Jessie mengangkat krat bahan-bahan makanan bersama para koki kantin. Inilah rutinitas pagi jika bahan makanan datang. Dia mengangkat krat dari bagasi mobil box ke dalam kantin dan akan diletakkan di dapur.
"Jes" panggil lelaki berjas putih dengan kacamata yang tersangkut apik di hidungnya, senyum tak lupa tersemat dan itu adalah Antolin.
Jessie menoleh ke sumber suara dan tersenyum saat tahu orang tampan itu ada di sebelahnya, "dr.Raynold" sapanya. Seketika detak jantungnya berdetak cepat, seperti ada yang memompanya dengan berlebihan, dan itu biasa Jessie rasakan jika orang itu ada di dekatnya.
"Apa kantin sudah buka?” tanyanya tanpa sadar jika tulisan close itu masih terpampang di depan pintu masuk kaca di depannya. Dia baru saja selesai jaga malam.
"Bahan-bahan baru saja datang, dok" Jessie kembali mengangkat krat yang tadi sempat ia anggurkan demi menatap pujaan hatinya.
"Sini aku bantu" katanya mengambil alih krat itu dari si cantik.
"Ti tidak usah" jawabnya ragu dan berusaha menghindar dari dokter itu. Namun Antolin tetap bersikeras untuk membantu Jessie membawanya, dan berakhir Antolin memegang sisi kanan krat dan Jessie di sisi kiri, mereka masuk ke dapur dan meletakan ditumpukan bahan-bahan makanan yang lain secara bersama-sama.
"Ada lagi?" Antolin menggesekan kedua telapak tangannya lawan arah guna untuk menghilangkan kotoran yang ada di tangannya.
"Sudah dok. Silahkan cuci tangan"
"Ah baiklah" dia pun berlalu untuk menyuci tangannya.
“dr. Raynold” sapa salah seorang koki kantin bersama kedua partnernya yang juga baru selesai memasukkan beberapa makanan beku ke dalam ruang pendingin yang ada di dekat pintu masuk dapur.
"Oh hi Tn.Breeze dan Tn.Houten" sapa Antolin ketika melihat ketiga koki dapur kantin sedang berdiri tak jauh dari mereka.
Jessie hanya menunduk tanpa berani menatap kedua pasang mata yang menatapnya dengan pandangan menggodanya, menaik tutunkan alis seakan tahu bahwa saat ini gadis itu sedang malu karena sedang berdekatan dengan pujaan hatinya.
"Aku harap kalian bisa memasakkan sesuatu yang enak untukku" kata Antolin dengan senyuman tampan kebanggannya.
"Tentu" jawab Tn. Houten dengan sopan. Tn. Houten dan Tn. Breeze adalah lelaki tua yang hangat, perawakan mereka benar-benar menggambarkan seorang ayah, bahkan Jessie terkadang bisa begitu manja pada keduanya.
“Kalau begitu aku tunggu” senyuman tak lupa dia berikan sebelum akhirnya pergi keluar dari dapur.
“Terima kasih dokter telah membantu Jessie” ucap Tn. Breeze yang hanya diangguki sebagai kata sama-sama.
---
Mata Rafael terus fokus pada jalanan, tangan lihainya memutar kemudi dengan baik dengan kecepatan sedang, tapi pikirannya pergi entah menjelajah kemana, yang pasti pikirannya lagi tidak di dalam mobil.
Ntah, kenapa dia jadi memikirkan tentang Beverlly.
Bukan karena dia menyukai wanita berbadan bak model itu, melainkan bingung, mengapa Rafael ragu terhadap Beverlly, diawal jumpa memang mereka terlihat baik-baik saja, tapi setelah kejadian kemarin dia jadi agak aneh, Rafael mengerti kenapa Beverlly bersikap demikian, mungkin dia ingin mengambil hati anaknya, tapi dia sendiri tidak terlalu suka dengan caranya. Kenapa tidak dari awal saja Beverlly cerita padanya kalau sebenarnya dia juga ada di sana karena diberi tahu ibunya. Dia menghela napas.
Dia harus tahu seluk beluk Beverlly sebelum dia menjadikan wanita itu pendamping. Jujur, awalnya Rafael terpikat oleh kemolekan tubuh Beverlly, wajah cantiknya, bahkan wanita itu adalah anak yang cukup pintar dan berbakat, bahkan dia adalah turunan dari pengusaha kaya. Tapi, ntahlah mungkin Rafael hanya tertarik secara fisik belum secara hati.
Sebenarnya, menurut Rafael awal pernikahan tanpa cinta itu tidak masalah, karena sebelumnya juga seperti itu. Dia menikahi istrinya terdahulu sama sekali bukan dasar dari cinta, tapi lama kelamaan dia bisa menerima dan mencintainya walaupun ketika hal itu terjadi mantan istrinya mencampakkan dirinya.
