Rafael memasuki gedung bertingkat yang dulu pernah menjadi tempat kerjanya sebelum kembali pindah ke rumah sakit yang sekarang. Langkahnya terlihat panjang untuk menyingkat waktu, namun seseorang malah menahan jalannya setelah melongok lalu berseru memanggilnya.
"dr.Lucas, kau kah itu?" Seru seorang lelaki setengah baya.
Rafael menoleh, dia tersenyum saat melihat seseorang yang dulu pernah membantunya semasa bekerja di rumah sakit ini, beliau seorang perawat senior. Rafael mendekati lelaki tua itu lalu memeluknya seperti kerabat dekat, "apa kabar tuan? Apa kau baik-baik saja?"
Lelaki tua bernama Pak Fred Carol pun tersenyum, menepuk pundak tegap Rafael lau melepas pelukan mereka, "seperti yang kau lihat saat ini. Bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja tanpa ku?" candanya yang membuat tawa Rafael terdengar.
"Aku baik," jawabnya. "Aku juga rindu Departemen ini" Rafael menghela napas panjang, dia menerawang ke masa dimana dia menjadi dokter disini. Walau hanya dua tahun di sini tapi dia tidak bisa melupakan kenangan bersama orang-orang di sini.
"Oh ya, apa yang membawamu kemari?" Tanya perawat itu.
"Aku harus mengambil barang-barangku yang tertinggal"
"Ingin kubantu?"
"Tidak perlu" tolak Rafael. Di sini Rafael terkena sebagai sosok yang baik, sopan, dan dokter menyenangkan, berbeda dengan karakternya saat di rumah sakit di sana yang terkenal tegas dan berwibawa. "Aku duluan, tuan, semoga harimu menyenangkan" katanya berpamitan pergi yang dibalas anggukan oleh Tuan Carol.
Rafael mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan 'dr. Janned Hans' yang menjadi dokter baru yang menggunakan ruangannya dahulu.
"Masuk" seru seseorang dari dalam.
Rafael membuka pintu, mendapati seorang wanita cantik sedang berdiri dari kursi kebesarannya.
Ruangan ini tempat kerja Rafael dulu dan meja itu adalah meja kebesarannya dulu. Ternyata yang memiliki ruangan ini sekarang seorang wanita. Dari penampilannya, dia cantik dan anggun, rambutnya diikat rapih, kacamata yang menyangkut di hidung bangirnya, pakaian formal rok span yang dibalut dengan jas putihnya dan jangan lupa sepatu berhak yang berwarna sepadan dengan baju formalnya, merah marun, menambah kesan seksi dan cantik.
"Selamat siang" sapa Rafael ramah.
"Ah iya selamat siang" Jenned membalas uluran tangan Rafael.
"Bagaimana kabarmu, dr.Hans?"
"Aku baik-baik saja" dia tersenyum "bagaimana denganmu, dokter?"
"Aku baik" Rafael membalas senyuman sang dokter.
"Silahkan duduk, kau ingin minum sesuatu?" Tanya Jenned.
"Tidak, aku kemari hanya ingin mengambil barang-barangku,"
"Hmm begitu, oh iya barang-barangmu sudahku rapihkan sebelumnya. Maafkan aku telah lancang memindahkan barang-barangmu" jelas si dokter cantik.
"Oh tidak apa-apa seharusnya aku yang berterima kasih" jawab Rafael.
Jenned menarik sebuah kerdus berukuran besar dari samping meja kerja "ini punyamu" katanya.
Rafael mengangkatnya, tidak terlalu berat, hanya beberapa berkas dan barang-barang kecil yang tertinggal.
"Oh ya, anak-anakmu sangat manis" ujar Janned tersenyum. Dia sempat melihat foto anak-anak Rafael yang tertinggal.
Rafael tersenyum."Terima kasih"
"Oh ya, apa perlu kupanggil OB untuk membantumu mengangkatnya?"
"Tidak perlu, ini tidak terlalu berat" Rafael kembali memamerkan senyumnya "kalau begitu aku permisi sekarang" dia berdiri membawa sekotak besar kardus yang berisi barangnya sembari berlalu pamit.
"Hati-hati, dok" balasnya.
Rafael meninggalkan ruangan lamanya dengan senyuman kecil yang membingkai di bibirnya. Seketika dia merindukan orang-orang di sini dan beberapa kenangan lainnya saat dia masih bekerja di sini, walau hanya dua tahun. Dia juga sempat berhenti dan berbincang dengan orang-orang yang mengenalnya, menyapa para pekerja yang juga mengenalnya. Sejujurnya Rafael juga lebih sennag bekerja di sini, tapi ya semua sudah jalannya, dia harus kembali bekerja di rumah sakir lamanya.
