Setelah kejadian memalukan tadi, Jessie tak henti-hentinya melamun, memikirkan apa yang akan dia lakukan jika bertemu lagi dengan si dokter tampan itu.Berkali-kali dia gagal fokus saat bekerja. Dia benar-benar malu sampai rasanya ingin melarung diri ke sungai.
“Ahh” erangnya sembari mengacak-acak rambutnya sendiri. Ini benar=benar membuatnya gila, ya ampun.
"Jes" panggil seseorang yang langsung membuat Jessie terkejut, dia pun berlaga seperti tidak ada apa-apa. “Kau kenapa?” tanya orang itu sembari mengernyit bingung.
Betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang memanggilnya, matanya sampai membola bulat, mulut menganga, dan jantung yang terus berdetak bak hampir terhantam bom atom. Dia benar-benar di dalam kepanikan yang nyata.
dr. Raynold. Lelaki yang ingin dia hindari dari muka bumi kini malah menampakkan diri tepat di depannya, dengan wajah tampannya yang terlihat khawatir.
“D dokter…” seru Jessie berusaha menetralkan keterkejutannya.
"Kau tak apa?" tanya Antolin yang masih khawatir dengan saat gelagat aneh penjaga kantin satu ini.
Tolong siapapun, buatkan lubang hitam yang amat dalam sampai ke inti bumi untuk Jessie sekarang juga, dia ingin melenyapkan diri sekarang juga. Sungguh, malu.
"A ah tak apa, aku ke belakang dulu ya" kaki jejanjangnya melangkah menuju dapur.
Dua kali saja dia melakukan perbuatan gila di depan pujaan hatinya, kalau begini terus lebih baik Jessie pindah saja ke Mars.
"J Jes tunggu" dia menghentikan langkah Jessie, bhakan dia menerobos masuk ke dalam meja pantry, kini lelaki itu berdiri tepat di depan si wanita. Seketika detak jantung Jessie tidak tenang, bisa tolong lihat apakah kaki Jessie masih menapak ke tanah?
“Kau tak apa?” tanya lelaki itu sembari meletakkan tanganya di bahu Jessie.
Jessie mencoba menetralkan detak jantungnya yang sedang disko, matanya tak ubahnya selalu mengedip untuk mengembalikan kewarasannya yang sedang mengawang di luar angkasa. "A aku baik-baik saja" gagapnya salah tingkah.
"Benar begitu?" Antolin semakin mendekat, menatap Jessie masih dengan pandangan khawatir.
Aduh, apakah dokter satu ini memnag niat ingin membunuh Jessie secara perlahan? Apakah dia tak tahu kalau saat ini jantungnya berdetak begitu kencang sampai hampir mencelos. Jessie yakin 1000% kalau wajahnya saat ini tak ada bedanya dengan kepiting rebus Tn. Breeze yang baru saja diangkat dari panci.
"A ah dok, aku sudah selesai jadi aku harus pulang" dia bergeser untuk melewatinya, tetapi Antolin kembali memalang jalan Jessie.
"Kau mau pulang bersamaku?"
Seketika matanya membola. Maaf, bisa beri Jessie korek kuping? Sepertinya kuping dia bermasalah.
"I iya?" Jessie meminta sang dokter untuk mengulang ucapannya.
"Ayo pulang bersama"
Ini bukan mimpi kan? Iya kan? Oh atau memang benar ini mimpi dan Jessie terjebak dalam mimpi yang terasa seperti kenyataan. Ah, ini sudah gila. DIa pun menyubit pipinya sendiri untuk membuktikan kalau dia memang mimpi.
Aw, sakit.
"Apa yang kau lakukan?" serunya saat melihat Jessie menyubit pipinya sendiri. Dia pun mengusap bekas cubitan di pipi gadis itu, dan itu semakin memperparah keadaan si cantik.
Tangan lembut itu menyapa pipinya dengan sangat gentle. Jessie sudah tak tahu lagi dimana nyawanya, dia benar-benar hampir pingsan. Dia tidak kuat, benar-benar tidak kuat. Jessie rasanya ingin menggelepar sekarang juga.
"Jes, kau tak apa?" tanya Antolin sekali lagi.
"Ah...ya, aku ok"
'Kau yang sudah membuatku gila, tampan! Ah, benar-benar gila!' serunya dalam hati.
"Jadi bagaimana Jes?" tanya Antolin.
"YA, TENTU SAJA AKU TERIMA" teriak seorang yang berdiri tak jauh dari mereka. Memperhatikan Jessie dan Antolin, dan itu adalah Ny, Dave, si pemilik kantin bersama Tn. Breeze dan Tn. Houston yang menonton dua sejoli itu dari balik dapur.
Jessie bahkan terperanjat dengan keberadaan mereka. Sedangkan Antolin hanya terkekeh saat melihat wujud nyata Ny. Dave mendatangi mereka bersama kedua kokinya.
"Sudah aku jawab, jadi silahkan bawa Jessie pergi" kata Ny. Dave dengan penuh godaan.
"Tap tapi..."
"Sudahlah Jes, urusan kantin biar kami yang urus, kau pulang duluan saja" potong Tn. Houston lalu mendorong si cantik untuk segera pergi bersama si dokter tampan.
"Iya Jes, tak apa" sambung Tn. Breeze, membuat Jessie melirik Antolin dengan pandangan malu-malu.
Agaknya dia merasa malu tapi juga mau. Tentu saja, siapa yag tidak suka pulang bersama orang yang kita suka. Jessie juga masih waras untuk merasa begitu juga, ya kecuali soal jantungnya yang berdetak dengan tidak waras.
"Bagaimana?" Tanya Antolin memastikan, Jessie menoleh ke arah ketiga orang tua di belakangnya yang menatap harap kepadanya.
Bisa dibilang mereka sepertinya tahu kalau Jessie menyimpan hati pada dokter satu ini, hah, memang dasar orang tua.
Akhirnya Jessie pun menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengangguk setuju, membuat seruan 'Yes!' dari ketiga orang itu terdengar dengan nyaring. Dia sampai memutar bola mata saat melihat mereka, namun tak dapat dipungkiri, dia juga merasa senang bisa melihat senyum ketiga orang tua itu mengembang dengan indah.
Antolin pun ikut tersenyum. "Baiklah, aku akan menunggumu" katanya sebelum berlalu keluar kantin untuk menunggu Jessie, sebelumnya dia sempatkan untuk pamit pada ketiga orang lainnya.