Pagi sudah menjelang, matahari sudah berada di ketahtaannya, hawa sejuk pagi sudah mulai terasa. Lelaki tampan yang masih bergelut di kasurnya kembali merapatkan diri dengan selimut tebal. Mencoba menghalau hawa dingin yang menerpa kulit tubuhnya. Sejuk sekali, enggan rasanya Rafael bangun. Hawa seperti ini bawaannya memang malas. Untung saja hari ini dia dapat libur, jadi biarkan dia menikmati hari liburnya.
Namun, baru saja Rafael ingin kembali ke alam mimpi, sebuah teriakan membangunkannya.
“AYAHHH BANGUN!”
"Ya ampun," geramnya dalam hati.
Queenzy naik ke atas kasur ayahnya dan duduk tepat di perut Rafael. “Ayah Bangun!” seru Queenzy lagi. Rafael menahan napas, dia berpura-pura tidur. "Ayo ayah bangun" Queenzy tidak mau kalah, dia menarik tangan Rafael.
“AYAH BANGUN!” teriaknya tepat di telinga Rafael, mmebuat ayah tampan itu segera menutup telinganya.
Acara mari pura-pura tidur pun tidak berjalan mulus, karena kali ini dia harus bangun, karena kedoknya sudah terbongkar. Rafael tersenyum melihat putri tunggalnya yang sudah cantik dan wangi dengan balutan dress selutut bewarna pink dan rambutnya yang dikuncir dua dibawah telinga. Mana mungkin Queenzy menguncir rambutnya sendiri, dia masih belum bisa, yang melakukannya adalah Randy.
"Iya sayang, ayah sudah bangun. Cium?" Tanya Rafael menunjuk pipinya.
Queenzy mengecup pipi kanan ayahnya, Rafael kembali menunjuk pipi satunya dan Queenzy mengecup pipinya yang sebelah kiri.
"Yang ini?" Tunjuk Rafael pada bibirnya sendiri.
Queenzy menutup hidung dengan tangan mungilnya. "Ayah bau mulut"
"Benarkah?" Queenzy mengangguk.
"Baiklah kalau begitu ayah yang cium" Rafael membanting pelan tubuh Queenzy ke sebelahnya, mengekang tubuhnya dan mulai mengecupi pipi anaknya hingga si kecil berteriak.
"Ayah bau hahaha." Queenzy terkikik ketika Rafael mengecupinya berkali-kali, dia geli saat janggut ayahnya yang tipis menyapa kulit mulusnya. Dia pun mendorong d**a ayahnya.
"Waktunya sarapan" seru Randy yang sedang bersandar di pintu kamar ayahnya. Sebenarnya dia sudah daritadi di sana, hanya saja tidak ada yang merasakan keberadaannya.
Rafael menoleh ke arah Randy lalu tersenyum manis untuk anak sulungnya, "baiklah, ayah mandi dulu. kalian duluan saja" Rafael segera bangun dan membiarkan putri ciliknya berlari menyelamtkan diri, dia sempat tersenyum saat Randy mengangguk dan membawa si kecil ke ruang tengah. Dia menghela napas, melihat kedua anaknya membuatnya sangat tenang, dan sepertinya dia tidak akan bosan untuk melihat anak-anaknya, terlebih senyum mereka. Dia harap, dia akan selau bisa melihatnya. Harus.
Dia segera masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamarnya.
Rafael sudah selesai mandi dan rapih, ia bergegas jalan ke ruang makan yang terdapat dua malaikatnya yang sudah menunggu di meja makan.
"Ayah cepat! Queenzy lapar" cicit Queenzy.
"Iya iya" Rafael memperbesar langkahnya dan mengambil duduk di samping Randy dan Queenzy.
Meja makannya berbentuk bulat dan berkursi empat, letaknya di antara dapur dan ruang tengah yang memanjang menjadi satu.
Rafael menajamkan indra penciumannya terhadap semangkuk besar nasi goreng di depannya "sepertinya enak" pujinya.
"Randy yang buat" kata Queenzy semangat.
Rafael tersenyum bangga pada Randy "benarkah? anak ayah akan jadi chef sebentar lagi" Rafael menepuk pundak Randy.
Randy tersenyum mendengar penuturan ayahnya. Dia memang hobi memasak, semenjak mereka hanya tinggal bertiga, Rafael memaksakan diri untuk belajar memasak, karena dia tak memiliki siapapun untuk dapat diandalkan, tapi ternyata tanpa dia sadari Randy sangat menyukai hal satu itu, dan sampai pada akhirnya dia melihat sendiri bagaimana kehebatan anaknya dalam hal memasak, dia mirip sekali seperti ibunya, pandai memasak.
