Derai hujan mengguyur tubuh Selin Deraposh yang sedang berjalan sambil memperhatikan tanah becek yang dilaluinya. Tubuhnya basah kuyup. Tapi sepertinya ia tak peduli.
Langkah demi langkah mengantarnya pada sebuah gubuk, bertuliskan " pandai besi" tetapi bengkel besi itu sudah tutup. Dengan penuh kekecewaan Selin pulang dengan berbasah-basah lagi menyusuri jalanan becek dengan kaki telanjangnya. Tubuh kecilnya agak menggigil ketika angin berhembus.
__________
" Ayah.... Apa aku boleh meminta libur satu hari saja? Aku ingin mengunjungi makam ibu." Pinta Elisa memelas. Ayahnya diam tak bergeming. Elisa langsung berdiri dan meninggalkan ruang makan, ia pergi ke teras rumahnya. Ia menatap air yang terus menetes dari langit. " Ibu...kenapa kau pergi?" Tanyanya dalam hati. Huhhh.... Desahnya Elisa menatap jalanan didepan rumahnya dengan seksama. Ia melihat seorang gadis sedang berhujan-hujanan dan berjalan dengan kaki t*******g.
" Apakah itu hantu?" Tanya Elisa dalam hati. Ia memperjelas penglihatannya, ternyata benar ia melihat seorang gadis yang basah kuyup. Dengan spontan Elisa mengambil jaket tebal dan berlari dengan cepat kearah gadis itu. Ia langsung melindungi gadis itu dengan jaket tebalnya. Selena menatap lelaki yang melindungi nya dari hujan. Lalu Elisa menggiringnya ke rumahnya dan menyalakan perapian.
Selin menatap Elisa yang sedang menyodorkan sebuah handuk. Tapi karena Selin hanya menatap Elisa, Elisa merebahkan handuk itu di kepala Selin. Selin kembali menatap Elisa, Elisa hanya membalas tatapan Selin dengan senyuman. Seketika wajah Selin langsung memerah. " Siapa namamu?" Tanya Elisa dengan lembut. Tetapi Selin tak kunjung menjawab. "Apa kau.... Ahhh kau pasti tidak nyaman dengan pakaian basah itu. " Ucap elisa, ia pun mengambil dres milik ibunya dan menyuruh Selin mengganti pakaian, dengan sedikit memaksa Selin pun mau mengganti pakaiannya. " Itu untukmu saja. Stelah hujan reda aku akan mengantarnya pulang." Ucapan Elisa tadi kembali membuat Selin malu dan terkesima.
Selin memang sudah lama memperhatikan Elisa dari bengkel besinya. Ia sengat tertarik pada Elisa.
"Maaf.. aku sudah merepotkan kamu."ucap selin dengan nada bersalah. "Tak apa.. aku ingin membantumu. " Ucap Elisa lagi dengan tersenyum. Selin hanya menatap Elisa. Selin menatap Elisa degan tatapan aneh. " Aku tidak ingin macam-macam ayahku sedang ada didalam jangan takut." Ucapan Elisa membuat Selin tersentak " Bu..bukan itu maksudku..." " Tak apa?"
......
Sambil menunggu hujan mereka berbincang-bincang dengan penuh tawa ria. Suasana hujan yang dingin, berubah menjadi suatu kehangatan tersendiri bagi mereka.
Setelah hujan reda Elisa mangantar selon seperti yang sudah ia katakan tadi. Mereka menyusuri jalan dengan berbincang dan Selin merasa semakin tertarik padanya. Selin menatap wajah Elisa dengan penuh cinta. "Selinn... !!" Teriak seorang wanita memeluk Selin tiba-tiba. " Terimakasih kamu sudah mengantarnya. " Ucap ayah Selin menjabat tangan Elisa. Elisa tersenyum dan berpamitan pulang.
Selin menatap kepergian Elisa dengan sedikit sedih. Tetapi ia tetap sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama Elisa. Senyuman tipis langsung menghiasi wajah Selin. Kali ini ia tidur dengan ceria berbalut selimut dan pakaian yang diberikan pujaan hatinya. Ia terus tersenyum berseri-seri.
-----------
Selin memulai harinya dengan penuh semangat dan gembira. Ia pergi kepassr untuk membeli roti dan kebetulan melewati bengkel besi Elisa. Ia melihat Elisa bekerja dengan sangat keras. Senyuman kecil terlukis di wajah Selin. Setelah melihat Elisa Selin langsung berlalu...
