Matahari kembali datang ditemani dengan awan putih yang berarak menghantar sang raja siang ke tahtanya. Cuaca bagus sekali pagi ini, bagus untuk menghabiskan waktu untuk bermain atau sekedar keluar rumah, tapi tidak bagi si wanita cantik yang masih bergelung dengan selimut. Weker terus berbunyi menandakan sudah saatnya si cantik bangun, tapi sepertinya selimut lebih baik dari pada apapun.
Jari lentik itu meraba-raba apapun yang ada disebelahnya mencari sumber bising yang mengganggu tidurnya, ketemu. Dia mematikan suara menyebalkan yang berasal dari jamnya seraya merenggangkan otot-otot badannya.
Hari yang cerah, sepertinya lebih cocok untuk tidur, pikirnya.
Tapi tunggu. Matahari sudah terang? Berarti?
Dia melirik jam yang masih berada di tangannya, matanya membulat, mulutnya menganga, jam sembilan. Bagaimana bisa dia lupa dengan rutinitas setiap harinya? Dia bergegas lari menuju kamar mandi.
"Tidak, handukku!" Teriaknya dan kembali keluar kamar mandi, menyambar handuk yang tersampir di hanger belakang pintu, berlari lagi ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk berdandan, Jessie sudah siap berangkat untuk pergi kerja. Dia keluar dari apartemennya, menguncinya, dan berlari kecil menuju lift, karena apartemennya berada di lantai lima. Setelah itu dia berlari ke halte bis yang tidak terlalu jauh, mungkin hanya dua menit jika berlari. Senyumnya mengembang tatkala melihat bis berhenti di halte, huft sebentar lagi, setelah mengambil napas dia kembali berlari.
Hampir sampai.
Sebentar lagi.
Tapi...
"HEY TUNGGU!" Teriaknya lantang ketika bis benar-benar bergerak meninggalkannya. Bis tetap tak mau berhenti, "tunggu aku" dia masih terus mengejar bis yang sialnya tidak mau berhenti. Bukannya berhenti, bis itu semakin kencang melaju meninggalkan Jessie.
Ah tidak! Gerutunya kesal.
Akhirnya dengan sangat berat hati dia berhenti, percuma saja dikejar, sia-sia, dia menetralisirkan detak jantung dan juga pernapasannya, rasanya seperti habis dikejar anjing. Mungkin karena efek dari dirinya yang jarang olahraga.
Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, setidaknya dia bisa naik taksi.
Oh, tapi naas memang nasib, taksinya ada disebrang jalan yang berarti dia harus menyebrang, lalu lalang kendaraan sedang ramai saat itu, tapi yang menyebrang hanya dia seorang diri. Dia menekan tombol pelikan cross, membuat beberapa mobil berhenti karena lampu merah, namun tiba-tiba ada sebuah mobil melaju dari arah kiri dengan kecepatan tinggi.
Namun...
Citttttt....awww
Mobil itu mungkin tak sayang nyawa, atau mungkin memang teledor. Hampir saja Jessie ditabrak oleh mobil mewah itu.
'Terima kasihh Tuhan, kau masih menyayangiku' Jessie berterima kasih dalam hatinya.
"Maafkan aku, apa kau tidak apa-apa?" tanya sang kemudi yang langsung turun dari mobilnya.
"Apa kau gila menerobos lampu merah? Kau mau masuk penjara?! Lihatlah, aku sampai jatuh, bokongku juga sakit, jika tidak bisa menyetir tidak usah me..." Jessie seketika berhenti mengoceh ketika melihat siapa yang hampir menabraknya.
"Kau lagi, seharusnya aku tabrak saja tadi!" ujar sang pengemudi dengan wajah malasnya, tangannya bertolak pinggang, dengan satu tangan mengusap keningnya. Bisa ditebakkan siapa? Ya, Rafael.
Jessie mendengus dan mencoba untuk tidak peduli dengan ucapan Rafael, dia berusaha untuk berdiri, tapi nihil. Dia tidak bisa berdiri. Sepertinya kaki Jessie tergilir.
"Ayah, apa baik-baik saja… oh Ny.Scharell" Randy segera keluar mobil yang diikuti Queenzy ketika melihat raut wajah ayahnya yang tidak bersahabat.
"Bibi Jessie" sapa Queenzy senang.
"Hi Queenzy"Jessie tersenyum walau dengan menahan sakit, sepertinya pinggangnya hampir retak karena sakit, bokongnya bahkan terasa sangat kebas karena menghantam jalanan dengan keras.
"Sini biar kubantu" kata Randy mengulurkan tangannya.
"Randy! Lepaskan" bentak Rafael. Dia memang agak culas dan tempramental, terlebih dengan orang yang tak dia suka, dan Jessie salah satunya.
