Beberapa orang sudah berkumpul di suatu ruangan bergaya klasik dengan d******i warna emas bercampur coklat. Mereka menunggu seseorang atau mungkin tepatnya menunggu tiga orang yang belum datang. Sudah lewat 15 menit orang yang ditunggu tak kunjung datang. Membuat wanita parubaya bernama Ralina, itu khawatir menunggu anak dan kedua cucunya yang tak kunjung datang. Dia merasa tidak enak karena membuat keluarga Green harus menunggu lama.
"Permisi, aku harus ke luar sebentar" ujar Ralina seraya berdiri dari kursi, dia keluar ruangan untuk menelepon anaknya, Rafael.
Tak ada jawaban, dia menelepon hingga tiga kali namun tak kunjung ada jawaban juga.
"Gosh. Rafael, kemana anak ini?" cicitnya, tangannya menggengam ponselnya dengan erat, antara khawatir atau kesal ntahlah, hanya dia yang tahu.
Dia memilih untuk kembali masuk ke dalam ruangan.
Namun, sebelum Ralina masuk, Rafael menampakkan batang hidung lebih dulu, dia datang dengan kedua anaknya. Pakaian mereka tampak rapih, Rafael dan Randy dengan jas hitamnya dan Queenzy dengan dress ungunya. Terlihat sungguh berkelas.
Hari ini mereka memang memiliki janji bersama keluarga Green, seseorang yang cukup dihormati oleh keluarga Lucas, karena ibunya pernah bekerja di keluarga ini. Dan inilah yang ibunya bicarakan melalui telepon beberapa hari yang lalu, yang membuatnya tidak mampu menolak.
"Ibu" panggil Rafael menghampiri ibunya lalu mencium kedua pipi sang ibu yang diikuti Randy dan Queenzy.
"Oh ya Tuhan, Rafael kau kenapa baru datang? Keluarga Green sudah menunggumu"
"Maaf bu, Queenzy tadi sakit perut" Rafael menjelaskan apa yang terjadi.
Sedangkan Queenzy hanya tersenyum polos tak berdosa "hello grandmere".
"Oh ya ampun cucu grandmere, apa baik-baik saja?" Ralina mensejajarkan tinggi badannya dengan Queenzy untuk mengecek apa cucunya baik-baik saja. Queenzy mengangguk. Membuat Ralina menghela nafas lega.
Mereka segera masuk ke dalam ruangan yang langsung disambut oleh keluarga Green.
"Hi Rafael, sudah lama tak bertemu" sapa Tn. Green sembari mengulurkan tangannya.
Rafael menjabat tangan Tn.Green. "Oh benar sekali, bagaimana keadaanmu? Apa sudah sehat?" Tanya Rafael, beberapa tahun lalu Rafael pernah ikut membantu dalam operasi Tn. Green.
"Perkembangan sejauh ini baik" jawab Tn. Green. "Aku sudah sehat sekarang berkat dirimu" Tn. Green memuji.
"Terima kasih dr. Lucas" tambah Ny. Green.
"Oh tidak perlu seperti itu, itu sudah menjadi kewajibanku" Rafael tersenyum. "Oh ya, ini anak-anakku, yang ini Randy dan ini Queenzy" Rafael memperkenalkan anak-anaknya.
"Oh hi Randy, Queenzy. Queenzy kau manis sekali" sapa anak tunggal keluarga Green, Beverlly Green'.
Queenzy menatap wanita yang tadi menyapanya "benarkah? Aku rasa aku tidak manis" jawabnya dengan muka datar.
"Hush Queenzy, tidak boleh seperti itu" ujar sang ayah. Siapa yang mengajarkan anaknya berlaku tidak sopan di depan orang? Rafael tidak pernah mengajarkannya.
Setelah mendengar bentakan ayahnya, Queenzy mengerecutkan bibir tanda kesal, menurutnya dia tidak melakukan salah apapun, toh anak kecil kan memang belum bisa memilih mana yang benar dan yang salah.
"Maafkan kenakalan anakku" kata Rafael.
Beverlly tersenyum, "Tidak apa-apa, oh ya panggil saja aku Beverlly" Jawabnya.
"Oh, Rafael" Rafael ikut tersenyum memperkenalkan diri.
"Ayo silahkan duduk" ujar Ny. Green mempersilahkan duduk.
"Queenzy, sini duduk denganku" ajak Beverlly.
Queenzy menggeleng dengan cepat "tidak mau" jawabnya dengan nada meninggi.
"Queenzy!" bentak sang ayah lagi. Anaknya sudah keterlaluan, dimana dia belajar seperti itu, jika Rafael tahu siapa yang mengajari anaknya seperti itu, tak segan-segan dia akan memberikan pelajaran.
Queenzy menoleh ke arah ayahnya, dia menunduk takut. Ayahnya terlihat menakutkan dengan diselimuti amarah, Ralina segera membawa Queenzy kepangkuannya, "Queenzy dengan nenek saja ya"
"Maafkan anakku" kata Rafael.
"Tidak apa, namanya juga anak-anak" Beverlly kembali tersenyum.
"Dia seperti wanita menyebalkan" bisik Queenzy pada neneknya.
Ralina hanya terdiam, kaget. Cucunya berkata seperti itu? Kenapa cucunya begitu membenci Beverlly? Tapi Ralina mencoba untuk tak peduli dengan ucapan Queenzy, dia lebih memilih diam.
Semua sudah duduk dan mulai menyantap makan malam yang telah disediakan.
