Saat ini keduanya sudah berada di mobil. Suasana benar-benar canggung, tak ada yang coba untuk berucap walau hanya satu kata pun. Baik Jessie dan Antolin sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Antolin yang fokus mengemudi, dan Jessie yang fokus menetralkan detak jantungnya.
Daritadi gadis cantik itu hanya menatap keluar jendela dengan menghembuskan napas berkali-kali, tak berani dia menoleh hanya untuk melirik wajah tampan dokter yang ada di sebelahnya kini.
'Rileks Jes, rileks' bisiknya dalam hati. Kembali, dia menghembuskan napas saat merasa otaknya hampir pecah karena memikirkan ketampanan si dokter ini.
Antolin mengernyit bingung saat melihat gadis di sebelahnya hanya berdiam diri memunggunginya.
"Jes, kau tak apa?" tanyanya.
Hanya mendengar suaranya saja Jessie sampai terperanjat kaget, dia pun menoleh dan tersenyum kikuk. "Y yaa...aku baik-baik saja" jawabnya.
"Tapi wajahmu agak pucat, kau sakit?"
Jessie menggeleng. "Tidak" balasnya cepat.
Mana mungkin dia bisa merusak hari bersejarah seperti ini. Ya, berduaan dengan dr. Raynold adalah hal terpenting dalam hidupnya, kapan lagi dia bisa berduaan dengannya?
Antolin pun mengangguk. "Kau lapar?"
Jessie enggeleng, "tidak" jawabnya cepat.
kruyyukkkk
Duh, sial. Umpatnya.
Lelaki tampan itu pun tertawa, "aku harap itu bukan berasal dari perutmu" katanya yang membuat Jessie terkekeh malu.
Ah, benar-benar menyebalkan, sudah berapa kali Jessie memperburuk imagenya di depan dokter tampan satu ini? Lebih baik dia menceburkan diri saja ke Palung Mariana.
Antolin membelokkan mobilnya ke sebuah restoran yang terkenal mewah, dari depannya saja sudah bisa ditebak dengan banyaknya mobil mewah yang berjejer di dalamnya. Jessie terkejut saat melihat restoran mahal yang dimasuki Antolin.
Ya, di sini harganya mahal, harga makanannya setara dengan bayaran sewa apartemen Jessie. Miris.
"Dok, kenapa kita ke sini?" tanyanya.
Antolin agak terkekeh. "Perutmu buruh diisi bukan?"
"I iya...tapi di sinikan mahal, aku mana ada uang untuk membayarnya..."
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk bayar, aku akan meneraktirmu"
"Tap...tapi..."
Antolin lagi-lagi terkekeh, sebelum akhirnya geleng kepala, "ayo turun" pintanya keluar mobil.
Jessie yang ingin melontarkan protes lagi jadi mengurungkan niatnya, dia pun menghembuskan napas panjang. "Bersiaplah, kau akan makan makanan enak hari ini" katanya mengajak bicara perutnya dengan nada lesuh sembari mengelusnya.
Dia pun turun mobil sembari menghembuskan napas panjang.
Mereka duduk di kursi kosong, di barisan ketiga dekat jendela kanan resto. Pelayan mendatangi mereka dengan ramah dan memberikan menu.
Jessie membuka menu dan membaca setiap menu makanan yang tertera. Betapa terkejutnya dia saat melihat harga makanan yang ada di menu setara dengan harga sewa apartemennya, mulutnya menganga lebar dan bahkan dia hampir menangis. Dia melirik Antolin yang terlihat sibuk memilih makanan dengan santai.
Jessie menyembulkan kepalanya dari sisi buku menu yang tak dapat dilihat oleh pelayan, "psssttt, dok" panggil Jessie berbisik.
Antolin ikut menggeser wajahnya ke arah Jessie, "ya?"
"Kau yakin akan makan di sini?" tanyanya masih tak percaya.
Antolin menutup wajah sebelah kanan dengan buku menu agar sang pelayan tidak tahu apa yang mereka bicarakan "iya kenapa?" Balas Antolin pelan.
