Jam masih menunjukkan pukul 7.20 am, tetapi si cantik Jessie sudah datang ke rumah sakit, kantin baru akan dibuka sekitar jam 8.00 am. Jessie lebih memilih masuk ke dalam rumah sakit, untuk menunggu, dia berjalan dengan lenggang karena keadaan rumah sakit tidak terlalu ramai. Dia sering seperti ini, berjalan-jalan di rumah sakit jika memang tidak sibuk, membayangkan bagaimana jika dia lulus kuliah, koas, dan bekerja di rumah sakit. Hah…
Ya, dulu dia pernah memiliki mimpi menjadi bagian dari manusia-manusia hebat yang bisa menolong banyak nyawa, dia sempat berjuang untuk mendapatkan beasiswa untuk mengejar mimpinya, dan berhasil. Hanya saja ditengah perkuliahannya, beasiswanya harus dilepas setelah nilainya semakin lama semakin menurun sampai akhirnya dicabut sepenuhnya, dia tak mampu jika harus membayar secara penuh uang kuliahnya dan dia juga tidak mengambil pinjaman mahasiswa, dan berakhir dia harus berhenti kuliah.
Jessie memencet tombol lift, tak lama lift terbuka, menampakkan Stephanie datang dari basement parkiran.
"Jessie" pekik Stephanie senang dan langsung saja menerjang tubuh kurus Jessie.
"Steph, apa kabar?" tanya Jessie "akhir-akhir ini kau jarang sekali datang ke kantin" ungkap Jessie dengan nada yang dibuat pura-pura sedih. Terakhir mereka bertemu adalah saat beberapa hari lalu, saat Stephanie makan di kantin.
Lift sudah tertutup, bergerak ke lantai 8 dan 9. Stephanie akan pergi ke lantai delapan, sedangkan Jessie ke lantai sembilan.
"Maaf, akhir-akhir ini David suka membawakanku makanan" ujarnya merasa bersalah. Ngomong-ngomong David adalah kekasih Stephanie yang juga seorang dokter, hubungan mereka berlangsung hampir setahun. "Oh ya, kau tahu? Akhir-akhir ini dia sangat perhatian padaku, dan...taraa.." Stephanie memperlihatkan tangannya pada Jessie, bukan untuk memamerkan jari langsingnya, tapi untuk memperlihatkan sebuah cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya.
"Gosh, kau sudah bertunangan?" ujar Jessie kaget "congrats babe" Jessie segera memeluk temannya, sebagai tanda dirinya ikut merasakan senang dengan keberhasilan hubungan temannya.
Cerita sedikit, tiga hari yang lalu David mengajaknya makan malam disebuah restoran mahal dan tentu saja itu membuat Stephanie terkejut. David yang dia kenal bukanlah seseorang yang romantis, bahkan Stephanie harus merengek dulu setiap mereka akan berkecan, tapi tiba-tiba David mengajaknya candle light dinner, saat mereka sedang menyantap makanan mereka tiba-tiba David bersimpuh di hadapannya dan mengeluarkan kotak kecil berbeludru merah yang berisi cincin berlian, membuat Stephanie terkejut setengah mati dan hampir saja terjengkang dari kursinya, beruntung dia berpegangan pada pinggiran meja.
Membayangkan saja Stephanie kembali tersipu malu, ah.
Lift berhenti di lantai 6. Pintunya terbuka, memperlihatkan seorang lelaki berjas putih sama seperti Stephanie. Jessie melotot kaget saat melihat lelaki yang berdiri di depan lift itu ternyata si menyebalkan yang waktu itu hampir menabraknya.
Hah, mimpi apa Jessie semalam hingga pagi indah hari ini disambut dengan mahluk aneh bin menyebalkan ini. Hah, rasanya Jessie ingin melempar wajah menyebalkan dokter itu dengan sepatunya.
"Selamat pagi dr. Lucas" sapa Stephanie sopan.
"Pagi" jawab Rafael dengan muka datarnya.
"Silahkan mas..."
"Sudah tutup saja" kata Jessie memotong ucapan Stephanie dengan ketus.
"Aku juga tid..." belum juga perkataan Rafael selesai, Jessie sudah menekan tombol close pada lift dan perlahan pintu itu menutup. "Sial" gerutunya kesal sembari menendang pintu lift yang sudah tertutup seutuhnya.
"Aww sakit" ringisnya mengelus kakinya yang terbalut sepatu mahal.
"Jes, kenapa ditutup? Bahkan dr. Lucas belum masuk?" tanya Stephanie bingung dicampur kaget.
"biarkan saja" katanya.
"Ada apa?" tanya Stephanie.
Jessie hanya menggeleng. Lalu dia melirik Stephanie yang masih terlihat bingung. "Steph,"
"hm"
"Kau kenal dengannya?" tanyanya yang juga penasaran dengan orang menyebalkan itu.
"dr. Lucas? Dia dokter bedah, sebelumnya dia menjadi tenaga medis tambahan di rumah sakit universitas, selama dua tahun, sekarang dia kembali ditarik ke sini" jelasnya.
"Benarkah?" serunya terkejut, pantas saja dia tidak pernah bertemu dengannya.
Stephanie mengangguk, "keahlian membedahnya sangat baik, bahkan dia juga sempat menjadi mentorku" jelasnya. "Dia benar-benar hebat, aku sendiri kadang suka lupa kalau sudah memiliki David jika melihatnya" pujinya yang membuat Jessie ikut melongo.
