Malam panjang antara Antolin dan Jessie tak cukup sampai makan malam saja, mereka kembali menikmati ramainya alun-alun yang berada tepat di seberang rumah makan jepang tersebut. Keadaanya lumayan ramai, terlebih banyak orang yang berlalu lalang sehabis pulang kerja atau hanya sebatas bercengkrama, ada pun orang-orang asing yang sedang berlibur yang sibuk membidik sisi-sisi kota di malam itu, sampai ada yang sibuk duduk berduaan di kursi-kursi panjang yang telah tersedia
Jessie dan Antolin saling tertawa dan bercerita, tidak ada lagi kesunyian yang tercipta diantara mereka berdua. Mereka duduk dibangku panjang yang tersedia di pinggir jalan Manhattan sembari menikmati Choco float yang tadi mereka beli di dekat toko ramen.
"Kita main seperti waktu itu, kau mau?" Tanya Antolin setelah menyesap Choco float-nya yang tersisa setengah.
Jessie mengangguk setuju, "baiklah" angguknya sembari mengaduk minumannya yang tinggal setengah.
"Kau dulu" pinta Antolin.
Jessie nampak berpikir, "hm, apa ya?"
"Kau lebih suka mangga atau kiwi?" tanyanya random karena dia sendiri tidak tahu akan bertanya hal apa. Dan itu adalah pertanyaan paling konyol yang pernah Jessie utarakan.
"Hmm, mangga, kurasa" jawabnya sembari menggedikan bahu seperti tak yakin. Sebenarnya dia suka semua buah, hanya saja, mangga mendekati buah kesukaannya, walau aslinya dia lebih suka pisang. "kamu?"
"Ah begitu," gumamnya mengangguk-angguk, aku suka kiwi, jadi kupulih mangga" jawabnya yang membuat Antolin menampakkan wajah bingung.
Hidungnya mengerut, matanya melotot, dengan mulut yang menganga, lucu sekali. Jessie sampai tergugu melihatnya.
"Bagaimana bisa begitu?" protes Antolin.
"Aku kan ingin mengikutimu, biasanya pilihan dokter itu baik" jawabnya yang membuat Antolin kembali mengernyit bingung. Selain random Jessie ternyata juga aneh. Namun akhirnya dokter tampan itu pun tertawa.
Antolin tersenyum melihat Jessie. Wanita berpakaian kasual dengan tindikan ditelinga kanan atasnya itu sangat menggemaskan.
"Baiklah sekarang aku. Ada seseorang yang kau suka?" Antolin menoleh menatap Jessie.
Jessie tersenyum tipis lalu mengangguk "ada"
Antolin terdiam, seketika senyumnya meredup, dia sendiri pun tak tahu kenapa seketika hatinya seperti ada yang berdenyit sakit.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Jessie membangunkan kesakithatiannya sesaat.
"Aku? Y ya ada" seketika Antolin menjadi sangat gugup menghadapi wanita disampingnya.
"Benarkah?! Siapa orangnya?" Jessie terlihat curious dengan ucapan dokter berlensa ini, dia pun menatap ke arah Antolin, membuat Antolin tersenyum kecil. Sejujurnya dia juga tidak suka disaat Antolin berkata 'Ada'. Hatinya seakan lolos, dia tidak mau mendengarnya, tetapi dia juga butuh kepastian, agar dia bisa melepaskan perasaannya pada si dokter tampan bermata lensa.
"Kamu"
Uhuk…
Jessie tersedak minumannya. Sepertinya telinga Jessie bermasalah
Sepertinya benar, benar-benar gila sepertinya Jessie. Ucapan lelaki benar-benar membuat dirinya tak bisa apa-apa lagi. Bahkan yang dia dengar hanya suara Antolin mengucapkan satu kata setelahnya dia tidak mendengar apa-apa lagi. Semua keramaian seakan menghilang. Telinga Jessie ada dengingan.
“K kau bilang apa tadi? Sepertinya telingaku bermasalah hehe…” katanya.
“Kamu” ulang Antolin pasti, wajahnya berubah serius membuat Jessie terdiam menatapnya.
Jessie terdiam, menatap lelaki itu dalam diam, mencari kebenarana dari ucapan lelaki itu.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Antolin membuatnya berkedip sesaat.
Dia menatap ke arah lain, coba menghindar dari tatapan lelaki di hadapannya kini. Jessie semakin menegang, telapak tangannya benar-benar basah.
"A aku?" Jessie menunduk berusaha menutupi wajah merahnya yang bahkan lebih dari kepiting rebus. "A aku juga me menyukaimu" suaranya terdengar bergetar, bahkan begitu lirih hampir berbisik.
Antolin tak terlalu mendengar, “apa? Kau bicara apa?”
"Kamu"
"Apa? Aku kurang jelas, siapa?" Tanya Antolin lagi.
“Kamu”
“Siapa? Aku tidak denger”
“Kamu”
“Kamu itu siapa?” tanyanya sengaja.
"dr.Raynold".
"dr. Raynold, siapa?" Antolin mulai mengembangkan senyumnya, membuat gadis itu ikut mengembangkan senyum.
“Berhenti menggangguku!” serunya dengan kekehan kecil yang terbentuk di wajahnya yang manis.
Senyum Antolin semakin mengembang bahkan lebih lebar dari sebelumnya. “katakan saja”
"Antolin Ryan Raynold"
"Siapa? Siapa? Aku kurang jelas"
"ANTOLIN MENYEBALKAN RAYNOLD" teriak Jessie tepat di telinga lelaki itu, membuat si empu nama berseru karena kaget, dia mengusap telinganya yang pengang. Namun tak selang berapa lama, Antolin tertawa keras, membuat Jessie ikutan tertawa. Mereka saling tak disangka, perasaan mereka satu sama lain sama-sama terbalaskan.
Jujur saja ini adalah pertama kalinya Antolin berani mendekati seorang wanita dan ternyata dia mendapatinya. Antolin tidak terlalu baik dalam soal percintaan, dan dia sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam soa wanita ataupun percintaan.
Antolin dan Jessie saling beradu mata, hingga tawa itu berubah menjadi senyuman yang semakin lama semakin terlihat tulus di wajah mereka.
"Jadi?" Tanya Antolin.
Jessie mengerutkan keningnya, "jadi apa?" dia memiringkan wajahnya menatap polos kepada Antolin.
Rasanya Antolin ingin mencubit gemas Jessie, sikap polosnya sangat lucu.
"Kita berpacaran?"
Jessie kembali menampakkan wajah malunya.
Jessie menggigit bibirnya lau menunduk. "Menurutmu?"
Antolin tertawa membuat Jessie mengerecutkan bibirnya, dia pun mengubah tawa itu menjadi sebuah senyuman, telunjuknya mengangkat dagunya, membawa kembali wajah yang menunduk itu untuk menghadapnya, menatapnya dengan senyuman tulus. "Mari mencoba untuk saling berbagi perasaan, kau mau?”
Jessie menatap manik Antolin yang indah sebelum akhirnya mengangguk.
Antolin tersenyum lalu mengusap bibir Jessie sebelum akhirnya maju untuk memberi sebuah tanda pada kening gadis itu yang tertutup sedikit rambut sebelum akhirnya membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Jessie pun membalas pelukan itu dengan erat, berbagi perasaan hangat dan aman satu sama lain, biarlah hari ini menjadi hari bersejarah untuk mereka berdua. Dan juga menjadi hari paling membahagiakan untuk mereka berdua.