"Di sini mahal, lebih baik kita cari yang lebih murah"
"Tidak masalah, makanan ini tidak langsung membuatku jatuh miskin"
Tapi membuat Jessie terlihat miskin...
Pelayan tersebut menatap kedua pelanggannya dengan bingung, apa yang kedua pelanggannya itu bicarakan?
Jessie tertegun mendengar ucapan lelaki berkacamata di depannya.
Antolin kembali menegakkan tubuhnya dan kembali membaca menu.
"Snapper Pasta satu dan Lemon green satu." katanya. Jes kau mau apa?"
Pelayan tersebut segera mencatat pesanan Antolin.
"A ah samakan saja" katanya dengan wajah kaku. Bahkan untuk membaca menu saja, Jessie tak kuasa. Mahal sekali Tuhan.
"Baiklah berarti dua" kata Antolin pada sang pelayan.
"Ok, silahkan ditunggu. Terima kasih" ujar Pelayan setelah menulis pesanan mereka dan berlalu.
Jessie masih menatap tidak percaya pada Antolin, membuat lelaki itu kebingungan, "ada apa?"
Jessie pun menggeleng dan akhirnya menatap keseluruh ruangan, menilai betapa menakjubkannya restoran mewah ini. Penerangan yang minim, alunan piano yang menggema lembut, pengunjung yang terlihat mengenakan pakaian-pakaian mahal. Lihatlah, dia sampai menunduk untuk memperhatikan pakaiannya sendiri, hanya kaos berluaran kemeja dan juga celana jeans, ya ampun, sungguh Jessie benar-benar malu.
Antolin tersenyum saat Jessie terlihat menutupi dirinya dengan kemeja lalu mengecilkan badannya agar terlihat tak nampak di mata orang-orang. Dia sungguh menggemaskan, di mata Antolin Jessie adalah wanita sederhana yang paling menganggumkan, tidak banyak tingkah, menggemaskan, dan sangat pekerja keras, dari pagi sampai malam dia harus bekerja, walau dengan upayah dirasa sangat tidak sepadan dengan pekerjaannya, tapi gadis itu masih tetap setia bekerja di kantin itu.
Bisa dibilang Jessie adalah panutannya dalam hal untuk bekerja keras.
Tak lama pesanan mereka pun datang dan mereka pun menikmati makanan mereka dengan obrolan-obrolan ringan.
Selepas makan, mereka kembali menyusun rencana untuk tidak pulang lebih dulu dan memilih untuk bercengkrama di alun-alun kota yang jaraknya tak jauh dari restoran tadi. Ngomong-ngomong tadi Jessie hampir pingsan saat Antolin membayar makanan mereka sebanyak 5 bulan gajinya jika dijadikan satu. Sungguh, dia merasa bersalah sudah menghabiskan uang Antolin hanya untuk sekali makan, tapi Antolin hanya tersenyum dan berkata 'tak apa, rejekimu'
Rasanya Jessie jadi ingin cepat kaya agar bisa membalas kebaikan dokter satu ini.
Mereka berjalan dengan santai, dengan es krim cone yang menemani tangan masing-masing. Kali ini Jessie yang meneraktir, hitung-hitung sebagai bayar balas budi atas makanan tadi, ya walaupun harganya berbeda jauh beribu kali lipat.
"Jes, bagaimana kalau kita bermain?" Seru Antolin menghilangkan kesunyian antara mereka berdua.
Jessie menoleh sembari menjilat ice cream cone miliknya yang masih banyak. "Permainan apa, dok?"
"Sebelumnya jangan panggil aku dok, panggil namaku"
Jessie mengangguk kaku, "ba baiklah, dok oh Antolin" Jessie sedikit risih dengan panggilan baru itu.
"Pintar" senyum Antolin.
'Ya Tuhan, aku merasa seperti es krim ini, aku akan meleleh!' Teriak Jessie dalam hati.
"Jadi aku akan memberi pertanyaan, lalu kau harus menjawabnya, setelah itu aku yang jawab dan setelahnya kau yang bertanya aku yang menjawab lalu dirimu, mengerti?" Jelas Antolin yang diangguki Jessie sebagai tanda paham.
