Salju mulai turun sejak kemarin Vale selalu berada di depan perpiannya. Ia memikirkan apa yang dikatakan oleh Gromosh terus-menerus. Tentang ramalan itu. Ia merasa bingung, Gromosh bilang ia harus segera menikah dengan king Edward. Hatinya sangat gundah. Ia menghela nafas sekali lagi. " Apakah ini sudah tepat?" Pikirnya berulang-ulang. Ia merasa khawatir. " Kau tidak perlu menikah dengan king Edward." Teriak Dennish yang tiba-tiba memasuki ruangan.
Vale menatapnya dengan mata ungu kehitaman nya. Matanya membulat ketika dennsih berbicara komat-kamit tak karuan. Dennish memegang tangannya. " Sungguh kau tak perlu menikah dengannya." Ucap Dennish lagi dan lagi. Vale memejamkan mata sebentar dan menghela nafas sekali lagi.
"Terimakasih atas perhatianmu Dennish. Mungkin ini yang terbaik untuk diriku dan seluruh rakyat ku." Jawab Vale dengan senyuman manis yang selalu terukur di wajah putihnya itu. Dennsih menghela nafas, ia sudah tidak tau lagi bagaimana cara membujuk Vale. Ia tidak ingin Vale menikah karena ia sangat mencintai Vale.
" Valentine Rosetta, apa kau mau menikah dengan ku?" Pertanyaan Dennish itu sangat diluar dugaan Vale. Matanya membulat seketika. Dennish hanya menatapnya dengan penuh harapan Vale akan menerimanya. Namun dengan segera Vale berdiri dan melepaskan sentuhan tangan Dennish, " Maaf Dennish aku akan menikah. " Ucapnya halus lalu pergi meninggalkan Dennish.
Dennish menggeram, ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia berdiri dan segera menghentikan Vale. Dennish memegang tangan Vale. " Aku tidak menerima penolakan...!!" Ucapnya sambil menggengam kedua tangan Vale. Lalu Dennish mengecup bibir Vale. Vale berusaha memberontak tapi Dennish memegangnya dengan sangat kuat. Akhirnya Vale melemparkan Dennish dengan kekuatannya.
" Kau sungguh tak menghargai ku...!!!" Ucap Vale marah. Dennish berdiri, sambil mengusap bibirnya. " Aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Kau bukan apa-apa jika king Alfredo tidak memungutmu." Ucap Dennish pedas menusuk hati Vale. Mata Vale memerah seketika. Emosi menguasai dirinya, tapi ia tetap berusaha mengontrol emosinya. " Kau akan aku maafkan karena situasi sedang kritis. Jauhi aku atau kau akan tau akibatnya." Jawab vale dingin membuat Dennish semakin geram.
Ia memeluk Vale dari belakang, Vale sangat kaget. Ia tidak bisa berkutik lagi. Ia mulai menciumi leher Vale. Vale sangat kesal, ia melemparkan Dennish lagi kali ini lebih keras. Kepala dennsih berdarah hingga ia pingsan.
Vale berjalan lurus, sedangkan para prajurit membawa dennsih ke ruang perawatan. " Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk menikah yang mulia." Ucap Miranda sambil terus menunduk. Vale menatapnya sebentar. Karena tidak biasanya Miranda pelayan pribadinya itu berbicara mempertanyakan keputusannya. " Ada apa Miranda? Kau tau alasan aku akan menikah. Tapi kau tetap ikut-ikutan menentang keputusan ku." Tanya Vale dengan lembut. Tapi tidak ada jawaban dari bibir mungil Miranda.
Miranda terus menunduk hingga ia hampir menabrak guci, yang terpajang di lorong. Vale tertawa kecil. Lalu ia menghentikan langkah Miranda dengan merentangkan tangannya di depan Miranda dan menatap setiap sudut wajah Miranda yang terus ia sembunyikan. " Apa kau sakit?" Tanya Vale sambil terus menatapnya. Vale menempelkan punggung tangannya kedahi Miranda.
Miranda menatap Vale sebentar, bibirnya gemetar. Tangannya meremas lembut dress hijau yang ia pakai. Vale menatapnya dengan heran. " Aku tidak ingin Dennish bersedih. Aku mohon, ia sangat mencintai yang mulia. " Ucap Miranda yang langsung menggengam kedua tangan Vale.
Vale tersentak lalu tertawa kecil, " Apa kau menyukai Dennish?" Wajah Miranda memerah seketika, ia tertunduk lagi. Vale langsung terkekeh.
" Jika aku tidak melakukannya, mungkin tidak akan ada yang akan menjadi penerus ku kelak. " Ucap Vale sambil memandang ke langit-langit. Vale meninggalkan Miranda yang terus tertunduk malu.