Rafael mengambil piring milik Queenzy dan mulai memasukan beberapa sendok nasi goreng ke atas piring bocah itu. "Makan yang banyak, biar tumbuh besar, ok?" Rafael menempatkan piringnya di depan Queenzy.
Queenzy mengangguk dan mulai memasukan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya. Rafael dan Randy juga mengambil nasi goreng ke atas piring masing-masing dan mulai makan.
"Ayah" gumam Randy.
"Hmm" Rafael masih menikmati sarapannya.
"Hari ini kan hari libur, sudah lama kita tidak jalan-jalan"
"Kau mau jalan-jalan?"
Randy mengangguk.
"Queenzy juga!" seru Queenzy.
"Ok, kalian mau jalan-jalan kemana?" Tanya Rafael.
"Taman bermain!" teriak Queenzy semangat.
"Ke taman bermain?" Tanya Rafael memastikan, Queenzy mengangguk "bagaimana denganmu, Ran?"
Randy tersenyum "aku setuju" ini memang usul Randy dari awal untuk pergi ke taman bermain.
"Baiklah, setelah sarapan ganti pakaian kalian, dan dandan yang cantik" Rafael mencubit pipi gemas Queenzy.
“Baik” serunya senang.
--
Saat ini Rafael, Randy, dan Queenzy sudah berada di taman hiburan, mereka akan bersenang-senang di sini, melupakan semua masalah, beban, pekerjaan, sekolah untuk sementara waktu. Senyum Rafael tak pernah hilang ketika melihat kedua anaknya terus berteriak, tersenyum, dan tertawa karena menikmati beberapa wahana bermain. Ini adalah momen yang paling membahagiakan, melihat mereka bahagia.
"Satu dua tiga" jepretan kamera digital itu memggambarkan figur dua orang yang sedang melakukan posisi bergaya. Lihat sungguh manis anak-anaknya. Randy yang tersenyum lebar dengan topi micky mousenya sedang memeluk Queenzy dari belakang, sedangkan Queenzy memakai topi berbentuk kepala minnie mouse dan tertawa. Sungguh menggemaskan.
"Ayah, ada gula kapas!" Teriak Queenzy yang berlari begitu saja.
Rafael segera berlari mengejar Queenzy sebelum anak itu semakin jauh. "QUEENZY!" Teriaknya.
Tidak peduli dengan banyak orang yang mungkin menatap Rafael aneh karena berteriak disepanjang jalan. Bahkan Rafael meninggalkan Randy yang masih di tempat.
"Queenzy!" Teriaknya lagi.
"Ayah!" Suara Queenzy samar-samar tertangkap indra pendengarannya. Dimana dia? Rafael tidak bisa melihatnya.
Seseorang menarik baju Rafael dari belakang, dia segera berbalik dan mendapati Queenzy.
Hah, hampir saja dia skot jantung, beruntung anaknya ketemu
Rafael memeluk anaknya erat seakan tidak akan dilepas lagi, takut anaknya kembali meninggalkannya "kau tidak apa-apa nak?" Direnggangkan pelukan itu perlahan dan menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tunggu, ada yang janggal. Kenapa Quuenzy bisa membawa gula kapas? Bahkan dirinya tidak membelikan itu, anaknya pun tak punya uang.
"Aku baik-baik saja" dia memakan gula kapasnya dengan khitmad.
"Kenapa kau membawa gula kapas?"
"Orang itu membelikannya untukku" Rafael mengikuti arah telunjuk Queenzy, membuat Rafael membulatkan mata, dia agak terkejut saat melihat...
"Beverlly, kau ada di sini?" Tanya Rafael, ia berdiri dan tersenyum kikuk, "ngomong-ngomong terima kasih untuk gula kapasnya"
"Hi Rafael, kau disini juga?” serunya ikut terkejut. Jelas-jelas dia sudah bertemu Queenzy tadi. “Oh tidak apa-apa, lagi pula Queenzy menginginkannya".
"Ayah!" Tanpa Rafael tahu, Randy juga berhasil mengejarnya saat merasa hampir kehilangan jejak ayahnya.
"Randy!" Teriak Rafael sembari melambaikan tangannya.
Randy melihat ayahnya dari kejauhan segera saja dia berlari mendekati. "Huh, ayah kenapa meninggalkan ku" Randy membungkuk, terlihat kelelahan setelah berlari. "O oh Ny.Green" serunya gugup setelah mengetahui ada seseorang selain keluarganya.
"Hi Randy" sapanya sembari tersenyum manis. Randy hanya mengangguk sekilas. "Kebetulan sekali ya kita bertemu di sini, bagaimana kalau kita jalan bersama?" Ajaknya.
"Bagaimana menurutmu, Ran?" Rafael menatap Randy.
"A ah, tentu" jawab Randy sekenanya.
