Antolin menghentikan mobilnya di depan rumah mewah pasiennya. Ny. Smith. Beberapa maid dan pengawal keluarga Smith menyambutnya "selamat sore Dokter" sapa seorang pengawal ketika Antolin turun dari mobilnya.
"Sore" jawab Antolin dengan senyuman ramah seperti biasanya. "Dimana Tn.Smith?" Tanyanya.
"Dia sedang berada di California" jawabnya yang membuat Antolin mengangguk.
Dia masuk ke dalam ruangan Ny.Smith. Terlihat Ny.Smith sedang duduk di atas kursi rodanya di balkon kamar, menikmati langit cerah di malam itu dengan ditemani oleh tiga orang pelayan dan satu orang perawatnya.
"Selamat sore, Nyonya," sapanya yang membuat Ny. Smith menoleh untuk menotisnya. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Antolin menghampirinya dengan senyuman ramah.
"Dok" senyum lemah mengembang diwajah pucat wanita paruh baya itu. "Aku baik-baik saja"
"Bagaimana dengan perutmu? Apa masih sakit?"
Ny.Smith menggeleng "sudah mendingan"
"Apa obatnya sudah diminum?"
Dia mengangguk.
"Bisakah kau berbaring, aku akan memeriksamu"
"Baiklah"
Ketiga pelayan dan pengawal yang tadi mengikuti Antolin membantu Ny.Smith untuk kembali ke kamar dan membaringkannya di kasur. Antolin mulai memeriksa Ny. Smith. Semua berjalan dengan normal, sepertinya Ny. Smith baik-baik saja.
"Apa kau makan secara teratur?"
"Iya, dok"
Antolin tersenyum, dia memberikan obat pada Nyonya Smith lalu menjelaskan cara minum obat tersebut dengan sangat jelas, dan penjelasan itu diterima baik oleh Ny. Smith dan perawatnya. Setelah itu mereka melanjutkan perbincangan seputar kesehatan Ny. Smith lumayan cukup lama sebelum akhirnya Antolin berpamit untuk pulang.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu, jika memang ada keluhan atau hal emergency lainnya hubungi saja aku" salamnya.
"Iya dok, terima kasih banyak," katanya Ny. Smith.
"Kalau begitu saya pamit permisi dulu" pamitnya.
Ny. Smith bangun dari berbaringnya yang segera dibantu oleh para pelayannya, dia mendekat pada Antolin yang duduk di sisi kasur, "dr. Raynold" katanya, "terima kasih banyak kau telah merawatku dengan sangat baik, aku beruntung mendapat dokter sepertimu" dia pun menarik tangan Antolin lau menggenggam serta mengelusnya dengan penuh rasa terima kasih.
Antolin tersenyum, "terima kasih Nyonya," balasnya.
"Aku tidak tahu lagi harus membalas budimu dengan apa, aku sungguh berterima kasih" katanya dengan nada yang kembali melemah, membuat lelaki itu agak iba.
"Iya nyonya, semoga kau cepat sembuh" doanya.
"Sekarang sudah waktunya makan malam, bagaimana jika kau makan malam bersama kami?" ajak Ny. Smith.
Antolin melirik jam tangan mahalnya, senyuman segera terbentuk di wajahnya, "terima kasih untuk ajakan makan malamnya, Nyonya, tapi maaf, aku tidak bisa, mungkin lain kali" tolaknya dengan lembut. Dia sendiri sebenarnya tidak memiliki jadwal apapun setelah ini,
ya kecuali untuk menemui si tukang kasir itu.
Ny. Smith pun terkekeh melihat wajah Antolin, dari rautnya saja beliau tahu kalau Antolin sedang menunggu sesuatu. "Baiklah, sepertinya ada hal penting yang harus kau lakukan. Tapi kuharap kau akan menerimanya lain hari"
Antolin kembali tersenyum, "tentu, terima kasih sebelumnya." katanya. "Kalau begitu aku pamit permisi dulu, semoga cepat sembuh Nyonya" katanya sebelum keluar dari kamar Ny. Smith yang diantar oleh pelayan lainnya.
