Jam sudah menunjukkan pukul 9.00 pm, waktunya si penjaga kasir menutup kantin.
Jessie membersihkan kantin sebelum tutup. Menyapu sudah, mengepel sudah, lap kaca juga sudah, tinggal membersihkan meja-meja yang masih meninggalkan kotoran. Dia mulai membersihkan dari meja ujung ruangan sampai ke meja dekat pintu masuk. Namun di saat sedang membersihkan meja terakhir, tiba-tiba lonceng pintu kantin berbunyi, menampakkan paras tampan dengan snelli yang bertengger gagah ditubuhnya, juga kacamata yang melindungi mata coklat yang selalu menjadi hal menarik bagi Jessie.
"Maaf kantin sudah tu... dr. Raynold" ujarnya gugup ketika melihat siapa yang kini berdiri di depannya. Lelaki yang dia sukai, lelaki yang selalu dia idam-idamkan, dan juga lelaki yang selalu hadir di setiap mimpi indahnya. Hah, ntahlah sejak kapan Jessie mulai tergila-gila dengan wajah tampan dokter satu ini.
"Apa benar sudah tutup?" Tanya lelaki yang bername tag 'Antolin Jeffrey Raynold' dengan senyum manis yang dapat membuat wanita di depannya bergetar.
Candu seakan menggretakkan pikiran Jessie untuk terus menatapnya. 'Dia sangat tampan' ucapan yang berulang kali berputar di dalam otak Jessie, seakan menumpulkan kepandaiannya berbicara sesaat. "A..ah, hmm seharusnya seperti itu" Jessie berkata dengan gagap, wajah penuh akan peluh, kaki lemas, tangan bergetar, dia yakin saat ini wajahnya sudah merah seperti tomat.
Antolin mengambil duduk di meja yang baru Jessie bersihkan, "tolong beri aku makanan, makanan sisa pun tak apa, aku benar-benar lapar” Antolin mengelus perut sixpacknya sembari memasang wajah yang dibuat lesuh.
Gerak-geriknya begitu menyita semua pikiran Jessie untuk selalu memperhatikan lelaki bermarga Raynold, yang kini menjadi dokter spesialis bedah di rumah sakit ini. Wajah tampan, rahang kokoh, badan proporsional, rambut hitam kecoklatan, hidung bangir yang runcing, bibir tebal, dan kaca mata yang betengger manis di hidung mancungnya, benar-benar indah manusia berbangsa Kanada satu ini. Siapa yang tidak senang memandangnya? Bahkan banyak wanita terpikat di saat awal jumpa, termasuk Jessie.
Sudah dari awal pertemuan dengan dokter tampan ini, dia menyukainya, yang berarti sudah hampir dua tahun. Selama itu dia menyimpan hati yang tak pernah bisa diungkap pada si dokter tampan itu.
Jessie mengangguk kaku, lalu balik badan untuk memasuki dapur. Dirinya sendiri bingung apa yang harus dia lakukan?
Dapur sudah sepi, para koki dan pemilik kantin sudah pulang lebih dulu.
Jessie membuka kulkas, mencari bahan yang sekiranya bisa dibuat untuk makan malam. Kosong. Benar-benar kosong, bahan-bahan makanan sudah pada habis dan baru akan datang pagi nanti. Dia harus memasak sesuatu, pelanggan terakhir dan terspesial sedang lapar.
Dia kembali mencari di lemari makanan siap saji, apa ada makanan instan yang masih bisa dia masak?
Mie instan. 'Oh terima kasih Tuhan, kau sungguh baik'. Segera saja Jessie memasak mie instan yang dia temukan di lemari siap saji. Setelah beberapa menit menghabiskan waktu di dapur, Jessie kembali ketempat Antolin duduk.
Antolin masih setia menunggu dikursinya, tapi tidak, dia tertidur.
Jessie meletakan mangkuk berisi mie di meja, dia menatap lekat wajah lelaki tampan yang tidur bersandar di punggung kursi dengan kepala yang jatuh di atas bahunya. Pandangan Jessie seakan lem yang tak bisa lekang dari si kaca mata, lucu sekali saat dirinya tertidur. Wajahnya damai, pipi yang bersemu, mungkin karena dingin, kaca mata yang sedikit turun dari hidung bangirnya, dan bibir yang terkatup rapat. Ingin sekali rasanya Jessie mengelus bibir manis itu.
'Manisnya'. pujinya.
Ah, pikir apa dia ini. Bahkan melihat pemandangan seperti ini saja dia sudah bersyukur, jangan meminta lebih, jangan melakukan yang aneh-aneh, apalagi membuat kekacauan, dia tidak bisa jika tidak melihat wajah tampan ini barang sehari pun, tidak. Itu sama saja seperti mimpi buruk.