"Baiklah ayo" Beverlly menggandeng tangan Queenzy yang kini terlihat begitu berbeda dari awal saat mereka bertemu, sekarang Queenzy terlihat lebih lembut padanya, apa karena disogok gula kapas?
Mereka pun melanjutkan keseruan mereka, semua wahana mereka naiki dan semua tempat mereka jajaki. Saat ini mereka ada di istana untuk berfoto. Queenzy sangat bersemangat untuk ke atas menara, bahkan dia menarik-narik tangan Beverlly, sepertinya dia sudah mulai dekat.
"Wah ada Beast" histerisnya saat melihat badut dari karakter Beauty dan The Beast. Anak itu memeluk badut itu dengan senang, dan momen itu tak dilewatkan oleh Rafael untuk memotret anaknya yang terlihat menggemaskan.
"Aku ikut" pinta Beverlly saat Rafael akan memotret Queenzy lagi, dia segera berlari ke samping kiri si badut dan ikut bergaya.
"Satu dua tiga" Rafael kembali membidik kameranya.
"Thank you, Beast" Queenzy kembali memeluk badut tersebut sebelum akhirnya mereka kembali turun dari istana dan anak itu menyempatkan untuk melambaikan tangan kepada badut tersebut.
Kali ini mereka ada di restoran yang ada di dalam Taman Wahana Bermain tersebut setelah Queenzy merengek lapar, lagipula memang sekarang sudah masuk jam makan siang.
"Ayah aaaa" Rafael kembali memasuki makanan ke dalam mulut Queenzy saat anak itu membuka mulutnya.
"Sini biar aku saja yang menyuapinya" pinta Beverlly.
Rafael tersenyum "tidak usah kau sedang makan"
"Tidak apa-apa, Queenzy makan dengan bibi ya?" Tanya Beverlly.
Queenzy mengangguk, tidak ada penolakan.
Beverlly mengambil piring yang ada di tangan Rafael dan itu malah membuat Rafael agak bingung. 'apakah dia sedang menarik perhatian Queenzy?' Pertanyaan yang sebenarnya Rafael pikirkan dari tadi. Dia aneh dengan perubahan Queenzy yang sangat sangat sangat berbeda dari sebelumnya. Tapi dia juga bersyukur, jika memang benar itu terjadi semoga saja Queenzy bisa menerima Beverlly. Dia masih tidak bisa menolak permintaan ibunya soal perjodohan, walau sebenarnya dia juga tidak menginginkan hal itu sebenarnya.
Baginya untuk saat ini memiliki pasangan bukan hal yang utama, dia masih ingin memperhatikan anak-anaknya, dia juga masih mampu mengurus kedua anaknya sendirian, ya walaupun agak keteteran sedikit. Tapi dia juga mengerti kalau ibunya pasti menginginkan dirinya memiliki pasangan untuk membantunya menjaga anak-anak maupun keperluannya.
"...yah, Ayah? Ayah!" Randy akhirnya menepuk pundak ayahnya.
"Ah iya apa?" Rafael kaget dan menoleh ke arah Randy yang duduk di sampingnya.
"Ayah melamun?" Tanya Randy.
"A ah tidak, ayo makan lagi" katanya.
"Makananku sudah habis"
"O oh begitu" Rafael memakan dengan sedikit gemetar.
Tak terasa waktu begitu cepat berputar, langit oren sudah ditelan oleh langit gelap dan terlihatlah temaram rembulan yang menggantung di langit bersama jutaan bintang. Rafael mengantar Beverlly kembali ke rumahnya.
Beverlly membuka sabuk pengamannya dan tersenyum pada Rafael, “terima kasih untuk hari ini”
"Oh tidak, seharusnya aku yang berkata seperti itu, terima kasih telah menemani kami. Kelihatannya Queenzy juga sangat senang bersamamu" ujar Rafael tersenyum, matanya kini beralih ke belakang, menatap anak-anaknya yang tertidur karena kelelahan.
Beverlly ikut menoleh ke belakang dan tersenyum. "Sepertinya mereka lelah, terima kasih telah mengantarku. Mau mampir?"
Rafael tersenyum lau menggeleng, "anak-anakku sudah tidur, mungkin lain waktu, salam saja untuk Tuan dan Nyonya Green"
Beverlly tersenyum manis "Baiklah, terima kasih" dia segera keluar dari mobil mewah milik dokter itu.
Rafael tersenyum dan mobil mewah itu menjauh dari rumah Beverlly.
Beverlly melambaikan tangan saat mobil yang sudah mengantarnya pulang membunyikan klakson dan pergi menjauh, "ini adalah hari yang menyenangkan" Beverlly tersenyum miring dan bergegas masuk ke dalam rumahnya dengan hembusan napas tenang.