Tak lama kemudian, ia kembali melihat Elisa didepan bengkelnya. Ada seseorang menodongkan pisau krasrah Elisa. Elisa tampaknya berusaha menenangkan laki-laki itu. Selin mendekat untuk melihat lebih jelas. Lelaki itu adalah ayah Elisa sendiri. Tampaknya ia sedang memarahi Elisa. Selin merasa sedikit ngeri dan agak takut, ia melerai pertengkaran mereka.
" Tolong pak turunkan senjatamu. " Lerai Selin yang sudah tampak sangat pucat karena ketakutan. Elisa terus memaksa Selin mundur tetapi Selin tidak bergeming.
" Apa yang kau tau?! Siapa kau?! Jangan ikut campur nona muda ini urusan ku bersemangat orang itu!!" Bentak ayah Elisa. Lelaki tua itu terus mengamuk dan menodongkan lagi posau tajam itu kearah Elisa kali ini lebih dekat.
Dengan sedikit berani, Selin menggenggam tangan ayah Elisa yang memegang pisau dan berusaha menjatuhkannya. " Hentikan kau akan terluka!! " Teriak Elisa dan langsung ikut berebut. Terjadi sedikit keributan dan akhirnya tanpa sengaja pisau tajam itu menggores wajah cantik Selin. Arghh.. teriaknya, Elisa langsung mengerahkan seluruh kekuatannya menjatuhkan pisau itu dan memukul pingsan ayahnya itu.
Dengan spontan, ia menolong Selin. Membersihkan lukanya dan mengobati lukanya. " Kau beruntung ini hanya goresan saja." Ucap Elisa sambil tersenyum. Selin membalasnya dengan senyuman kecil. " Kenapa kau sangat berani?" Tanya Elisa, seketika wajah Selin merona merah. Ia langsung menundukan wajah merahnya itu. Elisa hanya menatap Selin dengan tatapan bingung. " Aku juga tidak tau apa yang terjadi. " " Aku hanya ingin membantumu." Jawab Selin yang masih menunduk malu.
Elisa hanya tersenyum hangat, " kalau begitu, terimakasih. " Ucapan Elisa membuat hati Selin bergejolak tak karuan. " Wajahnya sangat tampan ketika tersenyum.." ucap selin dalam hati. "Terimakasih juga telah mengibatiku." Jawab Selin dengan tersenyum. Mereka berdua bertatapan agak lama dan akhirnya Selin berdiri dan berpamitan. " Kau sangat cantik saat tersenyum." Ucap Elisa secara tiba-tiba membuat Selin salah tingkah, dan kehilangan keseimbangan. Elisa hanya tersenyum menatap perilaku gadis muda itu.
----------
Ketika matahari mulai turun dari tempatnya, dan langit sudah mulai gelap. Selin pergi untuk menghampiri ayahnya yang sedang bekerja, biasanya ia sudah pulang sebelum sore. Tetapi kerajaan Magicorn sedang diserang saat itu. Ia melihat ratusan prajurit pergi berlalu-lalang. Tetapi serangan musuh sudah sampai di desa dimana Selin tinggal. Para prajurit musuh mulai membantai prajurit Magicorn. Selin terus berlari. Di tengah kekacauan ia melihat Elisa sedang bertarung dengan salah satu prajurit musuh. Ia melihat ada prajurit dari jauh yag membidik Elisa dengan panah. Dengan spontan Selin menyelamatkan Elisa. Jlebbb....!!! Ia tertusuk anak panah itu tepat dibagian ulu hati nya. Selin pun langsung tumbang. Elisa langsung menggendong Selin dan membawanya ke tempat perlindungan.
Ditempat perlindungan itu semuanya sedang kacau dan khawatir. Orang tua Selin melihat Elisa membawa Selin dan membaringkannya, Elisa mencabut anakpanah itu dari tubuh Selin dan berusaha menyelamatkan Selin.
Selin hanya membuka sedikit matanya. Ia melihat Elisa sedang berusaha membalut lukanya. Ia memegang tangan Elisa. Dan seketika semuanya menjadi kabur untuk Selin. Semuanya menjadi gelap. Rasa sakit bekas panah itu sedikit demi sedikit menghilang dengan sendirinya. Ia terpejam sebentar dan kembali membuka matanya lagi.