"Baiklah, aku dulu. Hmm, siapa nama aslimu?" Tanya Antolin.
"Jessie Allison" jawab Jessie.
"Margamu?".
"Hmm, Scharell, kau?"
"Antolin Ryan Raynold"
Jessie mengambil duduk disalah satu bangku taman, diikuti Antolin di sampingnya "dari mana asalmu?"
"Toronto, Canada" jawab Antolin.
Matanya membulat, dia baru tahu kalau Antolin orang Kanada."Wow. Kukira kau orang New York. Aku dari Diamond Bar, California"
"Dugaanmu salah, haha" tawanya yang terlihat semakin tampan bagi Jessie. "Tanggal lahirmu?"
"14 Juni"
"13 Juni, kita beda sehari?" seru Antolin.
"Jika tahu seperti itu, kita rayakan bersama" gelak Jessie. "Umurmu?"
"39 tahun"
Jessie kembali terkejut. "Ternyata kau sudah tua," komentarnya, " aku 25 tahun"
"Kau yang kemudaan, haha. Idola?"
"Hmm, pria atau wanita?"
"Dua-duanya"
"Pria aku suka Robert Pattionson kalau wanita aku suka Angelina Jolie"
"Aku suka Brian Mcknight dan Nicki Minaj"
"Aku tidak menyangka kau suka yang eksotis, haha"
"Bagiku wanita eksotis itu lebih menarik"
"Ya ya ya, sepertinya aku tidak termasuk." atanya merasa kalah. Antolin pun hanya menanggapinya dengan tawa. "Hmm apa ya, apa yang kau tidak suka?" Jessie menjilat es krimnya untuk kesekian kalinya, es krimnya sudah setengah.
Antolin membenarkan duduknya menghadap Jessie, ditatapnya wanita yang hanya bekerja sebagai penjaga kantin "hal yang aku tidak suka adalah melihatmu menguncir rambut" tangannya terulur menarik ikatan rambut yang lolos dengan gampangnya dari rambut berkilau Jessie.
Jessie terdiam melihat perlakuan Antolin, namun matanya langsung membola, ini di luar dugaan. Dia tidak pernah tahu kalau Antolin memperhatikannya.
"Bagaimana denganmu? Apa yang kau tidak suka?" Tanya Antolin.
Jessie tersenyum kaku, "aku tidak menyukai...hmm, kacamata ini ada di matamu" Jessie mengulurkan tangannya untuk mengambil kacamata Antolin yang tersemat di hidung bangir dokter tampan itu, dia memberikan es krimnya pada Antolin. "Dan mungkin sedikit ponimu" kembali si penjaga kasir dengan tidak sopan mengacak poni dokter itu sehingga membuatnya terlihat lebih tampan. "Ini keren" lanjutnya mengacungkan ibu jari.
"Oh tidak, aku butuh kacamataku" mata Antolin memang benar minus, itu kacamata asli bukan untuk bergaya.
"Sebentar, aku punya kontak lensa, aku harap pas dan cocok di matamu" Jessie merogoh tasnya dan mengambil tempat kecil berbentuk dua bulatan, dia mengambil lensa berwarna coklat sebelah kanan yang sangat cocok di mata Antolin yang juga berwarna coklat.
Jessie meneteskan air lensa lalu memakaikannya pada Antolin. Agaknya si dokter tampan itu bingung, kenapa Jessie memiliki kontak lensa?
Lelaki itu mengedipkan kedua matanya. Ini sangat aneh rasanya, seperti ada yang mengganjal di mata. Mungkin karena baru pertama kali memakainya, seperti ada yang mengganjal.
"Oke" Jessie tersenyum saat tahu bahwa lensa mata yang dibelinya pas untuk Antolin. "Tenang saja, ini baru aku beli semalam, aku tidak memakai lensa"
Lantas buat apa Jessie membelinya?
Jessie hanya membalas dengan senyuman manis.
"Ini gratis untukmu" Jessie memberikan tempat lensa dan botol air lensa pada Antolin dan kembali mengambil eskrim miliknya. "Apa kau bisa melihat dengan jelas?"