Terlalu lama dia berpikir, sampai tak sadar kalau dia sudah sampai di basement rumah sakit, dia mencari parkir yang kosong lalu menghentikan mobilnya di dekat mobil ambulan yang sedang terparkir, setelah itu dia pun masuk ke dalam rumah sakit.
Hari ini dia ada operasi jam 9 jadi dia harus cepat untuk mempersiapkan operasi. Dia menekan tombol up di lift, tak lama pintu lift terbuka. Namun Rafael mengurungkan niatnya setelah melihat seseorang yang ada di dalam lift. Seketika mood Rafael semakin jatuh, memikirkan perjodohan dan kini bertatap muka dengan si penjaga kasir menyebalkan itu.
Wanita menyebalkan—menurut Rafael— itu menatapnya dengan tajam, seolah akan menelanjanginya melalui mata disitu juga, tanpa takut Rafael kembali menatapnya dengan tajam, dia pun berjalan keluar lift. Lalu di sambung dengan Rafael yang masuk ke dalam lift dengan mengangkat dagu ke arah Jessie bermaksud angkuh.
"Apa?" Tanya Jessie sinis.
"Hah," dengus Rafael. "Mimpi apa aku semalam, baru datang sudah bertemu denganmu" katanya sekenanya dan langsung menutup lift.
Hampir saja Jessie malayangkan tendangan, beruntung pintu lift sudah tertutup lebih dulu. “Menyebalkan” gerutunya kesal dan benar-benar menendang lift, “aw sakit” ringisnya.
"Awas saja, jika bertemu lagi, aku akan menendangmu seperti ini" cacinya sembari berbalik arah dan mengangkat kaki membuat gerakan seakan ingin menendang seseorang di hadapannya.
"J Jes" seru seseorang.
Mata Jessie langsung membola sebesar mulutnya yang juga menganga, dia terkejut.
Oh ya ampun, di depannya ada Antolin. Wajahnya tepat di depan kaki Jessie yang terangkat, buru-buru dia menurunkan kakinya. Ini sungguh memalukan, ingin rasanya Jessie terjun ke jurang yang paling dalam dan tak ingin melihatnya lagi. Malu bukan main. Dia segera menarik kedua rambutnya untuk menyilang, menutup wajahnya yang merah padam, dia pun membungkuk, “maafkan aku” katanya dan segera berlari menjauh.
Antolin menoleh, melihat kepergian gadis itu yang terburu-buru. Senyumannya terbentuk saat mengingat betapa lucunya kelakuan Jessie tadi. Hah, ada-ada saja.
---
Rafael dan Antolin keluar dari ruang operasi, hari ini Rafael melakukan bedah pada pasien Antolin yang mengalami tumor. Beruntung operasi berjalan dengan sukses walaupun ada sedikit kendala tadi. Rafael hampir membunuh pasiennya. Dia sempat tidak fokus saat operasi berlangsung, kalau saja dia melakukan kesalahan sedikit saja, mungkin perjalanan karirnya menjadi seorang dokter akan berhenti di sini.
"Ada apa denganmu, Raf?" Tanya Antolin mengimbangi jalan Rafael. Tak biasanya temannya tak fokus seperti itu saat sedang melakukan penanganan terhadap pasien.
Rafael membuka masker dan sarung tangannya dalam diam, tak ada niatan untuk menjawab.
"Oh man, kau hampir membunuhnya tadi. Ada apa?"
Rafael masuk ke dalam ruangannya, menaruh asal pakaian operasinya di sofa, lalu duduk di kursinya. Antolin pun ambil duduk di depan Rafael. Mereka hanya terpisah oleh meja. Rafael mengusap wajahnya gusar, guratan wajahnya terlihat nyata bahwa dia tidak dalam keadaan tenang.
"Tell me, why?" Antolin menatap lekat temannya.
"Beverlly" Rafael memainkan pulpen yang ia selipkan dijari kanan.
Lelaki itu mengernyit. "Ada apa dengannya?" Antolin mulai tertarik dengan topik bahasan temannya. Dia membenarkan letak duduknya, dan bersiap mendengar cerita dari sahabatnya. Sedangkan Rafael menghela napas, dia masih terdiam. Sedangkan Antolin mulai menyipitkan matanya, "kau mulai mencintainya?"
Dokter tampan itu menggeleng "tidak, hanya saja aku tidak merasa cocok dengannya”
"Cocok? Sejak kapan kau mempermasalahkan soal kecocokan?" Antolin membenarkan kacamatanya.
"Ini berbeda dari kasus mantan-mantanku terdahulu. Kemarin aku, Queenzy, dan Randy ke taman hiburan dan bertemu dengannya, dia bilang itu kebetulan, tapi ibuku bilang, dia yang memberitahu Beverlly bahwa kami di sana"
"Mungkin memang kebetulan, Raf" dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi "kenapa ini jadi masalah? Dulu kau juga suka berbohong" Antolin tersenyum meremehkan.