Ia berada di sebuah tempat yang sangat dingin dan gelap. Ia merasa sendiri. Ia berjalan sedikit demi sedikt. Langkah kecilnya itu tidak mampu membawanya kemanapun, hanya ada kegelapan disekitarnya. Ia merasa sedikit sedih. " Bangun...ayo Bagun...!!!" Suara teriakan, dan tangisan itu seketika bergeming diseluruh kegelapan. Selin melihat kemana-mana hanya ada kegelapan. " Elisa..!!! Ibu...!!! Ayah...!!! Tolong...tolong....!!!!" Teriakan Selin itu nampaknya sangat sia-sia tidak ada siapapun yang bisa mendengarkannya. Selin seketika menangis. Airmata membasahi pipinya. Ia berjongkok, bagaiman apa yang harus aku lakukan. Apa yang terjadi?? Pikirannya terus mengulang-ulang perkataan itu.
" Jangan sedih... " Suara berat seseorang langsung membuat Selin terbangun dari kesedihannya. " Siapa itu..?" " Aku mohon tolong aku. " Pinta Selin. Lalu suara berat itu muncul lagi dangan terkekeh. " Apa kau benar-benar ingin hidup kembali?" Tanya suara misterius itu. Selin diam sejenak. " Ya!!" Jawabnya dengan mantap. Lalu suara misterius itu mulai menunjukan wujudnya.
Selin tersentak melihat sosok Monster, bertanduk tinggi besar tiba-tiba muncul dari kegelapan. " Jika kau mengijinkan aku memasuki tubuhmu. Kau akan hidup kembali, Selin Deraposh. " Ucap sosok Monster misterius itu. " Apa kau akan mengendalikan tubuhku. Itu sama saja kau tidak memberiku hidup!!" Ucap gadis itu degan lantang. Sosok itu kembali terkekeh. " Gadis kecil sepertimu tidak akan kuat menahan kekuatanku sudahlah lupakan saja." Ucapnya, sembari membalikan badan.
"Tunggu..!!! Apa, jika aku bisa mengendalikan kekuatanku aku akan hidup tanpa harus dikendalikan olehmu?" Tanya Selin lagi. Monster itu mengalihkan pandangan kearah Selin, " Tentu saja. Tidak hanya bisa hidup kembali. Kau juga akan mendapatkan kekuatan yang sangat besar. " Jawab sosok Monster itu.
Selin sangat tertarik. " Baiklah.... Aku yakin aku ingin hidup. Aku akan mengijinkan kau masuk dalam tubuhku.." ucap selin dengan mantap. Monster itu menghadap Selin. Ia langsung berubah menjadi asap, dan masuk kedalam tubuh Selin.
Seketika tubuh Selin sangat panas. Sesuatu seperti terus-menerus memberontak. Monster itu mengacak-acak seluruh organnya. Gadis itu memuntahkan darah begitu banyak. Arrghhh.... Teriak gadis itu. Ia berusaha mengendalikan rasa sakit ditubuhnya. Ia menjadi kejang, matanya bersinar, dadanya juga mengeluarkan cahaya yang menyambar kegelapan di sekitarnya. Ia seperti menyerap kegelapan dan suasana dingin di sekitarnya....
Badai w memantulkan perubahan wajahnya, di kepalanya tumbuh tanduk... " Tidak...!! Aku tidak mau sepertimu...!!!!" Teriaknya lantang. Lalu wushhhh semuanya tampak seperti cahaya. Sekarang Selin berada di suatu ruangan putih. Monster itu kembali menampakan dirinya. " Rupanya kau berhasil... Sekarang aku akan hidup dalam tubuhmu. Tentunya semuanya tidak gratis. Aku telah berhasil mengambil airmata dan jantungmu. Jantungmu tidak akan berdetak. Sekarang hidup matimu adalah aku. " " Jangan coba mengeluarkan aku dari dirimu. Itu akan membuatmu mati. Jika aku mati kau juga akan mati." Ucap Monster itu dingin. Lalu seuaya berubah...
Selin terbangun diatas rumput yang hijau dengan pepohonan besar disekitarnya. Ia kembali memenuhi paru-paru nya dengan udara segar. " Aku hidup...." Bisiknya. Ia sangat gembira. Ia meloncat-loncat kegirangan dengan gaun hitam panjangnya yang menyapu rerumputan. " Elisa..." Ucapnya tiba-tiba teringat dengan Elisa. Lalu ia segera berlari menuju pemukiman. Semuanya tampak berbeda.
Ia masuk kedalam desa itu dengan pakaian yang aneh. Setidaknya begitulah yang dianggap penduduk desa setempat. Mereka melihat Selin dega tatapan aneh. Lalu Selin bertanya pada seorang penjual roti. " Permisi, Desa apa ini?" Tanya Selin dengan sopan. " Ini desa Junherp. " Jawaban penjual roti itu membuat Selin tersentak. Desa yang dulu di tinggalnya sangat berbeda. Apa yang terjadi....
〰〰〰〰〰