_______
Vale didandani dengan sedemikian rupa, cantiknya. Gaun pengantin putih sangat cocok melekat ditubuh Vale. Kecantikan Vale terpancar, Vale tersenyum melihat pantulan wajahnya yang sesempurna Dewi bulan. " Kau sangat cantik." Puji Miranda. Vale tersenyum ria. Memang ia sangat mencintai king Edward tapi ia tidak menyangka akan secepat ini ia menikah.
Helena membuka pintu kamar Vale, ia menghampiri Vale dan menyentuh kedua pipi Vale. " Cantiknya...." Puji Helena dengan tersenyum lebar.
_________
Elisa sangat marah mendengar pernikahan king Edward dan Valentine dilangsungkan hari ini. Ia mengamuk. Membanting semua benda yang ada dihadapannya. " Kenapa jadi begini?!" Teriaknya. " Tak bisakah kau menunggu sebentar saja sampai aku menjemputmu?!!" Ia terus berteriak sambil mondar-mandir. Elisa sudah seperti orang gila.
Selin memeluk Elisa dari belakang. " Kau tak sendiri Elisa, walaupun Valentine sudah meninggalkanmu, tapi aku masih disini untukmu selalu disini untukmu hanya untukmu. " Elisa terdiam, ia mengepalkan tangannya dan melepaskan dekapan tangan Selin dan pergi.
_______
Vale berjalan dengan gaun putihnya yang megah. Ia berjalan dengan anggunnya membawa buket bunga mawar merah. Ia berjalan perlahan, menyeret gaun putih yang sangat panjang. Akhirnya ia sampai di altar pernikahan dengan hiasan bunga mawar di seluruh ruangan, didominasi warna putih. King Edward membuka penutup wajah Vale. Senyuman tak hentinya menghiasi wajah Vale yang anggun. King Edward tersenyum.
Ketika pesta dansa dimulai. Tidak diduga, Elisa datang dengan seluruh pasukannya menyerang Hersh. Semua tamu sangat kaget dan ketakutan semu panik seketika, termasuk Vale dan king Edward. Elisa mulai menyerang perbatasan. Dengan sigap king Edward pergi ke perbatasan menghadang Elisa.
Vale dan para tetua kerajaan mengamankan seluruh tamu kerajaan. Setelah itu, Vale mengganti gaunnya dengan baju besi. Tak henti-hentinya Vale terus berdoa.
Pasukan disiapkan, beberapa prajurit istana mengevakuasi warga di pindahkan ke benteng dekat gunung Hroesh. Benteng itu agak jauh butuh 3 hari untuk mencapai benteng itu.
Sesuai dengan perkiraan prajurit king Edward dipukul mundur. Mereka mundur hingga ke istana. Vale dan para tetua memutuskan mundur ke benteng Hroesh dan meninggalkan istana.
Elisa dan Selin berhasil menguasai istana Hersh. Mereka menghancurkan istana, dan mengubah istana itu menjadi istana milik mereka.
Vale melihat kebelakang melihat semua, tempat tinggalnya dihancurkan. Kenangan indah bersama ayah tirinya menghilang. Airmata Vale menetes... King Edward langsung memeluk Vale, " jangan takut Vale, kita akan merebut kembali istana itu dan Hersh peninggalan ayahmu. Vale hanya diam dan mengatupkan bibirnya sambil terus berjalan.
________
" Aku akan mendapatkan Vale. " Bisik Elisa. Selin yang mendengarnya langsung memeluk Elisa tanpa sebab memeluknya sangat erat. " Apa aku tak cukup bagimu? Kau terus menerus menyebutkan Vale Vale Vale...!!! Aku sangat mencintaimu Elisa bukalah matamu Vale sudah menikah...!!" Ucap Selin. Seketika Elisa menjadi marah. Ia mencengkram bahu Selin hingga Selin melepaskan pelukannya.
" Aku sangat mencintainya. Jangan coba-coba kau bandingkan dirimu denganya. Kau adalah iblis terbuang... Kau adalah sumber kekuatanku dan tak lebih dari itu. " Ucapan Elisa kembali menyadarkan Selin bahwa ia tidak mencintai Selin. Tapi Selin tetap bersikeras.l ingin bersamanya.
Selin kembali mengecup bibir Elisa. Elisa hanya diam. " Mungkin aku bukan dia yang kau inginkan. Tapi kau bisa menganggap aku sebagai dia. Karena aku akan selalu disampingmu dan mendukungmu. " Ia melingkarkan tangannya ke leher Elisa. Memepererat kecupan dan pelukannya itu.
_________