"Hmm, lebih baik kita langsung keintinya" ujar Tn.Green. "jadi begini, kami sekeluarga dan juga Ny.Lucas sepakat untuk menjodohkan anak kami Beverlly dengan Anda, dr.Lucas" jelas Tn.Green.
Perkataan itu membuat Randy terbatuk-batuk. Ralina segera memberikan cucu pertamanya air.
Perjodohan? Bahkan umur ayahnya sudah tidak bisa dibilang muda, apakah masih pantas dijodohkan? Lagi pula di era semodern ini masih ada yang namanya perjodohan? Kalian bebas menikah dengan siapapun pilihan kalian dan bukan dipilihkan layaknya zaman dahulu. Randy tidak suka ini.
Anak-anak Rafael memang belum tahu tentang perjodohan ini. Inilah yang sebenarnya Ralina bicarakan saat menelepon Rafael malam itu, tentang perjodohan, Rafael sendiri sepertinya setuju-setuju saja dengan sang ibu, dia bukanlah anak pembangkang jadi dia akan menuruti apa kata ibunya walaupun itu tidak dia sukai . Namun dia ingin anak-anaknya yang menilai apakah perempuan itu cocok untuk dinikahkan olehnya atau tidak.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rafael pada Randy yang hanya dijawab anggukkan.
"Jadi bagaimana dengan rencana pernikahan kalian?" Tanya Ny.Green.
Rafael hanya diam.
"Semua akan aku atur" jawab Ralina antusias.
Queenzy tidak mengerti dengan obrolan orang dewasa disekitarnya, "apa yang mereka bicarakan?" bisiknya pada Randy.
"Menikahkan ayah dengan perempuan itu" jawab Randy dengan suara pelan.
"Menikah itu apa?" tanyanya.
"Menikah itu artinya dia akan tinggal bersama dengan kita, dan dia akan jadi ibu tiri kita"
"APA?!" teriak Queenzy kaget. "Tidak! Aku tidak mau, aku tidak mau menikah dengan wanita itu" tolaknya mentah-mentah.
Semua yang disana menatap pada Queenzy dengan pandangan terkejut.
"Queenzy, kau kenapa sayang?" Ralina segera mengelus rambut cucunya yang terlihat kalap.
"Pokoknya aku tidak mau, aku tidak mau punya ibu tiri, ibu tiri itu jahat" teriaknya lagi yang membuat mereka tidak bisa apa-apa.
"Queenzy ini ti..." ucapan Rafael terpotong oleh ucapan Queenzy.
"Pokoknya aku tidak mau jika menikah dengan wanita itu. TIDAK MAU! AKU BENCI AYAH!" Queenzy menangis, lalu turun dari pangkuan neneknya dan berlari keluar ruangan tersebut.
"Queenzy...Queenzy" teriak Rafael.
"Permisi, aku harus pergi" ujar Rafael pamit segera berlari mengejar Queenzy yang diikuti Randy.
Rafael berlari cepat untuk mengejar anaknya. Rafael menangkap bahu Queenzy, dia membalik tubuh kecil anaknya dan berjongkok tepat didepan anak manis itu. Getir hatinya melihat lelehan air mata sudah membasahi pipi chubby anaknya.
"Hiks...aku benci hiks ayah..." Ditambah kata-kata menyedihkan yang lolos dari bibir manisnya. Di saat anaknya menangis, disaat itulah dia merasa gagal menjadi seorang ayah, dia tidak suka melihat anaknya menangis, bahkan jika ada yang menjahili anaknya, tidak segan-segan Rafael akan melabrak orang itu. Berlebihan memang, tapi Rafael adalah Rafael, ayah yang mencintai anaknya melebihi apapun.
Rafael mengusap airmata yang lolos dari manik cantik anaknya, dia memeluk Queenzy dengan erat "maafkan ayah, Sayang" bisik Rafael. "Maafkan ayah" ulangnya lagi. "Ayah akan ikuti perkataan Queenzy".
Queenzy mendangak, menatap ayahnya dengan berderai air mata. "Sungguh?" Tanyanya.
Rafael mengangguk sembari tersenyum, tangannya bergerak mengusap air mata itu lalu menarik kembali Queenzy ke dalam pelukannya yang hangat.
"Aku tidak mau wanita itu jadi ibuku" bisiknya lemah.
"Aku tahu, Nak" Rafael mengelus rambut anaknya.
Randy yang sedari tadi hanya berdiri di samping ayahnya ikut tersenyum.
Rafael menghela napas, "baiklah ayo kita pulang" Rafael berdiri menatap kedua anaknya bergantian.
"Ayo" kata Queenzy tersenyum.
"Randy kasih tahu nenek kita akan pulang"
"Baik ayah" jawabnya yang langsung mengeluarkan ponselnya untuk mengirimkan pesan pada sang nenek.
"Ayah aku lapar" Queenzy mendangak menatap wajah tampan ayahnya. Tadi kan mereka belum sempat makan. Ah, Queenzy menyesal, seharusnya tadi dia sempatkan dulu untuk menyantap steak yang sudah tersedia baru keluar, tadi sepertinya steaknya enak.
"Baiklah, kita makan di luar. Kau mau makan apa?"
"Makan masakan ayah" tapi jelas saja pasti steak itu tidak akan seenak masakan ayahnya. Masakan Ayah Rafael nomor satu.
"Benarkah? Baiklah. Ayo kita pulang"
Akhirnya mereka pun kembali pulang, meninggalkan keluarga Green bersama nenek mereka yang mungkin saja saat ini sedang menahan emosi karena kepulangan mereka yang mendadak.