelah ini?" tanya Pedro sedikit takut dengan semua hal yang ternyata bisa dilakukan oleh Irvine.
"Bila aku tidak berhasil mendapatkan informasi dari informan. Sepertinya kita harus pergi ke Kerajaan Alexandria."
Dari semua perkataan Ethan, kalimat Ethan terakhirlah yang membuat Pedro paling takut. Ethan pernah mengatakan bahwa rencana untuk masuk ke dalam Kerajaan Alexandria adalah rencana paling akhir yang berada dalam daftar Ethan. Bila Ethan sudah mengucapkan daftar terakhir tersebut, berarti rencana lain telah gagal dilaksanakan ataupun waktunya sudah tidak ada.
"Jadi, Pedro. Tolong bantu Nick supaya ia mendapatkan ilmu magisnya sesegera mungkin."
Pedro menelan ludahnya dengan gugup. Sambil berusaha menahan rasa takutnya, Pedro mengangguk yakin atas permintaan Ethan. Ia berjanji pada dirinya sendiri saat itu bahwa ia akan menepati permintaan Ethan dan menjadi lebih berani dalam menghadapi masalah yang ada di hadapannya.