Jessie memicingkan mata ke arah Rafael "aku bisa berdiri sendiri" Jessie berusaha bangun sendiri "ouch..." nihil, Jessie tetap tidak bisa bangun.
"Sudahlah" Randy membantu Jessie berdiri.
"Terima kasih" kata Jessie tersenyum sembari membersihkan telapak tangannya yang kotor.
Randy tersenyum "tidak masalah, lebih baik kau ikut bersama kami" ajak Randy.
"Apa-apaan kamu Randy! Sudah ayo kita sudah telat" kata Rafael kasar.
Jessie tersenyum pada Randy dan Queenzy "aku tidak apa-apa aku akan naik tak...dimana taksinya?" Jessie baru ingat dengan taksi yang akan dia tumpangi, ternyata sudah tidak ada.
"Sudah ikut saja dengan kami" ajak Randy lagi.
"Randy!" Teriak Rafael.
"Ayah, boleh ya" pinta Queenzy, bahkan kini Queenzy sudah melingkarkan tangan dilengan Jessie.
"Queenzy lepaskan!"
"Ayolah ayah" Queenzy kembali memohon pada ayahnya dengan jurus jitunya. Mengeluarkan muka memelasnya.
Rafael menghela napas, dia tidak bisa melawan wajah memelas anak bungsunya itu. "Baiklah, cepat masuk"
Rafael berjalan masuk lebih dulu ke dalam mobil.
Queenzy tersenyum "ayo". Mereka bertiga masuk ke dalam mobil.
Rafael diam ketika mendengar anaknya, Queenzy berceloteh ria dengan si penjaga kasir itu. 'kenapa mereka dekat sekali?' pikirnya.
Rafael menghentikan mobil di depan gerbang sekolah Queenzy.
Sekolah Queenzy masuk sekitar pukul sembilan pagi dan akan pulang di jam istirahat, bisa dibilang jika Queenzy sudah telat masuk sekolah dan itu karena ulah ayahnya yang tadi telat bangun. Sedangkan sekolah Randy sedang ada acara jadi masuknya siang, dan kemungkinan hari ini akan pulang cepat juga.
"Sudah sampai" kata Rafael.
"Ah kenapa cepat sekali, " rengutnya. "Baiklah. Bibi aku sekolah dulu" pamit Queenzy, setelahnya dia mengecup pipi sang ayah.
"Belajar yang pintar," Jessie menanggapi ucapan Queenzy.
"Baik, sampai jumpa nanti" Queenzy turun dari mobil.
"Bye" Queenzy melambaikan tangannya pada mobil yang mulai melaju meninggalkan sekolah.
Mobil Rafael kembali melaju menuju sekolah Randy yang tak jauh dari sekolah Queenzy.
Hanya butuh waktu sekitar 10 menit, mereka sudah sampai di sekolah Randy. "Ayah aku sekolah dulu" kata Randy saat mobil ayahnya berhenti di depan gedung sekolahnya.
"Baiklah, hati-hati" Rafael tersenyum.
"Ny.Scharell aku duluan"
"Baiklah"Jessie tersenyum.
"Ayah harus mengecek Ny.Scharell, sembuhkan dia" bisik Randy pada sang ayah sebelum turun dari mobil.
"Apa yang kau bicarakan, cepat turun" kata Rafael kembali ketus.
"haha. Baiklah, hati-hati" Randy Tertawa. Sudah biasa dia mendapatkan ketusan dari sang ayah, dan baginya itu bukan hal yang menakutkan, karena perawakan ayahnya memang begitu. Randy melambaikan tangannya pada mobil yang mulai melaju lagi.
Hening. Tak ada satu pun yang bersuara. Kedua insan tersebut lebih memilih diam hingga mereka sampai tempat tujuan, rumah sakit.
"Cepat turun" titah Rafael ketus.
"Aku juga ingin turun" culas Jessie sembari menggeser bokongnya "oh…" rintihnya. Bahkan menggeser b****g pun sakit.
Rafael menatap pantulan Jessie dari kaca, sedikit ada rasa khawatir dalam benak Rafael, dia takut jika Jessie kenapa-napa dia akan dilaporkan ke polisi, terlebih tadi dia membuat kesalahan yang beruntung saja tidak ada polisis lalu lintas yang sedang berjaga tadi. Rafael turun dari tempat kemudi dan membuka pintu mobil belakang. Sangat mengejutkan, Rafael tiba-tiba mengulurkan tangannya ke arah Jessie dan mulai menggendong Jessie dengan bridal style.
"H..hey apa yang kau lakukan?" Jessie terkejut bukan main. Apa-apaan dokter gila ini?