Sebelum Beverlly meraih gagang pintu, ponselnya berbunyi lantas dia mengambilnya. Tanpa nama?
Beverlly pun ragu-ragu menjawabnya.
"Hello" sapa Beverlly pelan.
'Hi Bev, remember me?'
Seketika raut wajah Beverlly berubah terkejut mendengar suara orang di sebrang sana. Tubuh Beverlly bergetar, bahkan hanya mendengar suaranya saja Beverlly sudah terlihat ketakutan.
"C Cody" gumamnya pelan.
'Kau masih mengingatku, Sayang?'
Beverlly segera menutup sambungan telepon, tubuhnya masih bergetar membuat dia harus menopang dirinya sendiri pada pintu, wajahnya terlihat pucat.
Mengapa dia kembali ke kehidupan Beverlly lagi?
---
Hari sudah berganti lagi, kicauan burung kembali terdengar, rumput-rumput sudah berembun membuat hawa dingin di pagi hari begitu kental. Rafael sudah sibuk dengan dapur, membuat sarapan untuk keluarga kecilnya. Dia sudah rapih dengan setelan kemeja dan celana bahan bermerk, bahkan dasinya sudah teranyam dengan rapih melingkar di kerah kemeja.
"Randy, kau sudah siap ke sekolah belum?" Teriak Rafael sembari mengangkat roti yang baru dia bakar dan menatanya di atas piring.
Tak ada jawaban.
"Randy?" Panggil Rafael lagi.
Nihil, tetap tidak ada jawaban.
Apa anaknya masih tidur? Ah dia lupa hari ini adalah hari minggu jadi maklum jika kedua anaknya belum bangun.
Rafael membuka pintu kamar kedua anaknya. Mereka masih setia dengan kasur mereka masing-masing, dengan gaya yang berbeda pula. Kasur Queenzy terlihat sangat berantakan, guling yang sudah di bawah kasur dan selimut yang bersebrak tak berbentuk, bahkan kepala Queenzy sudah pindah posisi, bukan di bantal melainkan di ujung selatan kasurnya. Hebat sekali anak bungsunya, bisa tidur berputar seperti itu.
Rafael menggeleng kepala.
Beda sekali dengan sang saudara yang terlihat sangat tenang dan nyaman dengan posisi tidur manisnya. Kedua tangannya dilipat di atas perut dengan selimut utuh membungkus tubuhnya. Dia jadi tidak enak untuk membangunkan keduanya, akhirnya dia hanya mengecup kening keduanya sebelum keluar kamar. Rafael mengambil ponselnya yang tergeletak di meja ruang tengah. Dia menekan dial up nomor satu. Dan langsung tersambung ke nomor ibunya.
"Hi mom"
'Ada apa, Raf?'
"Bu, bisa kerumahku?"
'Baiklah, kenapa?'
"Aku ingin menitipkan Randy dan Queenzy dengan ibu"
'Baiklah ibu ke sana segera'
"Aku tunggu"
Rafael mengakhiri perbincangannya dan berjalan kembali ke dapur melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Berselang 20 menit akhirnya mobil ibunya pun berhenti di depan rumahnya.
"Mom" sapa Rafael menyambut ibunya yang baru masuk rumah, lalu mengecup pipi ibunya.
"Mana cucu-cucuku?" Tanya Ralina.
"Mereka masih tidur"
"Oh begitu" Ralina menaruh tas mahalnya di atas buffet ruang tengah.
"Ibu sudah sarapan?" Tanya Rafael dari dapur, dia sedang mengaduk teh hijau hangat untuk ibunya.
Ibunya cukup pemilih, dia hanya meminum teh hijau.
"Sudah sayang " Ny.Lucas mendekati anaknya. Rafael memberikan secangkir teh pada ibunya yang langsung diambil. "Oh iya, kemarin kau bertemu dengan Beverlly?"
Rafael mengerutkan kening, bagaimana ibunya tahu? Oh mungkin Beverlly bercerita pada ibunya.
"Ibu tahu dari mana?"
Ralina menyesap teh hijau hangat buatan anaknya. "Ibu yang memberitahunya kalian ke taman bermain"
Seketika Rafael terbatuk, "maksudnya bu?"
"Ibu yang memberitahunya kalian pergi, dia hampir saja datang ke rumah sakit kemarin"
Jadi kemarin bukanlah kesengajaan? Pantas saja ada yang janggal, ternyata semuanya memang bukan sebuah kebetulan. Tapi kenapa Beverlly melakukannya? Apakah sedang ingin merebut hati anaknya?
Ya bisa jadi.
Rafael pun lebih memilih menggedikan bahu, melupakan pikirannya dan segera berpamitan pada sang ibu. “Aku pergi bu, sampai nanti” pamitnya sembari mengecup pipi kiri ibunya lalu pergi keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya.