Malam itu Rafael membuka pintu rumahnya yang sudah sepi, lampu ruang tamu sudah mati. Dia menutup pintu perlahan dan menguncinya.
"Kau sudah pulang?" Seru wanita paruh baya yang masih terbilang cantik, sangat cantik, saking cantiknya dia tidak cocok dipanggil nenek. Di umurnya yang sudah melewati kepala enam, dia masih senang berolahraga dan memanjakan diri, maka tak heran jika dia sangat terlihat 20 tahun lebih muda dari umurnya.
"Ibu" panggil Rafael semakin masuk ke dalam rumahnya.
Wanita yang menjabat sebagai ibu Rafael pun mencari saklar dan menyalakannya, ruangan seketika terang.
"Ibu belum tidur?" Rafael melingkarkan satu tangannya di pinggang sang ibu lalu mengecup pipinya. Hari ini ibunya menjaga anak-anaknya seperti biasa.
Ralina mengulur tangan ke belakang untuk mengusak rahang tegas anaknya, menikmati curahan kasih sayang dari anaknya. "Aku menunggumu, Sayang. Kau sudah makan?" Tanya Ralina dengan nada mendayu penuh kasih sayang juga.
Rafael ikut tersenyum dan melepas pelukan, dia pun mengangguk, "bagaimana dengan ibu dan anak-anak? Anak-anak sudah tidur?" dia berjalan menuju kamar anak-anaknya yang berada di sisi kiri, lau membuka pintunya. Dan seketika hatinya menghangat tatkala melihat Randy dan Queenzy yang terlihat damai di kasur masing-masing.
Ralina ikut melongok cucu-cucunya yang terlihat berbanding terbalik kebiasaan tidurnya, Randy dengan gaya gemulainya dan Queenzy dengan gaya urakannya. "Sudah, tadi Queenzy merengek minta pizza, jadi aku ajak keluar, sekalian ibu ajak berbelanja bahan makanan," jelas Ralina dengan suara pelan, "kulkasmu kosong sekali Raf, jadi ibu sekalian belanja bahan makanan untuk kalian" katanya.
Rafael terkekeh, dia lupa untuk mengecek bahan makanan yang ada di kulkas, beberapa hari ini dia tidak fokus, ntahlah, mungkin dia hanya pusing sedikit. "Terima kasih bu" katanya sembari menutup pintu kamar anak-anaknya kembali.
Mereka kembali berjalan menuju ruang tengah sedangkan Rafael yang hampir berjalan menuju kamarnya jadi mengurungkan niat saat mengingat sesuatu yang beberapa hari ini mengganjal pikirannya.
"Bu," panggilnya, dia balik badan, menghadap tepat di depan ibunya.
Ralina mengangkat sedikit ujung alisnya, seakan bertanya 'kenapa?'
Rafael terlihat gugup, dia menunduk, tak tahu apakah dia berani untuk menjelaskan apa yang dia rasakan pada ibunya sekarang, ataukah tidak, dia gamam. Bibir dalamnya bahkan dia gigit untuk meredakan kecemasannya.
"Hmm...Ada yang ingin aku bicarakan" katanya akhirnya.
"Apa itu?" tanya Ralina. Rafael menggenggam tangan ibunya.
"Hmm" kembali, dia mengusap tengkuk, seketika lehernya terasa dingin, mungkin tidak hanya lehernya tetapi atmosfer yang ada di ruangan itu.
"Bicaralah" Ralina menggapai tangan anaknya lalu mengusapnya dengan penuh kelembutan. Mau sebesar apapun Rafael dia tetaplah bayinya. Karena hanya Rafael satu-satunya anak yang dia punya.
"Aku..." Rafael menundukkan kepala, takut untuk menatap ibunya secara langsung. "Aku...aku ingin perjodohan dibatalkan" katanya cepat.
Sontak Ralina mendangak menatap anaknya, wajahnya mengeras, dia tidak tahu apa yang merasuki anaknya sampai bisa berkata demikian. Ini pertama kainya Rafael menolak ucapannya, biasanya dia akan selalu menurut dan menerima apapun yang Ralina ucapkan.
"Maaf bu, tapi sepertinya aku memang harus membatalkan perjodohan dengan Beverlly" katanya dengan nada menyesal tetapi rautnya mengeras datar, pertanda kalau dia serius dengan semua yang dibicarakan.
"Ada apa denganmu, Rafael?!" seru sang ibu menatap tajam pada anaknya. Bukankah anaknya sudah setuju dengan semua yang telah ditentukan? Kenapa sekarang dia malah menolaknya?
Rafael mengeratkan genggaman pada tangan ibunya "maafkan aku bu, tapi aku sudah besar, aku punya pilihanku sendiri" katanya kini menggenggam kedua tangan ibunya meyakinkan.
"Beri aku alasannya"
Rafael menahan napas untuk sesaat sebelum akhirnya menarik napas dan menghelanya dengan panjang, "anak-anakku tidak bisa menerimanya"
"Aku yang akan meyakinkan mereka" seru Ralina dan hampir masuk ke dalam kamar anaknya dengan gegabah, segera Rafael mencengkram tangan ibunya agar tidak pergi darinya.
Perlahan genggaman tangan itu melemah sampai akhirnya terlepas begitu saja. Dia menghela napas "lagipula aku tidak mencintainya, Bu" jelasnya pasrah.
Raut muka Ralina kembali mengeras, terlihat sekali jika dia menahan amarahnya. Mungkin sifat pemarah Rafael menurun darinya.
"Apa yang kau tahu soal cinta?" serbu ibunya.
Rafael terdiam seribu bahasa. Ya benar, apa yang Rafael tahu soal cinta? Yang dari dulu dia lakukan hanyalah menyakiti hati perempuan, berbuat onar sampai akhirnya membuahkan dua orang anak. Ditambah menikah dengan seseorang yang tidak dia cintai, apakah sampai sini Rafael masih mengerti soal cinta?
Ralina sangat mengenal anaknya, cinta bukanlah hal penting bagi Rafael, dia bahkan bisa menerima wanita manapun untuk disandingkan dengannya. Dan sungguh, hanya untuk hal seperti ini kenapa Rafael malah tidak bisa menerimanya?
"Beri tahu aku seseorang yang benar 'kau menicintainya' maka jika ada aku akan membatalkannya" ancam Ralina sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar Queenzy dan Randy dan meninggalkan Rafael sendirian dalam kegundahannya.
Rafael menendang hampa, dirinya sudah kepalang teracuni amarah, tangannya bergerak untuk mengusap wajah hingga membawa rambut depannya ke belakang. Benar, dia tak memiliki siapa-siapa soal cinta, dan dia bahkan tak tahu apa itu cinta? Dia memang pernah merasakannya di waktu pernikahan bersama mantan istrinya, namun apakah bisa disebut cinta jika saat dirinya mencintai seseorang tapi orang itu malah pergi begitu saja meninggalkannya dengan kedua anaknya? Apakah ini yang disebut dengan cinta?
Jika iya, ternyata cinta itu menyakitkan juga.