"Diam!" titah Rafael yang membuat nyali Jessie ciut. Dia memilih diam.
Rafael membawa Jessie ke ruangannya. Dia tidak peduli dengan pasang mata yang menatapnya dengan aneh. Dia terus berjalan, tak menghiraukan semuanya. "buka pintunya" titah Rafael ketika mereka sudah berada di depan ruangannya, Jessie pun menurut.
Gadis itu membuka pintunya dan menampakkan wanicata cantik berumur paru baya yang ada di dalam sana, membuat Rafael terkejut setengah mati.
"Rafael" panggil Ralina sembari mengernyit bingung saat melihat anaknya menggendong seorang wanita.
"I..ibu" gagapnya.
Jessie hanya terdiam menatap keduanya bergantian, lalu memperhatikan wanita berpakaian glamour tersebut dengan seksama. Sangat mencolok, seperti ingin membuktikan bahwa dia adalah orang yang fashionista, walaupun umurnya sudah lebih dari setengah abad.
Cardigan dan roknya yang sepadan, high heels birunya yang penuh dengan permata, tas brand harga selangit yang bertengger dipergelangan tangan kanannya. Jessie sampai menelan ludah saat melihatnya.
"Dia siapa, Rafael?" Ny.Lucas menatap Jessie dengan seksama, alis menjungkit ke atas, tanda bahwa dia sedang menilai penampilan orang yang ada di dalam gendongan anaknya.
"D...dia pa pasien, bu. I iya pasienku" Rafael tersenyum kikuk setelah mendengar ucapannya sendiri yang ngawur.
"Oh hi, Nyonya" sapa Jessie dengan senyum kikuk.
"Hmm" Ny.Lucas hanya mengangguk. 'Pasien sampai digendong', pikirnya.
"Ada apa ibu kemari?" tanya Rafael masih tetap pada posisinya.
"Lebih baik kau baringkan pasienmu dulu" titah Ralina yang kini kembali duduk di sofa dekat meja kerja Rafael.
"O oh iya" Rafael bahkan masih merasa canggung, dia segera meletakan Jessie di atas kasur depan meja kerjanya.
"Aku tadi habis dari tempat yoga, kebeneran lewat sini, jadi aku mampir dan ternyata kau baru datang" jelasnya dengan tegas sembari membenarkan letak jam tangan mahalnya.
"A ah tadi aku kesiangan"
"Kesiangan dengan seorang pasien?"
"I ibu ini tidak seperti yang kau..." Rafael berusaha menjelaskan apa yang terjadi tetapi sepertinya sang ibu tidak ingin mendengarnya.
"Ah baiklah, aku pulang sekarang" Ny.Lucas mulai berdiri dan memegang tas jinjingnya dengan wajah marah dan bingung.
Rafael menghela napas "baiklah" Rafael mengecup pipi ibunya.
"Oh ya aku hampir lupa, Beverlly akan datang berkunjung ke sini".
Alis Rafael menjengit. "Tap tapi bu..."
"Jam makan siang dia akan datang" katanya datar. “Aku harap kau mau minta maaf atas kelakuanmu tadi malam” kata Ralina dengan pandangan menusuk tepat pada mata anaknya. Kini pandangannya beralih ke arah Jessie "jangan lupa sembuhkan pasienmu" katanya dengan nada yang menyindir, sebelum akhirnya keluar ruangan anaknya.
Jessie tersenyum ramah pada Ny.Lucas yang tak ditanggapi apapun. Jessie terdiam, apa ada yang salah dengan dirinya? Kenapa wanita tadi sangat sinis kepadanya?
Rafael pun mengantar sang ibu sampai pintu, lalu menghela napas panjang saat sang ibu telah pergi.
"Itu ibumu?" tanya Jessie.
"Menurutmu?" Rafael berlalu ke meja kerjanya dan mulai membereskan alat-alat kerjanya.
"Pantas mirip" gumamnya yang diselingi senyuman miring.
"Apa maksudmu?" tanya Rafael dengan aura hitamnya.
"O oh tidak" Jessie menggeleng setelah melihat aura buruk yang terpancar di sekitar dokter tampan itu.
"Tidurlah!" titah Rafael.
Jessie mulai membaringkan tubuhnya "oh sakit" rintihnya saat menggeser b****g dan kakinya.
Rafael menggeser kaki dan tubuh Jessie dengan gusar "HEY SAKITTT!" Teriak Jessie menggelegar.
"Diam!" Bentak Rafael.
Klekkkkk
“Ahhhhh….!!!” teriak Jessie setelah Rafael menggretakkan pinggang dan kaki gadis itu dalam sekali hentakan.
Sungguh, jika saja dia dalam keadaan sehat sekarang, sudah dipastikan Rafael babak belur di tangannya.