Antolin mengangguk "lumayanlah walaupun belum terbiasa, kenapa kau membelinya jika tidak memakainya?"
Jessie terkekeh kecil sebelum akhirnya menarik napas, "sudah jadi kebiasaan saja, aku membelinya rutin. Biasanya aku membelikannya untuk seseorang, tapi orang itu saat ini sedang tidak bisa memakianya"
Antolin mengernyit, membuat Jessie terkekeh lagi. "Sudah lanjut lagi" katanya.
Dia lebih memilih menggedikan bahu, berusaha tak peduli, karena mungkin Jessie tidak ingin cerita. "Baiklah, lanjut. BFF?"
"Best Friend Forever?"
Antolin mengangguk.
"Stephanie Arlin Rubbs"
"Hm, sebenarnya aku tidak yakin, tapi mungkin Rafael Darryn Lucas" jawabnya yang membuat Jessie tertawa.
"Sudah kuduga" Jessie memakan cone eskrimnya. "Bagaimana kau bisa berkenalan dengannya?"
Antolin membuang cone eskrimnya yang tersisa dan mengelap tangannya yang lengket "dia teman kuliahku dulu"
"Sudah lama berarti?"
Antolin mengangguk "ya seperti itulah, tapi setelah kita lulus, kami sempat berpisah. Dia bekerja di Departemen bedah pusat, sedangkan aku di rumah sakit"
Jessie mengangguk-angguk mengerti "tapi dia kerja di rumah sakit sekarang?"
"Ya, dia di rekomendasikan kembali ke rumah sakit sekitar dua minggu lalu"
"Pantas saja aku baru melihatnya" katanya mengangguk. "Ishh, aku jadi benci jika harus mengingat awal kami bertemu"
"Kau hampir ditabraknya karena kau bermain gadget di tengah jalan?" tebak Antolin diselingi tawa. Tentu saja Rafael akan menceritakan hal seperti ini padanya, burung mengotori mobilnya saja dia pasti cerita pada Antolin.
Jessie memasang wajah kesal "sudah jangan dibahas lagi, itu sangat menyebalkan"
"Haha, baiklah" Antolin berusaha menahan tawanya. "Bagaimana kau bisa berkenalan dengan dr.Rubbs?"
"Dia sering datang ke kantin, selain itu dia sempat membantuku dalam belajar. Dulu aku kuliah"
"Jurusan apa?" Tanya Antolin antusias.
"Jurusan kedokteran"
"Wow kau dokter juga?" Tanya Antolin tercengang.
Jessie menggeleng, wajahnya tertunduk lesuh namun senyumnya masih mengambang "Belum, aku keluar saat pertengahan semester"
"Kenapa?" kernyitnya.
Jessie menghela nafas "beasiswaku dicabut karena nilaiku semakin merosot, dan aku sendiri tidak mau mengamnbil pinjaman mahasiswa" katanya, "jadi terpaksa aku keluar" jelasnya dengan sneyuman manis yang sengaja dia paksakan.
"Sayang sekali. Aku yakin kau bisa menjadi dokter hebat." katanya.
Jessieterkekeh malu. DIliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, sudah tengha malam ternyata, tidak terasa mereka terus berbincang sampai tak ingat waktu "dok, sudah malam. Sebaiknya kita pulang"
Antolin melirik Jessie, dia kembali menikmati jalanan yang mulai sepi. "tidak sebelum kau memanggilku Antolin"
Kembali, semburat manis itu muncul di wajah si cantik, membuat senyuman ikut terbentuk pada wajah "Baiklah Antolin, ayo pulang" panggilnya diiringi senyuman lebar.
"Pintar. Ayo kita pulang" katanya mengelus kepala Jessie.
"Kan tadi aku yang mengajak" protesnya.
"Sekarang aku yang mengajak"
"Ish" sungutnya memukul lengan si dokter hingga membuat si dokter meringis.
"Haha" tawa pun mengiringi langkah mereka yang kembali menuju mobil, menutup malam itu dengan senyuman indah.