Wanita tua itu pun tersenyum melihat kepergian Antolin. Dia pun menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya bergumam, "hah, dia memang mengaggumkan"
---
Langkah Antolin terlihat begitu cepat untuk menyusuri kembali halaman rumah sakit yang sudah dia tinggal beberapa jam yang lalu. Terlihat kantin yang hampir tutup, bahkan penandanya sudah terbalik menjadi 'close'.
"Jes" panggilnya saat melihat gadis cantik yang dicarinya tengah berdiri di depan pintu tersebut.
Jessie baru saja selesai mengunci kantin. Dia menoleh mendapati sang pujaan hati yang berdiri tak jauh darinya.
"Ayo pulang" ajaknya yang membuat Jessie kebingungan.
Sejak kapan mereka jadi sering pulang bareng? Bahkan pertemuan terakhir mereka masih membekas di kepala Jessie dan rasanya dia ingin membuang dirinya ke kandang macan.
"Ah hm sepertinya aku pulang sendiri saja" tolaknya.
Bukan karena dia tak suka pulang dengan Antolin, hei tentu saja dia suka, amat suka, bahkan dia selalu membayangkan itu, hanya saja berdekatan dengan Antolin sangat tidak membuatnya waras, kadang jantungnya berdegup kencang, kakinya lemas, tubuhnya bergetar, bibirnya kelu dan kaku, dan apapun itu yang bisa membuatnya seperti sedang dikejar debt collector. Benar-benar menakutkan.
"Ayo bareng saja, kita kan searah?"
Oh ya searah, tapi seharusnya kau sudah pulang lebih dulu kan dok? Bukankah kau yang bilang tidak tertarik padanya tapi kenapa Antolin sendiri yang sekarang sering mengajak Jessie pulang bersama, aneh.
"A ah iya" Jessie mengangguk kaku.
Tanpa permisi Antolin pun menggandeng tangan Jessie, membuat jantung gadis itu langsung dagdigdug tidak karuan, ah Antolin benar-benar membuatnya menjadi tidak waras. Mereka melangkah menuju parkiran mobil lalu Antolin membukakan pintu untuk Jessie, membuat kaget Jessie menjadi double. Setelah Jessie masuk dia kembali menutup pintunya, Dia pun berlari masuk ke dalam kursi kemudi.
Keadaan masih sama seperti sebelum-sebelumnya, tenang tanpa suara. Mereka sibuk untuk menetralkan jantung masing-masing yang terdengar dag-dig-dug tanpa ampun.
"Apa kau lapar?" Tanya Antolin. Jessie menggeleng lalu mengangguk, gerakan tersebut reflek terjadi Antolin sampai tertawa melihatnya "jadi kau lapar atau tidak?"
"Tidak, ah tapi aku rasa iya. Sedikit" jawab Jessie terkekeh. Sungguh dia ingin sekali berlari menjauh dari Antolin, tetapi dia ingat ini di dalam mobil dan mobil dalam keadaan bergerak.
"Ya ampun kau lucu sekali. Baiklah untuk kali ini, kau yang menentukan. Kau mau makan dimana?"
Jessie tampak berpikir. Sebenarnya dia ingin sekali makan makanan Jepang, semacam soba atau ramen.
"Kau suka makanan Jepang?"
Antolin berfikir "aku hanya suka sushi"
"Ah begitu"
"Kau mau makanan Jepang?"
Jessie tersenyum menanggapinya
"Baiklah, kau tahu tempatnya?"
Jessie mengangguk. Dia menunjukkan arah kedai Jepang, tempatnya tak jauh dari apartemen Jessie.
Kedai Jepang ini sangat ramai, bukan untuk saat ini tetapi memang setiap hari ramai. Kedai ini terkenal sangat enak. Pemiliknya asli orang Jepang, jadi tidak dipungkiri kalau rasanya Jepang sekali.
Jessie memasuki kedai tersebut diikuti Antolin, segera saja mereka mendapat sapaan dari para pelayan yang membuat mereka membalasnya dengan anggukan dan bungkukkan, salah satu pelayan pun mengantar mereka menuju meja kosong. Tempat makannya memang dibuat semirip mungkin dengan toko makanan di Jepang, selain ada meja dan kursi, mereka juga menyediakan meja pendek dengan duduk beralaskan bantal. Dan mereka memilih duduk di bawah.