Dia keluar dari lift lantai dasar dan hampir menyentuh pintu muka gedung tersebut, namun seseorang lagi-lagi memanggilnya.
"Rafael?"
Dia menoleh, mendapati seorang wanita manis berambut pendek bersama seorang lelaki berkepala pelontos.
"Ini benar kau Rafael?" tanya wanita itu memastikan.
Rafael agak mengernyit melihat wanita di hadapannya, sedikit sunggingan senyum dia berikan, "Iya" jawabnya. Dia sebenarnya seperti mengenal wanita ini tapi dia lupa dia siapa. Dia pun mencoba mengingat siapa wanita ini.
"Ini aku Mia. Kau lupa?"
"Mia?" Rafael semakin mengernyit.
"Mia, teman kuliahmu dulu" katanya.
Mata Rafael langsung membulat setelah mendengar penjelasan wanita ini. "Mia Cellia?" serunya menunjuk si cantik.
Wanita itu mengangguk senang, tawanya yang manis pun menemani.
Rafael agak terkejut. Dia baru ingat kalau Mia bukan hanya seorang teman sekalasnya saat di kuliah, tapi juga termasuk dalam salah satu daftar mantan kekasihnya yang sepanjang list belanjaan itu. Dia sampai lupa dengan mantan-mantannya saking banyaknya. Tapi sedikit banyak pikirannya mulai ingat dengan wanita ini, dan beberapa momen mereka saat bersama.
Dulu Mia adalah gadis yang ramah, lugu, manis, selalu memakai pakaian cerah, dan jangan lupa rambut pendeknya yang mungkin sudah menjadi ikoniknya karena hingga saat ini tidak berubah, lebih terlihat cantik malah.
Rafael pun terkekeh, "oh ya ampun, maafkan aku" katanya sembari menurunkan kerdusnya dan memeluk wanita cantik di hadapannya kini. "Apa kabar?" tanyanya sembari melepas pelukan.
"Baik, kau?"
"Aku baik" jawabnya tersenyum manis. Namun dia baru menyadari bahwa Mia tidak sendiri, dia bersama seorang lelaki yang terus memperhatikan mereka dengan wajah datarnya. "Oh, maaf, kau tidak sendiri ternyata," katanya merasa bersalah, lalu mengulurkan tangan ke arah lelaki plontos itu. "Rafael" katanya memperkenalkan diri.
Lelaki itu tersenyum kecil, lalu membalas uluran tangan Rafael, "Cody" jawabnya dengan suara beratnya.
"Ah, dia tunanganku, Cody" kata Mia memperkenalkan orang itu pada Rafael.
Rafael mengangguk dengan senyuman ramah seakan berkata cukup senang mendengar hal itu.
"Hmm, sedang apa kau di sini?" Mia mengalihkan pembicaraan.
"Aku mengambil barang-barangku yang tertinggal di sini, bagaimana denganmu?"
"Aku baru saja buka praktik di sini" jelasnya. Mia adalah seorang dokter anak sekarang, sebelumnya dia bekerja di rumah sakit di kota lain.
"Sayang sekali aku sudah pindah" kata Rafael.
"Benarkah?" Tanya Mia memastikan "sayang sekali" ulangnya.
Rafael melirik jam tangannya "maafkan aku Mia, aku harus pergi sekarang. Lain kali kita lanjutkan perbincangan kita"
Mia tersenyum "baiklah, kita bicara nanti"
Rafael mengambil kembali kardusnya "sampai nanti, bye" ujar Rafael dan berlalu meninggalkan kedua sejoli itu.
"Bye Raf" jawab Mia tersenyum manis.
Cody ikut tersenyum, tapi senyumnya pudar di saat punggung Rafael mulai menjauh dari mereka.
Cody mencengkram lengan Mia dengan kuat. Seketika rintihan Mia pun terdengar, "siapa dia?"
"Ouch, d dia temanku" jawab Mia berusaha melepas cengkraman Cody.
"Yakin hanya teman?" Cody menaikan sebelah alisnya.
Mia mengangguk dengan wajah kesakitan. Cody melepaskan cengkraman Mia. Dia memang cukup posesif jika melihat Mia dekat dengan orang lain. Dia pun berjalan lebih dulu menuju meninggalkan Mia yang masih mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
Dia pun menghela napas menatap Cody, sebelum akhirnya mengikuti langkah tunangannya itu.