Bahkan bisa dibilang Rafael adalah pembohong yang handal, tetapi semua wanita selalu saja menatapnya dengan begitu bangga, padahal mereka hanyalah dipermainkan. Cerita sedikit soal masa lalu lelaki ini, dia adalah seorang playboy yang sangat terkenal di kampusnya dulu. Wanita yang pernah dekat dengannya akan merasa bangga, padahal mereka hanyalah permainan Rafael belaka.
"Itu sudah masa lalu!" bengisnya. Dia malas jika mengingat itu lagi, dia jadi khawatir perbuatan buruknya malah menurun Randy, semoga saja tidak. Antolin hanya tertawa melihat geraman temannya. "Antolin, masalahnya ini menyangkut anak-anakku. Seburuk-buruknya manusia dia juga tidak ingin anaknya buruk"
Kembali, Antolin tertawa mendengar ucapan sahabatnya, sejak kapan dia jadi sebijak ini? "Bijaknya" ejeknya.
"Sial!" Rafael melempar pulpen yang dipegangnya dan dengan sigap Antolin menangkapnya, masih tetap dengan tawa yang terdengar menjengkelkan di telinga Rafael. Jika saja bukan teman sudah Rafael cincang manusia satu ini.
"Anak-anakmu bisa menerima Beverlly?" tanya Antolin sembari menggoyangkan kursi yang sedang dia duduki.
Rafael menghela napas "ntahlah,” katanya menggidikkan bahu. “Aku rasa anak-anakku tidak begitu menyukainya, walaupun aku sendiri tidak tahu bagaimana pendapat Randy, tapi Queenzy seperti menampakkannya dengan sangat pasti, walaupun saat di taman wahana kemarin aku akui Beverlly pintar mengambil atensi anak itu” jelasnya.
“Kau sendiri? Apa kau menyukainya?”
Rafael menunduk dan kembali menggedikan bahu, dia sendiri belum bisa menilai Beverlly, walau sepertinya dia akan bisa menerima apapun hasil akhirnya jika memang anaknya mengizinkannya menikah dengan Beverlly. Baginya, yang terpenting adalah anak-anaknya, pendapat mereka akan sangat Rafael dengar ketimbang orang lain, sekalipun ibunya.
Randy dan Queenzy sudah merubah hidupnya menjadi lebih baik, jadi dia ingin selalu bersama dengan anak-anaknya, semampunya, sampai anak-anaknya yang akan memintanya untuk berhenti memperhatikan mereka. "Bagaimana denganmu? Kenapa kau belum juga menikah?" Tanya Rafael.
Lelaki berkacamata yang sempat meluruskan kakinya kembali melipat kaki kanan di atas paha kirinya, tangannya saing bertautan menutupi dengkulnya."Ini sudah kita bahas, Raf" Antolin mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa? Kau tidak laku? Hah" ejek Rafael.
Antolin tidak terlalu peduli dengan ejekan Rafael. Dia melepaskan kacamatanya dan membersihkan kaca dengan tisu yang dia ambil dari meja Rafael.
"Aku rasa si penjaga kasir itu menyukaimu"
"Siapa? Tn. Brezee?" Antolin kembali memakai kacamatanya.
Hampir saja Rafael melempar stetoskop yang ada di dekatnya, namun si lelaki berkacamata itu lagi-lagi tertawa seperti sengaja mengejeknya.
"Gadis gila itu, siapa lagi?" katanya. "Kalian sama, sama-sama gila, cocok" katanya memicingkan mata menatap teman sejawatnya "apa kau juga menyukainya?"
"Apa maksudmu?"
"Ck, murahan sekali dirimu sampai menyukai wanita macam dia" kata-kata pedas itu tidak bermakna apa-apa bagi Antolin, dia sudah sering mendengar itu dari mulut temannya.
"Kau bahkan lebih murahan dariku, Rafael Darryan" ejek Antolin dengan santai.
"Sial!" Ingin sekali Rafael meninju wajah temannya ini, tapi dia tidak mau jika temannya mengganti kacamata menjadi kacamata hitam.
"Oh ya, boleh kutanya sesuatu Raf?” seru Antolin tiba-tiba mengganti topik.
“Sejak kapan kau meminta izin untuk bertanya padaku?”
“Hm,” sebelumnya Antolin menghela napas, lalu menatap lekat pada temannya ini, “Well, aku ingin bertanya soal itu, mungkin agak canggung bagimu, tapi aku ingin tahu. Apa kau pernah benar-benar mencintai mantan istrimu?"
Seketika Rafael terdiam, sorot matanya yang semula terlihat gagah berani kini malah melemah, dan yang Antolin dengar selanjutnya adalah hembusan napas panjang dari sahabatnya.