Mobil Antolin berhenti tepat di depan gedung apartemen sederhana milik Jessie, bangunannya cukup tua dan letaknya tak lumayan jauh dari rumah sakit.
Jessie melepas sabuk pengaman. "Hm, makasih" gumamnya sembari melirik lelaki di sebelahnya.
Sudah dari awal masuk mobil yang mereka lakukan hanya berdiam diri tanpa ada sepatah katapun yang keluar. Mereka sibuk bergelut pada pikirannya masing-masing, coba menetralkan jantung satu sama lain yang berdetak sangat aneh.
Antolin pun tak beda jauh dari si cantik, wajahnya lumayan tegang, namun sebisa mungkin dia merubah mimiknya menjadi seperti biasanya. Senyuman menghiasi wajah tampannya. "Sama-sama" balasnya.
"Aku...turun dulu hehe" pamit Jessie.
"Hm, ya silahkan" balasnya.
Terlihat sekali jika kecanggungan masih meliputi kedua insan yang baru saja meresmikan hubungan. Mereka sama-sama amatiran dalam suatu hubungan, sama-sama tak memiliki pengalaman.
Hampir saja Jessie membuka pintu untuk keluar mobil, namun langkahnya tertahan oleh genggaman tangan Antolin.
"Tunggu,"
"Ya?" Jessie menoleh, menatap tangannya dengan penuh senyuman lebar.
"Terima kasih untuk hari ini" ucapnya kaku, membuat senyuman Jessie kembali menyembul.
"Sama-sama" balasnya.
"Hm, aku tidak tahu apa yang biasanya orang pacaran lakukan, tapi sepertinya aku akan mencoba berbagai hal denganmu" jelasnya. "Mau mencobanya?"
Jessie menggedikan bahu. "Tentu, kenapa tidak"
"Hm, bagaimana kalau kita buat wishlist to do, agar bisa tahu apa yang harus kita lakukan, setuju?"
Jessje nampak berpikir. Sepertinya menyenangkan juga kalau bisa menghabiskan waktu bersama, bergandeng tangan, jalan-jalan, belanja bersama, ah rasanya Jessie tak mampu jika hanya membayangkannya saja.
Itu sungguh menggemaskan.
Senyuman lelaki berlensa itu terbentuk tampan, "baiklah" katanya sembari merenggangkan genggaman.
Jessie pun ikut tersenyum lebar melihatnya. "Baiklah aku permisi ya" katanya pamit lagi.
"Tunggu," katanya menahan tangan Jessie lagi, dan itu membuat Jessie bingung.
Perlahan-lahan Antolin mulai maju, mengikis jarak diantara dirinya dan Jessie. Jelas itu membuat jantung Jessie yang baru saja kembali berdetak normal jadi tidak normal lagi. Jarak itu semakin menghilang, bibir mereka hampir bertemu, Antolin sudah berada di depan wajahnya, hingga Jessie bisa merasakan hembusan napas wangi mint dari lelaki itu.
Namun tanpa di duga, lelaki itu malah beralih menuju keningnya, lalu mengecupnya cukup lama.
Jessie terkejut, wajahnya menegang, namun tak beberapa lama, dirinya kembali rileks, menutup mata, coba meresapi dan merasakan betapa manisnya kelakuan Antolin.
Hingga wajah itu kembali menjauh, membuat senyuman Jessie kembali terbentuk di depan wajah lelaki tampan itu persis.
Antolin terlihat begitu tampan malam ini, lebih tampan dari malam-malam sebelumnya.
Jessie sampai tak mampu berkata-kata, dia kembali terpana pada manik berlensa itu, hidung mancung itu, kening lebar itu, pipi kurus, serta rahang tegas yang dimiliki si lelaki.
Mimpi apa dia semalam sampai bisa memiliki lelaki idamannya kini.
Tangannya terangkat untuk mengusap rahang indah itu dengan senyuman. Membenahi rambut-rambut nakal yang terjuntai menutupi sebagian kening lebar si tampan.
Antolin ikut tersenyum saat merasakannya.
Segera saja Jessie melepas tangannya dengan senyuman manis, "baiklah kalau begitu, aku turun dulu" katanya dan mulai turun dari mobil.
Antolin mengangguk. Dia menurunkan kaca mobil untuk menatap kekasih barunya sebelum melaju pergi.
"Hubungi aku jika sudah sampai" ucap Jessie yang langsung diangguki Antolin.
"Masuklah dulu" pintanya.
"Tidak, kau saja dulu yang pergi, aku akan memperhatikan dari sini"
Antoling menggeleng. "Kau saja duluan"
Jessie ikut menggeleng, "tidak kau saja"
"Kau saja"
"Kau saja"
"Kau saja"
"Kau saja"
Mereka pun terdiam sampai akhirnya tertawa saat mengingat apa yang baru saja mereka lakukan.
Senyum simpul kembali bersinggah di wajah lelaki tampan, "kau masuk duluan saja," dagunya bergerak ke arah apartemen, membuat Jessie menghembuskan napas mengalah.
"Baiklah, kau menang" dia terkekeh. "Aku masuk duluan" ujarnya lalu tersenyum.
Antoling mengangguk. "Silahkan"
"Dah, sampai nanti" Jessie melambaikan tangan, lalu balik badan untuk masuk ke dalam gedung apartemen, sesekali dia menoleh untuk melihat Antolin yang masih ada di sana, memperhatikannya, hingga dia masuk ke dalam gedung, barulah mobil itu meninggalkan tempatnya.
Jessie menghela napas, senyumnya mengembang pasti, pipinya memerah dengan euforia paling bahagia menyelimuti dirinya. Hatinya bagai sedang diliputi matahari, hangat, terang, dan terik.
Terik tergoda cinta Antolin, Geezzz.
Dia pun berjoged asyik di lorong apartemen, tak sadar jika ada seseorang yang memperhatikannya.
"Hehehe, Tn. Kidman, halo" sapanya dengan sopan.
"Kau sedang apa Jes?" tanyanya.
"Hehe tidak, hanya menganggumi matahari, selamat pagi" sapanya sembari membungkuk lalu berlari menaiki tangga ke lantai lima menuju apartemennya.
Tn. Kidman yang saat itu sedang berjaga sembari membawa senter segera melongok keluar untuk memastikan waktu.
Perasaan masih ada bulan dan bintang yang menggantung, tapi kenapa Jessie mengucapkan selamat pagi?
Dia pun melirik jam dinding, waktu juga masih menunjukkan pukul sebelas malam, yang berarti masih tengah hari.
Tn. Kidman pun menggelengkan kepala, "aneh" gumamnya dan mulai bergegas menuju pos jaganya lagi.