"Mau pesan apa?" tanya pelayan mulai menulis pesanan mereka.
"Aku pesan soba," kata Jessie tanpa melihat menu, kebetulan dia sering ke sini karena soba di sini sangat enak. "Kau pesan apa?"
Antolin pun sibuk memperhatikan menu, "hm, sushi saja" jawabnya.
"Minumnya?"
"Ocha saja"
"Samakan" lanjut Antolin.
"Ada tambahan lain?" Tanya pelayan.
Jessie menatap Antolin, meminta jawaban. Antolin menggeleng yang berarti, tidak.
"Tidak, itu saja" kata Jessie dengan senyuman.
Si pelayan pun ikut tersenyum. "Baiklah kalau begitu mohon ditunggu, Arigatō gozaimasu (terima kasih)" sang pelayan berlalu.
Antolin memandangi ke sekeliling kedai. Kedainya ramai namun tetap kondusif, hampir semua meja terisi dan kebanyakan pelanggannya dari orang-orang mereka, tapi ada beberapa oeang-orang berwajah khas Jepang juga yang ikut menikmati makanan di sini.
"Permisi, apa kalian mau difoto?" Tanya seorang lelaki parubaya menghampiri mereka, bapak-bapak itu membawa kamera polaroid merah muda yang terlihat cukup antik. Jadi di kedai ini memang menyediakan layanan jasa foto. Jadi mereka tidak perlu repot melakukan selfie.
Antolin dan Jessie saling menatap, seakan bernegosiasi untuk berkata ya atau tidak. Sampai akhirnya Antolin mengangguk lalu tersenyum pada sang tukang foto.
"Boleh tolong kalian duduk bersebelahan?" tanya sang fotografer.
Antolin pun mengangguk dan bergeser untuk duduk di sebelah Jessie, sedangkan si cantik hanya mampu mengusap leher belakangnya yang tiba-tiba agak meremang.
"Baik, ayo tersenyum" perintah bapak itu, membuat keduanya tersenyum. Lelaki berlensa itu tersenyum tampan sedangkan si cantik masih terlihat kaku dan malu-malu, hingga sebuah tangan berhasil melingkar pada pundaknya dan menariknya mendekat pada si pemilik tangan.
Jessie kaget setengah mati, dia langsung menoleh dan menatap terkejut pada orang di sebelahnya. Namun si lelaki tak peduli dengan tatapan terkejutnya, yang ada senyumannya semakin lebar dan mendekatkan diri ke arahnya, hingga badan mereka tak berjarak, bahkan bahu mereka saling bergesekan.
"Ayo bergaya!"
Jessie segera menoleh ke arah sang bapak, lalu menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya ikut tersenyum ke arah kamera.
" 1 2 3..."
Cekrek
Satu foto mereka pun terbentuk. Tak menunggu lama, sebuah kerta pun keluar dari kamera tersebut, kertas tersebut dikebet hingga muncullah wajah keduanya yang terlihat manis di dalam sana. Bapak-bapak berwajah oriental itu pun sampai tersenyum lalu menyerahkan foto itu kepada si pemilik barunya.
Keduanya pun segera mengambil hasil bidikan tersebut dan tanpa sadar tersenyum melihat wajah mereka ada di dalamnya.
"Kalian begitu menggemaskan, semoga langgeng. Selamat berbahagia" puji sang bapak sebelum akhirnya pergi meninggalkan kecanggungan kembali hadir di antara mereka.
Jessie kembali mengusap lehernya dan bergeser menjauh dari Antolin, membuat Antolin tergugu pelan melihat wajah memerah gadis itu, "kenapa menjauh? Kau takut padaku?"
"A ah bukan begitu" elaknya. Bagaimana bisa dia takut pada dokter setampan Antolin, ya ampun. Kenapa lelaki itu tidak sadar juga, bahwa dia yang membuat Jessie jadi seperti ini. Lihatlah bahkan wajah Jessie terlihat sama dengan kepiting rebus. Tapi Antolin malah semakin tergugu melihat wajah Jessie yang memerah malu tapi lucu.
Hah, beruntung pelayan datang membawa pesanan mereka, membuat Jessie bisa keluar dari rasa malu itu, hah kau penyelamat tuan.