Siapa yang tidak kenal dengan dokter tampan yang memiliki keahlian sangat baik dalam memegang pisau bedah? Bahkan hampir setiap pekerja rumah sakit wanita membicarakan tentang dirinya setiap hari.
Tak dapat dipungkiri kalau dia memang tampan, karismatik, bahkan tak terlihat bahwa dia adalah seorang ayah beranak dua. Eh, anak? Apa yang kemarin itu benar anak-anaknya ya?
"Steph, dia sudah menikah belum?"
"Dia seorang duda, desas-desusnya istrinya pergi begitu saja setelah melahirkan anak kedua mereka," katanya dengan berbisik. "Aku sendiri tidak mengerti, mengapa ada orang bodoh seperti istrinya yang meninggalkan orang setampan dr. Lucas" katanya dengan wajah menyungut.
Ternyata benar kedua anak kemarin adalah anaknya. Jessie benarkan kalau dia tidak terlihat seperti seorang duda beranak dua, gayanya benar-benar sangat maskulin dan fresh. Tapi, kasihan juga anak-anaknya yang tidak lagi mendapat kasih sayang dari ibunya, terlebih memiliki ayah yang menyebalkan seperti si Lucas itu.
Ah, pikir apa kau Jessie. Pasti kau sudah gila.
Dia pun menggelengkan kepala.
--
Jessie membuka pintu bernomor 114, dingin ac langsung menyeruak, menabrakan hawa dingin ke tubuh langsingnya. Pintu kembali ditutup, beralih membuka gorden yang memperlihatkan kota New York di pagi hari itu.
Terdiam, dia berdiri sembari melipat kedua tangan di depan d**a, manik gelap itu masih terpaku pada keindahan alam yang akan terjadi. Matahari yang akan berarak naik. Tidak terasa setetes liquid merembas melewati pipi tirusnya, bukan karena begitu mengagumi indahnya matahari terbit, tetapi memikirkan nasib lelaki yang sedang tertidur di belakangnya.
Tubuhnya berputar membelakangi kejadian indah yang sedang terjadi, dia sudah tidak peduli dengan matahari yang masih terus berjalan ke atas menyapa dirinya, semua pikirannya tersita pada lelaki yang kini berbaring di atas kasur. Telihat lelaki yang tertidur dengan dibantu selang pernapasan di hidungnya dan kabel yang menyambung ke kulit tangan sebelah kanan. Suara detak jantungnya terdengar dari alat pendeteksi detak jantung, detak jantung yang terdengar lemah membuat Jessie semakin merinding, bulu kuduknya meremang, pikirannya melayang ke kejadian yang tak dia inginkan seumur hidup untuk terjadi.
Bagaimana jika detak jantung itu berhenti?
Kevin. Namanya, kakak laki-laki Jessie, seseorang yang hanya Jessie punya dalam hidupnya. Sudah hampir satu minggu dia tertidur dan tak pernah bangun sekali pun. Dia sedang menghadapi masa kritisnya. Dia memiliki kelainan jantung sejak kecil, jantungnya sangat lemah lalu dia kambuh yang membuatnya harus menghadapi masa koma.
"Kau tidak merindukanku, Kev?" Tangan Jessie terulur mengusap tangan kiri milik Kevin yang kasar dan pucat "kau tidak pernah bangun, apa kau tidak ingin menanyakan keadaanku? Bagaimana selama ini aku hidup? Apa aku makan dengan baik?" Dia berceloteh layaknya yang dia ajak bicara akan menjawab semua perkatannya. Tak terasa airmata semakin deras membasahi pipinya.
"Kev, jangan tinggalkan aku, kumohon. Aku hanya memiliki dirimu" dan tangisannya pecah.
Dagu runcing milik wanita itu disandarkan di kening sempit milik kakaknya, menumpukan semua kerinduan terhadap orang itu, genggaman erat tangannya seakan enggan untuk dilepas.
Kevin mendengarkan Jessie, buktinya setetes airmata jatuh begitu saja melewati pipi tirusnya. Diusapnya dengan sayang pipi itu. Jessie dapat merasakan kulit Kevin yang semakin pucat dan tubuhnya semakin kurus, menampakkan tonjolan-tonjolan tulang, layaknya tanpa daging.
Asupan nutrisinya hanya dari selang infusan.
"Kau tidak tahu kan, selama kau tidak ada hidupku sangat tidak teratur" Jessie membenarkan letak poninya.
"Aku jadi sering lupa makan, lupa waktu, bahkan insomniaku semakin parah" tutur Jessie mencurahkan semua kegiatan yang dia lakukan selama Kevin tidur, semua dia ceritakan, apapun. Ini lah sebenarnya rutinitas Jessie jika bertemu dengan Kevin. Dia yang bercerita dan Kevin yang mendengarkan, tanpa menjawab apapun, sama sekali.
"Kau tahu tidak? Aku bertemu dengan lelaki menyebalkan, dia sangat menyebalkan. Aku baru tahu ada manusia seperti dia..." Kini Jessie mengusap lengan kurus Kevin.
"Tapi anak-anaknya sangat baik, beda dengan ayahnya. Oh ya, nama anak dari orang menyebalkan itu sama denganku. Namanya Queenzy Allison Lucas, sama bukan?" Senyumnya mengembang saat mengingat anak manis itu.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat sudah hampir jam 08.00 am, waktunya Jessie bekerja, dia harus buka kantin sekarang juga.
"Kev, aku akan kembali nanti. Cepat bangun, i love you" katanya sebelum meninggalkan ruangan tersebut, tak lupa Jessie menyempatkan mengecup kening lelaki tampan itu.