Rafael kembali ke rumahnya, ini sudah tengah malam, sudah lewat dari jam kerjanya pula. Dia memarkirkan mobilnya dipinggir jalan depan rumahnya.
Kernyitan langsung terlihat di wajahnya saat melihat rumahnya gelap gulita, tak ada satu pun lampu yang menyala. Kemana orang rumah? Biasanya kalau malam pun minimal lampu depan akan nyala, atau tidak lampu ruang tengah. Ini benar-benar gelap semua.
Apakah Randy lupa menyalakan lampu ya?
Jika hanya terus menerka tanpa melihat, dia tidak akan tahu. Rafael segera turun dari mobilnya dan berjalan ke arah rumah gelap itu. Pintunya dikunci, Rafael mengetuk pintunya dan memanggil nama anak sulungnya berkali-kali.
Tetapi tak ada jawaban.
Dia terus mengetuk bahkan sampai menggedor, hasilnya tetap nihil. Sepertinya rumah ini memang kosong.
Rafael mengambil kunci mobilnya yang terpasang kunci rumah cadangan, beruntung dia memiliki dua kunci, dia pun membuka pintu rumahnya.
Dan pertama kali yang dia dapati kosong, benar-benar kosong, seperti tidak ada kehidupan.
"Randy?! Queenzy?! Ayah pulang sayang!" teriaknya sembari menyalakan setiap lampu ruangan. Namun nihil, tak ada jawaban.
Rafael berjalan ke kamar anaknya "Randy? Queenzy?" Serunya lagi, kosong. Ruangan anaknya rapih seperti belum terjamah dari pagi.
Kemana sebenarnya anak-anak itu? Randy dan Queenzy tidak mungkin kaburkan?
Rafael segera menggeleng kepala, tidak mungkin, tidak mungkin kedua anaknya kabur, mustahil, lagipula mereka sedang tidak terlibat percekcokan apapun.
Lama bergumul dengan pikiran, akhirnya satu nama pun muncul di kepalanya.
Ibunya.
Cepat-cepat dia menghubungi telepon rumah ibunya.
Sambungan cukup lama tak terbalaskan, sampai akhirnya bunyi telepon diangkat pun terdengar.
"Halo, ibu?"
'Ayah ini aku Randy'
Rafael segera menghela napas panjang setelah mendengar suara anaknya. Terima kasih Tuhan, syukurnya.
"Kau di rumah nenek, nak?"
'Ya' jawabnya dengan bisik-bisik.
"Kau sudah makan?"
'Ya,' jawabnya. 'Ayah, bisa jemput kami sek...'
'Randy tidur! Apa yang kau lakuka!' terdengar teriakan ibunya yang menggema dari seberang telepon sana.
'Ayah cepat jemput kami' bisiknya sebelum mematikan telepon secara sepihak.
Dan terdengar bunyi tut tut tut...
Rafael mengernyit bingung. Ada apa dengan Randy? Kenapa dia ingin dijemput olehnya? Dan kenapa juga ibunya tidak memperbolehkan anaknya berbicara dengannya?